Monday, 28 December 2009

Batasan Safar Yang Dibolehkan Untuk Berbuka dan Mengqasar (shalat)

Berapa batasan minimal jarak dalam safar yang dibolehkan untuk berbuka puasa?



Alhamdulilah.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa jarak yang dibolehkan untuk mengqasar shalat dan berbuka bagi orang yang berpuasa adalah 48 mil.

Ibnu Qudamah berkata dalam kitab Al-Mughni:

Madzhab Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad) berpendapat bahwa qasar tidak boleh dilakukan jika jarak perjalanannya kurang dari 16 farsakh. Satu farsakh sama dengan 3 mil, maka 16 farsakh sama dengan 48 mil. Ibnu Abbas memperkirakan jarak tersebut sama dengan perjalanan dari ‘Usfan menuju Mekkah, atau Tha’if menuju Mekkah, atau Jeddah menuju ke Mekkah.

Dengan demikian, jarak yang diperbolehkan qasar adalah sejauh perjalanan dua hari normal (sesuia masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Juga termasuk Madzhab Malik, Laits dan Syafi'i.

Dalam hitungan kilometer sekarang, jarak tersebut kira-kira 80 km.

Syekh Bin Baz rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (12/167) tentang perkiraan jarak yang dibolehkan qashar;

“Menurut kebanyakan ulama’ (jumhur) diperkirakan sekitar 80 km, bagii orang yang berjalan memakai kendaraan, begitu pula pesawat terbang atau perahu. Jarak ini kurang lebihnya dinamakan safar. Inilah apa yang dikenal oleh kaum muslimin. Kalau seseorang bepergian, baik naik onta, berjalan kaki, memakai mobil, pesawat terbang atau kendaraan laut dengan jarak tempuh seperti itu atau lebih, maka dia dinamakan musafir.”

Al-Lajnah Ad-Daimah (Komisi Fatwa Arab Saudi) ditanya (8/90) tentang jarak yang diperbolehkan qasar shalat. Apakah supir angkutan umum yang pergi dalam jarak lebih dari 300 km dibolehkan mengqashar shalatnya?

Mereka menjawab: Jarak yang diperkirakan dibolehkan mengqashar shalat adalah sekitar 80 km menurut pendapat kebanyakan ulama’. Dibolehkan bagi supir taksi atau lainnya untuk melaksanakan shalat qashar jika ingin menempuh perjalanan yang berjarak seperti yang kami sebutkan tadi atau lebih”

Sebagian ulama’ berpendapat bahwa safar tidak ditentukan dengan jarak tertentu, akan tetapi yang menjadi rujukan adalah ‘urf (kebiasaan). Apa yang dianggap safar menurut kebiasaanya, maka itu adalah safar dan berlaku baginya hukum safar dalam syariat seperti jama’ (menggabungkan) dua shalat, mengqasar dan berbuka bagi musafir.

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitab Fatawanya (24/106): Dalil berpihak kepada orang yang menjadikan alasan dibolehkannya melakukan qasar dan berbuka dikarenakan jenis safarnya, tanpa mengkhususkan antara satu safar dengan safar lainnya. Dan pendapat ini yang shahih (kuat).

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya dalam kitab Fatawa Arkanul Islam (hal: 381) tentang perkiraan jarak yang dibolehkan bagi musafir untuk mengqashar shalatnya, dan apakah dibolehkan menjama’ (menggabungkan dua shalat) tanpa qasar?

Beliau menjawab: “Jarak yang dibolehkan mengqasar shalat, sebagian ulama memberikan batasan sekitar 83 km. Sebagian ulama lainnya memberikan patokan bahwa yang dikatakan safar adalah apabila menurut kebiasaan orang hal itu dikatakan safar meskipun jaraknya kurang 80 km, dan apa yang dikatakan orang –menurut kebiasaan- bahwa itu bukan safar, maka dia tidak termasuk safar meskipun jaraknya lebih dari ratusan kilometer. Pendapat terakhir ini adalah pilihan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Karena Allah tidak pernah menetapkan jarak tertentu untuk kebolehan mengqasar. Begitu juga Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam tidak menentukan jarak tertentu. Dari Anas Bin Malik radhiallahu’anhu: Biasanya Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam kalau beliau keluar (melakukan perjalanan) sejauh 3 mil atau 3 farsakh beliau melakukan shalat dua rakaat. (H.R. Muslim, No. 691)

Pendapat Syekhul Islam rahimahullah lebih dekat kepada kebenaran, karena pendapat ini telah dikatakan oleh sebagian ulama mujtahid. Seandainya ada perbedaan dalam menentukan safarnya sebuah perjalanan berdasarkan ‘urf, tidak mengapa dalam hal ini jika seseorang berpedoman dengan jarak tertentu. Karena pendapat ini juga dipegang oleh sebagian ulama mujtahid. Hal ini tidak mengapa insyaAllah. Akan tetapi jika pandangannya (dalam menentukan sebuah safar berdasarkan kebiasaan) sama, maka kembali kepada kebiasaan untuk menentukan safar adalah sikap yang tepat.” .

Soal Jawab dalam Islam
http://www.islamqa.com


ما هو الحد الأدنى في السفر الذي يجوز معه الإفطار ؟.

الحمد لله

ذهب جمهور العلماء إلى أن المسافة التي تقصر فيها الصلاة ويفطر فيها الصائم ثمانية وأربعون ميلاً .

قال ابن قدامة في المغني :

مَذْهَبُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( يعني الإمام أحمد ) أَنَّ الْقَصْرَ لا يَجُوزُ فِي أَقَلِّ مِنْ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا , وَالْفَرْسَخُ : ثَلاثَةُ أَمْيَالٍ , فَيَكُونُ ثَمَانِيَةً وَأَرْبَعِينَ مِيلا . وَقَدْ قَدَرَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ , فَقَالَ : مِنْ عُسْفَانَ إلَى مَكَّةَ ، وَمِنْ الطَّائِفِ إلَى مَكَّةَ ، وَمِنْ جُدَّةَ إلَى مَكَّةَ .

فَعَلَى هَذَا تَكُونُ مَسَافَةُ الْقَصْرِ يَوْمَيْنِ قَاصِدَيْنِ . وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عُمَرَ . وَإِلَيْهِ ذَهَبَ مَالِكٌ , وَاللَّيْثُ , وَالشَّافِعِيُّ اهـ .

وتقدير ذلك بالكيلو متر نحو ثمانين كيلو متر تقريباً .

قال الشيخ ابن باز في "مجموع الفتاوى" (12/267) في تقدير السفر :

" الذي عليه جمهور أهل العلم أن ذلك يقدر بنحو ثمانين كيلو تقريبا بالنسبة لمن يسير في السيارة ، وهكذا الطائرات ، وفي السفن والبواخر ، هذه المسافة أو ما يقاربها تسمى سفرا ، وتعتبر سفرا في العرف فإنه المعروف بين المسلمين ، فإذا سافر الإنسان على الإبل ، أو على قدميه ، أو على السيارات ، أو على الطائرات ، أو المراكب البحرية ، هذه المسافة أو أكثر منها فهو مسافر " اهـ .

وسئلت اللجنة الدائمة (8/90) :

عن مسافة القصر ، وهل لسائق الأجرة الذي يذهب أكثر من ثلاثمائة كيلو متر أن يصلي الصلاة قصر ا؟

فأجابت :

مقدار المسافة المبيحة للقصر ثمانون كيلو متر تقريبا على رأي جمهور العلماء ، ويجوز لسائق سيارة الأجرة أو غيره أن يصليها قصرا ؛ إذا كان يريد قطع المسافة التي ذكرناها في أول الجواب أو أكثر منها اهـ .

وذهب بعض العلماء إلى أن السفر لا يحدد بمسافة معينة ، بل المرجع في ذلك إلى العرف ، فما عده الناس في العرف سفراً فهو السفر الذي تترتب عليه الأحكام الشرعية كالجمع بين الصلاتين والقصر والفطر للمسافر .

قال شيخ الإسلام في الفتاوى (24/106) : وَالْحُجَّةُ مَعَ مَنْ جَعَلَ الْقَصْرَ وَالْفِطْرَ مَشْرُوعًا فِي جِنْسِ السَّفَرِ وَلَمْ يَخُصَّ سَفَرًا مِنْ سَفَرٍ . وَهَذَا الْقَوْلُ هُوَ الصَّحِيحُ اهـ .

وسئل الشيخ ابن عثيمين في فتاوى أركان الإسلام (ص381) عن مقدار المسافة التي يقصر فيها المسافر الصلاة وهل يجوز الجمع دون قصر ؟

فأجاب :

المسافة التي تقصر فيها الصلاة حددها بعض العلماء بنحو ثلاثة وثمانين كيلو مترا ، وحددها بعض العلماء بما جرى به العرف أنه سفر وإن لم يبلغ ثمانين كيلو مترا ، وما قال الناس عنه : إنه ليس بسفر ، فليس بسفر ولو بلغ مائة كيلو متر .

وهذا الأخير هو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله ، وذلك لأن الله تعالى لم يحدد مسافة معينة لجواز القصر وكذلك النبي صلى الله عليه وسلم لم يحدد مسافة معينة .

وقال أنس بن مالك رضي الله عنه : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلاثَةِ فَرَاسِخَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ . رواه مسلم (691) .

وقول شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى أقرب إلى الصواب .

ولا حرج عند اختلاف العرف فيه أن يأخذ الإنسان بالقول بالتحديد ؛ لأنه قال به بعض الأئمة والعلماء المجتهدين ، فلا بأس به إن شاء الله تعالى ، أما مادام الأمر منضبطا فالرجوع إلى العرف هو الصواب اهـ .

English Version

What is the minimum distance of traveling at which the fasting is exused.

Praise be to Allaah.

The majority of scholars are of the view that the distance at which a traveler may join prayers and not fast is forty-eight miles. Ibn Qudaamah said in al-Mughni:

The view of Abu ‘Abd-Allaah [i.e., Imam Ahmad] is that it is not permissible to shorten the prayers for a distance of less than sixteen farsakhs, and a farsakh is three miles, so the distance is forty-eight miles. This was the estimation of Ibn ‘Abbaas. He said: From ‘Usfaan to Makkah, or from al-Taa’if to Makkah, or from Jeddah to Makkah.

Based on this, the distance at which it is permissible to shorten prayers is the distance of two days’ travel aiming directly for that dsetination. This is the view of Ibn ‘Abbaas and Ibn ‘Umar, and the view of Maalik, al-Layth and al-Shaafa’i.

The equivalent in kilometers is approximately 80 km.

Shaykh Ibn Baaz said in Majmoo’ al-Fataawa (12/267), explaining what is meant by traveling:

The view of the majority of scholars is that this is equivalent to approximately eighty kilometers for one who travels by car, plane or ship. This distance is what is called traveling according to the custom of the Muslims. So if a person travels by camel, car, plane or ship, for this distance or more, he is regarded as a traveler.

The Standing Committee was asked (8/90) about the distance at which a traveler may shorten his prayers, and can a taxi-driver who covers more than three hundred kilometers shorten his prayer?

They replied:

The distance at which a traveler may shorten his prayers is approximately 80 km, according to the view of the majority of scholars. It is permissible for a taxi driver or anyone else to shorten his prayers, if he is going to cover the distance mentioned at the beginning of the question, or more.

Some scholars are of the view that traveling is not to be defined by a specific distance, rather it should be defined according to custom: whatever people customarily regard as traveling is the traveling to which the shar’i rulings apply, such as joining and shortening prayers, and not fasting.

Shaykh al-Islam said in al-Fataawa (24/106): The evidence supports those who regard shortening prayers and not fasting as being applicable to all types of travel and do not single out one kind of traveling to the exclusion of another. This view is the correct one.

Shaykh Ibn ‘Uthayemeen was asked in Fataawa Arkaan al-Islam (p. 381) about the distance at which a traveler may shorten his prayers and whether it is permissible to join prayers without shortening them.

He replied:

The distance at which a traveler may shorten his prayers was defined by some of the scholars as being approximately eighty-three kilometers, and some defined it as being what is customarily regarded as traveling, even if the distance is not 80 km, and that what the people say is not traveling should not be regarded as such, even if it is as far as one hundred kilometers.

The latter view is the view favoured by Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah (may Allaah have mercy on him), because Allaah did not state a specific distance for it to be permissible to shorten prayers, and neither did the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him).

Anas ibn Maalik (may Allaah be pleased with him) said: If the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) set out for a journey of three miles or three farsakhs, he would pray two rak’ahs. Narrated by Muslim, 691.

The view of Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah is closer to what is correct.

There is nothing wrong, if there is a conflict between customary views, in going by the opinion which suggests that travel should be defined in terms of distance, because this was the view of some of the imams and scholars and mujtahids. So there is nothing wrong with that in sha Allah. But so long as custom gives a clear definition, then referring to what is customary is the right thing to do.

0 comments: