<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255</id><updated>2011-11-25T09:14:43.908+07:00</updated><category term='Haji'/><category term='Do&apos;a'/><category term='Hadits'/><category term='Isyraq'/><category term='Download'/><category term='Thibbun Nabawi'/><category term='Jihad'/><category term='Sholat Jumat'/><category term='Idul adha'/><category term='Air Zam-zam'/><category term='Isbal'/><category term='Zakat Fitri'/><category term='Rokok'/><category term='Tahrif'/><category term='Isa Alaihissalam'/><category term='Al Quran'/><category term='Yahudi'/><category term='Anak-anak'/><category term='Akhlaq'/><category term='Ta&apos;thil'/><category term='Jenggot'/><category term='Ihya Assunnah'/><category term='Dakwah'/><category term='Sihir'/><category term='Fiqih'/><category term='Tatswib'/><category term='Shorof'/><category term='Khamr'/><category term='Majelis Ilmu'/><category term='Sholat'/><category term='Shodaqoh'/><category term='Zakat Profesi'/><category term='Sufi'/><category term='Keluarga'/><category term='Kiblat'/><category term='Tafsir Al Quran'/><category term='Kitab dalam Sorotan'/><category term='Perkataan Ulama'/><category term='Syarh Baiquni'/><category term='Takyif'/><category term='Biografi'/><category term='Khawarij'/><category term='Sholat Ied'/><category term='Musik'/><category term='Nashrani'/><category term='Takbiran'/><category term='Iptek'/><category term='Qashar'/><category term='Istinja&apos;'/><category term='Adam Alaihissalam'/><category term='Alkohol'/><category term='Ashabul Kahfi'/><category term='Undangan'/><category term='Ghozwul Fikri'/><category term='Janin'/><category term='Bid&apos;ah'/><category term='Penguasa'/><category term='Iklan'/><category term='Teroris'/><category term='Tamtsil'/><category term='Palestina'/><category term='Sifat Nuzul Allah'/><category term='Rahim'/><category term='Thalabul Ilmi'/><category term='Madu'/><category term='Wudhu'/><category term='Website Islami'/><category term='Zakat Harta'/><category term='Bahasa Arab'/><category term='Syirik'/><category term='Natal'/><category term='Aqidah'/><category term='Sutrah'/><category term='Aurat'/><category term='Daurah'/><category term='Sirah'/><category term='Isra&apos; Mi&apos;raj'/><category term='Qurban'/><category term='Jenazah'/><category term='Kajian Sesat'/><category term='Dukun-Paranormal'/><category term='Shoum'/><category term='Manhaj'/><category term='Idul Fitri'/><category term='Kuburan'/><category term='Ma&apos;had Ulun Nuha'/><category term='Karya Ulama'/><category term='إعراب'/><category term='Salaf'/><category term='Dhuha'/><category term='Ruh'/><category term='&apos;Arsy'/><title type='text'>Abu Faqih</title><subtitle type='html'>أبوفقيه أ مين الدين عزيز بن عابدين</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>164</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-8162919351251670455</id><published>2010-02-04T23:33:00.000+07:00</published><updated>2010-02-04T23:35:00.540+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jenggot'/><title type='text'>Jenggot… Haruskah? (5, terakhir)</title><content type='html'>Syubuhat Seputar  Jenggot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Bukankah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- mengaitkan perintah memelihara jenggot itu dengan perintah menyelisihi Kaum Yahudi?!.. Dan karena di era ini, ada beberapa Kaum Yahudi yang memanjangkan jenggotnya, mengapa kita tidak memotong jenggot agar kita menyelisihi mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak jawaban untuk syubhat ini, diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Mereka yang memanjangkan jenggotnya hanya sebagian kecil saja, mayoritasnya tetap tidak memelihara jenggot. Padahal kita tahu, bahwa hukum standar untuk kelompok tertentu, itu didasarkan pada perbuatan seluruh atau mayoritas individunya, bukan pada perbuatan sebagian kecilnya. Ini menunjukkan bahwa perintah menyelisihi mereka dengan memanjangkan jenggot masih sesuai dengan kenyataan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- tidak hanya mengaitkannya dengan perintah menyelisihi Kaum Yahudi, tapi juga mengaitkannya dengan perintah menyelisihi Kaum Musyrikin, Kaum Majusi, dan Kaum Nasrani. Dan kita tahu, kebanyakan dari mereka sampai saat ini, masih memangkas habis jenggotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dua perintah beliau ini, (yakni perintah memanjangkan jenggot dan perintah menyelisihi Kaum Yahudi, Nasrani, Majusi, dan Musyrikin), adalah dua perintah yang berdiri sendiri-sendiri, dan dua-duanya harus dijalankan semuanya. Sehingga kita tidak boleh menyelisihi mereka, jika konsekuensinya harus meninggalkan perintah untuk memanjangkan jenggot, wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa dalil bahwa dua perintah ini berdiri sendiri-sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalilnya adalah banyaknya  perintah dari Alloh dan Rosul-Nya untuk menyelisihi mereka tanpa dibarengi perintah memanjangkan jenggot. Sebaliknya, ada juga perintah memanjangkan jenggot tanpa dibarengi perintah menyelisihi mereka. Perhatikanlah nash-nash berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنّ رسول الله صلى الله عليه وسلمُ أَمَرَ بِإِحْفَاءِ الشَّوَارِبِ وَإِعْفَاءِ اللِّحْيَة (رواه مسلم)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah menyuruh menyukur tipis kumis dan memanjangkan jenggot. (HR. Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي الزبير: كنا نؤمر أن نوفي السبال, ونأخذ من الشارب (مصنف ابن أبي شيبة 5/25504)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abuz Zubair mengatakan: “Dahulu kami (para sahabat) diperintah untuk memanjangkan jenggot, dan menyukur kumis”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah 5/25504)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; عن أبي أمامة, قال عليه الصلاة والسلام: يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ حَمِّرُوا وَصَفِّرُوا وَخَالِفُوا أَهْلَ الْكِتَابِ… تَسَرْوَلُوا وَائْتَزِرُوا وَخَالِفُوا أَهْلَ الْكِتَابِ… فَتَخَفَّفُوا وَانْتَعِلُوا وَخَالِفُوا أَهْلَ الْكِتَابِ (حسنه الحافظ في الفتح والألباني في الصحيحة)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Umamah, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Wahai Kaum Anshor, semirlah (uban) dengan warna merah dan kuning, selisihilah Kaum Ahli Kitab… Pakailah celana dan sarung, selisihilah Kaum Ahli Kitab… Ringankanlah dan pakailah alas kaki, selisihilah Kaum Ahli Kitab… (Hadits ini dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar di Fathul Bari 10/254, dan Albani di Silsilah Shohihah, hadits no: 1245) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah… Pada hadits pertama dan kedua, ada perintah memanjangkan jenggot, tanpa dibarengi perintah menyelisihi kaum Ahli Kitab… Sedang pada hadits ketiga, ada banyak perintah menyelisihi kaum Ahli Kitab, tanpa dibarengi perintah memanjangkan jenggot. Ini menunjukkan bahwa kedua perintah itu berdiri sendiri-sendiri, dan harus dikerjakan semuanya… Dan ketika dua perintah itu berkumpul pada satu amalan, maka itu lebih menguatkan petunjuk wajibnya amalan itu, sebagaimana terjadi pada masalah memanjangkan jenggot ini, wallohu a’lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Perintah menyelisihi mereka adalah khusus pada hal-hal yang menyelisihi fitrah dan Syariat Islam, jika pada keadaan tertentu mereka kembali pada fitrahnya dan sesuai Syariat Islam, maka kita tidak diperintahkan menyelisihinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh dalam masalah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Jika mereka pada masa-masa tertentu, menjadi jujur dan amanah, bahkan melebihi kaum muslimin, bolehkah kita bohong dan berkhianat dengan dalih menyelisihi mereka?!&lt;br /&gt;   2. Jika di saat ini, banyak dari mereka yang menghargai waktu, bahkan melebihi kaum muslimin, apa kita diperintah menyelisihinya?!&lt;br /&gt;   3. Jika suatu saat, mereka lebih memperhatikan kebersihan lingkungan melebihi kaum muslimin, apa kita dibolehkan mengumuhkan lingkungan kita, karena ingin menerapkan perintah menyelisihi mereka?!… dan selanjutnya anda bisa meneruskan sendiri contoh-contoh yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bukankah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menyabdakan, memelihara jenggot itu termasuk fitrah sebagaimana siwakan, istinsyaq (membersihkan hidung dengan memasukkan air ke dalamnya), dan mencabuti bulu ketiak? Dan karena siwakan, istinsyaq dan mencabuti bulu ketiak itu hukumnya sunat, itu menunjukkan memelihara jenggot juga hukumnya sunat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak jawaban dari syubhat ini, diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Maksud kata fitrah di sini, sebagaimana dikemukakan oleh para penyarah hadits, adalah: “Sunnah (tuntunan) yang dipilih oleh para Nabi terdahulu, yang seluruh ajaran langit sepakat dengannya, karena ia memang sesuai dengan tabiat asal manusia”. Anda bisa merujuk keterangan ini di kitab (an-Nihayah fi Ghoribil Hadits, karya Ibnul Atsir, hal: 710), (Fathul Bari Syarah Shohih Bukhori, hadits no: 5889), (al-Majmu’ syarhul Muhadzdzab, karya Imam Nawawi 1/338 ), (Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Tirmidzi, hadits no: 2756).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, karena yang dimaksud dengan kata fitrah adalah ajaran seluruh Nabi yang sesuai dengan tabiat asal manusia, maka ia ada yang wajib, ada juga yang sunat… Bukankah khitan hukumnya wajib, meski beliau memasukkannya dalam fitrah sebagaimana hadits berikut?! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ  (متفق عليه)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh r.a., bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Fitroh itu lima”, atau dengan redaksi “Lima diantara fitroh“: khitan, istihdad, memotong kuku, mencabut (bulu) ketiak, dan memotong kumis. (Muttafaqun Alaih) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Imam al-Mawardi yang bermadzhab syafi’i juga telah menjawab syubhat ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَمَّا الْجَوَابُ عَنْ قَوْلِهِ: عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ، فَهُوَ أَنَّ الْفِطْرَةَ الدِّينُ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا [الرُّومِ : 30] يَعْنِي دِينَهُمُ الَّذِي فَطَرَهُمْ عَلَيْهِ. وَمَا قَرَنَ بِهِ مِنْ غَيْرِ الْوَاجِبَاتِ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ فِي حُكْمِهَا، لِأَنَّهُ قَدْ يَقْتَرِنُ الْوَاجِبُ بِغَيْرِ وَاجِبٍ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ (الْأَنْعَامِ: 141)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jawaban dari hadits “Sepuluh hal yang termasuk fitroh“, maka (jawabannya adalah), bahwa yang dimaksud dengan kata fitroh di sini adalah agama, sebagaimana dalam firman Alloh ta’ala: “Itulah fitroh yang manusia diciptakan atasnya” (Surat ar-Rum: 30), maksudnya adalah agama yang mereka diciptakan atasnya. Adapun hal-hal tidak wajib lainnya yang disebutkan bersamanya, itu tidak menunjukkan bahwa hal itu seperti hukumnya, karena kadang sesuatu yang wajib digandengkan dengan sesuatu yang tidak wajib, sebagaimana dalam firman-Nya: “Makanlah dari buahnya saat ia berbuah, dan tunaikanlah kewajiban (zakat)-nya saat panennya”. (Surat al-An’am: 141) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya istidlal seperti di atas, adalah istidlal dengan dalalah iqtiron, dan sebagaimana disepakati oleh para ulama, hasil hukum yang diambil dari dalalah iqtiron itu sangatlah lemah, apalagi jika ia bertentangan dengan Nash Alqur’an, Hadits, dan Ijma’nya para ulama salaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bukankah ada beberapa ulama terdahulu yang mengatakan bahwa memangkas habis jenggot, itu hukumnya makruh? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban: Memang ada beberapa ulama terdahulu yang mengatakan demikian, tapi kita harus beri catatan di sini, bahwa istilah makruh secara bahasa berarti: Sesuatu yang dibenci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam ucapan ulama salaf, istilah makruh ini memiliki dua kemungkinan: Ada yang makruh tahrim (yakni sesuatu yang dibenci dan sampai pada derajat haram), dan ada yang makruh tanzih (yakni sesuatu yang dibenci, tapi tidak sampai pada derajat haram). Hal ini sudah banyak disinggung oleh pakar ilmu ushul fikih, diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويطلق المكروه على الحرام، وهو كثير في كلام الإمام أحمد رضي الله تعالى عنه وغيره من المتقدمين. ومن كلامه: “أكره المتعة والصلاة في المقابر” وهما محرَّمان&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah makruh bisa dipakai untuk sesuatu yang diharamkan, istilah (makruh tahrim) ini banyak terdapat dalam perkataan Imam Ahmad -semoga Alloh meridloinya- dan banyak ulama terdahulu yang lainnya. Diantara perkataan Imam Ahmad adalah: “Aku me-makruh-kan nikah mut’ah dan sholat di pemakaman” padahal kedua hal ini adalah haram di dalam madzhabnya. (Syarah Kaukabul Munir 1/419) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Ibnul Qoyyim mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[قد يطلق لفظ الكراهة على المحرم] قلت: وقد غلط كثير من المتأخرين من أتباع الأئمة على أئمتهم بسبب ذلك، حيث تورَّع الأئمة عن إطلاق لفظ التحريم، وأطلقوا لفظ الكراهة، فنفى المتأخرون التحريم عما أطلق عليه الأئمة الكراهة، ثم سهل عليهم لفظ الكراهة، وخفت مؤنته عليهم، فحمله بعضهم على التنزيه، وتجاوز به آخرون إلى كراهة ترك الأولى، وهذا كثير جدا في تصرفاتهم؛ فحصل بسببه غلط عظيم على الشريعة وعلى الأئمة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah makruh kadang dipakai untuk sesuatu yang diharamkan. Aku mengatakan: Sungguh, karena sebab ini, banyak para pengikut Imam Madzhab yang salah dalam menafsiri perkataan Imam mereka. Karena para Imam itu sangat wira’i dalam menggunakan istilah haram, sehingga mereka menggantinya dengan istilah makruh. Lalu setelah itu, mereka yang datang belakangan menafikan hukum haram pada apa yang dikatakan makruh oleh para imam itu. Kemudian (seiring perjalanan waktu), istilah makruh itu menjadi mudah dan ringan bobotnya bagi mereka, maka sebagian mereka memaknai istilah (makruh tahrim) itu dengan makruh tanzih, bahkan sebagian yang lain memaknainya dengan makruh tarkul aula, dan ini sangat banyak sekali dalam perkataan-perkataan mereka, sehingga karena sebab ini, terjadilah kesalahan yang fatal dalam (memahami) syariat dan perkataan para Imam itu. (I’lamul Muwaqqi’in 1/39) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tahu, bahwa istilah makruh yang ada dalam perkataan ulama’ terdahulu, bisa berarti haram, dan bisa berarti makruh, lalu bagaimana kita mengetahui maksud perkataan imam tersebut? Diantara jawabannya adalah, dikembalikan kepada dalil atau illat yang dipakai oleh imam tersebut dalam menghukumi sesuatu tersebut. Jika dalilnya atau illat-nya menunjukkan keharaman, maka maksud dari istilah makruh itu adalah makruh tahrim, begitu pula sebaliknya, jika dalil atau illat-nya tidak sampai pada derajat haram, maka maksud dari istilah makruh itu adalah makruh tanzih, wallohu a’lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena dalil-dalil dari Alqur’an, Hadits, dan Ijma’ menunjukkan haramnya menggundul jenggot, maka yang dimaksud mereka dengan istilah makruh di sini adalah makruh tahrim, yakni makruh yang diharamkan. Sebagaimana istilah ini digunakan dalam Alqur’an dalam ayat berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كلُّ ذلك كان سيئه عند ربك مكروها&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu adalah kejahatan yang makruh (dibenci) di sisi Tuhanmu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu sebelum ayat ini Alloh menyebutkan: Larangan menyekutukan Alloh, larangan durhaka kepada orang tua, larangan memubadzirkan harta, larangan membunuh anak dan jiwa, larangan mendekati zina, larangan memakan harta anak yatim secara zholim dll… lalu Alloh menutup larangan-larangan tersebut dengan ayat di atas, yang intinya mengabarkan kepada para hamba-Nya, bahwa semua yang dilarang itu termasuk sesuatu yang makruh, yakni makruh yang diharamkan (makruh karohah tahrimiyyah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- juga bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;احلفوا بالله، وبروا، واصدقوا، فإن الله يكره أن يحلف إلا به&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersumpahlah dengan nama Alloh, penuhilah sumpah itu, dan lakukanlah dengan tulus, karena Alloh memakruhkan (membenci) sumpah kecuali dengan (nama)Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita tahu bersumpah dengan selain namanya adalah haram, tapi dihadits ini dipakai istilah makruh untuk menyebut keharaman tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memotong jenggot untuk tujuan dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Cukuplah kaidah al-ghooyatu la tubarrirul wasiilah sebagai jawabannya. Intinya tujuan yang mulia tidaklah dapat menghalalkan cara yang haram untuk meraihnya. Sebagaimana kita tidak boleh menafkahi keluarga dengan jalan mencuri, kita juga tidak boleh berdakwah dengan mencukur jenggot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ridhonnas ghoyatun la tudrok = Kerelaan seluruh manusia adalah tujuan yang tak mungkin dicapai. Bahkan sebaik apapun kita, pasti ada saja yang memusuhi. Bukankah Nabi -shollallohu alaihi wasallam- memiliki akhlak yang sangat mulia, tapi tetap saja banyak manusia yang memusuhinya. Oleh karena itu, kita dituntut untuk sesuai dengan syariat, bukan untuk meraih kerelaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kita dituntut untuk sebisa mungkin membawa dakwah ini, agar disenangi masyarakat, tapi hal itu hanya terbatas pada sesuatu yang tidak dilarang oleh syariat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Diterimanya suatu dakwah, adalah harapan yang belum pasti kita raih, sedangkan memotong jenggot sudah pasti akan dilakukan dan jelas haramnya. Bagaimana kita mendahulukan sesuatu yang belum pasti, dan tidak menghiraukan sesuatu yang sudah pasti?! Bukankah “al-yaqiinu la yazuulu bisy syakk” = suatu keyakinan (kepastian) tidak boleh ditinggalkan karena keraguan… Dan pada keadaan seperti ini, bisa jadi akhirnya kita tidak mendapatkan dua-duanya, dakwah kita tetap tidak diterima, dan kewajiban memelihara jenggot juga tidak kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Dalam berdakwah, kita harus memperhatikan prioritas amalan. Kita harus tahu, mana yang wajib, dan mana yang tidak wajib. Mana yang menjadi tanggung jawab kita, dan mana yang bukan tanggung jawab kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh kasus ini, kita dihadapkan pada tiga pilihan: memelihara jenggot, berdakwah dan diterimanya dakwah. Kita harus tahu hukum masing-masing. Memelihara jenggot adalah fardlu ain (kewajiban setiap muslim), berdakwah adalah fardlu kifayah (kewajiban sebagian muslim), sedang diterimanya dakwah bukan kewajiban, bahkan dia bukan tanggung jawab kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jika kita mampu mengusahakan tiga-tiganya, maka itulah yang terbaik. Jika itu tidak memungkinkan, maka paling tidak kita melakukan yang wajib, yakni memelihara jenggot dan berdakwah. Jika itu masih tidak memungkinkan, maka paling tidak kita mendahulukan yang farlu ‘ain, dari pada yang fardlu kifayah. Wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ada orang yang menggundul jenggotnya, tapi lebih bagus akhlaknya dari pada orang yang memelihara jenggotnya. Oleh karena itu, tidak usah lah kita terlalu mempermasalahkan hal ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah dalil yang sangat lemah, karena hanya berdasar logika tanpa dalil syariat. Oleh karenanya gampang sekali dijawab. Diantara jawabannya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kita bisa balik perkataan di atas, dengan mengatakan: “Ada juga -bahkan sangat banyak- orang yang memelihara jenggot, yang akhlaknya jauh lebih bagus, dari orang yang tidak memanjangkan jenggotnya”. Bukankah Rosul -shollallohu alaihi wasallam- dulu berjenggot?!… Adakah orang yang lebih bagus akhlaknya dari beliau?!… Belum lagi para sahabat beliau dan para imam, bukankah mereka dulu berjenggot?!… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ketika kita mengatakan wajibnya berjenggot, bukan berarti kita tidak menganjurkan akhlak yang baik. Keduanya merupakan Syariat Islam yang suci dan mulia. Makanya kita katakan: “Orang yang akhlaknya bagus tapi tidak berjenggot, maka akan lebih baik lagi bila ia memelihara jenggotnya”, dan sebaliknya “Orang yang berjenggot tapi akhlaknya tidak baik, maka akan lebih baik lagi bila ia menerapkan akhlak yang mulia”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Insan muslim yang melakukan satu Syariat Islam, tentunya lebih baik, daripada orang yang sama sekali tidak melakukan syariat islam. Oleh karena itu, orang yang berjenggot meski belum mampu membaikkan akhlaknya, itu masih lebih bagus dari pada orang yang menggundul jenggotnya dan akhlaknya buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Baik dan tidaknya akhlak, seringkali merupakan suatu yang relatif, dan dipengaruhi oleh sikon, standar si penilai, dan adat kebiasaan masyarakat,  sehingga kurang bisa dijadikan standar baku untuk menilai tingkah laku seseorang. Ditambah lagi, Seorang muslim itu dituntut untuk berakhlak kepada Alloh dan kepada sesama. Dan terkadang, ketika ia harus mendahulukan akhlak kepada Alloh, -misalnya ketika mengingkari kemungkaran yang ia lihat-, orang-orang mengira ia kurang berakhlak kepada sesama, padahal kadang hal itu merupakan keharusan bagi dia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Jika logika di atas benar, bagaimana jika keadaannya seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada orang yang sukanya mabuk, tapi akhlaknya kepada orang luar biasa bagus, disamping sifatnya yang sangat dermawan. Apa kita tidak mempermasalahkan tindakan mabuknya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika ada orang yang males sholat lima waktu, tapi akhlaknya mulia, dan sering membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan. Apa kita tidak mengingatkannya untuk melaksanakan kewajibannya sholat lima waktu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika ada orang yang akhlaknya dan sosialnya sangat bagus, tapi sering bermain judi. Apa kita tidak mempermasalahkan permainan judinya?!… Dan masih sangat banyak contoh-contoh lainnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, memanjangkan jenggot itu bukanlah seluruh Islam, sebagaimana akhlak yang mulia, juga bukan seluruh islam. Keduanya merupakan bagian dari Ajaran Islam… Sehingga bisa jadi orang yang memelihara jenggot itu meninggalkan syariat islam yang lain, begitu pula orang berakhlak mulia, bisa jadi mereka meninggalkan syariat islam yang lain… Dan kita disini, hanya membicarakan salah satu syariat islam yang wajib saja, yakni memelihara jenggot… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Sebagaimana kita diperintah untuk mengingkari orang yang meninggalkan sholat wajib lima waktu, kita juga diperintah untuk mengingkari orang yang meninggalkan kewajiban memanjangkan jenggot. Karena keduanya sama-sama diwajibkan, meski derajat wajibnya tidak sama… Itulah bentuk kasih sayang seorang muslim kepada saudaranya, karena ia tidak ingin saudaranya jatuh dalam kemaksiatan, sehingga mendapat siksaan yang pedih dari-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Jika kita tidak mempermasalahkan hal ini, padahal ia adalah kewajiban yang ditinggalkan dan keharaman yang banyak dilakukan, maka kapan kita akan amar ma’ruf nahi munkar?!…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menyabdakan, bahwa sedikit demi sedikit Syariat Islam itu akan terkikis. Dan diantara sebabnya adalah tidak adanya amar ma’ruf  ketika yang ma’ruf ditinggalkan, dan tidak adanya nahi mungkar ketika yang mungkar banyak dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, jika saat ini tidak ada yang nahi munkar  kepada orang melakukan syirik dan bid’ah, besoknya tidak ada orang yang mengingkari orang yang menggundul jenggotnya, lalu besok tidak ada yang mengingkari riba, lalu besoknya lagi tidak ada yang mengingkari zina, lalu besoknya lagi tidak ada yang mengingkari orang yang meninggalkan shalat wajib lima waktu… Lalu besoknya tidak ada yang amar ma’ruf untuk mentauhidkan Alloh dan menghidupkan sunnah Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, lalu besoknya tidak ada yang menyuruh zakat, lalu besoknya tidak ada yang menyuruh membaca Alqur’an… dst… Tentunya lambat laun, Syariat Islam ini akan terlupakan dan terkikis… Oleh karena itu, marilah sebisa mungkin menjadi Pejuang Islam, dengan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam hal-hal yang kita mampui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Inti dari syubhat ini adalah mengambil kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berjenggot, untuk menjatuhkan syariat memelihara jenggot, atau sebaliknya menampakkan kebaikan orang yang menggundul jenggotnya untuk melegalisasi tindakan menggundul jenggotnya. Syubhat ini bisa juga dikembangkan dalam banyak variasi, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada orang yang berjenggot, tapi ia tidak merawatnya, sehingga menimbulkan bau tak sedap, dan sangat mengganggu orang yang didekatnya. Padahal kita tahu Islam melarang kita mengganggu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada orang yang berjenggot, tapi malah jadi teroris, dan banyak membuat keonaran. Padahal Islam tidak mengajarkan teroris, malah sebaliknya islam adalah agama yang rahmatan lil alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada orang berjenggot tapi ia tidak sholat, masih mending tetangga saya, meski tidak berjenggot ia rajin ke masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Di tempat saya ada orang yang berjenggot, tapi sering mencuri. Padahal banyak dari temannya yang tidak berjenggot, tapi jauh lebih baik dari yang berjenggot itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Di kos saya ada yang kecanduan obat-obatan terlarang, padahal dia sudah berjenggot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada juga orang yang menggundul jenggotnya, tapi dia sangat santun dalam tutur kata dan sangat menghormati orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Saya punya teman yang tidak memelihara jenggot, tapi ia sangat dermawan, dan sangat peduli dengan orang di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selanjutnya, anda bisa meneruskan dengan contoh-contoh yang lain… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menjawabnya…??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat dan sangat mudah sekali… Dalam kasus-kasus di atas, ada dua masalah yang harus dibedakan, masalah memelihara jenggot, dan masalah yang diikutkan bersamanya… Dan kedua masalah itu, harus dipilah-pilah dan di bahas sesuai dalil masing-masing…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada orang yang berjenggot, tapi tidak merawatnya sehingga mengganggu orang lain. Maka kita katakan, dia sudah bagus dalam memanjangkan jenggotnya, tapi masih teledor karena tidak merawatnya. Yang seharusnya adalah disamping ia memanjangkan jenggotnya, ia juga harus merawatnya, agar tidak mengganggu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada yang berjenggot, tapi malah jadi teroris. Maka kita katakan, dia benar dalam hal memelihara jenggotnya, tapi salah dalam tindakan terorisnya. Yang seharusnya adalah disamping ia memelihara jenggotnya, ia juga harus meninggalkan tindakan terorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ada yang dermawan, meski ia tidak memelihara jenggotnya. Maka kita katakan, dia sudah baik dengan kedermawanannya, tapi masih kurang dalam memelihara jenggotnya. Yang seharusnya adalah, disamping ia dermawan, ia wajib memelihara jenggotnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan selanjutnya, anda bisa jawab sendiri contoh-contoh kasus yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah… Sampai juga kita di penghujung tulisan ini… Penulis yakin, banyak kekurangan di sana-sini dalam tulisan ini. Tidak lain, itu bersumber dari kedangkalan ilmu penulis… Apa yang benar dalam tulisan, itu adalah semata-mata dari Alloh, adapun jika ada kesalahan, itu adalah dari pribadi penulis dan dari setan, sedang Alloh dan Rosul-Nya bebas dari kesalahan itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, meski dengan keterbatasan yang ada, penulis tetap berharap, semoga tulisan ini bermanfaat bagi diri penulis, juga para pembaca yang budiman… Dan semoga kita bisa mengamalkannya dalam kehidupan, sehingga menjadi sebab kebahagiaan kita di dunia ini, dan di akhirat nanti… Kurang lebihnya mohon maaf… Wa subhaanakalloohumma wa bihamdik, asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaiih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://addariny.wordpress.com/2010/01/31/jenggot-haruskah-5-terakhir/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-8162919351251670455?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/8162919351251670455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=8162919351251670455' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8162919351251670455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8162919351251670455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/02/jenggot-haruskah-5-terakhir.html' title='Jenggot… Haruskah? (5, terakhir)'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-6516859179947918116</id><published>2010-02-04T23:32:00.000+07:00</published><updated>2010-02-04T23:33:46.107+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jenggot'/><title type='text'>Jenggot… Haruskah?! (4)</title><content type='html'>Memendekkan Jenggot… Bolehkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kami tegaskan lagi di sini, bahwa para ulama salaf telah ijma’ (sepakat) bahwa memendekkan jenggot hingga kurang dari genggaman tangan adalah haram, sebagaimana telah kami singgung di awal tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi khilaf adalah, bolehkah kita memendekkan jenggot sampai batas genggaman tangan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua pendapat dalam masalah ini, sebagian ulama mengharamkannya, sedang jumhur (mayoritas) ulama membolehkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara dalil pendapat yang mengharamkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ke-umum-an dalil-dalil yang mewajibkan memelihara jenggot. Dalil-dalil tersebut tidak menerangkan batasan bolehnya memangkas jenggot. Itu menunjukkan bahwa larangan memangkas jenggot itu umum, baik kurang dari genggaman tangan atau lebih darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Redaksi perintah memanjangkan jenggot dalam hadits adalah: “ahfuu” “a’fuu” “Arkhuu” “waffiruu” dan “arjuu” atau “arji’uu“, dan kata-kata itu dalam bahasa arab berarti perintah membiarkan jenggot apa adanya, yakni tidak boleh memangkasnya sama sekali. (Lihat Syarah Shohih Muslim, karya Imam Nawawi, hadits no: 260).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak ada dalil yang shohih dari sabda maupun perbuatan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, yang menunjukkan bahwa beliau pernah memangkas jenggotnya. Yang shohih dari beliau hanyalah perintah untuk memanjangkan jenggot saja sebagaimana dijelaskan oleh Syeikh Albani -rohimahulloh-. Padahal kita tahu, setiap perintah dari syari’at itu menunjukkan kewajiban, kecuali ada dalil yang merubahnya. Itu berarti wajib bagi kita membiarkan jenggot apa adanya, dan haram bagi kita memangkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang diantara dalil pendapat yang membolehkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adanya beberapa atsar yang shohih dari sebagian sahabat, yang menunjukkan bolehnya memendekkan jenggot hingga batas genggaman tangan, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان ابن عمر إذا حج أو اعتمر قبض على لحيته, فما فضل أخذه (أخرجه البخاري 5892)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu Ibnu Umar jika haji atau umroh, ia memegang jenggotnya, lalu memotong yang lebih genggamannya. (HR. Bukhori 5892)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جابر بن عبد الله قال: كنا نعفي السبال إلا في حج أوعمرة (أخرجه أبو داود 4201 وحسنه الحافظ ابن حجر في الفتح, شرح حديث رقم 5892)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin Abdulloh mengatakan: “Dahulu kami membiarkan apa yang panjang dari jenggot kami, kecuali saat haji atau umroh”. (HR. Abu Dawud 4201, dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar, syarah hadits no 5892)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي زرعة بن جرير: كان أبو هريرة يقبض على لحيته, ثم يأخذ ما فضل عن القبضة. قال الألباني: وإسناده صحيح على شرط مسلم (السلسلة الضعيفة 13/440)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Zur’ah bin Jarir: “Dahulu Abu Huroiroh memegang jenggotnya, lalu mengambil yang lebih dari genggamannya”. Syeikh Albani mengatakan: Sanadnya shohih sesuai syaratnya Imam Muslim (Silsilah Dloifah 13/441).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن إبراهيم النخعي: كانوا يأخذون من جوانبها وينظفونها يعني اللحية. (قال الألباني: أخرجه ابن أبي شيبة والبيهقي في شعب الإيمان بإسناد صحيح عن إبراهيم النخعي. السلسلة الضعيفة 13/440)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrohim an-Nakho’i -ulama salaf dari kalangan tabi’in- mengatakan: “Dahulu mereka mengambil sebagian dari pinggir-pinggir jenggot mereka dan membersihkannya”. Syeikh Albani mengatakan: Atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman dengan sanad yang shohih dari Ibrohim an-Nakho’i. (Silsilah Dlo’ifah 13/440). Dan sebagaimana dikatakan oleh para ulama, Ibrohim an-Nakho’i ini mendapati beberapa sahabat yang masih hidup di masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perbuatan Ibnu Umar itu dilakukannya ketika sedang haji, dan tentunya banyak ulama salaf lain yang melihatnya atau mendengarnya, tapi tidak satupun dari mereka mengingkarinya. Itu menunjukkan bahwa tindakan itu bukanlah hal yang terlarang dalam Islam. Karena jika hal itu terlarang dan bertentangan dengan perintah memanjangkan jenggot, tentunya ada ulama salaf lain yang menasehati atau mengingkarinya, sebagaimana mereka saling menasehati atau mengingkari dalam masalah yang lebih ringan dari ini, selama hal itu dianggap melanggar perintah Rosul -shollallohu alaihi wasallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ibnu Umar adalah sahabat yang terkenal dengan kesungguhannya dalam mengikuti setiap tuntunan Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, bahkan sampai pada hal-hal yang mubah… Dan bila dalam hal yang mubah saja beliau berusaha meniru Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, beranikah beliau melanggar atau meninggalkan perintah memanjangkan jenggot ini… Apalagi diantara yang meriwayatkan perintah memanjangkan jenggot itu juga beliau sendiri… Renungkanlah atsar-atsar berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عائشة رضي الله عنها: ما رأيت أحدا ألزم للأمر الأول من ابن عمر (سير أعلام النبلاء 3/203)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah r.a. mengatakan: Tidak kulihat seorang pun yang berpegang teguh dengan al-Amrul Awwal (sunnah Rosul) melebihi Ibnu Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال نافع: لو نظرت إلى ابن عمر إذا اتبع رسول الله صلى الله عليه وسلم لقلت هذا مجنون. (سير أعلام النبلاء 3/203)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafi’ mengatakan: Jika kamu melihat Ibnu Umar ketika mengikuti Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, niscaya kamu akan mengatakan: “ini orang gila”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال جعفر الباقر: كان ابن عمر إذا سمع من رسول الله صلى الله عليه وسلم حديثا لا يزيد ولا ينقص, ولم يكن أحد في ذلك مثله. (سير أعلام النبلاء 3/203)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja’far al-Baqir mengatakan: Dahulu Ibnu Umar jika mendengar hadits dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, ia tidak menambah ataupun menguranginya, dan tidak seorang pun yang (ku lihat) seperti dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال في تهذيب الأسماء واللغات (1/279): كان شديد الاتباع لآثار رسول الله صلى الله عليه وسلم, ومناقبه كثيرة مشهورة, قل نظيره في المتابعة لرسول الله صلى الله عليه وسلم, في كل شيء من الأقوال والأفعال&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi mengatakan: Ibnu Umar adalah orang yang sangat teguh dalam mengikuti jejak-jejak Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, keutamaannya banyak dan masyhur, sedikit orang yang seperti dia dalam mengikuti Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dalam segala hal, baik dalam hal mengikuti ucapan maupun perbuatan beliau. (Tahdzibul Asma’ wal Lughot 1/279)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال في وفيات الأعيان (2/234): “وكان كثير الاتباع لآثار رسول الله صلى الله عليه وسلم, شديد التحري والاحتياط والتوقي في فتواه وكل ما يأخذ به نفسه… وكان أعلم الصحابة بمناسك الحج”ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Kholikan mengatakan: Ibnu Umar adalah seorang yang banyak mengikuti jejak-jejak Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, ia ektra teliti, hati-hati, dan takut dalam fatwa dan setiap pendapat yang dipilihnya… dia adalah sahabat yang paling tahu tentang manasik haji. (Wafayatul A’yan 2/234)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jika mereka mengatakan: “Kita tidak mengambil pemahaman si perowi hadits (yang membolehkan memangkas jenggot hingga batas genggaman tangan), tapi yang kita ambil adalah riwayatnya (yang memerintahkan kita membiarkan jenggot apa adanya)”, maka kita katakan: Hal itu bisa dibenarkan, bila keduanya tidak bisa dikompromikan, tapi selama keduanya bisa dikompromikan tanpa dipaksakan, maka hal itu lebih didahulukan, dari pada meninggalkan pemahaman si perowi sama sekali. Fal jam’u aula minat tarjih. (lihat penjelasan Syeikh Albani dalam masalah ini di silsilah dlo’ifah 13/442)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jika mereka berdalil dengan arti bahasa dari “ahfuu” “a’fuu” “Arkhuu” “waffiruu” dan “arjuu” atau “arji’uu“, maka kita katakan: Bukankah Ibnu Umar dan para salaf juga memahami makna bahasa dari kata-kata itu?!… Lalu mengapa ada diantara mereka yang memangkas jenggotnya hingga batas genggaman tangan, sedang para salaf yang lain tidak mengingkarinya?!… Bukankah pahamnya para salaf dalam memahami nash syariat, lebih didahulukan dari pada pemahaman generasi yang datang setelahnya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Adanya tafsiran dari Sahabat Ibnu Abbas dengan sanad yang shohih, yang menunjukkan bolehnya memendekkan jenggot hingga batas genggaman tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن ابن عباس أنه قال في قوله تعالى [ثم ليقضوا تفثهم]، التفث: حلق الرأس, وأخذ الرأس, وأخذ الشاربين, ونتف الإبط, وحلق العانة, وقص الأظفار, والأخذ من العارضين ورمي الجمار، والموقف بعرفة والمزدلفة. قال الشيخ الألباني: أخرجه ابن جرير وإسناده صحيح (السلسلة الضعيفة 13/441)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas, ia mengatakan dalam firmannya Alloh ta’ala (yang artinya): “kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran mereka”, maksud dari kata kotoran adalah: menggundul kepala, menyukur kumis, menyabuti bulu ketiak, menggundul rambut kemaluan, memotong kuku, mengambil sebagian dari sisi jenggotnya, melempar jamarot, dan berwukuf di arofah, dan mabit di Muzdalifah. (Syeikh Albani mengatakan, atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Jarir, dan sanadnya shohih. Lihat di silsilah dlo’ifah 13/441)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsiran pakar tafsir dari generasi Sahabat ini, juga disebutkan oleh pakar tafsir dari generasi Tabi’in, diantaranya Mujahid dan Muhammad bin Ka’b al-Qurozhi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن مجاهد في قوله تعالى [ثم ليقضوا  تفثهم] قال: حلق الرأس، وحلق العانة, وقص الأظفار, وقص الشارب, ورمي الجمار, وقص اللحية. قال الألباني: سنده صحيح. (السلسلة الضعيفة 13/441)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Mujahid, dalam firman-Nya (yang artinya): “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran mereka”, ia mengatakan: (maksudnya adalah) menggundul kepala, menggundul rambut kemaluan, memotong kuku, menyukur kumis, melempar jamarot, dan memendekkan jenggot“. (Syeikh Albani mengatakan: Sanadnya shohih. Lihat di silsilah dlo’ifah 13/441)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن محمد بن كعب القرظي كان يقول في هذه الآية: [ثم ليقظوا تفثهم], قال: رمي الجمار, وذبح الذبيحة, وأخذ من الشاربين واللحية والأظفار, والطواف بالبيت, وبالصفا والمروة. قال الألباني: أخرجه ابن جرير بسند جيد عنه (السلسلة الضعيفة 13/441)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi dahulu menafsiri ayat ini (yang artinya): “Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran mereka” ia mengatakan: (maksudnya adalah) melempar jamarot, menyembelih sembelihan, mengambil sebagian dari kumis, jenggot, dan kuku, thowaf di ka’bah, dan sa’i di shofa dan marwa. (Syeikh Albani mengatakan: Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dengan sanad yang jayyid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Dalil pendapat pertama adalah dalil umum, sedang dalil pendapat kedua adalah dalil khusus, dan dalam kaidah ushul fikih dikatakan: bahwa dalil umum harus dimaknai sesuai dengan petunjuk dalil khusus. Sehingga maksud dari perintah umum memanjangkan jenggot itu adalah kewajiban memanjangkan jenggot hingga batas genggaman tangan, dan apa yang lebih dari genggaman, boleh dipotong sebagaimana ditunjukkan oleh dalil khusus dari para ulama’ salaf, wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pemahaman ini, kita akan bisa mengompromikan nash-nash perintah memanjangkan jenggot, dengan pemendekan jenggot hingga batas genggaman yang dilakukan oleh para salaf kita, sehingga tidak ada pertentangan antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Inti dari dalil pendapat pertama adalah: menuntut kita untuk mendatangkan dalil bolehnya memangkas jenggot hingga batas genggaman tangan, dan Alhamdulillah kita telah mendatangkan dalil-dalil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak ada dalil dari sabda dan perbuatan Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, tapi bukankah tindakan dan kesepakatan para sahabat beliau, cukup untuk menunjukkan bolehnya memangkas jenggot hingga batas genggaman tangan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah imam empat sepakat, bahwa pendapat para sahabat pada masalah yang tidak ada khilaf diantara mereka, itu bisa dijadikan hujjah (dalil), selama tidak ada dalil dari Kitab maupun Sunnah?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bukankah pendapatnya para sahabat beliau lebih kuat, dari pada pendapatnya generasi setelah mereka yang menyelisinya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Jika ada yang mengatakan: Perbuatan Ibnu Umar hanya dilakukan ketika haji, mengapa kita jadikan dalil untuk membolehkannya secara mutlak, tanpa batasan waktu haji?! Maka kita katakan: “Jika waktu haji saja boleh, maka waktu yang lainnya lebih dibolehkan”, sebagaimana dikatakan oleh para ulama. Ibnu Abdil Barr mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي أخذ ابن عمر رضي الله عنهما من آخر لحيته في الحج دليل على جواز الأخذ من اللحية في غير الحج, لأنه لو كان غير جائز ما جاز في الحج. (الاستذكار 13/116)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan Ibnu Umar r.a. yang memotong ujung jenggotnya ketika haji, merupakan dalil bolehnya memotong sebagian jenggot di luar haji, karena jika di luar haji hal itu tidak boleh, tentunya hal itu tidak dibolehkan juga ketika haji. (Alistidzkar 13/116)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga dikatakan: Jika perbuatan Ibnu Umar ini, hanya bisa dijadikan dalil untuk membolehkan memangkas jenggot hingga batas genggaman ketika haji saja, maka atsar dari Abu Huroiroh dan an-Nakho’i, bisa kita gunakan untuk dalil bolehnya memangkas jenggot hingga batas genggaman tangan di waktu lainnya, wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Terakhir, kami akan sebutkan di sini dalil yang menurut pandangan penulis lemah, tapi tidak mengapa bila diikutkan dengan dalil-dalil yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Sebagian orang, ada yang jenggotnya terlalu subur, hingga pertumbuhnya cepat dan panjangnya di luar batas kewajaran, hingga sangat memberatkan dirinya dalam menjalankan kewajiban ini, dan ini tidak selaras dengan dasar-dasar ajaran Islam yang mudah dan tidak memberatkan. Dalam biografinya Dhiya’ bin Sa’d bin Muhammad bin Utsman al-Qozwini al-Afifi (wafat 780 H) dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكانت لحيته طويلة, بحيث يصل إلى قدميه, ولا ينام إلا وهي في كيس, وإذا ركب تتفرق فرقتين. (درة الحجال في أسماء الرجال 3/37), (بغية الوعاة للسيوطي 2/14)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu jenggotnya panjang, hingga sampai di kedua kakinya, ia tidak tidur melainkan jenggotnya dimasukkan ke tempat pembungkus, dan jika naik (tunggangan) jenggotnya dibelah menjadi dua. (Durrotul Hijal fi Asma’ir Rijal 3/73) (Bughyatul Wu’ah lis Suyuthi 2/14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Diantara hikmah disyariatkannya memanjangkan jenggot -sebagaimana disebutkan oleh para ulama- adalah karena ia merupakan penghias bagi laki-laki, dan bila jenggot dibiarkan apa adanya, hingga panjangnya menjadi tidak wajar, maka ia tidak lagi menjadi penghias, tapi sebaliknya akan menjadikan pemandangan kurang pantas. Dan tentunya hal ini tidak sesuai dengan hikmah yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Diantara alasan memanjangkan jenggot adalah, menyelisihi kaum ahli kitab, musyrikin, dan majusi, yang menipiskan atau bahkan menggundul jenggotnya. Dan hal itu sudah terlaksana bila kita memanjangkan jenggot ini hingga batas genggaman tangan, wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dalil-dalil yang ada, penulis -yang sedikit ilmu ini- lebih condong ke pendapat kedua, yakni bolehnya memangkas jenggot hingga batas genggaman tangan, sebagaimana dilakukan oleh para salafush sholih, wallohu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami akan tutup pembahasan ini, dengan menukil perkataan para imam empat yang memilih pendapat kedua ini. Kami sebutkan pendapat para imam ini, agar kita tahu bahwa khilaf yang ada dalam masalah ini, datangnya itu belakangan, yakni dari para pengikut madzhab, bukan dari para imam tersebut… Sungguh para Imam Empat telah sepakat tentang haramnya menggundul jenggot… Mereka juga telah sepakat tentang bolehnya memangkas jenggot hingga batas genggaman tangan. Berikut kami nukilkan perkataan mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Imam Abu Hanifah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال محمد بن الحسن -صاحب أبي حنيفة- رحمهما الله: أخبرنا أبو حنيفة عن الهيثم عن ابن عمر رضي الله عنهما: أنه كان يقبض على لحيته ثم يقص ما تحت القبضة. قال محمد: وبه نأخذ, وهو قول أبي حنيفة. (الآثار 900)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad ibnul Hasan mengatakan: Imam Abu Hanifah mengabarkan kepada kami, dari al-Haitsam, dari Ibnu Umar r.a.: Sesungguhnya dia (Ibnu Umar) dulu memegang jenggotnya, lalu memangkas yang di bawah genggamannya. Muhammad (ibnul Hasan) mengatakan: Dengannya kami berpendapat, dan inilah pendapatnya (Imam) Abu Hanifah.  (al-Atsar 900)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Imam Malik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قيل لمالك: فإذا طالت جدا فإن من اللحى ما تطول؟! قال: أرى أن يؤخذ منها وتقصَر… وروى عبيد الله بن عمر عن نافع أن بن عمر كان إذا قصر من لحيته في حج أو عمرة يقبض عليها ويأخذ من طرفها ما خرج من القبضة (الاستذكار 27/65)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Malik pernah ditanya: “Bagaimana jika jenggot itu panjang sekali, karena ada jenggot yang bisa panjang (sekali)?!” Imam Malik menjawab: “Aku berpendapat untuk diambil dan dipendekkan sebagiannya… dan Imam malik meriwayatkan dari Ubaidulloh bin Umar, dari Nafi’: bahwa sesungguhnya Ibnu Umar dahulu jika memendekkan jenggotnya saat haji atau umroh, ia memegang jenggotnya, dan memotong yang keluar dari genggamannya. (Alistidzkar 27/65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال أبو عمر: قد صح عن بن عمر ما ذكرناه عنه في الأخذ من اللحية وهو الذي روى عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه أمر بإحفاء الشوارب وإعفاء اللحى وهو أعلم بما روى (الاستذكار 27/66)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Umar (Ibnu Abdil Barr) mengatakan: Telah (datang dengan sanad yang) shohih dari Ibnu Umar tentang (bolehnya) mengambil sebagian dari jenggot, dan dia juga yang meriwayatkan dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bahwa beliau memerintah untuk menyukur tipis kumis dan memanjangkan jenggot, dan (tentunya) dia lebih tahu dengan apa yang diriwayatkannya.  (Alistidzkar 27/66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Imam Syafi’i&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأحب إلي لو أخذ من لحيته وشاربه, حتى يضع من شعره شيئا لله, وإن لم يفعل فلا شيء عليه, لأن النسك إنما هو في الرأس لا في اللحية. (الأم 2/2032)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i mengatakan: Aku lebih senang jika ia (orang yang bermanasik, yakni ketika tahallul) mengambil sebagian dari jenggot dan kumisnya, sehingga ia meletakkan sebagian dari rambutnya karena Alloh. Tapi jika ia tidak melakukannya, maka tidak apa-apa, karena yang menjadi amalan manasik adalah menyukur rambut yang di kepala, bukan yang di jenggot. (al-Umm 2/2032)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال المزني: ما رأيت أحسن وجها من الشافعي رحمه الله, وكان ربما قبض على لحيته فلا يفضل عن قبضته. (سير أعلام النبلاء 10/11)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Muzani mengatakan: Aku tidak melihat ada orang yang lebih tampan wajahnya dari Imam Syafi’i -rohimahulloh-, dan terkadang ia mengenggam jenggotnya, lalu ia tidak menambah lebih dari genggamannya. (Siyaru A’lamin Nubala’ 10/11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Imam Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن إسحاق بن هانئ قال: سألت أحمد عن الرجل يأخذ من عارضيه؟ قال: يأخذ من اللحية ما فضل عن القبضة. قلت: فحديث النبي صلى الله عليه وسلم “أحفوا الشوارب وأعفوا اللحى”؟ قال: يأخذ من طولها, ومن تحت حلقه. ورأيت أبا عبد الله يأخذ من طولها ومن تحت حلقه. (كتاب الترجل من كتاب الجامع 113-114)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishaq bin Hani’ mengatakan: Aku telah bertanya kepada (Imam) Ahmad, tentang orang yang mengambil sebagian dari sisi jenggotnya? Beliau menjawab: “Boleh baginya mengambil sebagian dari jenggotnya, apa yang melebihi genggamannya”. Aku bertanya lagi: Lalu bagaimana dengan hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam- yang berbunyi: “Potong tipislah kumis, dan biarkan jenggot apa adanya!”. Beliau menjawab: “Boleh baginya mengambil dari panjangnya dan dari bawah langit-langit mulutnya”. (Ishaq mengatakan:) Dan aku telah melihat (sendiri) Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad) mengambil jenggotnya dari sisi panjangnya dan dari bawah langit-langit mulutnya. (Kitabut Tarojjul dari Kitabul Jami’ 113-114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Alloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, kami ingin mengingatkan lagi kepada para pembaca, khususnya yang sudah mengamalkan Sunnah Rosul ini dengan sabda-sabda berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من كان له شعر فليكرمه (رواه أبو داود 4163, وصححه الألباني)ـ قال في عون المعبود: أي فليزينه ولينظفه بالغسل والتدهين والترجيل, ولا يتركه متفرقا, فإن النظافة وحسن المنظر محبوب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Barangsiapa mempunyai rambut, maka hendaklah ia menghormatinya” (HR. Abu Dawud 4163, dan dishohihkan oleh Albani). Pengarang kitab Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud mengatakan: maksudnya adalah “maka baguskanlah rambut itu, dan bersihkanlah dengan mencucinya, meminyakinya, dan menyisirnya, dan janganlah ia biarkan kumal, karena sesungguhnya kebersihan dan bagusnya penampilan itu disukai”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عائشة قالت: كنت أطيب النبي صلى الله عليه وسلم بأطيب ما يجد, حتى أجد وبيص الطيب في رأسه ولحيته&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah mengatakan: Aku dulu biasa memarfumi Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dengan minyak terbaik yang ada, hingga aku lihat kilatan minyak itu di kepala dan jenggot beliau. (HR. Bukhori 5923)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جابر بن عبد الله: أتانا رسول الله صلى الله عليه وسلم, فرأى رجلا شعثا قد تفرق شعره, فقال: أما كان يجد هذا ما يسكن به شعره؟! (رواه أبو داود 4062, وصححه الألباني)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir  bin Abdulloh mengatakan: Suatu hari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mendatangi kami, maka ketika melihat orang yang rambutnya kusut tidak teratur, beliau mengatakan: “Apa orang ini tidak punya sesuatu yang bisa membuat rapi rambutnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, Rawatlah rambut kita, baik rambut kepala maupun rambut jenggot , dengan membersihkannya, meminyakinya, menyisirnya, dan lain sebagainya. Karena itu termasuk adab-adab islami yang dituntunkan oleh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian tulisan ini, dan mohon maaf jika terlalu panjang. Tidak lain, penulis hanya ingin memberikan manfaat kepada diri sendiri dan juga para pembaca… semoga kita bisa mengamalkan ilmu yang kita dapatkan… amin. (Bersambung… Syubhat-Syubhat seputar Jenggot)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://addariny.wordpress.com/2010/01/24/jenggot-haruskah-4/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-6516859179947918116?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/6516859179947918116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=6516859179947918116' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6516859179947918116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6516859179947918116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/02/jenggot-haruskah-4.html' title='Jenggot… Haruskah?! (4)'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-6403401834829705754</id><published>2010-02-04T17:01:00.000+07:00</published><updated>2010-02-04T17:03:00.816+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jenggot'/><title type='text'>Jenggot… Haruskah? (3)</title><content type='html'>Jenggotnya ROSUL -shollallohu alaihi wasallam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh ta’ala adalah Tuhan yang maha menyayangi hamba-Nya, Dia lebih menyayangi hamba-Nya melebihi kasih sayang ibu kepada buah hatinya, sebagaimana diterangkan dalam hadits shohih. Oleh karena itulah, selain memberi semua nikmat yang dirasakan oleh manusia sejak lahirnya, Dia juga mengutus para Rosul yang bertugas menuntun umatnya kepada jalan-Nya yang lurus, satu-satunya jalan yang dapat menghantarkan manusia menuju kebahagiaan jasmani dan rohani, di dunia ini dan di akhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh ta’ala juga menyariatkan aturan hidup yang sangat lengkap dan mencakup segala sisi kehidupan manusia. Aturan itu adalah Syariat Islam, yang telah dijadikan lengkap, dan diridhoi oleh-Nya sebagai syariatnya Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya (surat al-Maidah, ayat:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariat Islam adalah syariat yang paling baik dan paling cocok untuk kehidupan manusia sejak diutusnya Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- hingga kiamat nanti. Mengapa demikian? Karena ia datangnya dari Alloh ta’ala, Tuhan yang Maha Pencipta, Maha Mengetahui, dan Maha Berkuasa. Dia-lah yang menciptakan manusia, Dia-lah yang paling tahu aturan yang bisa memperbaiki manusia ciptaan-Nya, dan Dia-lah yang maha berkuasa untuk menjadikan aturan itu lengkap dan cocok sampai akhir masa… subhanalloh, walhamdulillah, wallohu akbar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariat Islam bukanlah syariat yang hanya sebatas teori, tanpa bisa diterapkan dalam kehidupan. Oleh karena itulah, Alloh menjadikan Rosul-Nya sebagai teladan paling baik dalam menerapkan aturan-Nya. Jika Syariat Islam itu hanya sebatas teori, tentunya beliau tidak mampu menerapkannya, tetapi nyatanya tidak demikian… Itu berarti Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam- adalah teladan terbaik kita dalam segala hal, dalam ibadah, dalam memimpin negara, dalam mencari nafkah, dalam berfatwa, dalam memutuskan suatu masalah, dalam berinteraksi dengan kawan maupun lawannya, dalam menjalani perintah-Nya, dalam menjauhi larangan-Nya, dan seterusnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam masalah kita kali ini, -yakni masalah memelihara jenggot-, Beliau-lah teladan terbaik untuk kita… Sungguh aneh, bagi mereka yang mengaku CINTA ROSUL, bagaimana mereka tidak mencintai penampilan beliau dan menirunya?!… Mengapa mereka malah mencintai penampilan para musuh beliau dan mengekor pada mereka?!… Allahul musta’an… Semoga Alloh membuka hati kita, dan menuntun kita untuk menghidupkan kembali sunnah rasul ini dalam kehidupan, amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut kami ketengahkan beberapa hadits shohih tentang jenggotnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- sang Nabi, dan Teladan Terbaik kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jenggot beliau sangat banyak dan lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن جابر بن أبي سمرة رضي الله عنه: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم قد شمط مقدم رأسه ولحيته, وكان إذا ادهن لم يتبين, وإذا شعث رأسه تبين, وكان كثير شعر اللحية. (رواه مسلم)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin Abu Samuroh r.a. berkata: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dulu telah muncul sedikit uban di bagian depan rambut kepala dan jenggotnya. Jika beliau meminyaki rambutnya, uban itu tidak tampak, tapi jika rambutnya kering, uban itu tampak. Dan beliau adalah seorang yang banyak rambut jenggotnya. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم  عظيم اللحية (رواه أحمد, وقال محقق المسند حسن لغيره) وفي رواية أخرى عنه: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم كثّ اللحية (رواه أحمد, وقال محقق المسند: إسناده حسن)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali r.a. berkata: Dahulu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah seorang yang besar jenggotnya. (HR. Ahmad, Muhaqqiq Musnad mengatakan: (Hadits ini) hasan lighoirih). Dalam riwayat lain dengan redaksi: Dahulu Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- adalah orang yang lebat jenggotnya. (HR. Ahmad, Muhaqqiq Musnad mengatakan: Sanadnya hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jenggot beliau dijadikan tanda bacaan ketika sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال أبو معمر: قلنا لخباب بن الأرت رضي الله عنه: أكان رسول الله يقرأ في الظهر والعصر؟ قال: نعم. فقلنا له: بما كنتم تعرفون قراءته؟ قال: باضطراب لحيته. (رواه البخاري)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ma’mar mengatakan: Aku bertanya kepada Khobbab ibnul Arot r.a: “Apa Rosululloh dulu membaca ketika sholat Dhuhur dan Ashar?”. Khobbab menjawab: “Ya”. Kami bertanya lagi: “Dengan apa kalian tahu bacaan beliau?”. Khobbab menjawab: “Dengan pergerakan jenggotnya”. (HR. Bukhori)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Beliau menyela-nyela jenggotnya ketika wudlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عثمان رضي الله عنه, قال: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يخلل لحيته (رواه ابن ماجه والترمذي وقال: هذا حديث حسن صحيح، وصححه الألباني)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utsman r.a. mengatakan: “Sungguh Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dulu menyela-nyela jenggotnya (ketika wudlu). (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, ia mengatakan: Hadits ini hasan shohih. Hadits ini dishohihkan pula oleh Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وعن أنس رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا توضأ, أخذ كفا من ماء, فأدخله تحت حنكه, فخلل به لحيته, وقال: هكذا أمرني ربي. (صححه الألباني لشواهده)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas r.a.: “Sungguh Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- ketika berwudlu, beliau mengambil air dengan telapaknya, lalu memasukkannya ke bawah lehernya,  dan menyela-nyela jenggotnya dengan air itu. Beliau mengatakan: Beginilah Tuhanku menyuruhku. (Dishohihkan oleh Albani karena syawahid-nya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Air hujan yang mengalir dan menetes dari jenggotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أنس بن مالك, قال: أصاب الناس سنة على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم, قال: فبينا رسول الله صلى الله عليه وسلم يخطب على المنبر يوم الجمعة قام أعرابي فقال: يا رسول الله! هلك المال, وجاع العيال, فادع الله أن يسقينا. فرفع رسول الله صلى الله عليه وسلم يديه, وما ترى في السماء قزعة, فثار سحاب أمثال الجبال, ثم لم ينزل عن منبره حتى رأينا المطر يتحادر على لحيته. قال: فمطرنا يومنا ذلك, ومن الغد, وبعد الغد, والذي يليه, حتى الجمعة الأخرى. وقام ذلك الأعرابي -أو قال: رجل غيره- فقال: يا رسول الله! تهدم البناء, وغرق المال, فادع الله لنا. فرفع يديه فقال: اللهم حوالينا ولا علينا. فما يسير بيده إلى ناحية من السحاب إلا انفرجت, وصارت المدينة مثل الجوبة, وسال الوادي قناة شهرا, ولم يجئ أحد من ناحية إلا حدث بالجود. (متفق عليه)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik mengisahkan: “Di masa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, orang-orang pernah didera kekeringan. Maka ketika beliau khutbah jum’at di atas mimbar, berdirilah seorang arab badui, ia mengatakan: “Wahai Rosululloh, harta (kami) telah sirna, dan keluarga (kami) telah kelaparan, maka mintalah kepada Alloh agar memberi kita hujan!”. Maka Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- mengangkat kedua tangannya. Yang sebelumnya tidak terlihat potongan awan sedikitpun, tiba-tiba setelah itu datang awan seperti gunung. Maka tidaklah beliau turun dari mimbarnya, kecuali kami telah melihat air hujan itu mengaliri jenggotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas mengatakan: “Dan Kami pun diguyur hujan mulai hari itu, besoknya, lusanya, dan hari setelahnya, hingga hari jum’at depannya. Dan kembali orang itu -atau orang lain-berdiri seraya mengatakan: “Wahai Rosululloh, bangunan rumah (kami) jadi hancur, harta (kami) tenggelam, maka mohonkanlah kebaikan bagi kami!”. Maka beliaupun (kembali berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya seraya mengatakan: “Ya Alloh, (pindahkanlah hujan itu) ke sekitar kami, bukan langsung mengguyur kami”. Maka tidaklah beliau tunjuk awan itu, kecuali ia bergerak memencar, hingga Madinah ketika itu seperti Jawiyah, lembah-lembah menjadi sungai yang terus mengalir hingga sebulan, dan tidak seorangpun yang datang dari daerah sekitar, kecuali mengatakan kebaikan. (Muttafaqun Alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Beliau dahulu memarfumi jenggotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عائشة رضي الله عنها قالت: كنت أطيب النبي صلى الله عليه وسلم بأطيب ما يجد, حتى أجد وبيص الطيب في رأسه ولحيته (رواه البخاري)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah mengatakan: aku dulu biasa memarfumi Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dengan minyak terbaik yang ada, hingga aku melihat sisa-sisa parfum itu di (rambut) kepala dan jenggot beliau. (HR. Bukhori).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Uban yang ada di jenggot beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قيل لأنس بن مالك: هل شاب رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال: ما شانه الله بالشيب, ما كان في رأسه ولحيته إلا سبع عشرة أو ثماني عشرة. (وقال الحافظ في الفتح: إسناده صحيح, وقال الألباني: أخرجه ابن سعد بسند صحيح على شرط مسلم)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفي رواية، سئل أنس بن مالك : أخضب رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : إنه لم ير من الشيب إلا نحو سبعة عشر أو عشرين شعرة في مقدم لحيته ” . قال الألباني: أخرجه ابن ماجة أيضا و أحمد ( 3 / 108 ) و ابن سعد ( 1 / 431 ) . قلت : و إسناده صحيح على شرط الشيخين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik pernah ditanya: Apa Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dahulu beruban? Anas menjawab: “Alloh tidak menjelekkannya dengan uban. Tidak ada uban di kepala beliau, kecuali hanya 17 atau 18 helai saja”. (al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: Sanadnya shohih, sedang Albani mengatakan: Hadits ini dibawakan oleh Ibnu Sa’d dengan sanad yang shohih sesuai syaratnya Imam Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dikatakan: Anas bin Malik pernah ditanya: Apakah Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- menyemir rambutnya? Anas menjawab: “Sungguh tidak ada uban yang terlihat pada beliau, kecuali hanya 17 atau 20 helai rambut saja, yakni di bagian depan jenggotnya. (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Sa’d. Albani mengatakan: Sanadnya shohih sesuai syaratnya Bukhori Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JENGGOTNYA PARA NABI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui jenggotnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-, ada baiknya juga mengetahui bagaimana jenggotnya para Nabi sebelum beliau, agar kita tahu bahwa syariat memelihara jenggot ini, bukanlah syariat khususnya beliau, tapi merupakan syariat seluruh Nabi dan Rosul yang diutus sebelum beliau… Itulah rahasia mengapa ada beberapa kalangan agamis Ahli Kitab yang memelihara jenggotnya, karena memang dalam ajaran mereka ada syariat itu, sayang kebanyakan mereka meninggalkan salah satu ajaran agamanya itu. Berikut kami nukilkan keterangan tentang hal ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alqur’an menceritakan Nabi Musa ketika menarik jenggotnya Nabi Harun:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يا ابن أم لا تأخذ بلحيتي ولا برأسي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai putra ibuku, jangan kau tarik (rambut) jenggotku dan kepalaku! (Surat Thoha: 94).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini sangat tegas dalam menerangkan bahwa Nabi Harun dahulu, jenggotnya panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال عليه الصلاة والسلام: أنا أشبه ولد إبراهيم به. (متفق عليه)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulah keturunan Ibrohim yang paling mirip dengannya. (Muttafaqun Alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan karena Nabi dahulu jenggotnya lebat dan panjang, berarti menunjukkan Nabi Ibrohim juga dahulu jenggotnya lebat dan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Hiroql, seorang Kaisar Romawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;روى البيهقي في دلائل النبوة عن هشام بن العاص الأموي, قال: بعثت أنا ورجل آخر إلى هرقل صاحب الروم, ندعوه إلى الإسلام… فذكر القصة بطولها, وفيها أن هرقل أراهم صور الأنبياء في خرق من حرير, فذكر في صفة نوح عليه الصلاة والسلام- أنه كان حسن اللحية, وفي صفة إبراهيم -عليه الصلاة والسلام- أنه كان أبيض اللحية. وفي صفة إسحاق -عليه الصلاة والسلام- أنه كان خفيف العارضين. وفي صفة يعقوب -عليه الصلاة والسلام- أنه كان يشبه أباه إسحاق. وفي صفة عيسى -عليه الصلاة والسلام- أنه كان شديد سواد اللحية. قال ابن كثير إسناده لا بأس به. (تفسير ابن كثير 3/484)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hisyam ibnul Ash al-Umawi mengisahkan: “Aku pernah di diutus bersama orang lain menghadap Kaisar Romawi Hiroql, untuk mengajaknya kepada Islam…” lalu ia menyebutkan kisah dengan panjang lebar, di dalamnya diceritakan bahwa Sang Hiroql memperlihatkan gambar para Nabi di atas potongan kain sutra, dan ia menyebutkan diantara sifatnya Nabi Nuh a.s jenggotnya bagus, diantara sifatnya Nabi Ibrohim a.s.  jenggotnya putih, diantara sifatnya Nabi Ishaq a.s. tipis jenggot bagian sampingnya, diantara sifatnya Nabi Ya’qub a.s. adalah mirip dengan ayahnya, yakni Nabi Ishaq, dan diantara sifatnya Nabi Isa a.s. jenggotnya sangat hitam. Setelah menyebutkan kisah ini Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Sanadnya la ba’sa bih” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/484)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenggotnya Para Salafush Sholih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenggotnya Abu Bakar r.a.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عائشة قالت: كان (أبي) رجل أبيض، نحيف، خفيف العارضين. (الطبقات الكبرى 3/133) (الخلفاء الراشدون للذهبي 64) (تاريخ الخلفاء للسيوطي 45)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah mengatakan: Dulu bapakku adalah pria yang kulitnya putih, badannya ramping, dan jenggot bagian sampingnya tipis. (ath-Thobaqot al-Kubro 3/133) (al-Khulafa’ ar-Rosyidun, karya adz-Dzahabi 64) (Tarikhul Khulafa’, karya as-Suyuthi 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenggotnya Umar bin Khottob r.a.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;في عارضيه خفة, سبلته كبيرة (الخلفاء الراشدون للذهبي 144) (تاريخ الخلفاء للسيوطي 138)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Khottob adalah seorang yang tipis jenggot bagian pinggirnya, dan tebal jenggot bagian depanya. (al-Khulafa’ ar-Rosyidun karya adz-Dzahabi 144) (Tarikhul Khulafa’, karya as-Suyuthi 138)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenggotnya Utsman bin Affan r.a.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان كبير اللحية, عظيمها (الطبقات الكبرى لابن سعد 3/40)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utsman adalah seorang yang jenggotnya besar (at-Thobaqot al-Kubro 3/40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;طويل اللحية، حسن الوجه (الخلفاء الراشدون للذهبي 278)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utsman adalah seorang yang jenggotnya panjang dan wajahnya tampan (al-Khulafa’ ar-Rosyidun karya adz-Dzahabi 278)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان كثير اللحية (تاريخ الخلفاء للسيوطي 157)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utsman adalah seorang yang jenggotnya banyak (Tarikhul Khulafa’ karya as-Suyuthi 157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenggotnya Ali bin Abi Tholib r.a.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أنه كان ضخم اللحية (الطبقات الكبرى لابن سعد 3/16)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali adalah seorang yang besar jenggotnya (at-Thobaqot al-Kubro 3/16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان عظيم اللحية. وقال الشعبي: رأيت عليا أبيض اللحية, ما رأيت أعظم لحية منه (الخلفاء الراشدون للذهبي 378)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali adalah seorang yang besar jenggotnya. Bahkan asy-Sya’bi mengatakan: “Aku telah melihat Ali, yang jenggotnya putih, tidak kulihat ada orang yang lebih besar jenggotnya darinya”. (al-Khulafa’ ar-Rosyidun, karya adz-Dzahabi 378)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كثير الشعر عظيم اللحية (صفوة الصفوة لابن الجوزي 1/308)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali adalah seorang yang banyak rambutnya, besar jenggotnya. (Shofwatush Shofwah, karya Ibnul Jauzi 1/308)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان عظيم اللحية جدا, وقد ملأت ما بين منكبيه بيضاء كأنه القطن (تاريخ الخلفاء للسيوطي 175)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali adalah seorang yang jenggotnya besar sekali, bahkan sampai memenuhi kedua pundaknya, putih seperti kain katun (Tarikhul Khulafa’ karya as-Suyuthi 175)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nukilan tentang jenggotnya 4 khulafa’ rosyidin, padahal Rosul -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda: “Ambillah tuntunanku dan tuntunan para khulafa’ rosyidin yang mendapat petunjuk setelahku, gigitlah tuntunan-tuntunan itu dengan gigi-gigi geraham kalian”!…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Alloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kita mendengar orang mengatakan: “Kecintaan kepada seseorang belumlah sempurna, kecuali bila ia telah meniru gayanya, dan mendengarkan apa yang diperintahkannya”… Pertanyaannya: Cintakah kita pada Rosululloh -shollallohu alaihi  wasallam-?! Lalu sudahkah kita meniru beliau, dan mendengarkan perintah beliau?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana banyak orang bangga, ketika meniru gaya olahragawan, artis, atau siapapun yang ia kagumi, mengapa kita tidak bangga, ketika meniru gaya para nabi dan para salaf kita?!… Atau paling tidak, hendaklah kita menghormati saudara seiman kita, yang berusaha menghidupkan salah satu Sunnah Nabi yang mulia ini, yakni sunnah memanjangkan jenggotnya… (bersambung… selanjutnya kita akan bahas bolehkah memendekkan jenggot hingga batas genggaman tangan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://addariny.wordpress.com/2010/01/19/jenggot-haruskah-3/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-6403401834829705754?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/6403401834829705754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=6403401834829705754' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6403401834829705754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6403401834829705754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/02/jenggot-haruskah-3.html' title='Jenggot… Haruskah? (3)'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-3651902060246711963</id><published>2010-02-04T16:53:00.001+07:00</published><updated>2010-02-04T16:56:42.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jenggot'/><title type='text'>Jenggot… Haruskah? (2)</title><content type='html'>Dalil Wajibnya Memelihara Jenggot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALIL DARI ALQUR’AN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Alloh ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا، وَاتَّقُوا اللَّهَ، إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambillah apa yang datang dari Rosul, dan tinggalkanlah apa yang dilarangnya! Dan takutlah kalian kepada Alloh, karena sesungguhnya Alloh itu Maha Keras siksa-Nya (al-Hasyr: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini menyuruh kita untuk menjalankan semua tuntunan Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, sekaligus memerintah kita untuk meninggalkan semua larangan beliau. Dan sebagaimana kita tahu dalam kaidah ushul fikih, bahwa “setiap perintah dalam Alqur’an dan Sunnah, itu menunjukkan suatu kewajiban, kecuali ada dalil khusus yang merubahnya”. Sehingga ayat ini secara tidak langsung, mewajibkan kita untuk memelihara jenggot… Mengapa? Karena banyaknya perintah dari Rosul  ­-shollallohu alaihi wasallam-, untuk memelihara jenggot, dan setiap perintah beliau itu menunjukkan kewajiban, kecuali ada dalil khusus yang merubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Alloh ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hendaklah mereka yang menyalahi perintah Rosul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih (an-Nur: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini, Alloh memperingatkan hamba-Nya; jika mereka melanggar perintah Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, maka Dia akan menimpakan cobaan dan adzab yang pedih kepada mereka. Dan diantara perintah beliau adalah perintah memanjangkan jenggot. Itu berarti ayat ini secara tidak langsung memperingatkan kita untuk tidak memangkas jenggot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Alloh ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia (Nabi Harun) menjawab: “Wahai putra ibuku! Janganlah engkau pegang jenggotku, jangan pula kepalaku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini mengabarkan pada kita, bahwa Nabi Harun pada masa hidupnya memelihara jenggotnya… Jika ayat ini kita padukan dengan ayat lain yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka (para Nabi) itulah yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka (al-An’am: 90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kita akan tahu bahwa kita -Umat Muhammad- diperintah untuk memelihara jenggot. Itu karena diantara petunjuk para Nabi terdahulu adalah mereka memelihara jenggotnya, dan kita diperintah untuk melakukan petunjuk mereka yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad -shollallohu alaihi wasallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALIL DARI HADITS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hadits yang menunjukkan wajibnya memelihara jenggot, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ، وَفِّرُوا اللِّحَى، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ! (رواه البخاري: 5892)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar r.a., Rosul -shollallohu alaihi wasallam- pernah bersabda: Selisihilah kaum musyrikin, biarkanlah jenggot kalian panjang, dan potong tipislah kumis kalian! (HR. Bukhori: 5892)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;انْهَكُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى! (رواه البخاري: 5893)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar r.a., Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Potong tipislah kumis kalian, dan  biarkanlah jenggot kalian! (HR. Bukhori: 5893)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ، أَحْفُوا الشَّوَارِبَ، وَأَوْفُوا اللِّحَى! (رواه مسلم: 259)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Umar, Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Selisilah Kaum Musyrikin, potong pendeklah kumis kalian, dan sempurnakanlah jenggot kalian!”. (HR. Muslim: 259)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَأَرْخُوا اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوسَ! (رواه مسلم: 260)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh r.a., Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Potonglah kumis kalian, biarkanlah jenggot kalian, dan selisihilah Kaum Majusi. (HR. Muslim: 260)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَأَرْجوا (أو وأرجئوا) اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوسَ. (رواه مسلم: 260, مع الرجوع إلى شرح صحيح مسلم للنووي, وفتح الباري شرح حديث رقم: 5892)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Huroiroh r.a., Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: Potonglah kumis kalian, panjangkanlah jenggot kalian, dan selisihilah Kaum Majusi. (HR. Muslim: 260, lihat juga Syarah Shohih Muslim karya Imam Nawawi, dan Fathul Bari Syarah Shohih Bukhori karya Ibnu Hajar hadits no: 5892)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hadits Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن أبي أمامة قَالَ: …فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ يَقُصُّونَ عَثَانِينَهُمْ وَيُوَفِّرُونَ سِبَالَهُمْ قَالَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُصُّوا سِبَالَكُمْ وَوَفِّرُوا عَثَانِينَكُمْ وَخَالِفُوا أَهْلَ الْكِتَابِ (رواه أحمد: 21780)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Umamah: …lalu kami (para sahabat) pun menanyakan: “Wahai Rosululoh, sungguh kaum ahli kitab itu (biasa) memangkas jenggot mereka dan memanjangkan kumis mereka?”. Maka Nabi -shollallohu alaihi wasallam- menjawab: “Potonglah kumis kalian, dan biarkanlah jenggot kalian panjang, serta selisilah Kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani)!”. (HR. Ahmad: 21780, dihasankan oleh Albani, dan dishohihkan oleh Muhaqqiq Musnad Ahmad, lihat Musnad Ahmad 36/613)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Hadits dari Abdulloh bin Umar r.a.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما: أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بإحفاء الشوارب, وإعفاء اللحى (رواه مسلم: 259)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar r.a. mengatakan: “Sesungguhnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- memerintahkan untuk memangkas tipis kumis dan membiarkan jenggot panjang. (HR. Muslim: 259).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Pernyataan Sahabat Jabir bin Abdulloh r.a.:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كنا نؤمر أن نوفي السبال ونأخذ من الشوارب (مصنف ابن أبي شيبة 5/25504). وفي لفظ: كنا نعفي السبال, ونأخذ من الشوارب (أخرجه أبو داود: 4201). وحسنه الحافظ ابن حجر في فتح الباري 13/410, وصححه الشيخ عبد الوهاب الزيد في كتابه إقامة الحجة في تارك المحجة ص 36 و 79)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir r.a. mengatakan: “Sungguh kami (para sahabat), diperintah untuk memanjangkan jenggot dan mencukur kumis”. (Mushonnaf  Ibnu Abi Syaibah: 26016). Dalam riwayat lain dengan redaksi: “Kami (para sahabat) membiarkan jenggot kami panjang, dan mencukur kumis” (HR. Abu Dawud: 4201). Atsar ini dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/410, dan di shohihkan oleh Syeikh Abdul Wahhab alu Zaid dalam kitabnya Iqomatul Hujjah fi Tarikil Mahajjah, hal: 36 dan 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sabda-sabda di atas, kita dapat mengambil kesimpulan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sabda-sabda diatas, semuanya menunjukkan perintah untuk memanjangkan jenggot, dan sebagaimana kita tahu kaidah ushul fikih, “setiap perintah dalam nash-nash syariat itu menunjukkan suatu kewajiban, dan haram bagi kita menyelisihinya, kecuali ada dalil khusus yang merubahnya menjadi tidak wajib”. Itu berarti wajib bagi kita memanjangkan jenggot, dan haram bagi kita memangkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Rosul -shollallohu alaihi wasallam- menghubungkan perintah memanjangkan jenggot, dengan perintah menyelisihi Kaum Ahli Kitab (Yahudi Nasrani), Kaum Musyrikin, dan Kaum Majusi. Itu menambah kuatnya hukum wajibnya memanjangkan jenggot ini, mengapa?… Karena dua perintah, jika berkumpul dalam satu perbuatan yang sama, itu lebih kuat dari hanya satu perintah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pada sabda-sabda di atas, terkumpul 5 redaksi perintah yang berbeda (perhatikan kalimat arab yang kami cetak merah, dari hadits 1-5), yang semuanya menunjukkan perintah memanjangkan jenggot… Ini juga meneguhkan petunjuk wajibnya memanjangkan jenggot… Karena perintah dengan lima redaksi yang berbeda-beda lebih meyakinkan, dari pada hanya menggunakan satu redaksi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Para Sahabat Nabi, semuanya memanjangkan jenggotnya, karena mereka diperintah oleh Rosul -shollallohu alaihi wasallam- untuk melakukan itu. Jika perintah itu tidak wajib dilakukan, mengapa tidak ada satu pun sahabat yang menggundul jenggotnya?!. (lihat hadits no: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memanjangkan jenggot adalah ibadah yang diperintahkan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, oleh karena itulah para sahabat bersemangat menerapkannya dalam kehidupan mereka, bahkan tidak satupun dari mereka menyelisihi perintah ini… Coba perhatikan masyarakat sekitar kita di era ini, kenyataannya sangat bertolak belakang,  para sahabat dahulu semuanya memelihara jenggot, tapi di lingkungan kita tidak ada yang memelihara jenggot kecuali hanya sedikit saja… Semoga Alloh merubah keadaan umat ini, pada keadaan yang lebih baik, dan lebih dekat kepada ajaran islam yang mulia dan suci, sehingga umat ini dapat menggapai kejayaan yang mereka impikan… amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Alloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah cukup, bagi insan muslim yang inshof, untuk menerima kesimpulan wajibnya memanjangkan jenggot ini, dengan berdasar pada dalil Al-Quran, Hadits, dan Ijma’ yang kami sebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bila ada yang masih ragu dengan kesimpulan ini, mari kita lihat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Ulama Terdahulu Dalam Masalah Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MADZHAB HANAFI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يحرم على الرجل قطع لحيته (الدر المختار 6/407)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan bagi pria memotong jenggotnya. (ad-Durruh Mukhtar 6/407)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا يأخذ من لحيته شيئا لأنه مُثْلة (البحر الرائق 2/372)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh baginya memangkas jenggotnya, karena itu termasuk mutslah. (al-Bahrur Ro’iq 2/372)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأما الأخذ منها وهي دون ذلك كما يفعله بعض المغاربة ومخنثه الرجال فلم يبحه أحد (فتح القدير 4/370) (حاشية ابن عابدين 2/418)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun memangkas jenggot yang panjangnya kurang dari genggaman tangan, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang Maroko dan para banci, maka tidak ada seorang pun yang membolehkannya. (Fathul Qodir 4/370, Hasyiah Ibnu Abidin 2/417).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MADZHAB MALIKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فلا يجوز حلقُها، ولا نتفُها، ولا قص الكثير منها  (المفهم للقرطبي 1/512)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak boleh mencukur jenggot, tidak boleh mencabutinya, dan tidak boleh pula memangkas sebagian besarnya.  (al-Mufhim, karya Imam al-Qurthubi 1/512)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ويحرم على الرجل حلق اللحية (منح الجليل 1/82)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan bagi pria mencukur jenggotnya. (Minahul Jalil 1/82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وحلق اللحية لا يجوز (مواهب الجليل 1/313)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggundul jenggot itu tidak diperbolehkan (Mawahibul Jalil 1/313)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تنبيه: يحرم على الرجل حلق لحيته (حاشية الدسوقي 1/90)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan penting: Diharamkan bagi pria menggundul jenggotnya. (Hasyiah Dasuqi 1/90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;واتفقوا على أن حلق اللحية مثلة لا تجوز (الإقناع في مسائل الإجماع 2/3953)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya menggundul jenggot, termasuk tindakan mutslah yang tidak diperbolehkan. (al-Iqna’ fi Masailil Ijma’, karya Abul Hasan al-Qoththon al-Maliki 2/3953)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MADZHAB SYAFI’I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الشافعي: ولا يأخذ من شعر رأسه ولا لحيته شيئا لان ذلك إنما يؤخذ زينة أو نسكا (الأم 2/640)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan: “Ia (orang yang memandikan mayat) tidak boleh memangkas rambut kepala maupun jenggotnya si mayat, karena kedua rambut itu hanya boleh diambil untuk menghias diri dan ketika ibadah manasik saja”. (al-Umm 2/640)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال أيضا: والحِلاق ليس بجناية لان فيه نسكا في الرأس وليس فيه كثير ألم، وهو -وإن كان في اللحية لا يجوز- فليس كثير ألم ولا ذهاب شعر، لانه يستخلف، ولو استخلف الشعر ناقصا أو لم يستخلف كانت فيه حكومة (الأم  7/203)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i -rohimahulloh- juga mengatakan: “Menggundul rambut bukanlah kejahatan, karena adanya ibadah dengan menggundul kepala, juga karena tidak adanya rasa sakit yang berlebihan padanya. Tindakan menggundul itu, meski tidak diperbolehkan pada jenggot, namun tidak ada rasa sakit yang berlebihan padanya, juga tidak menyebabkan hilangnya rambut, karena ia tetap akan tumbuh lagi. Seandainya setelah digundul, ternyata rambut yang tumbuh kurang, atau tidak tumbuh lagi, maka hukumannya adalah hukumah. (al-Umm 7/203)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن رفعة: إن الشافعي قد نص في الأم على تحريم حلق اللحية (حاشية العبادي على تحفة المحتاج 9/376)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rif’ah -rohimahulloh- mengatakan: Sungguh Imam Syafi’i telah menegaskan dalam kitabnya Al-Umm, tentang haramnya menggundul jenggot. (Hasyiatul Abbadi ala Tuhfatil Muhtaj 9/376)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الماوردي: نتف اللحية من السفه الذي ترد به الشهادة (الحاوي الكبير 17/151)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Mawardi -rohimahulloh- mengatakan: Mencabuti jenggot merupakan perbuatan safah yang menyebabkan persaksian seseorang ditolak.(al-Hawil Kabir 17/151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الغزالي: وأما نتفها في أول النبات تشبها بالمرد فمن المنكرات الكبار فإن اللحية زينة الرجال. (إحياء علوم الدين 2/257)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al-Ghozali mengatakan: Adapun mencabuti jenggot di awal munculnya, agar menyerupai orang yang tidak punya jenggot, maka ini termasuk kemungkaran yang besar, karena jenggot adalah penghias bagi laki-laki. (Ihya’ Ulumiddin 2/257)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال النووي: والصحيح كراهة الاخذ منها مطلقا بل يتركها على حالها كيف كانت، للحديث الصحيح واعفوا اللحي. وأما الحديث عمرو بن شعيب عن ابيه عن جده “ان النبي صلي الله عليه وسلم كان يأخذ من لحيته من عرضها وطولها” فرواه الترمذي باسناد ضعيف لا يحتج به (المجموع 1/343)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi -rohimahulloh- mengatakan: Yang benar adalah dibencinya perbuatan memangkas jenggot secara mutlak, tapi harusnya ia membiarkan apa adanya, karena adanya hadits shohih “biarkanlah jenggot panjang“. Adapun haditsnya Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya: “bahwa Nabi -shollallohu alaihi wasallam- dahulu mengambil jenggotnya dari sisi samping dan dari sisi panjangnya”, maka hadits ini telah diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan sanad yang lemah dan  tidak bisa dijadikan hujjah. (al-Majmu’ 1/343)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال النووي: والمختار ترك اللحية على حالها وألا يتعرض لها بتقصير شيء أصلا (شرح صحيح مسلم للنووي, حديث رقم 260)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi juga mengatakan: Pendapat yang kami pilih adalah membiarkan jenggot apa adanya, dan tidak memendekkannya sama sekali (Syarah Shohih Muslim, hadits no: 260)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال أبو شامه: وقد حدث قوم يحلقون لحاهم, وهو أشد مما نقل عن المجوس أنهم كانوا يقصونها. (فتح الباري 13/411)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Syamah -rohimahulloh- mengatakan: Telah datang sekelompok kaum yang menggunduli jenggotnya, perbuatan mereka itu lebih parah dari apa yang dinukil dari kaum Majusi, bahwa mereka dulu memendekkannya. (Fathul Bari 13/411)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الحليمي الشافعي: لا يحل لأحد أن يحلق لحيته ولا حاجبيه, وإن كان له أن يحلق سباله, لأن لحلقه فا ئدة, وهي أن لا يعلق به من دسم الطعام ورائحته ما يكره, بخلاف حلق اللحية, فإنه هجنة وشهرة وتشبه بالنساء, فهو كجب الذكر. (الإعلام لابن الملقن 1/711)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hulaimi asy-Syafi’i -rohimahulloh- mengatakan: Tidak seorang pun dibolehkan memangkas habis jenggotnya, juga alisnya, meski ia boleh memangkas habis kumisnya. Karena memangkas habis kumis ada faedahnya, yakni agar lemak makanan dan bau tidak enaknya tidak tertinggal padanya. Berbeda dengan memangkas habis jenggot, karena itu termasuk tindakan hujnah, syuhroh, dan menyerupai wanita, maka ia seperti menghilangkan kemaluan. (al-I’lam, karya Ibnul Mulaqqin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MADZHAB HAMBALI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(وَيُحَرَّمُ) التَّعْزِيرُ (بِحَلْقِ لِحْيَتِهِ) لِمَا فِيهِ مِنْ الْمُثْلَةِ (كشاف القناع 1/126)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan memberikan ta’ziran (hukuman) dengan menggundul jenggot, karena adanya unsur mutslah di dalamnya. (Kasysyaful qona’ 1/126)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَحْرُمُ حَلْقُهَا  ذَكَرَهُ شَيْخُنَا (الفروع 1/130)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan menggundul jenggot, itu disebutkan oleh Syeikh kami. (al-Furu’ 1/130)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيُعْفِيَ لِحْيَتَهُ… وَيَحْرُمُ حَلْقُهَا. (الإنصاف 1/121)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Termasuk Sunnah Nabi dalam rambut) adalah dengan membiarkan jenggot panjang… dan haram baginya menggundul jenggotnya. (al-Inshof 1/121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;َيُعْفِي لِحْيَتَهُ وَيَحْرُمُ حَلْقُهَا , ذَكَرَهُ الشَّيْخُ تَقِيُّ الدِّينِ. (دقائق أولي النهى لشرح المنتهى 1/43)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Termasuk Sunnah Nabi dalam rambut) adalah dengan membiarkan jenggot panjang dan haram baginya menggundul jenggotnya. Hal ini disebutkan oleh Syeikh Taqiyuddin. (Daqo’iqu Ulin Nuha li Syarhil Muntaha 1/43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال السفَّاريني: المعتمد في المذهب حرمة حلق اللحية. (غذاء الألباب 1/334)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang mu’tamad dalam madzhab (Hambali) adalah haramnya menggundul jenggot. (Ghidza’ul Albab 1/334)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Alloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ucapan para ulama dari empat madzhab tentang wajibnya memelihara jenggot, semoga bermanfaat, khususnya bagi penulis sendiri, umumnya bagi para pembaca… amin… (bersambung… Jenggotnya Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://addariny.wordpress.com/2010/01/12/jenggot-haruskah-2/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-3651902060246711963?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/3651902060246711963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=3651902060246711963' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/3651902060246711963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/3651902060246711963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/02/jenggot-haruskah-2.html' title='Jenggot… Haruskah? (2)'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-8023529840147264093</id><published>2010-02-04T15:50:00.000+07:00</published><updated>2010-02-04T15:52:05.264+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jenggot'/><title type='text'>Jenggot… Haruskah?</title><content type='html'>Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaykum ustadz, mau tanya bagaimana dengan artikel ini ustadz? katanya cukur jenggot boleh!? (Penanya: Akh Suyatmo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillaah, wash sholaatu was wassalaamu alaa rosuulillaah, wa ‘alaa aalihi washohbihi wa man waalaah, amma ba’du…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, bahwa seluruh Ulama Islam telah sepakat bahwa memelihara jenggot, termasuk Syariat Islam, tidak ada seorang pun ulama yang menyelisihi hal ini… Sungguh kita patut heran dengan orang yang mengaku muslim, tapi ia mengingkari jenggot yang telah disepakati sebagai bagian dari Syariat Islam… wa ilallohil musytaka…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah diantara bukti sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Islam itu pada awalnya ajaran yang asing, dan nantinya ia akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu” (HR. Muslim: 145)… Wahai jiwa yang mengaku cinta Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, tidak inginkah kalian masuk dalam sabda beliau ini sehingga menjadi orang-orang yang beruntung?!..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana asingnya orang yang berjenggot di era ini… Kemanapun ia pergi, selalu jadi perhatian, bahkan rentan dengan tuduhan… Saking sedikitnya orang yang menghidupkan sunnah jenggot ini, hingga penampilan jenggotnya bisa dijadikan julukan baginya: “si jenggot”, “si brewok”… bahkan seringkali menjadi bahan ejekan “si kambing”, “si teroris”!!.. Subhanalloh…Tidakkah mereka sadar, bahwa dengan begitu sebenarnya mereka telah mengejek Islam, agama yang mereka peluk?!.. Tidakkah mereka merasa mengejek Alloh, Tuhan yang mereka sembah?!.. Tidakkah mereka merasa mengejek Muhammad, Nabi panutan mereka?!.. Bukankah perintah memanjangkan jenggot itu datangnya dari Alloh, Rosul, dan Ajaran Islam?!.. Bukankah Para Nabi dulu berjenggot?!.. Bukankah para sahabat dulu berjenggot?!.. Bukankah para Imam Empat dan yang lainnya dulu berjenggot?!..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keadaan Umat Islam seperti ini… kehilangan jati diri sebagai muslim… malu dengan Islamnya… jauh dari agamanya… mengekor pada lawannya… dan enggan menerapkan atau bahkan mencela Ajaran Islam yang dipeluknya… Bagaimana mereka ingin menang atas lawannya?!.. Bagaimana mereka ingin menaklukkan seterunya?!.. Bahkan bagaimana mereka bisa menyaingi musuhnya?!.. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Umar bin Khottob -semoga Alloh meridloinya-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita dahulu adalah kaum yang paling hina, lalu Alloh berikan kejayaan kita dengan Islam, maka selama kita ingin kejayaan dengan selain Islam, niscaya Alloh akan menghinakan kita” (HR. Alhakim: 207, dishohihkan oleh Albani)… Ingatlah terus ucapan yang pantas ditorehkan dengan tinta emas ini… dan camkanlah, bahwa kejayaan Umat Islam, hanya bisa diraih dengan menjalankan Islam dan memuliakan ajarannya, bukan dengan cara lainnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Alloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak ingkari, adanya sebagian individu berjenggot yang salah langkah dengan banyak membuang bom di sembarang tempat… Tapi masalahnya adalah, mengapa tindakan sebagian individu yang minoritas itu, dijadikan sebagai standar umum?!.. Sungguh, ini cara mengambil kesimpulan yang aneh!…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dan standar umum bahwa “orang yang berjenggot adalah teroris“, bisa diterima jika seluruh (atau paling tidak mayoritas) orang yang berjenggot itu pelaku teroris… Tapi fakta lapangan mengatakan sebaliknya, mayoritas orang yang berjenggot, bukanlah teroris, justru kebanyakan mereka adalah para da’i, kyai, ustadz dan para pengikutnya yang merasa bangga dan semangat dalam menerapkan Syariat Islam dalam kehidupannya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba anda renungkan beberapa contoh berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di desa kita ada beberapa preman, yang sering merampok di desa lain… Relakah kita jika ada yang menyimpulkan dan memberi standar umum bahwa “semua orang yang tinggal di desa kita adalah perampok, atau patut dicurigai sebagai perampok” hanya karena kesalahan sebagian individu itu?!… tentu, tidak akan ada yang rela dan terima dengan kesimpulan dan standar umum itu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada segelintir orang dari sekolah kita, terbukti menghamili gadis lain… kemudian ada kesimpulan dan standar umum, bahwa “sekolah kita adalah sekolahnya para pezina”… Relakah kita dengan penilaian itu?!.. tentunya tidak.. beda halnya jika tindakan itu dilakukan oleh mayoritas individunya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada minoritas orang dari lulusan kampus kita, berprofesi sebagai gembong judi, kemudian ada penilaian bahwa “lulusan kampus kita profesinya adalah penjudi”… tentu kita takkan terima, bahkan mungkin sang rektor akan mengangkat tuduhan itu ke meja hijau!!… Begitulah halnya penilaian bahwa “orang yang berjenggot adalah teroris”… Jika ada yang tidak percaya, bahwa mayoritas orang yang berjenggot bukanlah teroris, silahkan adakan sensus yang jujur, dan buktikan sendiri hasilnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Alloh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke inti masalah… Pertanyaan awal, bisa ana jabarkan seperti ini: Apa hukum memelihara jenggot? bolehkah memangkasnya (baik memangkas sebagian ataupun hingga habis)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Seluruh Ulama Islam sepakat, bahwa memelihara jenggot  itu wajib bagi pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mereka juga sepakat, bahwa memangkas jenggot hingga habis itu haram hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dan tidak ada khilaf diantara mereka, bahwa memendekkan jenggot hingga panjangnya kurang dari satu genggaman itu haram hukumnya. (Sedang yang diperselisihkan oleh para ulama adalah bolehkah memendekkan jenggot sampai batas genggaman tangan? Insyaalloh masalah ini, akan kami bahas di akhir tulisan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kami nukilkan perkataan para ulama yang menukil ijma’ (kesepakatan seluruh Ulama Islam) dalam masalah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ibnu Hazm azh-Zhohiri -rohimahulloh-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اتفقوا على أن حلق اللحية مثلة لا يجوز (مراتب الإجماع 157)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama telah sepakat, bahwa sesungguhnya menggundul jenggot termasuk tindakan mutslah, itu tidak diperbolehkan. (Marotibul Ijma’ 157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rohimahulloh-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يحرم حلق اللحية للأحاديث الصحيحة ولم يبحه أحد. (أصول الأحكام 1/36) (الاختيارات العلمية لشيخ الإسلام ابن تيمية 19)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggundul jenggot itu diharamkan, karena adanya hadits-hadits shohih (tentang itu), dan tidak ada seorang pun yang membolehkannya. (Ushulul Ahkam 1/37, Ikhtiyarot Syaikhil Islam Ibni Taimiyah 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al-Ala’i -rohimahulloh-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن الأخذ من اللحية دون القبضة كما يفعله بعض المغاربة ومخنثة الرجال لم يبحه أحد, وأخذ كلها من فعل يهود الهند ومجوس الأعاجم. (العقود الدرية 1/329) (رد المحتار 3/398) (فتح القدير 2/352)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya memangkas sebagian jenggot (hingga) lebih pendek dari genggaman tangan, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang maroko dan para banci itu tidak ada seorang pun yang membolehkannya. Sedangkan memangkas semuanya (hingga habis), itu termasuk tindakan orang-orang Yahudi Hindia dan orang-orang Majusi A’jam. (al-Uqudud Durriyah 1/329) (Roddul Muhtar 3/398) (Fathul Qodir 2/352)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Abul Hasan al-Qoththon al-Maliki -rohimahulloh-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;واتفقوا على أن حلق اللحية مثلة لا تجوز (الإقناع في مسائل الإجماع 2/3953)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sepakat bahwa sesungguhnya menggundul jenggot, termasuk tindakan mutslah yang tidak diperbolehkan. (al-Iqna’ fi Masailil Ijma’ 2/3953)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Syeikh Albani -rohimahulloh-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومحمد عليه الصلاة والسلام كان له لحية عظيمة, وكذلك الصحابة, وكذلك السلف الصالح, وكذلك الأئمة, لم يوجد فيهم من حلق لحيته في حياته مرة واحدة. (اللحية في الكتاب والسنة لمحمد حسونة 58)ـ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Nabi) Muhammad -alaihish sholatu was salam-, dahulu (di masa hidupnya) memiliki jenggot yang lebat, begitu pula para sahabat beliau, para salafus sholih, dan para imam. Tidak ada satu pun dari mereka yang mencukur jenggotnya, meski hanya sekali semasa hidupnya. (Al-Lihyah fil kitab was sunnah wa aqwali salafil ummah, karya Muhammad Hasunah, hal 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari nukilan-nukilan di atas, kita tahu bahwa masalah memelihara jenggot merupakan masalah yang telah disepakati oleh para ulama kewajibannya. Dalam kaidah ushul fikih dikatakan: “Adanya ijma’ dalam suatu masalah, menunjukkan adanya dalil syar’i yang dijadikan sandaran ijma’ itu”… Pertanyaannya: Apa dalil yang dijadikan sandaran ijma’ ini?… (Bersambung… Selanjutnya, kita akan bicarakan tentang dalil-dalil para ulama dalam masalah ini…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://addariny.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-8023529840147264093?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/8023529840147264093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=8023529840147264093' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8023529840147264093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8023529840147264093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/02/jenggot-haruskah.html' title='Jenggot… Haruskah?'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-5254474278997422583</id><published>2010-01-28T14:48:00.002+07:00</published><updated>2010-01-29T13:42:04.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlaq'/><title type='text'>ADAB MENUNTUT ILMU</title><content type='html'>Oleh : Majid bin Su’ud Alu ‘Usyin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah Fuad Hamzah, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Dan dalam menuntut ilmu itu ada beberapa ada yang harus diperhatikan, berikut di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA ADAB MENUNTUT ILMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mengikhlaskan niat karena Allah ta’âlâ.&lt;br /&gt;   2. Berdoa kepada Allah ta’âlâ supaya mendapatkan taufiq dalam menuntut ilmu.&lt;br /&gt;   3. Bersemangat (antusias) untuk melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu.&lt;br /&gt;   4. Berusaha semaksimal mungkin untuk menghadiri kajian-kajian ilmu.&lt;br /&gt;   5. Apabila ada seseorang yang datang belakangan di tempat kajian hendaknya tidak mengucapkan salam apabila dapat memotong pelajaran yang berjalan, kecuali kalau tidak mengganggu maka mengucapkan salam itu sunnah. (Pendapat  Syaikh al-Utsaimin dalam Fatawa Islamiyyah:, jilid 1, hlm. 170)&lt;br /&gt;   6. Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu sebab hilangnya barakah ilmu. Allah ta’âlâ mencela orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. ash-Shaf: 2-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad rahimahullahu mengatakan: “Tidaklah aku menulis satu hadits pun dari Nabi n, kecuali telah aku amalkan, sampai ada hadits bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berbekam kemudian memberikan Abu Thaybah satu dinar,[1] maka aku pun memberi tukang bekam satu dinar tatkala aku dibekam.” (al-Adab asy-Syar’iyyah, jilid 2, hlm. 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Merasa sedih tatkala ada masyayikh yang sezaman tapi tidak sempat bertemu, serta mencontoh adab dan akhlak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al-Khalal meriwayatkan akhlak Imam Ahmad rahimahullahu dari Ibrahim, ia berkata: “Apabila mereka mendatangi seseorang yang akan mereka ambil ilmunya, mereka memperhatikan shalat, kehormatan dan gerak-gerik serta tingkah lakunya, kemudian barulah mereka mengambil ilmu darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari al-A’masy rahimahullahu berkata, “Orang dahulu belajar kepada ahli fikih tentang semua hal termasuk pakaian dan sandalnya. (al-Adab asy-Syar’iyyah, jilid 2, hlm. 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Sopan santun dalam menuntut ilmu.&lt;br /&gt;   2. Kontinyu (konsisten) untuk hadir dan tidak malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.  Tidak berputus asa dan mencela diri (merendahkan diri). Hendaknya ingat firman Allah ta’âlâ:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. an-Nahl: 78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih apabila kesulitan dalam mempelajari sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.  Membaca kitab-kitab yang berkaitan dengan thalabul ilmi dan mempelajari metode yang benar dalam menuntut ilmu, serta berusaha mengetahui kekurangan dan kesalahan yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.  Antusias untuk hadir lebih awal dan mempergunakan waktu dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13.  Berusaha melengkapi pelajaran yang terlewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14.  Mencatat faedah pada halaman depan atau buku catatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15.  Berusaha keras untuk mengulang-ulang faedah yang telah didapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16.  Tatkala membeli buku hendaknya diperhatikan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17.  Tidak melemparkan kitab ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seseorang yang melakukan itu di hadapan Imam Ahmad rahimahullahu dan beliau marah seraya mengatakan, “Beginikah kamu memperlakukan ucapan orang-orang baik?” (al-Adab asy-Syar’iyyah, jilid 2, hlm. 389)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18.  Tidak memotong perkataan guru sampai beliau menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam al-Bukhari berkata: Bab barangsiapa yang ditanya tentang ilmu, sedangkan dia sibuk berbicara, maka selesaikan dulu permbicaraannya. Kemudian beliau membawakan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ أَعْرَابِياًّ قَالَ وَالنَّبِيُّ يَخْطُبُ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى الرَّسُوْلُ فِي حَدِيْثِهِ وَأَعْرَضَ عَنْهُ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيْثَهُ قَالَ: أَيْنَ أَرَاهُ السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang Arab Badui bertanya kapan hari kiamat tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melanjutkan khutbahnya dan berpaling dari orang itu, tatkala Nabi menyelesaikan khutbahnya, kemudian bertanya: “Dimana orang yang tadi bertanya tentang hari kiamat.” (al-Fath, jilid 1, hlm. 171)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19.  Ibnul Jauzi rahimahullahu berkata: “Kapan saja ada yang tidak dapat dipahami dari perkataan guru oleh muridnya, hendaklah dia bersabar sampai sang guru menyelesaikan ucapannya, baru kemudian dia meminta penjelasan gurunya dengan penuh adab dan kelembutan dan tidak memotong di tengah-tengah pembicaraannya.” (al-Adab asy-Syar’iyyah, jilid 2, hlm. 163)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.  Sopan tatkala mengajukan pertanyaan kepada guru, tidak menanyakan sesuatu yang dibuat-buat atau berlebihan atau menanyakan sesuatu yang sudah tahu jawabannya dengan tujuan supaya gurunya tidak mampu menjawab dan menunjukkan bahwa dia tahu jawabannya, atau menanyakan sesuatu yang belum terjadi, dimana salafush shalih mencela hal seperti ini apabila pertanyaan itu dibuat-buat. (Tahdzib at-Tahdzib, jilid 8, hlm. 274, as-Siyar, jilid 1, hlm. 398)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21.  Membaca biografi para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22.  Membaca topik dan tema yang berbeda sebelum tiba waktunya. Seperti Ramadhan dan hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa, sepuluh awal dzulhijah dan kurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23.  Antusias untuk membeli kitab-kitab yang khusus membahas permasalahan-permasalahan fikih. Seperti kitab yang berkaitan dengan sunnah-sunnah Rawatib atau qiyamullail, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24.  Memprioritaskan hal-hal yang utama dalam menuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25.  Memulai dengan yang lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana petunjuk Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memulai yang lebih penting yang beliau lakukan dengan tujuan itu. Oleh karena itu tatkala ‘Utban bin Malik memanggil Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam seraya berkata kepada beliau, “Aku ingin Anda datang untuk shalat di rumahku, supaya aku jadikan tempat itu menjadi mushalla”, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar beserta beberapa orang sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala sampai di rumah ‘Utban, mereka meminta izin untuk masuk, kemudian mereka masuk, dan ‘Utban telah membuatkan makanan untuk mereka, maka Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak makan terlebih dahulu, bahkan berkata: “Dimana tempat yang ingin kamu jadikan mushalla itu?” kemudian diperlihatkan kepada beliau, kemudian beliau shalat, setelah itu baru duduk untuk menyantap hidangan. (HR. al-Bukhari, no. 425 &amp; 667, Muslim, no. 263 dan disebutkan juga oleh Syaikh al-Utsaimin rahimahullahu dalam Syarh Riyadhu ash-Shalihin, jilid 3, hlm. 98)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26.  Tidak sok pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27.  Memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala   tatkala menyebut-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28.  Bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala menyebutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29.  Mengucapkan radhiyallahu ‘anhum (رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ) kepada para sahabat tatkala menyebut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30.  Mengucapkan rahimahullah (رَحِمَهُ اللَّهُ) kepada para ulama tatkala menyebut mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31.  Tidak menyandarkan sesuatu kepada maraji’ apapun kecuali apabila kita membaca berita itu darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;32.  Tidak menyandarkan hadits kepada selain Imam al-Bukhari dan Imam Muslim apabila hadits itu ada pada keduanya atau salah satu dari keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;33.  Berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menyalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34.  Menyandarkan faedah kepada yang empunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;35.  Tidak meremehkan faedah walaupun sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;36.  Tidak menyembunyikan faedah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;37.  Tidak mempergunakan dalil hadits dhaif atau maudhu’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;38.  Tidak mendhaifkan hadits, kecuali setelah meneliti an menanyakan kepada ahlinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;39.  Tidak mengacuhkan permasalahan-permasalahan yang ditanyakan kepada dirinya, karena itu dapat mendorong anda untuk meneliti dan menggali lebih dalam masalah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;40.  Membawa buku catatan kecil untuk mencatat faedah-faedah dan berbagai macam permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41.  Tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang mubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;42.  Tidak menyibukkan diri dengan memperbanyak manuskrip atau satu buku yang berbeda penerbitnya, terkecuali ada faedahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;43.  Mengunjungi perpustakaan-perpustakaan untuk menelaah kitab-kitab yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;44.  Menghindari keumuman istilah ilmiah yang mirip lafazhnya.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45.  Antusias untuk membaca kitab-kitab yang menjelaskan istilah-istilah penulis atau menjelaskan metode kitab dan bahasan-bahasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;46.  Tidak terburu-buru dalam memahami ucapan, baik yang tertulis atau yang terdengar. Ibnul Qayyim rahimahullahu menyebutkan dari Ayub as-Sakhtiyani rahimahullahu, “Apabila ia mengulangi soal itu sama seperti awal, maka ia jawab, kalau tidak maka beliau pun tidak menjawabnya.” (I’lam al-Muwaqi’in 2/187)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;47.  Banyak membaca kitab-kitab tentang fatwa-fatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;48.  Tidak terburu-buru untuk menafikan secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;49.  Apabila anda meriwayatkan hadits secara makna hendaknya anda jelaskan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;50.  Hindari penggunaan lafadz-lafadz pengagungan untuk memuji diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;51.  Terimalah kritikan dan nasihat dengan lapang dada bukan karena basa basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;52.  Tidak sedih dan patah semangat karena sedikitnya orang yang belajar darinya. Imam adz-Dzahabi menyebutkan biografi Atha’ bin Abi Rabah bahwasanya dia, tidak ada yang duduk bersamanya (dalam menuntut ilmu –pent) kecuali sembilan atau delapan orang saja. (Siyar A’lam an-Nubala` 8/107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;53.  Tidak menghabiskan waktu untuk membahas perkara-perkara yang tidak bermanfaat, seperti masalah-masalah yang ganjil lagi aneh, seperti warna anjng Ashabul Kahfi, pohon yang Nabi Adam p memakan buah darinya, dan panjang kapal Nabi Nuh p, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;54.  Tidak terpancing untuk keluar jauh dari fokus pembahasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;55.  Tidak berlebih-lebihan dalam merangkai kata-kata dan menjelaskan ucapan serta tidak mempergunakan ibarat dan istilah yang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;56.  Tidak berbicara tanpa ilmu, dan tidak merasa kesal  jika pertanyaannya tidak dijawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;57.  Tidak terpengaruh dengan celaan pribadi apabila agamamu selamat, dan ingatlah ucapan penyair:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ بُلِيْتَ بِشَخْصٍ لاَ خَلاَقَ لَهُ     فَكُنْ كَأَنَّكَ لَمْ تَسْمَعْ وَلَمْ يَقُلْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila engkau diuji dengan orang yang tidak baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bersikaplah seolah-olah engkau tidak mendengarnya dan dia tidak berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58.  Tidak berputus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;59.  Semangat dalam menjalankan shalat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;60.  Tidak banyak bicara, istirahat dan tidur dalam menuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;61.  Secara khusus thalibul ilmi dan secara umum seorang muslim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Memenuhi kebutuhan orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِشْفَعُوْا تُؤْجَرُوْا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berilah syafaat niscaya kalian dapat pahala. (HR. al-Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Menepati janji. Allah memuji para Nabi dan Rasul sebagaimana firman-Nya etntang Nabi Ismail p:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;â ¼çm¯RÎ) tb%x. s-ÏŠ$|¹ Ï‰ôãuqø9$# á&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya. (QS. Maryam: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bijaksana, sabar dan lemah lembut. Allah ta’âlâ berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah engkau pemaaf dan perintahkanlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. al-A’raf: 199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Sam’ani rahimahullahu menyebutkan dalam kitab al-Ansab, adz-Dzahabi dalam kitab Tajrid ash-Shahabah, tentang biografi Auf bin Nu’man, berkata: Di masa jahiliyah dahulu dia lebih senang untuk mati dalam kondisi kehausan dari pada mati dalam kondisi ingkar janji, sebagaimana disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا قُلْتَ  فِي شَيْءٍ  نَعَمْ  فَأَتِمَّهُ                           فَإِنَّ نَعَمْ دَيْنٌ عَلَى الْحُرِّ وَاجِبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِلاَّ فَقُلْ لاَ وَاسْتَرِحْ وَأَرِحْ بِهَا                            لِئَلاَّ يَقُوْلَ النَّاسُ: إِنَّكَ كَاذِبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila anda telah mengatakan ‘ya’ maka laksanakanlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena ucapan ‘ya’ adalah hutang yang harus di lunasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak mampu katakanlah ‘tidak’ dan istirahatlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya orang lain tidak mengatakan anda pendusta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Tawadhu’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لاَ يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلاَ يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian saling bertawadhu’, supaya tidak ada yang membanggakan dan menyombongkan diri. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Gembira, lapang dada, dan mau mendengarkan problema orang lain.&lt;br /&gt;   2. Mengajak bicara dan memberi nasihat kepada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ikrimah rahimahullahu mengatakan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu : “Nasihati manusia satu jum’at sekali, jikalau mau maka dua kali, jika mau maka tiga kali, jangan bikin mereka bosan dengan al-Qur`an dan jangan mendatangi mereka tatkala sedang dalam urusannya dan kau sela pembicaraannya, sehingga mereka merasa jemu, akan tetapi diamlah, jikalau mereka meminta, maka nasihati karena mereka menginginkannya dan hindari olehmu sajak dalam berdoa, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tidak melakukan hal itu. (HR. al-Bukhari, no. 6337)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu  berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ajaklah bicara manusia dengan apa yang mereka ketahui.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disitu ada dalil, seyogyanya sesuatu yang tidak jelas tidak di sampaikan ke khalayak ramai, dan hendaknya berkata sesuai dengan apa yang dipahami orang lain, juga ucapan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, “Jangan kau ajak bicara satu kaum yang tidak dapat dipahami oleh mereka karena tu dapat menimbulkan fitnah.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;[1] Muttafaq ‘alaih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Seperti muttafaqun ‘alaih yang populer riwayat al-Bukhari &amp; Muslim tapi muttafaqun alaih dalam kitab Muntaqa al-Akhbar karya Majiduddin Ibnu Taimiyah rah artinya riwayat Ahmad, al-Bukhari dan Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://abusalma.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-5254474278997422583?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/5254474278997422583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=5254474278997422583' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/5254474278997422583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/5254474278997422583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/01/adab-menuntut-ilmu.html' title='ADAB MENUNTUT ILMU'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-4360608792032552153</id><published>2010-01-11T12:25:00.001+07:00</published><updated>2010-01-11T12:27:46.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Hancurnya Dunia Semakin Dekat</title><content type='html'>Artikel berikut adalah tulisan berseri dengan judul "Prediksi Kiamat 21-12-2012, Benarkah?". Artikel tersebut kami bagi menjadi dua seri. Harap sabar menanti. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keimanan terhadap hari kiamat adalah di antara pokok ajaran Islam bahkan termasuk dari rukun Iman. Keimanan seseorang barulah sempurna jika dia meyakini adanya hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiamat Pasti Terjadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” (QS. Al Baqarah: 177)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur’an juga telah menjelaskan bahwa hari kiamat benar-benar akan terjadi. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu.” (QS. Ar Ra’du: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang pula kepastian datangnya kiamat menggunakan ayat-ayat semacam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang.” (QS. Thahaa: 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّ السَّاعَةَ لآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.” (QS. Al Hijr: 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنَّ أَجَلَ اللَّهِ لآتٍ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al ‘Ankabut: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ السَّاعَةَ لآتِيَةٌ لا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.” (QS. Ghafir: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hancurnya Dunia Semakin Dekat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam Al Qur’an Al Karim bahwa kiamat sudahlah dekat dan di antara tanda kiamat pun sudah muncul. Di antaranya adalah terbelahnya bulan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah dekat (datangnya) kiamat dan telah terbelah bulan.” (QS. Al Qamar: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat hadits yang juga menyebutkan hal ini, sebagaimana yang disebutkan dalam shohih Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - فِرْقَتَيْنِ ، فِرْقَةً فَوْقَ الْجَبَلِ وَفِرْقَةً دُونَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « اشْهَدُوا »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bulan terbelah menjadi dua bagian pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Satu belahan terdapat di atas gunung dan belahan lainnya berada di bawah gunung. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ’Saksikanlah’.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita ini juga dikeluarkan oleh At Tirmidzi dari sahabat Anas, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَأَلَ أَهْلُ مَكَّةَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- آيَةً فَانْشَقَّ الْقَمَرُ بِمَكَّةَ مَرَّتَيْنِ فَنَزَلَتِ (اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ) إِلَى قَوْلِهِ (سِحْرٌ مُسْتَمِرٌّ)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penduduk Makkah meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu bukti. Akhirnya bulan terbelah di Makkah menjadi dua bagian, lalu turunlah ayat : ‘Telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mu'jizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus".[2]’[3] ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits terbelahnya bulan telah diriwayatkan oleh sekelompok sahabat di antaranya: Abdullah bin ‘Umar, Hudzaifah, Jubair bin Muth’im, Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik, dan juga diriwayatkan oleh seluruh ahli tafsir. Namun, sebagian orang merasa ragu tentang hal ini dan menyatakan bahwa terbelahnya bulan itu terjadi pada hari kiamat nanti sebagaimana hal ini diriwayatkan oleh ‘Utsman bin ‘Atho’ dari ayahnya, dll. Namun, perkataan semacam ini adalah perkataan yang syadz (yang menyelisihi pendapat yang lebih kuat) dan pendapat ini tidak bisa menggantikan kesepakatan yang telah ada. Alasannya adalah kata ‘terbelah’ (pada ayat di atas) adalah kata kerja bentuk lampau (dan berarti sudah terjadi). Sedangkan menyatakan bahwa kata kerja lampau ini berarti akan datang membutuhkan dalil, namun hal ini tidak diperoleh. –Inilah perkataan Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir-.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah di antara tanda semakin dekatnya kiamat. Karena dalam sebuah hadits beliau sendiri mengatakan bahwa jarak antara pengutusan beliau dan datangnya kiamat adalah bagaikan dua jari yaitu jari tengah dan telunjuk.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah di antara tanda-tanda kiamat. Tatkala Jibril ‘alaihis salam melewati penduduk langit untuk diutus kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, penduduk langit pun mengatakan, “Allahu Akbar, sebentar lagi akan kiamat.”.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ada tanda-tanda yang akan terus menerus muncul dan bukan hanya sekali. Semacam ada orang-orang yang mengaku sebagai Nabi. Sebagaimana hal ini sudah muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Musailamah Al Kadz-dzab yang mengaku sebagai Nabi. Begitu pula ajaran Ahmadiyah  dari India, ajaran seorang wanita yang bernama Lia Aminudin yang mengaku sebagai penyampai wahyu yang diberikan kepada anaknya yang diangkat sebagai Nabi dan akhir-akhir ini muncul pula aliran yang bernama Al Qiyadah Al Islamiyah yang juga mempunyai rasul yang baru muncul tahun 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلاَثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kiamat tidak akan terjadi sampai muncul dajjal-dajjal pendusta yang berjumlah sekitar 30 orang. Semuanya mengklaim bahwa dirinya adalah Rasulullah.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula banyaknya wanita yang berpakaian namun hakekatnya telanjang karena pakaiannya yang tipis dan ketat, itu juga merupakan tanda semakin dekatnya kiamat. Inilah tanda dekatnya kiamat yang banyak muncul di zaman kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula halnya dengan merebaknya perzinaan dan pornografi yang nampak saat ini, itu juga merupakan tanda semakin dekat hancurnya dunia. Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ الْعِلْمُ ، وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ ، وَيَظْهَرَ الزِّنَا ، وَتَكْثُرَ النِّسَاءُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di antara tanda-tanda hari kiamat adalah: sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan, merebaknya perzinaan, wanita akan semakin banyak dan pria akan semakin sedikit, sampai-sampai salah seorang pria bisa mengurus (menikahi) 50 wanita (karena kejahilan orang itu terhadap ilmu agama).”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Kiamat Belum Juga Terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang menanyakan, “Bagaimana bisa dikatakan bahwa kiamat itu dekat sedangkan sudah seribu tahun lebih sejak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus, kiamat pun belum terjadi?” Ingatlah bahwa dikatakan dekat berdasarkan ilmu dan ketentuan Allah, walaupun manusia menganggapnya amatlah jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا, وَنَرَاهُ قَرِيبًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan kami memandangnya dekat (pasti terjadi).” (QS. Al Ma’arij: 6-7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiamat bisa dikatakan dekat karena dilihat dari lamanya kehidupan sebelum umat Muhammad itu ada. Kita ambil contoh, misalnya kita anggap umur dunia ini ada adalah 50 tahun lamanya. Dan dari lima puluh tahun tersebut, dunia ini sudah berjalan selama 45 tahun. Berarti tersisa lima tahun. Lima tahun ini jika kita bandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya (yang 45 tahun tadi) adalah waktu yang amat sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjelaskan demikian. Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا أَجَلُكُمْ فِى أَجَلِ مَنْ خَلاَ مِنَ الأُمَمِ مَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعَصْرِ إِلَى مَغْرِبِ الشَّمْسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya ajal kalian –umat Islam- (dengan datangnya hari kiamat, pen) jika dibandingkan dengan waktu yang ditempuh oleh umat-umat sebelum kalian adalah bagaikan jarak antara shalat ‘Ashar dan waktu maghrib -saat tenggelamnya matahari-.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam dalam hadits ini dimisalkan muncul pada waktu ‘Ashar. Sedangkan masa umat-umat sebelum Islam –mulai dari Nabi Adam, nabi pertama- hingga diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rentan waktu antara waktu Shubuh dan ‘Ashar. Adapun rentan waktu umat Muhammad ada hingga datangnya hari kiamat adalah rentan waktu antara ‘Ashar dan Maghrib. Jadi, jika rentan waktu munculnya awal kehidupan di dunia ini hingga datangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingan dengan masa hidup umat Islam hingga hari kiamat, itu adalah perbandingan yang amat jauh. Sehingga masa umat Islam itu ada hingga hari kiamat datang amatlah dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jarak waktu umat ini dengan hari kiamat dengan sabda beliau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jarak antara aku diutus dengan datangnya hari kiamat adalah bagaikan dua jari ini.” Beliau pun berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuknya.[11] Gambarannya, jari tengah itu adalah umur kehidupan di dunia ini hingga hari kiamat. Sedangkan jari telunjuk adalah lamanya waktu mulai dunia ini ada hingga pengutusan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun jarak pengutusan Nabi kita dengan hari kiamat adalah selisih antara jari tengah dan jari telunjuk. Bandingkanlah umur dunia ini hingga Nabi kita diutus dengan masa setelah Nabi diutus hingga hari kiamat! Jika kita bandingkan, waktu terjadinya kiamat itu sangatlah dekat dengan umat Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia mungkin merasakan kiamat itu masih sangat lama. Namun itulah pemikiran dan pandangan manusia yang dangkal. Rabb kita dan Rasul-Nya menganggap bahwa kiamat itu begitu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَتَى أَمْرُ اللَّهِ فَلا تَسْتَعْجِلُوهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya.” (QS. An Nahl: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَمْرُ السَّاعَةِ إِلا كَلَمْحِ الْبَصَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi).” (QS. An Nahl: 77)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-bersambung insya Allah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan download artikel terkait  "Prediksi Kiamat 21-12-2012, Benarkah?" di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Artikel &lt;a href="http://www.rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2731-hancurnya-dunia-semakin-dekat.html"&gt;http://rumaysho.com&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] HR. Bukhari no. 4864&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] QS. Al Qamar: 1-2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] HR. Tirmidzi no. 3286. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi mengomentari bahwa hadits ini shohih. Riwayat ini juga dibawakan oleh Jalaluddin As Suyuthi dalam Asbabun Nuzul, hal. 184, Darul Ibnu Haitsam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Lihat tafsir surat Al Qomar ayat 1 di Zaadul Masiir, 5/449, Maktabah Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Lihat hadits yang dimaksud pada penjelasan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Ma’alimut Tanzil, Al Husain bin Mas’ud Al Baghowiy, 4/8, Daar Thoyyibah, cetakan keempat, 1417 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] HR. Bukhari no. 3609 dan Muslim no. 157&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] HR. Muslim no. 2128&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] HR. Bukhari no. 81&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] HR. Bukhari no. 3459, dari Ibnu ‘Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] HR. Bukhari no. 6504 dan Muslim no. 2951, dari Anas bin Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dinukil dari: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;www.rumaysho.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-4360608792032552153?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/4360608792032552153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=4360608792032552153' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/4360608792032552153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/4360608792032552153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/01/hancurnya-dunia-semakin-dekat.html' title='Hancurnya Dunia Semakin Dekat'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-1633406899594568308</id><published>2010-01-11T12:21:00.000+07:00</published><updated>2010-01-11T12:24:03.800+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Prediksi Kiamat 21-12-2012, Benarkah?</title><content type='html'>Artikel berikut adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya "Hancurnya Dunia Semakin Dekat". Tulisan ini akan membongkar kekeliruan prediksi kiamat yang akan terjadi 21-12-2012. Isu ini sudah beredar di dunia maya sejak setahun yang lalu. Semoga tulisan ini bisa membentengi setiap muslim dari isu yang keliru semacam ini. Hanya Allah yang memberi taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kelompok dari seluruh dunia sedang berkumpul dan mulai menghitung mundur tanggal misterius yang telah dinanti-nanti ratusan tahun: 21 Desember 2012. Berbagai kelompok dari Amerika, Kanada dan Eropa, para pengikut sekte apokaliptis (kiamat) dan beberapa individu mengatakan bahwa hari tersebut adalah hari terakhir dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang percaya bahwa kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012, mendasarkan kepercayaan mereka pada kalender yang dibuat oleh suku Maya, yang ditemukan di reruntuhan di Meksiko. Masyarakat Maya Kuno, yang dikenal maju ilmu matematika dan astronominya, mengikuti “perhitungan panjang” kalender yang mencapai 5126 tahun. Ketika peta astronomi mereka dipindahkan ke kalender Gregorian, yang digunakan secara standar sekarang, waktu perhitungan bangsa Maya berhenti pada 21 Desember 2012. Mereka yang percaya juga mengatakan adanya hubungan lain selain antara kalender maya dan kehancuran yang akan datang. Matahari akan terhubung lurus dengan pusat Tata Surya pertama kalinya semenjak 26000 tahun yang lalu, yang menandai puncak musim dingin. Beberapa orang mengatakan hal ini akan mempengaruhi aliran energi ke bumi, atau karena adanya sunspot dan sunflare yang jumlahnya membengkak, menyebabkan adanya efek terhadap medan magnet bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tukang ramal Indonesia, Mama Lauren pun sempat angkat bicara di transTV bahwa paranormal tidak bisa menembus tahun 2013 (hanya mentok di 2012).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah betul prediksi kiamat 2012? Semoga ajaran Islam yang haq bisa mengungkapkannya. Hanya Allah yang memberi kemudahan dan taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Ada yang Mengetahui Kapan Datangnya Hari Kiamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh malaikat Jibril yang datang dalam wujud seorang Arab Badui, beliau ditanya mengenai kapan hari kiamat terjadi. Lantas beliau menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sangat mengherankan yang terjadi saat ini. Beberapa kelompok atau tukang ramal yang sudah pasti suka berdusta, ada yang mengetahui kapan terjadinya kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak mengetahui terjadinya hari kiamat, padahal beliau adalah orang yang paling dekat dengan Allah. Begitu pula malaikat Jibril selaku penyampai wahyu dari Allah juga tidak mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Jika Nabi yang paling mulia dan malaikat yang mulia saja tidak mengetahui tanggal, bulan atau tahun terjadinya hari kiamat, sudah sepantasnya orang selain keduanya tidak mengetahui hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ditegaskan pula bahwa waktu terjadinya hari kiamat termasuk perkara ghoib dan menjadi kekhususan Allah yang mengetahuinya. Sehingga sungguh sangat dusta jika beberapa paranormal (yang sebenarnya tidak normal) bisa menentukan waktu tersebut, baik Mama Laurent, suku Maya di Meksiko atau pun yang lainnya. Ingatlah, hanya Allah yang mengetahui terjadinya kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلا هُوَ ثَقُلَتْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا تَأْتِيكُمْ إِلا بَغْتَةً يَسْأَلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Kapan terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui".” (QS. Al A’raf: 187)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” (QS. Al Ahzab: 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا, فِيمَ أَنْتَ مِنْ ذِكْرَاهَا, إِلَى رَبِّكَ مُنْتَهَاهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya?. Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya). Kepada Rabbmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya).” (QS. An Naazi’at: 42-44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat di atas dengan sangat jelas menunjukkan bahwa tidak satu pun makhluk yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, tidak ada yang mengetahui waktunya selain Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tidak mengetahui karena waktu tersebut termasuk di antara mafaatihul ghoib (kunci-kunci ilmu ghoib) yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Mengenai mafaatihul ghoib yang dimaksudkan dapat dilihat pada firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan pula dalam kitab Shahih Al Bukhari dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَفَاتِحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kunci ilmu ghoib itu ada lima.”[2] Kemudian beliau pun membaca firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, ... dst”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Terjadinya Kiamat, Akan Muncul Tanda-Tanda Terlebih Dahulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjelaskan tentang hadits Jibril yang datang dengan penambilan Arab Badui dan bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kapan terjadinya hari kiamat, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa beliau sendiri tidak mengetahui tentang kapan terjadinya kiamat dibanding dengan yang bertanya. Orang yang bertanya tersebut nampak seperti orang Arab Badui dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baru mengetahui bahwa dia adalah Jibril setelah dia pergi. Ketika menjawab pertanyaan kapankah kiamat terjadi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyangka bahwa bahwa orang itu adalah Arab Badui. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja mengatakan tentang dirinya bahwa beliau tidak mengetahui kapan terjadinya hari kiamat dibanding Arab Badui tadi, maka lebih-lebih lagi dengan orang-orang selain beliau tidak pantas untuk mengetahui hal itu. Anehnya lagi, Al Qur’an dan hadits Nabi menyatakan bahwa kiamat itu memiliki tanda-tanda sebelumnya dan itu amatlah banyak yang datang satu demi satu. Namun ketika waktu sesuai dengan prediksi mereka datang, anehnya tidak ada satu pun tanda-tanda kiamat yang muncul.”[3] Itulah anehnya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kiamat itu akan datang setelah muncul beberapa tanda sebagaimana disebutkan dalam hadits Hudzaifah bin Asid Al Ghifariy,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اطَّلَعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ « مَا تَذَاكَرُونَ ».قَالُوا نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ « إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ ». فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ -صلى الله عليه وسلم- وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنَ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperhatikan kami ketika berbincang-bincang. Beliau berkata, ‘Apa yang sedang kalian perbincangkan?’ Kami menjawab, ‘Kami sedang berbincang-bincang tentang hari kiamat.’ Beliau berkata, ‘Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian melihat sepuluh tanda.’ Beliau menyebutkan, ’[1] Dukhan (asap), [2] Dajjal, [3] Daabah, [4] terbitnya matahari dari barat, [5] turunnya Isa ‘alaihis salam, [6] keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, [7,8,9] terjadinya tiga gerhana yaitu di timur, barat dan di jazirah Arab, yang terakhir adalah [10] keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke tempat berkumpulnya mereka’.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi ‘Isa sendiri turun kembali ke muka bumi dan beliau tinggal selama 40 tahun lamanya. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita mengenai Nabi ‘Isa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَيَمْكُثُ أَرْبَعِينَ سَنَةً ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّى عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi ‘Isa tinggal di muka bumi selama 40 tahun kemudian meninggal dan dishalatkan oleh kaum muslimin.”[5] Dari sini, mungkinkah kiamat terjadi tahun 2012?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa berdasarkan berbagai dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama membagi tanda hari kiamat menjadi dua macam yaitu tanda shughro (kecil) dan tanda kubro (besar). Tanda kiamat shughro sendiri ada yang telah terjadi dan ada yang belum terjadi, ada pula yang berlangsung bukan sekali bahkan terus menerus dan lama kelamaan tanda tersebut lebih banyak terjadi dari waktu-waktu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih lengkap, tanda-tanda kiamat dapat dibagi menjadi empat macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tanda shughro yang pernah terjadi dan telah berakhir. Contohnya adalah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan terbelahnya bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tanda shughro yang terus menerus terjadi dan berulang. Contohnya adalah menyerahkan amanah kepada orang yang bukan ahlinya, muncul para pendusta yang mengaku sebagai nabi, muncul wanita-wanita yang berpakaian namun hakekatnya telanjang dan merebaknya perzinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tanda shughro yang belum terjadi. Contohnya adalah tanah Arab akan menjadi subur dan penuh pengairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tanda kubro, artinya bila tanda-tanda ini muncul, maka kiamat sebentar lagi akan tiba. Di antara tanda tersebut adalah munculnya Dajjal. Akhirnya Dajjal pun dibunuh oleh Nabi ‘Isa. Kemudian muncul pula Ya’juj dan Ma’juj di zaman Nabi ‘Isa. Ya’juj dan Ma’juj juga dimusnahkan oleh Nabi ‘Isa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prediksi Kiamat dengan Cara Apapun Tidaklah Tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sejak dulu banyak orang yang mengklaim terjadinya kiamat pada tanggal-tanggal tertentu. Anehnya lagi yang dipilih adalah angka-angka cantik layaknya memilih angka menarik ketika beli voucher perdana. Ada yang mengatakan bahwa kiamat akan terjadi tanggal 19 September 1990 (19-9-1990), sebagaimana yang pernah kami dengar ketika duduk di bangku SD. Ada yang memprediksi tanggal 9 September 1999 (9-9-1990). Ada pula yang memprediksi 1 Januari 2000 (1-1-2000). Namun prediksi-prediksi dengan angka cantik ini semuanya meleset. Entah mereka membuat alasan apa lagi untuk mengelak jika kiamat benar-benar tidak terjadi tanggal 21 Desember 2012 (21-12-2012). Atau mereka mau membuat tanggal cantik lainnya. Mungkin saja bisa diprediksikan bahwa kiamat terjadi tanggal 10 Oktober 2010 (10-10-2010) atau 21 Desember 2112 (21-12-2112). Setiap orang mungkin bisa saja mengarang-ngarang hal ini sekehendaknya, sesuai dengan angka mana yang ia sukai. Namun ingatlah, janganlah sampai kita membicarakan tentang ilmu Allah tanpa dasar sama sekali. Perkara kapan kiamat itu terjadi adalah perkara ghoib, tidak perlu sibuk-sibuk membahasnya. Sibuk-sibuk mencari-cari waktu tersebut sangat bertentangan sekali dengan metode Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk tidak membahasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor mengatakan, “Semestinya yang dilakukan adalah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan para ulama umat ini dalam sejarah.  Seandainya membicarakan kapan terjadinya kiamat adalah suatu kebaikan untuk manusia, tentu Allah Ta’ala akan memberitahukannya kepada mereka. Akan tetapi, Allah sendiri tidak memberitahukan hal tersebut. Maka inilah yang terbaik bagi mereka.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pula para sahabat tidaklah pernah membicarakan hal ini, maka barangsiapa yang sibuk-sibuk mencari-cari waktu tersebut dan membicarakannya atau dengan memprediksi melalui perhitungan-perhitungan yang dianggap ilmiah, atau memprediksi melalui gejala-gejala alam, berarti dia telah melakukan sesuatu yang tidak ada tuntunannya sama sekali (baca: bid’ah). Para ulama salaf seringkali mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ulama masa silam, memang ada yang sempat membicarakan waktu kapan terjadinya kiamat bahkan mereka memiliki kitab tersendiri yang membahas hal itu. Sampai-sampai ada di antara mereka mengatakan bahwa dunia ini akan fana (binasa) setelah 500 tahun dari masa diutusnya Nabi Muhammad. Namun setelah 500 Hijriyah, kiamat pun tidak terjadi dan ini sebagai bukti kelirunya sangkaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya pula ada ulama besar yang memprediksikan waktu tersebut, yaitu Imam As Suyuthi –semoga Allah merahmati beliau-. Beliau bahkan membahas pada juz tersendiri yang dinamakan “Al Kasyfu (Mengungkap Terjadinya Hari Kiamat)”. Beliau menentukan tahun tertentu. Namun waktu yang ia perkirakan ternyata telah berlalu dan tidak terjadi kiamat sama sekali, bahkan belum juga muncul tanda-tandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula As Suhailiy memprediksi datangnya hari kiamat dengan menghitung-hitung huruf muqoto’ah (seperti alif laam miim dan haamiim) yang berada di awal-awal surat dalam Al Qur’an. Beliau memprediksikan bahwa kiamat akan terjadi 703 tahun setelah diutusnya Nabi, atau setelah Nabi berhijrah atau dihitung setelah Nabi wafat.[8] Hasil prediksi As Suhailiy pun meleset jauh. Sudah ratusan tahun, belum juga terjadi kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula yang belakangan meneliti hal serupa adalah Dr. Baha’i. Beliau mengklaim bahwa kiamat akan terjadi pada tahun 1710 H. Beliau melakukan perhitungan dari huruf-huruf muqotho’ah yang terdapat di awal-awal surat sebagaimana yang dilakukan sebelumnya oleh As Suhailiy. Anehnya walaupun dari cara yang sama, hasil perhitungan keduanya berbeda jauh. Dr. ‘Umar Sulaiman Al Asyqor pun membantah pernyataannya, “Ini adalah suatu metode yang benar-benar keliru. Orang-orang sebelum dia ada yang menggunakan metode yang sama melalui hitungan huruf-huruf muqhoto’ah. Namun hasil perhitungan orang-orang sebelum Dr. Baha’i tidaklah sama dengannya. Mereka memiliki cara perhitungan yang sama, tetapi hasil perhitungannya jauh berbeda. Inilah yang menunjukkan kelirunya cara mereka dan menunjukkan pula tidak terbuktinya penelitian mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun memiliki bantahan terhadap orang-orang semacam Dr. Baha’i dan yang sepemikiran dengannya. Beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa saja yang menyibukkan diri memprediksikan terjadinya kiamat pada tahun tertentu; di antaranya yang menulis kitab “Ad Durro Al Munazzom Fii Ma’rifati Al A’zhom” (dalam kitab tersebut disebutkan sepuluh dalil yang menunjukkan kapan terjadinya kiamat), begitu pula ada yang memprediksi dalam kitab “Huruful Mu’jam”, atau dalam kitab ‘Anqo’ Mughrib, atau orang-orang lain yang melakukan prediksi yang sama; walaupun itu dianggap suatu hal yang menakjubkan oleh pengikutnya, namun perlu diketahui bahwa mayoritas mereka adalah pendusta, yang telah tertipu, dan telah terbukti bahwa mereka hanya berbicara tanpa dasar ilmu. Sungguh mereka telah mengklaim dan mengungkap suatu yang ghoib tanpa dasar ilmu sama sekali. Padahal Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".” (QS.Al A’rof: 33)”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al fawaahisy (perbuatan keji). Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar. Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi yaitu berbuat syirik kepada Allah. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan shifat Allah, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya.”[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hati-hatilah berbicara tentang kapan terjadinya kiamat tanpa dasar ilmu. Yang mengetahui hal tersebut hanyalah Allah. Prediksi apapun baik dengan penelitian ilmiah ataupun melalui perhitungan-perhitungan akurat, tidak bisa memastikan kapan terjadinya kiamat. Cukuplah kita menutup mulut dan menjaga lisan dari berbicara mengenai perkara ghoib semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Allah Menyembunyikan Kapan Terjadinya Kiamat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara alasannya adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan pertama: agar kiamat masih tetap jadi perkara yang ghoib. Seandainya kapan terjadinya kiamat itu diberitahu kepada makhluk, maka perkara tersebut tidaklah menjadi ghoib lagi. Padahal ciri orang beriman yang membedakannya dengan orang kafir adalah beriman pada yang ghoib. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua: agar manusia tidak mengulur-ulur waktu untuk beriman dan beramal sholih. Seandainya kita diberitahu tanggal pasti terjadinya hari kiamat –misalnya tanggal 21 Desember 2012- , maka orang pun akan menunda-nunda untuk beramal dan terus bersantai ria. Paling yang terbetik dalam benaknya, “Ah, masih ada waktu untuk menikmati hidup, kiamat masih dua tahun lagi. Tunggu sampai bulan Oktober 2012 saja, barulah kita mulai beramal.” Lihatlah ada sikap menunda-nunda. Hal ini berbeda apabila kiamat disembunyikan waktunya. Karena setiap orang sudah mengetahui bahwa kiamat sudah dekat, tentu mulai saat ini juga dia banyak bertaubat pada Allah dan melakukan banyak ketaatan karena waktu yang tersisa cukup singkat. Oleh karena itu, janganlah menunda-nunda waktu selama masih diberi kehidupan dan janganlah terlalu panjang angan-angan. Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila engkau berada pada sore hari, janganlah menunggu waktu pagi. Apabila engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Ambillah masa sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum datang matimu.”[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Mesti Dipersiapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pembahasan di atas, jelaslah bahwa berbagai klaim terjadinya hari kiamat pada tanggal, bulan dan tahun tertentu sungguh suatu kekeliruan karena hal ini sama saja telah berbicara tentang ilmu Allah tanpa dasar ilmu sama sekali. Sibuk-sibuk mencari-cari waktu tersebut sangat bertentangan sekali dengan metode Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk tidak membahasnya. Yang semestinya dipersiapkan adalah bekal untuk menghadapi masa tersebut yaitu bekal iman dan amal sholih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu memberi petuah kepada kita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia itu akan ditinggalkan di belakang. Sedangkan akhirat akan berada di hadapan kita. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.”[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Kiamat Belum Terjadi, Namun Masih Ada Kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang mesti diperhatikan. Meskipun belum muncul beberapa tanda kubro, namun ada kematian yang pasti akan menghampiri setiap insan. Walaupun dia tidak menemui tanda kiamat kubro, setiap orang akan merasakan kematian cepat ataupun lambat. Tidak ada seorang pun yang bisa lari dari yang namanya maut. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".” (QS. Al Jumu’ah: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian akan tetap menghampiri seseorang, walaupun dia berusaha bersembunyi di dalam benteng yang kokoh. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الموت وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kematian (maut) adalah benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaaf: 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga pantaskah terbetik untuk menunda-nunda beriman dan beramal sholih. Sungguh, hanya orang yang hatinya tertutup dengan kelamnya maksiat yang tidak mau memperhatikan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaaf: 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk mempersiapkan diri menghadapi hari kebangkitan dan menghadapi kematian yang setiap kita pasti menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan download artikel terkait  "Prediksi Kiamat 21-12-2012, Benarkah?" di &lt;a href="http://www.rumaysho.com/download-e-book/doc_details/16-prediksi-kiamat-21-12-2012-benarkah.html"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggang, Gunung Kidul, 22 Syawwal 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] HR. Bukhari no. 50 dan Muslim no. 9, 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] HR. Bukhari no. 4778&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Majmu’ Al Fatawa, 4/341-342.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR. Muslim no. 2901&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Al Qiyamah Ash Shugro, hal. 122.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat ‘Umdatul Qori Syarh Shohih Al Bukhari, Badaruddin Al ‘Ainiy Al Hanafiy, 7/424, Multaqo Ahlil Hadits, Asy Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Majmu’ Al Fatawa, 4/342&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] I’lamul Muwaqi’in, 1/38, Darul Jail Beirut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] HR. Bukhari no. 6416&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Diriwayatkan oleh Al Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-. Atsar ini adalah potongan dari perkataan ‘Ali, ada yang mauquf (sampai pada sahabat) dan marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Lihat Fathul Baari, 18/225, Mawqi’ Al Islam Asy Syamilah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-1633406899594568308?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/1633406899594568308/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=1633406899594568308' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1633406899594568308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1633406899594568308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/01/prediksi-kiamat-21-12-2012-benarkah.html' title='Prediksi Kiamat 21-12-2012, Benarkah?'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-6162298192971073635</id><published>2010-01-03T18:31:00.000+07:00</published><updated>2010-01-03T18:32:36.034+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tafsir Al Quran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Ikrimah, Bekas Budak yang Menjadi Pakar Tafsir</title><content type='html'>Imam Abu Hanifah lebih senang mempelajari kisah-kisah para ulama dibanding menguasai bab fiqih. Beliau rahimahullah mengatakan, “Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberapa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka.” Nama beliau adalah ‘Ikrimah Al Qurosyi Al Hasyimi, bekas budak Ibnu ‘Abbas. Nama kunyah[1] beliau adalah Abu ‘Abdillah. Asal beliau dari Barbar, penduduk Maghrib. Beliau termasuk golongan tabi’in pertengahan. Beliau adalah seorang pakar tafsir terkemuka.[2] ‘Ikrimah memiliki sanad dari Ibnu ‘Amr, Ibnu ‘Abbas, Abu Sa’id, Abu Hurairah, Al Husain bin ‘Ali dan ‘Aisyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Kholid As Sikhtiyani, dari ‘Ikrimah, beliau mengatakan, “Aku telah bertemu dengan ratusan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid ini (Masjid Nabawi).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sahabat yang mulia Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- meninggal dunia ‘Ikrimah masih menjadi seorang budak. Lalu Kholid bin Yazid bin Mu’awiyah membelinya dari ‘Ali bin ‘Abdullah bin ‘Abbas (anak Ibnu ‘Abbas). Kholid membelinya seharga 4000 dinar. Kemudian berita ini pun sampai pada ‘Ikrimah. Lantas ‘Ikrimah bersegera mendatangi ‘Ali –anak Ibnu ‘Abbas-, lalu berkata, “Apakah engkau menjual ilmu ayahmu sebesar 4000 dinar?” Kemudian ‘Ali menyerahkan ‘Ikrimah pada Kholid. Kholid pun akhirnya memerdekakan ‘Ikrimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan ‘Ikrimah Ketika Belajar dengan Ibnu ‘Abbas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar mau belajar Al Qur’an dan hadits, ‘Ikrimah dipaksa oleh Ibnu ‘Abbas dengan cara kakinya diikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Az Zubair bin Al Khirrit –seorang tabi’in junior-, dari ‘Ikrimah, beliau mengatakan, “Ibnu ‘Abbas membelenggu kakiku, lalu beliau mengajariku Al Qur’an dan hadits Nabi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian Para Ulama Terhadap ‘Ikrimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin Zaid –seorang tabi’in-, beliau mengatakan, “’Ikrimah adalah bekas budak Ibnu ‘Abbas. Dia adalah orang yang paling berilmu di antara manusia saat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Sya’bi –seorang tabi’in- mengatakan, “Tidak ada manusia yang lebih memahami Kitabullah (Al Qur’an) selain ‘Ikrimah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qotadah As Sadusi –seorang tabi’in- mengatakan, “Orang yang paling memahami tafsir di antara manusia saat ini adalah ‘Ikrimah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat Berharga dari ‘Ikrimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memiliki nasehat agar kita bisa memiliki akhlaq yang mulia karena akhlaq mulia adalah landasan Islam. Ibrahim mengatakan dari ayahnya bahwa ‘Ikrimah berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِكُلِّ شَيْءٍ أَسَاسٌ، وَأَسَاسُ الإِسْلاَمِ الخُلْقُ الحَسَنُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala sesuatu memiliki landasan (asas). Sedangkan asas Islam adalah husnul khuluq (akhlaq yang luhur).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafat Beliau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ikrimah meninggal dunia di Madinah dalam usia 80 tahun. Beliau meninggal tahun 104 H. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau meninggal tahun 105, 106, atau 107 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beliau meninggal dunia, manusia pun mengatakan, “Orang yang paling faqih dan paling berilmu telah meninggal dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diolah dari Shifatush Shofwah, Ibnul Jauziy, 2/103-105, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, tahun 1399 H]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-6162298192971073635?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/6162298192971073635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=6162298192971073635' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6162298192971073635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6162298192971073635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/01/ikrimah-bekas-budak-yang-menjadi-pakar.html' title='Ikrimah, Bekas Budak yang Menjadi Pakar Tafsir'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-6950375157653076705</id><published>2010-01-03T18:19:00.000+07:00</published><updated>2010-01-03T18:27:38.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Pilih-pilih “Guru Ngaji”</title><content type='html'>Malik bin Anas mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا يؤخذ العلم عن أربعة ، سفيه معلن السفه وصاحب هوى يدعو الناس إليه ، ورجل معروف بالكذب في أحاديث الناس وإن كان لا يكذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ورجل له فضل وصلاح لا يعرف ما يحدث به&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ilmu agama tidak boleh diambil dari empat jenis manusia. Pertama, orang bodoh yang jelas kebodohannya. Kedua, pengikut hawa nafsu (baca:ahli bid’ah) yang mendakwahkan kebid’ahannya. Ketiga, seorang yang diketahui suka berdusta dalam pembicaraan keseharian dengan sesama manusia meski belum pernah terbukti membuat hadits palsu. Keempat, orang yang shalih dan bagus agamanya namun dia tidak mengetahui apa yang dia sampaikan” (Jami’ Bayan al Ilmi karya Ibnu Abdil Barr, 3/35, Maktabah Syamilah).&lt;br /&gt;Terkait dengan ilmu ada dua prinsip penting yang harus diketahui dan dibedakan oleh seorang muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, seorang muslim tidaklah menolak kebenaran dari mana pun asalnya. Bahkan perkataan Iblis sekalipun wajib kita terima ketika kita tahu bahwa perkataannya itu benar. Kebencian kita kepadanya tidak boleh menghalangi kita untuk menerima pendapat dan perkataannya yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, seorang muslim tidak boleh mencari kebenaran dan menimba ilmu dari sembarang orang karena tidak semua orang layak kita jadikan guru. Meski demikian ketika orang yang tidak layak dijadikan guru itu memiliki perkataan dan pendapat yang benar wajib kita akui sebagai sebuah kebenaran dan ilmu yang manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua prinsip ini harus kita bedakan dengan baik. Ketika kita telah mengetahui prinsip pertama dengan baik bukan berarti kita sembarangan memilih orang yang hendak kita jadikan sebagai tempat menimba ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kutipan di atas Imam Malik, seorang imam mazhab yang terkenal menasehati kita untuk tidak berguru kepada empat jenis manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, orang yang bodoh yaitu orang yang tidak berakal sempurna karena keterbatasan ilmu yang dia miliki. Aneh tapi nyata, banyak orang ketika menghadapi suatu masalah terkait dengan agama merasa cukup dengan bertanya kepada teman, tetangga dan saudaranya yang tidak lebih pintar dibandingkan dirinya dalam masalah agama. Dia paham dengan baik bahwa orang yang dia tanyai bukanlah seorang yang menekuni belajar agama. Tentu jawaban dari orang semisal ini sangat rentan untuk keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, orang yang memiliki pemahaman yang menyimpang dan dia mendakwahkan penyimpangannya. Belajar kepada orang semisal ini menyebabkan kita tidak merasa nyaman. Tidak menutup kemungkinan kebenaran yang dia sampaikan disisipi pemahaman menyimpang yang dia miliki. Karena kita sedang dalam proses belajar, tentu kita tidak bisa menyadari hal ini dengan baik bahkan boleh jadi pemahaman menyimpang yang dia miliki kita anggap sebagai sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ketiga, orang yang suka berdusta. Kualitas keilmiahan orang semisal ini sangat meragukan. Boleh jadi dia menyatakan ini adalah pendapat ulama A, padahal ulama yang bersangkutan tidak berpendapat demikian. Mungkin pula dia katakan hal ini ada di buku B, namun ternyata sedikitpun hal tersebut tidak ada di sana. Ini semua dia lakukan untuk mendukung pendapat yang dia yakini kebenarannya, padahal pendapat tersebut sama sekali tidak memiliki dasar yang bisa dipertanggungjawabkan dengan baik. Hal ini mungkin terjadi karena dia dikenal sebagai seorang yang suka berdusta bahkan perbuatannya menunjukkan kalau dia menghalalkan dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang keempat, orang shalih namun tidak berilmu. Banyak orang beranggapan bahwa jika seorang itu rajin ke masjid dan gemar dengan berbagai amal yang dianjurkan maka berarti dia adalah seorang yang berilmu. Padahal seorang ahli ibadah itu belum tentu adalah seorang yang berilmu. Bahkan tidak sedikit orang yang nampak gemar dengan berbagai amal shalih adalah seorang yang jauh dari ilmu agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: http://ustadzaris.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-6950375157653076705?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/6950375157653076705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=6950375157653076705' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6950375157653076705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6950375157653076705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/01/pilih-pilih-guru-ngaji.html' title='Pilih-pilih “Guru Ngaji”'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-4507027335823959465</id><published>2010-01-03T18:14:00.003+07:00</published><updated>2010-01-03T18:19:39.689+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!</title><content type='html'>Membedah Kekeliruan Kaum Sufi dalam Memahami Hadits Wali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disusun oleh Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya membela kemurnian agama dan membantah para ahli bid’ah dengan argumen dan hujjah merupakan kewajiban yang amat mulia dan landasan utama dalam agama. Oleh karenanya, para ulama salafush shalih lebih mengutamakannya daripada ibadah sunnah, bahkan mereka menilai bahwa hal tersebut merupakan jihad dan ketaatan yang sangat utama. Imam Ahmad pernah ditanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Manakah yang lebih engkau sukai, antara seorang yang berpuasa (sunnah), shalat (sunnah), dan i’tikaf dengan seorang yang membantah ahli bid’ah?” Beliau menjawab: “Kalau dia shalat dan i’tikaf maka maslahatnya untuk dirinya pribadi, tetapi kalau dia membantah ahli bid’ah maka maslahatnya untuk kaum muslimin, ini lebih utama.” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para ahli bid’ah yang tidak kalah bahayanya adalah kelompok Sufiyah yang memborong sekian banyak kesesatan dan penyimpangan yang beraneka ragam, di antara sekian kesesatan mereka yang paling berbahaya adalah aqidah wahdatul([2]) wujud (Manunggaling Kawula Gusti/bersatunya Tuhan dengan hamba), sebuah aqidah yang bertentangan seratus persen dengan pokok-pokok ajaran Islam, bahkan menghancurkan persendiannya baik dalam aqidah, ibadah, akhlaq, dan sebagainya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Bangkit membantah mereka (ahli wahdatul wujud) merupakan kewajiban yang sangat utama, sebab mereka adalah perusak akal dan agama manusia, mereka membuat kerusakan di muka bumi, dan menghalangi dari jalan Alloh. Bahaya mereka terhadap agama melebihi bahaya para penjajah dunia seperti perampok dan pasukan Tatar yang hanya merampas harta tanpa merusak agama.” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Mungkin sebagian kita ada yang bergumam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Mengapa aqidah wahdatul wujud ini harus dipermasalahkan? Bukankah aqidah itu hanya ada pada beberapa tokoh zaman dulu saja semisal Ibnu Arabi, Ibnu Faridh, Ibnu Sab’in, dan sebagainya?! Bukankah aqidah itu sudah hilang dari permukaan bumi di masa kini?! Lantas mengapa perlu dibahas seperti ini?! Bukankah ini hanya sia-sia belaka?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Kami jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Tenanglah saudaraku! Jangan anda gegabah menilai seperti itu, bukalah mata anda lebar-lebar niscaya anda akan mengetahui (walau terkadang terselubung) betapa banyaknya pengibar bendera aqidah rusak ini di negeri kita dari para kyai, habib, penulis, aktivis, bahkan diajarkan di kuliah-kuliah agama seperti IAIN, contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali untuk lebih menenangkan hati, tidak mengapa kita nukil sebuah contoh –sekalipun hati ini sebenarnya terasa berat untuk menukilnya([4])–. Masih terngiang-ngiang di telinga saya ucapan keji Abdul Muqsith Ghazali MA, kawan Ulil Abshar dalam debat buku “Ada Pemurtadan di IAIN”,katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Anjing akbar, tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Apa yang salah?! Sama sekali tidak ada yang salah, Akbar Tanjung, Anjing Akbar, Sekolah Akbar. Tidak ada yang salah. Itu kalau diniati bahwa anjing itu adalah Alloh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, dia mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kalau dia menemukan sifat jamal dan kamal (keindahan dan kesempurnaan) dalam anjing itu maka enggak salah, justru dia akan naik maqamnya (kedudukannya), seperti Ibnu Arabi([5]) dalam kitabnya Fushus Hikam([6]), dia menemukan takallufnya ketika berhubungan suami istri. Ini adalah pluralisasi penafsiran yang akan dipuji sejarah!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduhai, alangkah persisnya hari ini dengan kemarin!! Bukankah ucapan di atas adalah warisan nenek moyang para tokoh Sufi yang sesat dan menyesatkan dahulu?!! Coba anda perhatikan ucapan seorang tokoh Sufi berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَمَا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيْرُ إِلاَّ إِلَهُنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَمَا اللَّهُ إِلاَّ رَاهِبٌ فِيْ كَنِيْسَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tiada anjing dan babi itu, melainkan Tuhan kita juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan tiadalah Alloh itu kecuali rahib di gereja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Salah seorang sufi, Abul Husain an-Nuri tatkala mendengar anjing yang menggonggong, dia mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Labbaika wa Sa’daika” (Aku penuhi panggilanmu).” [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maha Suci Alloh dari ucapan mereka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, jangan anda menyangka kalau mereka tidak memiliki argumen/dalil yang mendukung keyakinan sesat tersebut. Sungguh aneh bin ajaib memang, hampir tidak ada ahli bid’ah pun kecuali memiliki dalil untuk memperkuat kesesatan mereka. Demikian pula para penganut paham wahdatul wujud, mereka memiliki dalil –sekalipun lebih tepatnya disebut syubhat– dari al-Qur’an dan hadits untuk mendukung keyakinan tersebut, salah satunya adalah hadits wali yang akan menjadi tema bahasan kita kali ini. Namun, hal ini tak aneh kalau kita ingat ucapan Imam asy-Syathibi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Betapa sering engkau dapati ahli bid’ah dan penyesat umat mengemukakan dalil dan hadits dengan memaksakannya agar sesuai dengan pemikiran mereka dan menipu orang-orang awam dengan dalil-dalil tersebut. Lucunya mereka menganggap bahwa diri mereka di atas kebenaran!!” [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Teks Hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم: إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِليَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. وَمَا زَالَ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يُبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh berfirman: ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan melakukan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan pada mereka, kemudian hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara sunnah sehingga Aku mencintai-Nya. Apabila Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya, penglihatannya yang dia melihat dengannya, tangannya yang dia memegang dengannya, dan kakinya yang dia berjalan dengannya. Apabila dia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya. Dan tidaklah Aku bimbang akan sesuatu seperti kebimbangan-Ku dari mencabut nyawa seorang mukmin, dia benci kematian padahal Saya tidak ingin untuk menyakitinya (tetapi itu adalah kepastian).’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      “Hadits ini adalah hadits yang paling shahih tentang para wali.”. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Beliau juga mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Hadits ini sangat mulia dan merupakan hadits yang paling mulia tentang sifat wali.” [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah komentar indah terhadap hadits yang menjadi topik bahasan kita kali ini. Namun hal itu bukan berarti bahwa hadits ini selamat dari serangan dan hujatan, sebab kenyataan di lapangan membuktikan bahwa hadits ini mendapat kritikan dari dua segi; sanad dan matannya secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kalangan ada yang mempermasalahkannya dari segi sanadnya, dan sebagian lagi ada yang salah paham terhadap matannya. Dari situlah, kami merasa terdorong untuk membahas hadits ini dari segi sanad dan matannya serta meluruskan kesalahpahaman tersebut. Semoga Alloh menjadikan kita semua termasuk wali-wali-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Sanad Hadits&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kalangan ada yang mengkritik hadits ini dari sanadnya, di mana memang pada sanadnya terdapat rawi yang dibicarakan oleh para ulama ahli hadits, yaitu Khalid bin Makhlad. [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:([12])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Hadits ini diriwayatkan Bukhari dalam Shahihnya (6502), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (1/4), al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (1248), Abul Qasim al-Mahrawani dalam al-Fawa’id al-Muntakhabah ash-Shihah (1/3/2), Ibnul Hamami ash-Shufi dalam Muntakhab min Masmu’atihi (1/171), dan ketiganya menyatakan shahih, Rizqullah al-Hanbali dalam Ahadits min Masmu’atihi (1/2), Yusuf bin Hasan an-Nabilsi dalam Ahadits as-Sittah al-Iraqiyyah (1/26), al-Baihaqi dalam al-Asma’ wa Shifat (491) dan az-Zuhud (2/83) dari jalan Khalid bin Makhlad: Menceritakan kami Sulaiman bin Bilal: Menceritakanku Syarik bin Abdullah bin Abu Nimr dari Atha’ dari Abu Hurairah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Sanad hadits ini lemah, dia termasuk beberapa hadits sedikit yang dikritik oleh para ulama terhadap Bukhari. Adz-Dzahabi mengatakan pada biografi Khalid bin Makhlad al-Qathawani setelah menyebutkan komentar para ulama ahli hadits tentangnya: “Hadits ini aneh sekali. Seandainya bukan karena kewibawaan Jami’us Shahih (Shahih Bukhari), niscaya saya akan memasukkannya termasuk munkarat Khalid bin Makhlad, sebab lafazhnya aneh dan ditambah lagi Syarik sendirian dalam riwayatnya padahal dia bukan seorang yang pakar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ucapan ini dinukil secara ringkas oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (11/292-293) lalu katanya: “Namun hadits ini memiliki beberapa jalur lain yang dengan terkumpulnya menunjukkan bahwa hadits ini ada asalnya.” Kemudian beliau menyebutkan delapan jalur penguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Syaikh al-Muhaddits al-Albani berkomentar dalam ash-Shahihah (4/185-186): “Demikianlah ucapan al-Hafizh. Beliau telah memaparkannya secara panjang lebar. Hal itu sangat wajar, sebab hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya bukanlah suatu hal yang mudah untuk mencela keabsahannya hanya karena kelemahan pada sanadnya, karena mungkin saja hadits tersebut memiliki beberapa penguat yang menguatkan dan mengangkatnya. Nah, apakah hadits ini termasuk di antaranya? Al-Hafizh telah memaparkan delapan penguat dan menetapkan bahwa dengan terkumpulnya jalan-jalan tadi menunjukkan bahwa hadits ini ada asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Menimbang, karena termasuk syarat diterimanya penguat adalah tidak terlalu lemah sebagaimana ditegaskan oleh para ulama dalam ilmu musthalah hadits, sehingga kalau terlalu lemah maka tidak bisa terangkat; dan juga harus sempurna, sehingga kalau tidak sempurna pun tidak diterima, maka kita harus meneliti dalam beberapa penguat ini, apakah memenuhi dua persyaratan tersebut ataukah tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Setelah membahas secara panjang lebar, beliau menyimpulkan di akhir bahasan (4/190): “Kesimpulannya, kebanyakan penguat ini tidak bisa menguatkan hadits ini, ada yang karena sangat lemahnya dan ada pula karena ringkasnya (tidak sempurna), kecuali mungkin hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, di mana kalau keduanya digabungkan dengan sanad hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ini maka bisa terangkat kepada derajat shahih, insya Alloh. Dan telah dishahihkan oleh para ulama yang telah saya sebutkan di muka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang ingin memperluas takhrij hadits ini, kami sarankan membaca Silsilah Ahadits ash-Shahihah (4/183-193) oleh al-Albani, karena beliau telah memaparkan jalur-jalurnya dengan pembahasan yang jarang didapati di kitab lainnya.([13])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Matan Hadits([14])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kalangan dari kaum Sufi berdalil dengan hadits ini untuk memperkuat aqidah rusak mereka yaitu “wahdatul wujud”, bahwa Tuhan bersatu dengan hamba, sebab Alloh mengkhabarkan bahwa dirinya adalah pendengaran hamba, penglihatannya, tangannya, dan kakinya. [15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini tidak mendukung aqidah mereka secuil pun, bahkan sebaliknya malah membantah aqidah mereka([16]) ditinjau dari beberapa segi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1|   Alloh mengatakan: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya.” Dalam hadits ini Alloh menetapkan tiga wujud: diri-Nya, wali-Nya, musuh-Nya. Maka bagaimana kalian jadikan mereka satu dzat saja?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2|   Alloh mengatakan: “Tidaklah hamba-Ku melakukan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan pada mereka, kemudian hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara sunnah sehingga Aku mencintainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Jadi Alloh menetapkan adanya hamba yang mendekatkan diri kepada Alloh dengan kewajiban dan sunnah dan bahwasanya dia senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya sehingga Alloh mencintainya. Hal itu menunjukkan adanya hamba dan Rabb, Yang mencintai dan yang dicintai, yang beribadah dan Yang diibadahi. Lantas bagaimana kalian jadikan keduanya satu dzat saja?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3|   Alloh mengatakan: “Apabila Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang dia mendengar dengannya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Kecintaan ini diraih oleh hamba setelah dia mendekatkan diri kepada Alloh dan setelah Alloh mencintainya. Adapun menurut keyakinan wahdatul wujud bahwa Alloh adalah hamba itu sendiri, baik setelah mendekatkan diri maupun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4|   Dalam hadits ini Alloh mengkhususkan keutamaan tersebut bagi wali-Nya tetapi dalam pandangan wahdatul wujud hal itu umum mencakup seluruh makhluk baik wali maupun musuh Alloh. Kalau demikian masalahnya, lantas apa keistimewaan wali?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5|   Dalam hadits ini Alloh hanya menyebut pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki, tetapi mereka memperluasnya meliputi perut, paha, hidung dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6|   Di akhir hadits, Alloh berfirman: “Kalau dia meminta kepada-Ku maka Aku akan memberinya, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya.” Hal ini sangat jelas bahwa di sana ada yang meminta dan ada Yang dimintai, ada yang meminta perlindungan dan ada Yang dimintai perlindungan. Semua ini berseberangan dengan aqidah wahdatul wujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Adapun makna hadits ini yang benar:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sesungguhnya seorang hamba, apabila dia menunaikan perkara yang diwajibkan Alloh padanya kemudian berusaha menambahinya dengan perkara-perkara sunnah dengan segala kemampuannya, niscaya Alloh akan mencintainya dan menolongnya dalam segala urusannya, kalau dia mendengar maka dia pendengarannya mendapatkan bimbingan Alloh sehingga tidak mendengar kecuali kebaikan, tidak menerima kecuali kebenaran dan menolak kebatilan. Dan apabila dia memandang dengan penglihatannya, dia memandang dengan cahaya dan hidayah dari Alloh, sehingga dia memandang kebenaran dan mengikutinya, dan memandang kebatilan dan menjauhinya. Demikian pula apabila dia berjalan, maka dia berjalan dengan bimbingan Alloh sehingga dia berjalan dalam ketaatan kepada Alloh seperti mencari ilmu, jihad, dakwah, silaturrahmi dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Walhasil, seluruh amalannya, kekuatannya, dan anggota badannya dalam hidayah Alloh, penjagaan-Nya dan taufiq-Nya. [17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata: “Apabila kecintaan dan pengagungan kepada Alloh memenuhi hati seorang hamba maka setiap apa pun selain-Nya akan terhapus dari hatinya, sehingga tidak tersisa pada diri hamba sesuatu pun dari hawa dan keinginannya kecuali sesuai dengan apa yang dicintai Alloh. Ketika itulah dia tidak berucap kecuali dengan mengingat-Nya, tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya, bila dia berbicara, berjalan, mendengar, melihat semuanya dengan bimbingan dari Alloh. Inilah maksud dari sabda beliau: ‘Aku adalah pendengarannya, pandangannya, tangannya, dan kakinya.’ Siapa pun yang menafsirkan selain ini, maka sesungguhnya dia mengisyaratkan kepada aqidah hulul dan wahdatul wujud yang Alloh dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.”[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Abu Sulaiman al-Khaththabi berkata: “Semua perumpamaan yang digambarkan oleh Nabi ini maksudnya adalah –Wallohu A’lam– bahwa Alloh memberikan taufiq kepadanya untuk melakukan amalan dengan anggota badannya tersebut, yakni Alloh memudahkannya dengan anggota badan tersebut untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dicintai oleh Alloh dan menjaganya dari terjerumus kepada perbuatan yang dibenci Alloh berupa mendengarkan ucapan batil dan sia-sia dengan pendengarannya, memandang hal yang haram dengan matanya, berjalan menuju keharaman dengan kakinya. Atau bisa jadi maksud hadits ini adalah lekasnya terkabulkannya do’a wali sebab usaha manusia itu adalah dengan empat anggota tubuh tersebut.” [19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga berkata: “Seorang yang sedikit saja memiliki bekal ilmu bahasa Arab tidak akan memahami bahwa maksud hadits ini bahwa Alloh adalah pendengaran manusia, penglihatannya, tangan, dan kakinya. Maha Suci Alloh dari ucapan mereka. Tetapi maksudnya adalah bahwa Alloh memberikan taufiq kepada para wali-Nya dalam setiap gerakan mereka disebabkan ketaatan mereka kepada-Nya.” [20]Demikianlah makna hadits ini secara benar sebagaimana dipahami oleh para ulama ahli hadits semenjak dahulu hingga sekarang. Peganglah ucapan mereka dan cukuplah hal itu sebagai pedoman bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    إِذَا قَالَتْ حَذَامِ فَصَدِّقُوْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    فَإِنَّ الْقَوْلَ مَا قَالَتْ حَذَامِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Apabila Hadhami[21] berucap maka benarkanlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Karena kebenaran pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Fawa’id Hadits([22]) [Pelajaran yang Bisa Dipetik]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini memiliki banyak faedah. Al-Hafizh asy-Syaukani menulis kitab khusus tentang penjelasan hadits ini berjudul Qathrul Walyi bi Syarhi Hadits Wali. Di antara faedah yang dapat dipetik dari hadits ini sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1|   Keutamaan para wali (kekasih) Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi siapakah yang disebut wali Alloh?! Mereka adalah setiap hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Alloh, sebagaimana firman-Nya, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih. (Yaitu) orang-orang beriman dan mereka selalu bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (QS. Yunus [10]: 62-63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2|   Sifat utama wali Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat mereka adalah melaksanakan kewajiban dan menambahinya dengan perkara sunnah. Oleh karenanya, jangan tertipu dengan penampilan para wali gadungan dari para tukang sihir dan penyimpang yang doyan kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan, sekalipun mereka menampakkan kedigdayaan dan keluarbiasaan, sebab semua itu adalah tipu daya setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    إِذَا رَأَيْتَ شَخْصًا يَطِيْرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَفَوْقَ مَاءِ الْبَحْرِ قَدْ يَسِيْرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    وَلَمْ يَقِفْ عَلَى حُدُوْدِ الشَّرْعِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    فَإِنَّهُ مُسْتَدْرَجٌ بِدْعِيْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bila engkau lihat seorang dapat terbang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan berjalan di atas lautan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Padahal dia tidak menaati tatanan syari’at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maka ketahuilah bahwa dia ahli bid’ah yang dimanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3|   Bahaya menyakiti para wali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyakiti para wali Alloh merupakan dosa besar, sebab Alloh menyatakan perang terhadapnya. Maka celakalah orang-orang yang mencela para nabi([23]), para sahabat nabi, dan para ulama salafush shalih.([24])&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminah tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (QS. al-Ahzab [33]: 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya (4/481):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Barisan yang pertama kali masuk dalam ancaman ayat ini adalah orang-orang yang kafir kepada Alloh dan Rasul-Nya, kemudian kaum Rafidhah (Syi’ah) yang biasa mencela para sahabat dan menuduh mereka yang bukan-bukan serta menyifati mereka berlainan tajam dengan sifat yang diberikan Alloh kepada mereka, di mana Alloh memuji mereka dan mengkhabarkan bahwa Dia telah ridha kepada kaum Muhajirin dan Anshar, tetapi orang-orang jahil dan tolol itu mencela dan menghina mereka, dan menuduh mereka yang bukan-bukan. Sungguh mereka adalah manusia yang terbalik hatinya, mencela manusia terpuji dan memuji manusia tercela.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4|   Menetapkan “perang” bagi Alloh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh telah menyebutkan juga tentang riba, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Alloh dan rasul-Nya akan memerangimu.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (QS. al-Baqarah [2]: 279)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5|   Menetapkan sifat “cinta” bagi Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6|   Perintah Alloh terbagi menjadi dua, ada yang wajib dan ada yang sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7|   Anjuran memperbanyak amalan sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8|   Banyak mengamalkan perkara sunnah merupakan sebab kecintaan Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9|   Sesungguhnya Alloh apabila mencintai seorang hamba, maka Alloh akan mengabulkan do’anya dan memenuhi permintaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10| Seorang hamba akan merasakan dekat kepada Alloh ketika dia beramal shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pembahasan kita kali ini, kami mengajak diri kami dan saudara kami untuk mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh, semoga Alloh menjadikan kita semua termasuk wali-wali-Nya. Amiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;artikel: [www.abiubaidah.wordpress.com ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah 28/131.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Demikianlah yang lebih tepat dalam bahasa Arab, dengan memfathah huruf wawu, sekalipun yang lebih populer adalah wihdatul wujud, dengan mengkasrah wawu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Majmu Fatawa 2/132.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Dalam bahasa Arab ada sebuah kata hikmah “Mukrahun Akhuka La Bathal” (Saudaramu terpaksa, padahal sebenarnya dia tidak berani), sebagaimana dalam Majma’ Amtsal (hal. 274) oleh al-Maidani. Imam as-Suyuthi juga pernah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Alloh merahmatimu– bahwa di antara ilmu ada yang seperti obat, dan di antara pendapat ada yang seperti tempat buang hajat yang tidak diingat kecuali ketika dibutuhkan saja.” (Miftahul Jannah hal. 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Dia adalah seorang dedengkot Sufi, pengibar bendera wahdatul wujud (wafat 638 H). Dia mempunyai berbagai pemikiran kufur. Oleh karenanya, para ulama menganggapnya sesat bahkan tak sedikit yang mengkafirkannya. Syaikh Burhanuddin al-Biqa’i (885 H) menulis sebuah kitab berjudul Tanbih al-Ghabiyyi ’ala Takfir Ibni Arabi sebanyak 241 halaman. Dalam kitab tersebut, beliau menukil ±50 ulama yang mengkafirkan atau minimal menganggapnya sesat; di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * al-Izz bin Abdussalam,&lt;br /&gt;    * Ibnu Daqiq al-’Ied,&lt;br /&gt;    * Ibnu Shalah,&lt;br /&gt;    * al-Hafizh Ibnu Hajar,&lt;br /&gt;    * al-Bulqini,&lt;br /&gt;    * al-Iraqi,&lt;br /&gt;    * Abu Zur’ah al-Iraqi,&lt;br /&gt;    * al-’Aini, adz-Dzahabi,&lt;br /&gt;    * Badruddin bin Jama’ah,&lt;br /&gt;    * al-Jazari,&lt;br /&gt;    * Ibnu Hisyam,&lt;br /&gt;    * as-Subki,&lt;br /&gt;    * Abu Hayyan,&lt;br /&gt;    * dan lainnya. (Lihat pula Mashra’ Tashawwuf hal. 138-168 oleh Burhanuddin al-Biqa’i dan ar-Radd ’ala ar-Rifa’i wa al-Buthi hal. 111-113 oleh Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lamin Nubala’ (23/48):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Di antara karya tulisnya (Ibnu Arabi) yang paling jelek adalah kitab Fushus, sebab kalau di dalamnya itu bukan kekufuran, maka tidak ada kekufuran di dunia ini. Kita memohon kepada Alloh ampunan dan keselamatan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail Abul Fida’ dalam kitabnya Akhbar Basyar (4/79) menyebutkan: “Pada tahun 744 H, kami merobek kitab Fushus Hikam karya Muhyiddin Ibnu Arabi di madrasah ’Ushfuriyah di kota Halab usai pelajaran sebagai peringatan akan haramnya menelaah dan memiliki kitab tersebut. Saya berkata tentangnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ini adalah Fushus (batu mata cincin) yang tiada berharga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saya telah membaca ukirannya tetapi pahalanya ada pada sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Lihat pula Kutub Hadzara Minha al-Ulama 1/37 oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, kitab ini telah disyarah oleh kurang lebih seratus lebih ulama Sufi, tiga di antara mereka adalah murid-murid Ibnu Arabi sendiri!! (Lihat Muallafat Ibnu Arabi hal. 479 oleh Utsman Yahya, Aqidah Shufiyyah hal. 158 oleh DR. Ahmad bin Abdul Aziz)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] al-Luma’ fi Tashawwuf hal. 461 oleh Abdullah ath-Thusi, tahqiq Abdul Halim Mahmud, sebagaimana dalam ar-Rudud Ilmiyyah fi Dahdzi Abathil Shufiyyah hal. 266 oleh DR. Muhammad bin Ahmad al-Juwair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] al-Muwafaqat 3/52.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] al-Furqan baina Auliya’ Rahman wa Auliya’ Syaithan hal. 50.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Majmu’ Fatawa 18/129.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Lihat Mizan I’tidal 1/64 adz-Dzahabi: biografi Khalid bin Makhlad, Jami’ul Ulum wal Hikam 2/330-331 Ibnu Rajab, Tafsir al-Manar Rasyid Ridha: surat Yunus [10]: 62-63, as-Sunnah Nabawiyyah Muhammad Ghazali: hal. 77 cet. Keenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Diringkas dari Silsilah Ahadits ash-Shahihah (4/184-190/no.1640) oleh al-Muhaddits al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Dan hal ini merupakan salah satu bukti di antara banyak bukti pembelaan dan penghormatan Syaikh al-Albani terhadap Shahih Bukhari-Muslim, berbeda dengan anggapan sebagian kalangan. Lihat uraian penulis tentang masalah ini secara agak luas dalam bukunya “Syaikh al-Albani Dihujat” hal. 75-80. Semoga Allah memudahkan kami untuk mencetak ulang buku ini kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Dinukil dengan beberapa tambahan dari kitab Aqidah Shufiyyah Wihdatul Wujud Khafiyyah (hal. 564-566) oleh DR. Ahmad bin Abdul Aziz al-Qushayyir, cet. Maktabah ar-Rusyd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Lihat Fushus Hikam hal. 189 Ibnu Arabi, Thabaqat Kubra 2/24 asy-Sya’rani, Syarh Fushus Hikam 1/19 al-Qaishari, Iqadhul Himam hal. 52 Ibnu Ajibah, Syarh Jawahir Nushus hal. 47 an-Nabilisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Alangkah bagusnya ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Setiap ayat yang digunakan oleh ahli bid’ah maka pada ayat itu sendiri terdapat dalil yang membantah ucapannya, dan setiap dalil akal yang digunakan oleh ahli bid’ah maka pada dalil itu sendiri terdapat dalil yang menunjukkan kerusakan ucapannya.” (Lihat al-Aqud ad-Durriyyah hal. 39 oleh muridnya, Ibnu Abdil Hadi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Lihat Majmu’ Fatawa 2/341 Ibnu Taimiyah, ad-Da’ wa Dawa’ hal. 315-319 Ibnul Qayyim, Fathul Bari 11/344 Ibnu Hajar, Qathrul Walyi bi Syarhi Hadits Wali hal. 428-429 asy-Syaukani, Fatawa Lajnah Da’imah 3/158, Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin 1/257-258.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] Jami’ul Ulum wal Hikam 2/347.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Syarh Sunnah, al-Baghawi, 5/20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] Majmu’ Fatawa wa Maqalat 3/66-67.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] Hadzami adalah nama wanita, istri seorang penyair. Makna bait ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        * “Wanita ini dalam setiap ucapannya selalu benar, sehingga apabila dia mengatakan suatu ucapan maka ketahuilah bahwa itu adalah ucapan yang paten, tidak boleh diselisihi, kalian harus membenarkannya dan meyakini ucapannya.” (Sabilul Huda bi Tahqiq Syarh Qathr Nada, Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, hal. 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;        * Dialah yang digelari dengan Zarqa’ Yamamah, yang konon ceritanya dapat melihat sesuatu yang jaraknya sejauh perjalanan tiga hari dengan mata kepalanya. Dan ketika dia terbunuh, dilihat ternyata pangkal matanya penuh dengan celak mata Itsmid. (Lihat Khizanatul Adab oleh al-Baghdadi 10/255 dan Syarh Mumti’ 1/157 oleh Syaikh Ibnu Utsaimin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] Dinukil –dengan beberapa tambahan– dari Syarh Arba’in Nawawiyyah (hal. 409-412) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23] Beberapa bulan lalu, kita dibuat heboh oleh kelakuan jahat beberapa warga Denmark yang menampilkan gambar karikatur Nabi Muhammad yang penuh dengan bom dan rudal di kepalanya. Tapi yakinlah bahwa hal itu adalah pertanda kehancuran mereka sendiri, sebab Alloh telah berjanji untuk menghancurkan orang-orang yang merendahkan beliau (QS. al-Kautsar [108]: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya ash-Sharimul Maslul (hal. 165): “Setiap orang yang melecehkan Nabi, membencinya, dan memusuhinya, maka Alloh pasti membinasakannya dan melenyapkannya.” Salah satu yang telah terbukti, baru beberapa hari kemudian dari ulah perbuatan mereka, negara Denmark langsung mengalami kerugian besar dalam perekonomiannya disebabkan pemboikotan negara-negara Islam terhadap produk-produknya!! Maha Benar Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24] Alangkah indah ucapan Imam Syafi’i:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kalau para ulama bukan wali Alloh, maka saya tidak tahu siapakah mereka?” Oleh karenanya, barangsiapa yang merendahkan dan mencela para ulama Sunnah, maka dia berada di ambang kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Imam Ibnu Asakir berkata dalam Tabyin Kadzib al-Muftari (hal. 29): “Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa daging para ulama –semoga Alloh merahmati mereka– beracun. Alloh pasti menyingkap tirai para pencela mereka, karena menuduh dan menodai kehormatan mereka merupakan perbuatan dosa besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dinukil dari situs pribadi Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi (http://abiubaidah.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-4507027335823959465?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/4507027335823959465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=4507027335823959465' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/4507027335823959465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/4507027335823959465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2010/01/kita-tidak-mungkin-bersatu-dengan-allah.html' title='Kita Tidak Mungkin Bersatu dengan Allah !!!'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-1989169959867672264</id><published>2009-12-29T16:41:00.001+07:00</published><updated>2009-12-29T16:43:33.026+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><title type='text'>Syaikh Ibnu Baz</title><content type='html'>Begitu Sederhana, Hafalannya Luar Biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibnu Baz adalah seorang yang sangat tidak perhatian dengan dunia sebagaimana yang bisa kita ketahui dari keadaan beliau. Terlebih jika kita tahu bahwa beliau itu tidak memiliki rumah!!!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Zahrani pernah berupaya untuk meminta izin kepada beliau untuk membeli rumah yang biasa beliau tempati jika berada di Mekah karena rumah tersebut biasanya cuma disewa. Komentar beliau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Palingkan pandanganmu dari topik ini. Sibukkan dirimu untuk mengurusi kepentingan kaum muslimin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Raja Faishal berkunjung ke kota Madinah dan Syeikh Ibnu Baz ketika itu adalah rektor Universitas Islam Madinah. Ketika itu raja Faishal berkunjung ke rumah Syeikh Ibnu Baz. Saat itu raja Faishal berkata kepada beliau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kami akan bangunkan rumah yang layak untukmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi hal tersebut, beliau hanya diam dan tidak berkomentar. Akhirnya rumah pun dibangun. Ketika panitia pembangunan mau membuat surat kepemilikan rumah atas nama Syeikh Ibnu Baz beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Jangan. Buatlah surat kepemilikan rumah tersebut atas nama rektor Universitas Islam Madinah sehingga jika ada rektor baru penggantiku maka inilah rumah kediamannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Ibnu Baz itu memiliki daya ingat yang luar biasa. Jika kita bertemu dan mengucapkan salam kepada beliau dan kita pernah mengucapkan salam kepada beliau beberapa tahun sebelumnya maka beliau pasti masih mengenal kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada orang yang bercerita bahwa dia bertemu dan mengucapkan salam kepada Syeikh Ibnu Baz setelah lima belas tahun ternyata Syeikh Ibnu Baz masih ingat dengan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi yang lebih mengherankan adalah kemampuan beliau untuk menghafal jilid dan halaman buku. Bahkan beliau bisa mengoreksi beberapa buku dengan bermodalkan hafalan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Syinqithi, penulis Adhwa-ul Bayan, itu tergolong guru Syeikh Ibnu Baz. Beliau adalah seorang pakar dalam ilmu syar’i dengan kekuatan hafalan yang tidak tertandingi. Syeih Ibnu Baz sering menghadiri ceramah-ceramah yang disampaikan oleh Syiekh Syinqithi. Beliau kagum dengan cepatnya Syeikh Syinqithi dalam penyampaiannya. Dalam salah satu kaset Syeikh Ibnu Baz mengungkapkan kekagumannya dengan mengatakan, “Maa syaallah. Maa syaallah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari Syeikh Syinqithi sejak usai shalat Shubuh sampai watu dhuha mencari-cari sebuah hadits yang dinyatakan oleh Ibnu Katsir ada dalam sunan Abu Daud. Beliau bolak-balik kitab sunan Abu Daud namun beliau tidak kunjung mendapatkannya. Syeikh Syinqithi berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Aku tidak menyalahkan Ibnu Katsir namun aku belum mendapatkannya. Ketika aku sedang asyik mencari tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu. Aku lantas berdiri dan membuka pintu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Syeikh Ibnu Baz yang datang bertamu. Ketika Ibnu Baz masih di depan pintu dan belum masuk ke dalam rumah, Syeikh Syinqithi berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ya Syekh Abdul Aziz, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa hadits yang bunyinya demikian dan demikian itu ada di Sunan Abu Daud. Sejak usai shalat Shubuh kucari-cari hadits tersebut namun tidak kudapatkan. Di manakah hadits tersebut?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Ibnu Baz berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Ada…ada di kitab ini halaman sekian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Syinqithi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Sekarang silahkan masuk ya Syeikh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Ibnu Baz memiliki daya ingat yang luar biasa. Ini disebabkan tentunya karunia Allah kemudian beliau adalah seorang yang tidak pernah lepas dari berdzikir. Lisan beliau selalu basah untuk berdzikir mengingat Allah. Beliau senantiasa berdzikir. Ini adalah sebuah realita yang bisa disaksikan oleh orang yang bertemu dengan beliau meski sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeih Ibnu Baz mulai mengisi kajian dan menyebaran ilmu sejak belia. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh sebuah majalah yang bernama al Majallah dengan Ibnu Baz terdapat dialog sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Majallah, “Sungguh engkau adalah seorang hakim akan tetapi engkau mendapatkan popularitas yang luas berbagai dengan para hakim yang lain. Apa rahasianya?”&lt;br /&gt;Jawaban beliau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kami bertugas sebagai hakim. Setelah jam kerja berakhir kami mengisi berbagai kajian. Kami adakan berbagai kajian keislaman dan kami terus mengajar dan mengisi pengajian sehingga Allah jadian kami manusia yang bermanfaat bagi banyak orang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memang memiliki pandangan khas tentang tugas seorang hakim peradilan syariah. Beliau berpandangan bahwa seorang hakim tidak cukup dengan menjalankan tugasnya di pengadilan. Beliau mencela para hakim yang bersikap semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pernah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Jika seorang hakim hanya mencukupkan diri memutuskan sengketa tentang onta, keledai, sapi dan kambing atau semisalnya maka tidak ada kebaikan pada dirinya. Bahkan tugas hakim yang paling penting adalah amar makruf nahi munkar, berdakwah, memperbaiki lingkungan sekitarnya, mewujudkan kemaslahatan kaum muslimin dan menghubungkan orang-orang yang memerlukan untuk dihubungkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ibnu Baz menjadi hakim di daerah Dalm, beliau memiliki kursi terbuat dari tanah di tengah-tengah pasar. Di situlah beliau memutuskan berbagai sengketa yang terjadi di antara kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;copy paste dari Blog Ustadz Aris Munandar (www.ustadzaris.com)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-1989169959867672264?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/1989169959867672264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=1989169959867672264' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1989169959867672264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1989169959867672264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/syaikh-ibnu-baz.html' title='Syaikh Ibnu Baz'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-5772667607365447002</id><published>2009-12-29T07:51:00.000+07:00</published><updated>2009-12-29T07:53:47.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Natal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nashrani'/><title type='text'>حكم مشاركة الكفار في أعيادهم</title><content type='html'>شاهدت الكثير من المسلمين يشاركون في احتفالات الكريسمس وبعض الاحتفالات الأخرى .&lt;br /&gt;فهل هناك أي دليل من القرآن والسنة يمكن أن أريه لهم يدل على أن هذه الممارسات غير شرعية ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لا يجوز مشاركة الكفار في أعيادهم للأمور التالية :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أولاً : لأنه من التشبه و " من تشبه بقوم فهو منهم . " رواه أبو داود ( وهذا تهديد خطير ) ، قال عبد الله بن العاص من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثانياً : أن المشاركة نوع من مودتهم و محبتهم قال تعالى : ( لا تتخذوا اليهود و النصارى أولياء … ) الآية ، وقال تعالى : ( يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق … ) الآية .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثالثاً : إن العيد قضية دينية عقدية وليست عادات دنيوية كما دل عليه حديث : " لكل قوم عيد و هذا عيدنا " و عيدهم يدل على عقيدة فاسدة شركية كفرية .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رابعاً : ( و الذين لا يشهدون الزور …) الآية فسرها العلماء بأعياد المشركين ، و لا يجوز إهداء أحدهم بطاقات الأعياد أو بيعها عليهم و جميع لوازم أعيادهم من الأنوار و الأشجار و المأكولات لا الديك الرومي ولا غيره و لا الحلويات التي على هيئة العكاز أو غيرها .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد سبقت إجابة عن سؤال مشابه فيها مزيد من التفصيل تحت رقم 947 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruling on joining in the kaafir festivals  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I see many "Muslims" joining in Christmas and other celebrations. Is there any daleel from the Quran and Sunnah that I can present to them to show that these are indeed very sinful practices?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praise be to Allaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is not permissible to join in the kaafir festivals for the following reasons: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firstly: because this entails imitating or resembling them, and “Whoever imitates a people is one of them.” (Narrated by Abu Dawood). This is a serious warning. ‘Abd-Allaah ibn al-‘Aas said: Whoever lives in the land of the mushrikeen and celebrates their Nawrooz (New Year) and their Mahrajaan (festivals), and imitates them until he dies, he will be a loser on the Day of Resurrection. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secondly: taking part in their festivals is a kind of befriending them and showing love for them. Allaah says (interpretation of the meaning):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O you who believe! Take not the Jews and the Christians as Awliyaa’ (friends, protectors, helpers), they are but Awliyaa’ of each other. And if any amongst you takes them (as Awliyaa’), then surely, he is one of them… “[al-Maa’idah 5:51]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O you who believe! Take not My enemies and your enemies (i.e. disbelievers and polytheists) as friends, showing affection towards them” [al-Mumtahanah 60:1] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thirdly: festivals are the matter of religion and beliefs, not the matter of worldly customs, as is indicated by the hadeeth: “Every nation has its Eid, and this is our Eid.” Their Eid or festival reflects their corrupt beliefs of Kufr and Shirk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fourthly: “And those who do not witness falsehood, and if they pass by some evil play or evil talk, they pass it by with dignity” [al-Furqaan 25:72 – interpretation of the  meaning]. The scholars interpreted this aayah was referring to the festivals of the mushrikeen. It is not permissible to give any of them cards for their festivals, or to sell them cards or any of the other things they need for their festivals such as lights, trees or food – including turkey, candy canes, etc. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We have already answered a similar question, for more details please see Question #947.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.islamqa.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-5772667607365447002?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/5772667607365447002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=5772667607365447002' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/5772667607365447002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/5772667607365447002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/blog-post_29.html' title='حكم مشاركة الكفار في أعيادهم'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-3704092100433539555</id><published>2009-12-28T17:01:00.002+07:00</published><updated>2009-12-29T07:40:40.351+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Natal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nashrani'/><title type='text'>Ruling on celebrating non-Muslim holidays and congratulating them</title><content type='html'>Can a muslim celebrate a non muslim holiday like Thanksgiving?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praise be to Allaah.&lt;br /&gt;Greeting the kuffaar on Christmas and other religious holidays of theirs is haraam, by consensus, as Ibn al-Qayyim, may Allaah have mercy on him, said in Ahkaam Ahl al-Dhimmah: "Congratulating the kuffaar on the rituals that belong only to them is haraam by consensus, as is congratulating them on their festivals and fasts by saying ‘A happy festival to you’ or ‘May you enjoy your festival,’ and so on. If the one who says this has been saved from kufr, it is still forbidden. It is like congratulating someone for prostrating to the cross, or even worse than that. It is as great a sin as congratulating someone for drinking wine, or murdering someone, or having illicit sexual relations, and so on. Many of those who have no respect for their religion fall into this error; they do not realize the offensiveness of their actions. Whoever congratulates a person for his disobedience or bid’ah or kufr exposes himself to the wrath and anger of Allaah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Congratulating the kuffaar on their religious festivals is haraam to the extent described by Ibn al-Qayyim because it implies that one accepts or approves of their rituals of kufr, even if one would not accept those things for oneself. But the Muslim should not aceept the rituals of kufr or congratulate anyone else for them, because Allaah does not accept any of that at all, as He says (interpretation of the meaning):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"If you disbelieve, then verily, Allaah is not in need of you, He likes not disbelief for His slaves. And if you are grateful (by being believers), He is pleased therewith for you. . ."&lt;br /&gt;[al-Zumar 39:7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;". . . This day, I have perfected your religion for you, completed My favour upon you, and have chosen for you Islaam as your religion . . ."&lt;br /&gt;[al-Maa’idah 5:3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So congratulating them is forbidden, whether they are one’s colleagues at work or otherwise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If they greet us on the occasion of their festivals, we should not respond, because these are not our festivals, and because they are not festivals which are acceptable to Allaah. These festivals are innovations in their religions, and even those which may have been prescribed formerly have been abrogated by the religion of Islaam, with which Allaah sent Muhammad (peace and blessings of Allaah be upon him) to the whole of mankind. Allaah says (interpretation of the meaning):&lt;br /&gt;"Whoever seeks a religion other than Islaam, it will never be accepted of him, and in the Hereafter he will be one of the losers." [Aal ‘Imraan 3:85]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is haraam for a Muslim to accept invitations on such occasions, because this is worse than congratulating them as it implies taking part in their celebrations.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Similarly, Muslims are forbidden to imitate the kuffaar by having parties on such occasions, or exchanging gifts, or giving out sweets or food, or taking time off work, etc., because the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: "Whoever imitates a people is one of them." Shaykh al-Islaam Ibn Taymiyah said in his book Iqtidaa’ al-siraat al-mustaqeem mukhaalifat ashaab al-jaheem: "Imitating them in some of their festivals implies that one is pleased with their false beliefs and practices, and gives them the hope that they may have the opportunity to humiliate and mislead the weak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whoever does anything of this sort is a sinner, whether he does it out of politeness or to be friendly, or because he is too shy to refuse, or for whatever other reason, because this is hypocrisy in Islaam, and because it makes the kuffaar feel proud of their religion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allaah is the One Whom we ask to make the Muslims feel proud of their religion, to help them adhere steadfastly to it, and to make them victorious over their enemies, for He is the Strong and Omnipotent.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majmoo’ah Fataawa wa Rasaa’il al-Shaykh Ibn ‘Uthaymeen, 3/369)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ما حكم تهنئة الكفار بأعيادهم ؟ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله&lt;br /&gt;تهنئة الكفار بعيد الكريسمس أو غيره من أعيادهم الدينية حرام بالاتفاق ، كما نقل ذلك ابن القيم - يرحمه الله - في كتاب ( أحكام أهل الذمة ) حيث قال : " وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق ، مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم ، فيقول: عيد مبارك عليك ، أو تهْنأ بهذا العيد ونحوه ، فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثماً عند الله ، وأشد مقتاً من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس ، وارتكاب الفرج الحرام ونحوه ، وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ، ولا يدري قبح ما فعل ، فمن هنّأ عبداً بمعصية أو بدعة ، أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه ." انتهى كلامه - يرحمه الله - .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإنما كانت تهنئة الكفار بأعيادهم الدينية حراماً وبهذه المثابة التي ذكرها ابن القيم لأن فيها إقراراً لما هم عليه من شعائر الكفر، ورضى به لهم ، وإن كان هو لا يرضى بهذا الكفر لنفسه ، لكن يحرم على المسلم أن يرضى بشعائر الكفر أو يهنّئ بها غيره ، لأن الله تعالى لا يرضى بذلك كما قال الله تعالى : { إن تكفروا فإن الله غني عنكم ولا يرضى لعباده الكفر وإن تشكروا يرضه لكم } وقال تعالى : { اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام ديناً } ، وتهنئتهم بذلك حرام سواء كانوا مشاركين للشخص في العمل أم لا .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وإذا هنؤنا بأعيادهم فإننا لا نجيبهم على ذلك لأنها ليست بأعياد لنا ، ولأنها أعياد لا يرضاها الله تعالى ، لأنها إما مبتدعة في دينهم وإما مشروعة لكن نسخت بدين الإسلام الذي بعث الله به محمداً إلى جميع الخلق ، وقال فيه : { ومن يبتغ غير الإسلام ديناً فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين } . وإجابة المسلم دعوتهم بهذه المناسبة حرام ، لأن هذا أعظم من تهنئتهم بها لما في ذلك من مشاركتهم فيها .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكذلك يحرم على المسلمين التشبه بالكفار بإقامة الحفلات بهذه المناسبة ، أو تبادل الهدايا أو توزيع الحلوى ، أو أطباق الطعام ،أو تعطيل الأعمال ونحو ذلك لقول النبي صلى الله عليه وسلم : { من تشبّه بقوم فهو منهم } . قال شيخ الإسلام ابن تيميه في كتابه : ( اقتضاء الصراط المستقيم مخالفة أصحاب الجحيم ) : " مشابهتهم في بعض أعيادهم توجب سرور قلوبهم بما هم عليه من الباطل ، وربما أطمعهم ذلك في انتهاز  الفرص واستذلال الضعفاء " . انتهي كلامه يرحمه الله .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن فعل شيئاً  من ذلك فهو آثم سواء فعله مجاملة أو توددا أو حياء أو لغير ذلك من الأسباب لأنه من المداهنة في دين الله، ومن أسباب تقوية نفوس الكفار وفخرهم بدينهم .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والله المسئول أن يعز المسلمين بدينهم ، ويرزقهم الثبات عليه ، وينصرهم على أعدائهم ، إنه قوي عزيز . ( مجموع فتاوى ورسائل الشيخ ابن عثيمين 3/369 ) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الشيخ محمد صالح المنجد&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.islamqa.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-3704092100433539555?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/3704092100433539555/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=3704092100433539555' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/3704092100433539555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/3704092100433539555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/ruling-on-celebrating-non-muslim.html' title='Ruling on celebrating non-Muslim holidays and congratulating them'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-2388812745473081931</id><published>2009-12-28T16:54:00.002+07:00</published><updated>2009-12-28T17:00:41.177+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shoum'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Qashar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat'/><title type='text'>Batasan Safar Yang Dibolehkan Untuk Berbuka dan Mengqasar (shalat)</title><content type='html'>Berapa batasan minimal jarak dalam safar yang dibolehkan untuk berbuka puasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan ulama berpendapat bahwa jarak yang dibolehkan untuk mengqasar shalat dan berbuka bagi orang yang berpuasa adalah 48 mil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qudamah berkata dalam kitab Al-Mughni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madzhab Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad) berpendapat bahwa qasar tidak boleh dilakukan jika jarak perjalanannya kurang dari 16 farsakh. Satu farsakh sama dengan 3 mil, maka 16 farsakh sama dengan 48 mil. Ibnu Abbas memperkirakan jarak tersebut sama dengan perjalanan dari ‘Usfan menuju Mekkah, atau Tha’if menuju Mekkah, atau Jeddah menuju ke Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jarak yang diperbolehkan qasar adalah sejauh perjalanan dua hari normal (sesuia masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Juga termasuk Madzhab Malik, Laits dan Syafi'i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hitungan kilometer sekarang, jarak tersebut kira-kira 80 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Bin Baz rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa (12/167) tentang perkiraan jarak yang dibolehkan qashar;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menurut kebanyakan ulama’ (jumhur) diperkirakan sekitar 80 km, bagii orang yang berjalan memakai kendaraan, begitu pula pesawat terbang atau perahu. Jarak ini kurang lebihnya dinamakan safar. Inilah  apa yang dikenal oleh kaum muslimin. Kalau seseorang bepergian, baik naik onta, berjalan kaki, memakai mobil, pesawat terbang atau kendaraan laut dengan jarak tempuh seperti itu atau lebih, maka dia  dinamakan musafir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Lajnah Ad-Daimah (Komisi Fatwa Arab Saudi) ditanya (8/90) tentang jarak yang diperbolehkan qasar shalat. Apakah supir angkutan umum yang pergi dalam jarak lebih dari 300 km dibolehkan mengqashar shalatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab: Jarak yang diperkirakan dibolehkan mengqashar shalat adalah sekitar 80 km menurut pendapat kebanyakan ulama’. Dibolehkan bagi supir taksi atau lainnya untuk melaksanakan shalat qashar jika ingin menempuh perjalanan yang berjarak seperti yang kami sebutkan tadi atau lebih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama’ berpendapat bahwa safar tidak ditentukan dengan jarak tertentu, akan tetapi yang menjadi rujukan adalah ‘urf (kebiasaan). Apa yang dianggap safar  menurut kebiasaanya, maka itu adalah safar dan berlaku baginya hukum safar dalam syariat seperti jama’ (menggabungkan) dua shalat, mengqasar dan berbuka bagi musafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitab Fatawanya (24/106): Dalil berpihak kepada orang yang menjadikan alasan dibolehkannya melakukan  qasar dan berbuka dikarenakan jenis safarnya, tanpa mengkhususkan antara satu safar dengan safar lainnya. Dan pendapat ini yang shahih (kuat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya dalam kitab Fatawa Arkanul Islam (hal: 381) tentang perkiraan jarak yang dibolehkan bagi musafir untuk mengqashar shalatnya, dan apakah dibolehkan menjama’ (menggabungkan dua shalat) tanpa qasar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menjawab: “Jarak yang dibolehkan mengqasar shalat, sebagian ulama memberikan batasan sekitar 83 km. Sebagian ulama lainnya memberikan patokan bahwa yang dikatakan safar adalah apabila menurut kebiasaan orang hal itu dikatakan safar meskipun jaraknya kurang 80 km, dan apa yang dikatakan orang –menurut kebiasaan- bahwa itu bukan safar, maka dia tidak termasuk safar meskipun jaraknya lebih dari ratusan kilometer. Pendapat terakhir ini adalah pilihan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Karena Allah tidak pernah menetapkan jarak tertentu untuk kebolehan mengqasar. Begitu juga Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam tidak menentukan jarak tertentu. Dari Anas Bin Malik radhiallahu’anhu: Biasanya Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam kalau beliau keluar (melakukan perjalanan) sejauh 3 mil atau 3 farsakh beliau melakukan shalat dua rakaat. (H.R. Muslim, No. 691)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Syekhul Islam rahimahullah lebih dekat kepada kebenaran, karena pendapat ini telah dikatakan oleh sebagian ulama mujtahid. Seandainya ada perbedaan dalam menentukan safarnya sebuah perjalanan berdasarkan ‘urf, tidak mengapa dalam hal ini jika  seseorang berpedoman dengan jarak tertentu. Karena pendapat ini juga dipegang oleh sebagian ulama mujtahid. Hal ini tidak mengapa insyaAllah. Akan tetapi jika pandangannya (dalam menentukan sebuah safar berdasarkan kebiasaan) sama, maka kembali kepada kebiasaan untuk menentukan safar adalah sikap yang tepat.” .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Jawab dalam Islam&lt;br /&gt;http://www.islamqa.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ما هو الحد الأدنى في السفر الذي يجوز معه الإفطار ؟.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذهب جمهور العلماء إلى أن المسافة التي تقصر فيها الصلاة ويفطر فيها الصائم ثمانية وأربعون ميلاً .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال ابن قدامة في المغني :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَذْهَبُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( يعني الإمام أحمد ) أَنَّ الْقَصْرَ لا يَجُوزُ فِي أَقَلِّ مِنْ سِتَّةَ عَشَرَ فَرْسَخًا , وَالْفَرْسَخُ : ثَلاثَةُ أَمْيَالٍ , فَيَكُونُ ثَمَانِيَةً وَأَرْبَعِينَ مِيلا . وَقَدْ قَدَرَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ , فَقَالَ : مِنْ عُسْفَانَ إلَى مَكَّةَ ، وَمِنْ الطَّائِفِ إلَى مَكَّةَ ، وَمِنْ جُدَّةَ إلَى مَكَّةَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَعَلَى هَذَا تَكُونُ مَسَافَةُ الْقَصْرِ يَوْمَيْنِ قَاصِدَيْنِ . وَهَذَا قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ وَابْنِ عُمَرَ . وَإِلَيْهِ ذَهَبَ مَالِكٌ , وَاللَّيْثُ , وَالشَّافِعِيُّ اهـ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وتقدير ذلك بالكيلو متر نحو ثمانين كيلو متر تقريباً .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال الشيخ ابن باز في "مجموع الفتاوى" (12/267) في تقدير السفر :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" الذي عليه جمهور أهل العلم أن ذلك يقدر بنحو ثمانين كيلو تقريبا بالنسبة لمن يسير في السيارة ، وهكذا الطائرات ، وفي السفن والبواخر ، هذه المسافة أو ما يقاربها تسمى سفرا ، وتعتبر سفرا في العرف فإنه المعروف بين المسلمين ، فإذا سافر الإنسان على الإبل ، أو على قدميه ، أو على السيارات ، أو على الطائرات ، أو المراكب البحرية ، هذه المسافة أو أكثر منها فهو مسافر " اهـ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وسئلت اللجنة الدائمة (8/90) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن مسافة القصر ، وهل لسائق الأجرة الذي يذهب أكثر من ثلاثمائة كيلو متر أن يصلي الصلاة قصر ا؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأجابت :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مقدار المسافة المبيحة للقصر ثمانون كيلو متر تقريبا على رأي جمهور العلماء ، ويجوز لسائق سيارة الأجرة أو غيره أن يصليها قصرا ؛ إذا كان يريد قطع المسافة التي ذكرناها في أول الجواب أو أكثر منها اهـ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وذهب بعض العلماء إلى أن السفر لا يحدد بمسافة معينة ، بل المرجع في ذلك إلى العرف ، فما عده الناس في العرف سفراً فهو السفر الذي تترتب عليه الأحكام الشرعية كالجمع بين الصلاتين والقصر والفطر للمسافر .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قال شيخ الإسلام في الفتاوى (24/106) : وَالْحُجَّةُ مَعَ مَنْ جَعَلَ الْقَصْرَ وَالْفِطْرَ مَشْرُوعًا فِي جِنْسِ السَّفَرِ وَلَمْ يَخُصَّ سَفَرًا مِنْ سَفَرٍ . وَهَذَا الْقَوْلُ هُوَ الصَّحِيحُ اهـ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وسئل الشيخ ابن عثيمين في فتاوى أركان الإسلام (ص381) عن مقدار المسافة التي يقصر فيها المسافر الصلاة وهل يجوز الجمع دون قصر ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فأجاب :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المسافة التي تقصر فيها الصلاة حددها بعض العلماء بنحو ثلاثة وثمانين كيلو مترا ، وحددها بعض العلماء بما جرى به العرف أنه سفر وإن لم يبلغ ثمانين كيلو مترا ، وما قال الناس عنه : إنه ليس بسفر ، فليس بسفر ولو بلغ مائة كيلو متر .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وهذا الأخير هو اختيار شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله ، وذلك لأن الله تعالى لم يحدد مسافة معينة لجواز القصر وكذلك النبي صلى الله عليه وسلم لم يحدد مسافة معينة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال أنس بن مالك رضي الله عنه : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلاثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلاثَةِ فَرَاسِخَ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ . رواه مسلم (691) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقول شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى أقرب إلى الصواب .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ولا حرج عند اختلاف العرف فيه أن يأخذ الإنسان بالقول بالتحديد ؛ لأنه قال به بعض الأئمة والعلماء المجتهدين ، فلا بأس به إن شاء الله تعالى ، أما مادام الأمر منضبطا فالرجوع إلى العرف هو الصواب اهـ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;English Version&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What is the minimum distance of traveling at which the fasting is exused.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praise be to Allaah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The majority of scholars are of the view that the distance at which a traveler may join prayers and not fast is forty-eight miles. Ibn Qudaamah said in al-Mughni: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The view of Abu ‘Abd-Allaah [i.e., Imam Ahmad] is that it is not permissible to shorten the prayers for a distance of less than sixteen farsakhs, and a farsakh is three miles, so the distance is forty-eight miles. This was the estimation of Ibn ‘Abbaas. He said: From ‘Usfaan to Makkah, or from al-Taa’if to Makkah, or from Jeddah to Makkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Based on this, the distance at which it is permissible to shorten prayers is the distance of two days’ travel aiming directly for that dsetination. This is the view of Ibn ‘Abbaas and Ibn ‘Umar, and the view of Maalik, al-Layth and al-Shaafa’i. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The equivalent in kilometers is approximately 80 km. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaykh Ibn Baaz said in Majmoo’ al-Fataawa (12/267), explaining what is meant by traveling: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The view of the majority of scholars is that this is equivalent to approximately eighty kilometers for one who travels by car, plane or ship. This distance is what is called traveling according to the custom of the Muslims. So if a person travels by camel, car, plane or ship, for this distance or more, he is regarded as a traveler. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Standing Committee was asked (8/90) about the distance at which a traveler may shorten his prayers, and can a taxi-driver who covers more than three hundred kilometers shorten his prayer? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They replied: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The distance at which a traveler may shorten his prayers is approximately 80 km, according to the view of the majority of scholars. It is permissible for a taxi driver or anyone else to shorten his prayers, if he is going to cover the distance mentioned at the beginning of the question, or more. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some scholars are of the view that traveling is not to be defined by a specific distance, rather it should be defined according to custom: whatever people customarily regard as traveling is the traveling to which the shar’i rulings apply, such as joining and shortening prayers, and not fasting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaykh al-Islam said in al-Fataawa (24/106): The evidence supports those who regard shortening prayers and not fasting as being applicable to all types of travel and do not single out one kind of traveling to the exclusion of another. This view is the correct one. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaykh Ibn ‘Uthayemeen was asked in Fataawa Arkaan al-Islam (p. 381) about the distance at which a traveler may shorten his prayers and whether it is permissible to join prayers without shortening them. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He replied: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The distance at which a traveler may shorten his prayers was defined by some of the scholars as being approximately eighty-three kilometers, and some defined it as being what is customarily regarded as traveling, even if the distance is not 80 km, and that what the people say is not traveling should not be regarded as such, even if it is as far as one hundred kilometers. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The latter view is the view favoured by Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah (may Allaah have mercy on him), because Allaah did not state a specific distance for it to be permissible to shorten prayers, and neither did the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas ibn Maalik (may Allaah be pleased with him) said: If the Messenger of Allaah (peace and blessings of Allaah be upon him) set out for a journey of three miles or three farsakhs, he would pray two rak’ahs. Narrated by Muslim, 691. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The view of Shaykh al-Islam Ibn Taymiyah is closer to what is correct. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is nothing wrong, if there is a conflict between customary views, in going by the opinion which suggests that travel should be defined in terms of distance, because this was the view of some of the imams and scholars and mujtahids. So there is nothing wrong with that in sha Allah. But so long as custom gives a clear definition, then referring to what is customary is the right thing to do.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-2388812745473081931?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/2388812745473081931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=2388812745473081931' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/2388812745473081931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/2388812745473081931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/batasan-safar-yang-dibolehkan-untuk.html' title='Batasan Safar Yang Dibolehkan Untuk Berbuka dan Mengqasar (shalat)'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-3137727803196579955</id><published>2009-12-28T16:49:00.001+07:00</published><updated>2009-12-28T16:51:14.666+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>20 Faedah Tentang Aqidah</title><content type='html'>Faidah I&lt;br /&gt;TOLERANSI AGAMA  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku. [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kalangan menjadikan ayat ini sebagai dalil untuk memperkuat ajaran toleransi antar umat beragama dan kebenaran agama selain Islam. Sungguh, ini adalah pemahaman yang bathil, bagaimana mungkin itu benar sedangkan Rasulullah selalu mengingkari, melarang dan mengancam dari agama selain Islam, bahkan ketika mereka menuntut beliau agar menghentikan hal itu, beliau tetap tegar dalam pendiriannya. Lantas bagaimana mungkin ayat ini menunjukkan kebenaran agama mereka?!! Ayat ini menunjukkan perintah agar Nabi berlepas diri dari agama mereka yang bathil, bukan malah menyetujuinya.[2]&lt;br /&gt;Faidah II&lt;br /&gt;KARTU AJAIB  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Abu Hasan, Ali bin Umar berkata: “Saya pernah mendapati seorang di suatu majlis, ketika dia mendengar hadits ini[3], dia menjerit lalu meninggal dunia. Aku ikut mengurusi jenazahnya dan menyalatinya”.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah III&lt;br /&gt;AL-QUR’AN MAKHLUK?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ahmad bin Nashr berkata: “Saya pernah mendapati seorang yang kesurupan jin, lalu saya bacakan ayat di telinganya, tiba-tiba jin wanita berkata kepadaku: Wahai Abu Abdillah, biarkanlah aku mencekiknya, karena dia mengatakan: Al-Qur’an makhluk!!!”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kaum dari Ashbahan pernah berkata kepada Shahib bin Abbad: Seandainya Al-Qur’an itu makhluk, berarti dia bisa mati, lalu kalau mati di akhir bulan Sya’ban, bagaimana kita shalat terawih nanti? Dia menjawab: Seandainya Al-Qur’an mati, maka Ramadhan juga ikut mati, kita tidak perlu shalat terawih, kita istirahat santai saja”. [6]&lt;br /&gt;Faidah IV&lt;br /&gt;KUNCI KEMENANGAN  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pasukan Tatar menjajah Damaskus, banyak rakyat saat itu meminta bantuan kepada ahli kubur supaya lekas menghilangkan musibah tersebut, sehingga seorang penyair mereka mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا خَائِفِيْنَ مِنَ التَّتَرْ      لُوْذُوْا بِقَبْرِ أَبِيْ عُمَرْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عُوْذُوْا بِقَبْرِ أَبِيْ عُمَرْ      يُنْجِيْكُمْ مِنَ الضَّرَرْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang-orang yang takut dari Tatar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlindunglah ke kuburan Abu Umar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niscaya dia menyelamatkanmu dari bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya (Ibnu Taimiyyah) berkata pada mereka: “Seandainya orang-orang yang kalian mintai pertolongan tersebut ikut jihad bersama kalian, niscaya kalian akan kalah sebagaimana kaum muslimin mengalami kekalahan pada perang Uhud”. [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu kami mengajak manusia agar memurnikan agama dan berdoa hanya kepada Allah semata, sehingga manusia tidak diperkenankan untuk meminta pertolongan kecuali hanya kepadaNya semata, tidak boleh kepada selainNya walaupun dia seorang malaikat atau nabi yang terdekat, sebagaimana firman Allah tentang perang Badr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu Dia mengabulkan doamu. [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, tatkala manusia berubah memperbaiki keadaan dan mereka hanya meminta pertolongan kepada Allah saja, maka Allah memberikan kemenangan kepada mereka dalam menghadapi musuh mereka dengan kemenangan yang tiada bandingnya, dimana pasukan Tatar belum pernah mengalami kekalahan seperti saat itu. Semua ini meruakan buah dari tauhid dan ketaatan kepada rasul. Sesungguhnya Allah berjanji akan menolong para utusanNya dan orang-orang beriman di dunia dan akherat.[9]&lt;br /&gt;Faidah V&lt;br /&gt;MENGGUGAT SYARI’AT  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang zindiq yang dikenal dengan Abu Ala’ al-Ma’arri menggugat syariat potong tangan bagi pencuri dalam syairnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَدٌ بِخَمْسِ مِئِيْنٍ عَسْجَدٍ وُدِيَتْ مَا بَالُهَا قُطِعَتْ فِيْ رُبْعِ دِيْنَارِ؟&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَنَاقُضٌ مَالَنَا إِلاَّ السُّكُوْتُ لَهُ وَنَسْتَجِيْرُ بِمَوْلاَنَا مِنَ الْعَارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diyat tangan adalah lima ratus dinar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mengapa dia dipotong karena seperempat dinar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontradiksi nyata tapi kita tidak dapat berbuat kecuali hanya diam saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memohon perlindungan kepada Allah dari kehinaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syair di atas di bantah dengan syair berikut ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَدٌ بِخَمْسِ مِئِيْنٍ عَسْجَدٍ وُدِيَتْ        لَكِنَّهَا قُطِعَتْ فِيْ رُبْعِ دِيْنَارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عِزُّ الأَمَانَةِ أَغْلاَهَا وَأَرْخَصَهَا           ذُلُّ الْخِيَانَةِ فَافْهَمْ حِكْمَةَ الْبَارِيْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diyat tangan adalah lima ratus dinar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dia dipotong karena seperempat dinar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemuliaan amanat yang membuat tangan menjadi mahal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan harganya menjadi murah tatkala dia berkhianat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka fahamilah hikmah syariat Allah[10]&lt;br /&gt;Faidah VI&lt;br /&gt;LEBIH PARAH SYIRIKNYA  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ulama India, Shiddiq Hasan Khan pernah bercerita tentang perjalanan hajinya dalam kitabnya “Rihlah Shiddiq ila Baitil Atiq” hal. 171-172: “Termasuk keajaiban yang tidak layak disembunyikan bahwa para  pelaut apabila merasa ketakutan terhadap kapal dan penumpangnya, mereka meminta tolong dengan memanggil nama Syaikh Aidarus[11] dan selainnya, mereka tidak menyebut Allah sedikitpun. Apabila saya mendengar mereka meminta tolong dan memanggil wali-wali mereka, saya sangat khawatir sekali akan turunnya bencana menimpa kapal yang kami tumpangi. Saya berkata dalam hati: Aduhai, apakah kapal ini akan sampai ke tepi dengan selamat?!! Sesungguhnya orang-orang musyrik Arab dahulu dalam kondisi seperti ini, mereka hanya berdoa kepada Allah saja dan melupakan tuhan-tuhan mereka yang bathil sebagaimana firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya. [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, mereka yang menamakan diri mereka “muslim” malah berdoa kepada selain Allah dan menyebut nama-nama makhlukNya. Sungguh benar firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللّهِ إِلاَّ وَهُم مُّشْرِكُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah. [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja karena rahmat Allah yang begitu luas, akhirnya kapalpun sampai ke tujuan dengan selamat. [14]&lt;br /&gt;Faidah VII&lt;br /&gt;ARGUMEN KROPOS  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang tokoh agama yang berdalil bahwa para wali itu memiliki kemampuan di kuburnya sehingga dimintai doa, dia berdalil dengan ayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أَمْوَاتاً بَلْ أَحْيَاء عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi tuhannya dengan mendaat rezeki. [15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ada seorang awam kaum muslimin yang menjawab: “Kalau memang bacaannya adalah yarzuqun (mereka memberi rezeki) maka itu benar, tetapi kalau tidak maka ayat itu malah membantah dirimu sendiri”. [16]&lt;br /&gt;Faidah VIII&lt;br /&gt;MENYELISIHI RAFIDHAH  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Alusi dalam kitabnya “ath-Thurrah ‘ala Ghurrah” 12/14 menyebutkan bahwa merupakan perkara yang populer di kalangan kelompok Syi’ah Rafidhah; dibenci memisahkan antara Nabi dan keluarganya dengan huruf (عَلَى ). Mereka berdalil dengan hadits palsu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ فَصَلَ بَيْنِيْ وَبَيْنِ آلِيْ بِ (عَلَى)  لَمْ يَنَلْ شَفَاعَتِيْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang memisah antaraku dengan keluargaku dengan huruf ala, maka dia tidak mendapatkan syafa’atku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit dari tokoh Syi’ah sendiri telah menegaskan bahwa hadits ini palsu, maka hendaknya bagi Ahli Sunnah untuk menyelisihi Rafidhah dengan mengatakan:  [17] ( وعَلَى آلِهِ).&lt;br /&gt;Faidah IX&lt;br /&gt;ADA NABI WANITA?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama semisal Abul Hasan al-Asy’ari, al-Qurthubi, Ibnu Hazm berpendapat bahwa ada Nabi wanita seperti Maryam, Hawa, ibu Nabi Musa, Sarah, Hajar, Asiyah. Namun pendapat ini ganjil dan lemah ditinjau dari sembilan segi.[18]&lt;br /&gt;Faidah X&lt;br /&gt;DIALOG ANTAR AGAMA  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Soal: Bolehkah mengadakan dialog/debat antar agama, seperti yang terjadi antara dai Ahmad Dedat dan pendeta Nashrani?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin menjawab: Debat/dialog antara kaum muslim dengan kaum kaum kafir apabila diperlukan maka hukumnya wajib. Namun bagi seorang yang akan berdebat dengan kaum kafir dia harus memiliki pengetahuan tentang Islam untuk memperkuat argumennya dan juga memiliki pengetahuan tentang kebobrokan agama lawan untuk membantah kerancuan-kerancuan yang akan diutarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah menyaksikan sebagian perdebatan antara dai Islami Ahmad Dedat dan pendeta nashari. Sungguh mengagumkanku perdebatannya, yang akhirnya dia dapat membungkam mulut pendeta nashrani tersebut dan mematahkan semua argumennya. Segala puji bagi Allah. [19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah XI&lt;br /&gt;AYAT TAUHID DITAFSIRKAN KESYIRIKAN  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sholat mereka, kaum muslimin selalu membaca sebuah ayat dalam surat al-Fatihah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. [20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata menafsirkan ayat di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Yakni kita mengkhususkanMu saja dengan ibadah dan isti’anah (meminta pertolongan), karena mendahulukan obyek menunjukkan pembatasan, seakan-akan dia mengatakan: Kami beribadah kepadamu dan tidak beribadah kepada selainMu, kami meminta pertolongan kepadaMu dan tidak meminta kepada selainMu”.[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Nurcholis Madjid, dia malah mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Kalau kita baru sampai pada iyyaka na’budu berarti kita masih mengklaim diri kita mampu dan aktif menyembah. Tetapi kalau sudah wa iyyaka nasta’in, maka kita lebur, menyatu dengan dengan Tuhan”.[22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana dia menafsirkan ayat tauhid dengan dengan sebuah paham yang sesat dan menyesatkan yaitu Wahdatul wujud (bersatunya hamba dengan Allah). Hanya kepada Allah kita mengadu!!&lt;br /&gt;Faidah XII&lt;br /&gt;AHMADIYYAH SESAT?!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh al-Albani berkata: “Ketahuilah bahwa termasuk di antara para Dajjal yang mengaku Nabi adalah Mirza Ghulam Ahmad al-Qodiyani dari India, yang mengaku sebagai Imam al-Mahdi pada masa Inggris menjajah India, kemudian setelah itu dia mengaku sebagai Nabi Isa, dan akhirnya dia mengaku sebagai Nabi. Banyak juga orang yang tidak memiliki ilmu Al-Qur’an dan sunnah tertipu menjadi pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Saya telah bertemu dengan sebagian penyebar Ahmadiyyah dari India atau Suria, sering sekali terjadi dialog antara diriku dengan mereka, saya mengajak mereka untuk berdialog seputar keyakinan mereka bahwa ada Nabi-nabi setelah Nabi Muhammad, salah satunya adalah Mirza Ghulam Ahmad!! Mereka mulai mengelak dari dialog seputar keyakinan tersebut, namun saya tetap mendesak mereka, sehingga merekapun kalah dan orang-orang yang hadir tahu bahwa mereka adalah dalam kebathilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Mereka memiliki keyakinan-keyakinan bathil lainnya yang banyak, menyelisihi ijma’ umat, seperti mengingkari hari kebangkitan dengan jasad, nikmat dan siksa hanya pada ruh saja tanpa jasad, siksa untuk orang kafir bisa terputus, mengingkari adanya Jin…Oleh karena itu Inggris mendukung Mirza, sehingga dia sendiri mengatakan: “Haram bagi kaum muslimin untuk menyerang Inggris!!” dan kesesatan-kesesatan lainnya. Sudah banyak buku-buku yang menjelaskan kebobrokan mereka dan bahwa bahwa mereka telah keluar dari barisan kuam muslimin. Bagi yang ingin mengetahui hakekat mereka, silahkan membacanya. [23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah XIII&lt;br /&gt;SYI’AH DAN SUNNAH BERSATU  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang sangat aneh, adanya sebagian kaum muslimin yang berusaha untuk menyatukan antara Syi’ah dan Sunnah[24]. Mungkinkah kaum muslimin akan bersatu dengan suatu kaum yang menjadikan celaan kepada ara sahabat dan mengkafirkan mereka sebagai agama?!! Bagaimana akan bersatu sedangkan tokoh Syi’ah sendiri enggan dengan persatuan ini?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Syaikh Muhammad Rasyid Ridho berkata: “Saya adalah seorang yang sangat bersemangat untuk menyatukan antara sunnah dan syi’ah, saya telah berusaha semaksimal mungkin selama tiga abad dan saya tidak mengetahui seorang muslimpun yang lebih semangat daripada saya untuk persatuan tersebut, lalu nampak jelaslah bagiku dengan pengalaman yang lama bahwa mayoritas ulama Syi’ah sangat enggan dengan persatuan ini, sebab hal itu sangat berlawanan dengan  manfaat pribadi mereka berupa harta dan kedudukan. Saya telah berdialog tentang hal ini dengan banyak orang di Mesir, Suria, India dan Iraq. Dari pengalaman tersebut saya menarik kesimpulan bahwa Syi’ah sangat memusuhi Ahli Sunnah!!! Mereka bersemangat untuk menyebarkan kitab-kitab untuk mencela sunnah, para khalifah rasyidin yang menaklukkan negeri dan menyebarkan Islam di penjuru dunia, dan mencela para pembela sunnah dan imamnya serta orang-orang Arab secara umum”.[25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah XIV&lt;br /&gt;MUBAHALAH DENGAN TOKOH AHMADIYYAH  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli hadits India, Syaikh Tsana’ullah al-Amritsari (wft. 1367 H) pernah menantang Mirza Ghulam Ahmad al-Qodiyani pada tahun 1326 H bahwa barangsiapa di antara keduanya yang berdusta dan berada di atas kebathilan, maka dia akan mati duluan dan terkena penyakit kolera. Akhirnya, selang beberapa waktu yang tidak lama, Mirza terkena penyakit kolera kemudian meninggal dunia, sedangkan Syaikh Tsanaullah, beliau hidup setelah itu emat puluh tahun lamanya.[26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab “Al-Qodiyaniyyah” hal. 158 karya Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir dikatakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Koran-koran India saat itu memberitakan bahwa Ghulam Ahmad al-Qodiyani tatkala terkena kolera, dia mengeluarkan kotoran najis dari mulutnya sebelum mati, dan dia mati dalam keadaan duduk di kamar mandi untuk buang air besar!!”.[27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah XV&lt;br /&gt;SEMOGA DOA YANG MUSTAJAB  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Bisyr al-Marrisi meninggal dunia, tidak ada seorang alimpun yang ikut mengurusi jenazahnya kecuali ‘Ubaid asy-Syuwainizi. Sepulangnya dari jenazah, orang-orang mencercanya karena kehadirannya, lalu dia berkata: “Tunggu dulu, akan saya beritakan ceritanya. Sungguh, tidak ada suatu amalanpun yang lebih saya harapkan pahalanya daripada saat aku menyaksikan jenazah Bisyr. Tatkala aku berdiri di shof, saya berdo’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alloh, sesungguhnya hamba-Mu ini, dia tidak beriman adanya ru’yah (melihat Alloh) di akherat, maka janganlah engkau beri dia nikmat melihat wajah-Mu di saat kaum mukminin semua melihat-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alloh, sesungguhnya hamba-Mu ini, dia tidak beriman adanya siksa kubur, maka siksalah dia di kuburnya dengan siksaan yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun di alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alloh, sesungguhnya hamba-Mu ini, dia mengingkari mizan (timbangan), maka ringankanlah timbangan-Nya di hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alloh, sesungguhnya hamba-Mu ini, dia mengingkari syafa’at, maka janganlah engkau memberinya syafa’at pada hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, orang-orang-pun diam dan tertawa…[28]&lt;br /&gt;Faidah XVI&lt;br /&gt;SELAMAT NATAL  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Adapun ucapan selamat dengan syiar-syiar kekufuran yang khusus, maka hukumnya adalah haram dengan kesepakatan ulama seperti ucapan selamat hari raya dan sebagainya. Kalau bukan kekufuran, maka minimal adalah haram, sebab hal tersebut sama halnya dengan memberi selamat atas sujud mereka terhadap salib, bahkan hal itu lebih parah dosanya dan lebih dahsyat kemurkaan di sisi Allah dengan ucapan selamat atas minum khomr, membunuh, zina dan sebagainya. Sungguh, banyak orang yang tidak memiliki agama dalam hatinya terjatuh dalam hal tersebut dan tidak mengetahuyi kejinya perbuatannya tersebut ”. [29]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah XVII&lt;br /&gt;TUMBAL, ADAT JAHILIYYAH  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu saat, sungai Nil di Mesir pernah kering tidak mengalirkan air, maka penduduk Mesir mendatangi ‘Amr bin Ash seraya mengatakan: Wahai amir, sungai Nil kita ini memiliki suatu musim untuk tidak mengalir kecuali dengan tumbal. Amr bertanya: Tumbal apakah itu? Mereka menjawab: Pada tanggal 12 di bulan seperti ini, biasanya kami mencari gadis perawan, lalu kita merayu orang tuanya dan memberinya perhiasan dan pakaian yang mewah, kemudian kita lemparkan dia ke sungai Nil ini. Mendengar hal itu, Amr mengatakan kepada mereka: “Ini tidak boleh dalam agama Islam, Islam telah menghapus keyakinan tersebut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan mereka menunggu, tapi sungai Nil tetap tidak mengalir sehingga hampir saja menduduk sana nekat untuk memberikan tumbal, maka Amr menulis surat kepada Umar bin Khothob tentang masalah tersebut, lalu beliau menjawab: “Sikapmu sudah benar. Dan bersama ini saya kirimkan secarik kertas dalam suratku ini untuk kamu lemparkan ke sungai Nil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala surat itu sampai, maka Amr mengambilnya, ternyata isi surat tersebut sebagai berikut: “Dari hamba Allah, Umar amirul mukminin kepada Nil, sungai penduduk Mesir. Amma Ba’du: Bila kamu mengalir karena perintahmu sendiri maka kamu tidak perlu mengalir karena kami tidak butuh kepadamu, tetapi kalau kamu mengalir karena Allah yang mengalirkanmu maka kami berdoa agar Allah mengalirkanmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah surat Umar tadi dilemparkan ke sungai Nil, maka dalam semalam saja Allah telah mengalirkan sungai Nil sehingga berketinggian enam belas hasta!!”.[30]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah XVIII&lt;br /&gt;AHLI KITAB TIDAK KAFIR?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli kitab alias Yahudi dan Nashrani adalah kaum kafir dengan ketegasan Al-Qur’an, hadits dan ijma’ kaum muslimin, berbeda dengan celotehan para engusung liberalisme. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.[31]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ : وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ, لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ, ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ, إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah dari Rasulullah beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tanganNya, Tidak ada seorangpun dari umat ini baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentangku kemudian dia meninggal dan tidak beriman kepada ajaranku, kecuali dia termasuk ahli neraka.[32]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam asy-Syathibi berkata: “Kami melihat dan mendengar bahwa kebanyakan Yahudi dan Nashrani mengetahui tentang agama Islam dan banyak mengetahui banyak hal tentang seluk-beluknya, tetapi semua itu tidak bermanfaat bagi mereka selagi mereka tetap di atas kekufuran[33] dengan kesepakatan ahli Islam”.[34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah XIX&lt;br /&gt;JIN MASUK SURGA?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jin terbagi menjadi dua macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jin kafir, maka mereka akan masuk Neraka berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kalau kami menghendaki niscaya kami akan berikan kepada tiap- tiap jiwa petunjuk, akan tetapi Telah tetaplah perkataan dari padaKu: “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.”[35]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan para ulama bersepakat tentang hal ini, sebagaimana dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam an-Nubuwwat hlm. 396, Ibnul Qoyyim dalam Thoriqul Hijratain hlm. 417, dan Ibnu Muflih dalam al-Furu’ 1/603.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jin mukmin, apakah mereka bisa masuk surga? Ada perselisihan di kalangan ulama. Mayoritas mereka mengatakan bahwa jin mukmin akan masuk surga sebagaimana manusia mukmin, ini pendapat al-Auza’I, Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf, dan dinukil dari Malik, Syafi’I dan Ahmad bin Hanbal. Mereka berdalil dengan firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang Telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan. [36]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فِيهِنَّ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ إِنسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَانٌّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.[37]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa jin mukmin tidak masuk surga, lalu mereka berselisih apakah akan menjadi tanah seperti hewan ataukah ganjaran mereka sekedar selamat dari neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam dalam an-Nubuwwat hlm. 397, Ibnu Katsir dalam Tafsirnya 7/287 dan Ibnu Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah hlm. 70.[38]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faidah XX&lt;br /&gt;KEBEBASAN BERPIKIR  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal: Kita mendengar dan membaca ungkapan “Kebebasan Berpikir” yaitu suatu ajakan untuk berkeyakinan bebas. Apa komentar anda tentang ungkapan ini?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab: Komentar kami terhadap ungkapan tersebut; Barangsiapa yang membolehkan seorang untuk bebas berkeyakinan, menyakini agama semaunya maka dia telah kafir, karena setiap orang yang berkeyakinan bahwa seorang boleh beragama selain agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad maka dia kafir, harus dimintai taubat, bila bertaubat maka diterima dan bila tidak maka wajib dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama bukanlah pemikiran, tetapi wahyu dari Allah yang diturunkan kepada para RasulNya agar diyakini oleh para hambaNya. Ungkapan ini yaitu kebebasan berpikir dengan artian kebebasan beragama harus dibuang dari kamus-kamus kitab Islam, karena akan membawa makna yang rusak, yaitu Islam dikatakan sebagai pemikiran, Nashrani adalah pemikiran dan Yahudi adalah pemikiran, sehingga syari’at hanyalah pemikiran yang diyakini oleh manusia semaunya, padahal agama samawi adalah wahyu dari Allah, bukan pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, barangsiapa berkeyakinan bolehnya seorang beragama sesukanya dan bebas beragama maka dia kafir kepada Allah, karena Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. [39]&lt;br /&gt;إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. [40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak boleh bagi seorangpun untuk meyakini bahwa agama selain Islam boleh dipeluk, bahkan bila dia meyakini hal ini maka para ahli ilmu telah menegaskan bahwa dia kafir keluar dari Islam”. [41]&lt;br /&gt;[1] QS. Al-Kafirun: 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat Badai’ Fawaid 1/248, Ibnu Qayyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Yakni hadits bithaqah (kartu) syahadat “Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali hanya Allah dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusannya”. Haditsnya diriwayatkan Tirmidzi 2/106, Ibnu Majah 4300, Ahmad 2/213, al-Hakim 1/6. (Lihat Ash-Shahihah al-Albani no. 135)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Juz Bithaqah hal. 35-36, Hamzah al-Kinani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Thabaqat Hanabilah 1/81, Ibnu Abi Ya’la.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Mu’jam Udaba’ 2/473, Yaqut al-Hamawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Semoga Allah merahmati Syaikhul Islam!! Sungguh, alangkah tajamnya pemahaman beliau! Kalau saja pasukan perang di kalangan sahabat mengalami kekalahan dalam perang Uhud, padahal kesalahan mereka tidak sampai kepada derajat syirik, lantas bagaimana kiranya apabila pasukan perang bergelimang dalam kubang kesyirikan?!! Ya Allah, hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan dan kemenangan untuk kaum muslimin dimanaun berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] QS. Al-Anfal: 9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Lihat Istighasyah fi Raddi ‘Alal Bakri 2/631-6333, Ibnu Taimiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] I’lam Muwaqqi’in 3/287, Ibnu Qayyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah: Imam adz-Dzahabi berkata dalam Mizanul I’tidal 1/112: “Dia memiliki syair yang menunjukkan bahwa dia adalah zindiq”.  Yaqut al-Hamawi juga berkata: “al-Ma’arri adalah keledai yang tolol, sebab hikmah di balik syari’at ini sangat jelas, seandainya saja tangan pencuri tidak dipotong kecuali aabila telah mencapai lima ratus dinar maka akan banyak pencurian kurang dari lima ratus dinar. Dan seandainya saja diyat tangan hanya sekedar seperempat dinar maka akan banyak orang yang memotong tangan lalu dengan mudahnya dia akan membayar tebusannya yang hanya seperemat dinar. Kita berlindung kepada Allah dari kesesatan”. (Mu’jam Udaba’ 1/430).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Banyak sekali orang yang disebut dengan Aidarus, namun mungkin yang paling mendekati di sini adalah yang paling popular diantara mereka, yaitu Abu Bakar Abdullah asy-Syadzili al-Aidarus, wafat tahun (914 ). Lihat biografinya dalam al-Kawakib as-Saairah 1/113 oleh al-Ghozzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] QS. Al-Ankabut: 65.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] QS. Yusuf: 106.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Dinukil dari Ta’liq Kasyfu Syubuhat, Ali al-Halabi hal. 72-74&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] QS. Ali Imran: 169.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Tuhfah Thalib al-Jalis hal. 56, Abdul Lathif Alu Syaikh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Mu’jam Manahi Lafdziyyah hal. 594, Bakr Abu Zaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[18] ar-Rusul wa Risalat hal. 84-88, DR. Umar Sulaiman al-Asyqar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[19] Ash-Shahwah Islamiyah hal. 160-161.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[20] QS. Al-Fatihah: 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[21] Taisirul Karimir Rahman hlm. 28.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[22] Tabloid Tekad, Harian Republika No. 44/th.II, 4-10 September 2000 hlm. 11, dari buku Tarekat Tasawwuf hlm. 109, Hartono Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[23] Silsilah Ahadits Ash-Shahihah 4/252-253.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[24] Lihat buku Laisa Minal Islam hlm. 70-71 oleh Muhammad al-Ghozali dan Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan, Mungkinkah Bergandeng Tangan? karya DR. M. Quraisy Shihab hlm. 258, penerbit Lentera Hati, cet pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[25] Majalah Al-Manar 31/290, dinukil dari Khud’atu Taqrib Baina Sunnah wa Syi’ah Asyrof bin Abdul Maqshud hlm. 39-40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[26]Nuzhatul Khowathir wa Bahjatul Masami’ wa Nawadhir, Abdul Hayyi al-Hasani 8/95.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[27] Ar-Riyadh Nadiyyah, Ali Hasan al-Halabi hal. 41-42.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[28] Akhbar Zhirof wal Mutamaajinin Ibnul Jauzi hlm. 65-66.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[29] Ahkam Ahli Dzimmah hlm. 202-203.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[30] Al-Bidayah wa Nihayah, Ibnu Katsir 7/100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[31] QS. Al-Bayyinah: 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[32] HR. Muslim 153.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[33] Syaikh Masyhur bin Hasan berkomentar: “Seperti para orientalis dan para peneliti ilmu syari’at dari orang-orang kafir. Dan hal ini sangat masyhur sekali pada zaman sekarang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[34] Al-Muwafaqot 1/85, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[35] QS. As-Sajadah: 13.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[36] QS. Al-Ahqof: 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[37] QS. Ar-Rohman: 56.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[38] Diringkas dari Fathul Mannan 1/144-150 Masyhur bin Hasan dan Buhuts Nadiroh hlm. 214 Fahd bin Abdillah ash-Shoq’abi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[39] QS. Ali Imron: 85.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[40] QS. Ali Imron: 19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[41] Majmu’ Fatawa wa Rosail Syaikh Ibnu Utsaimin 3/99-100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: abiubaidah.com (Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as Sidawi)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-3137727803196579955?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/3137727803196579955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=3137727803196579955' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/3137727803196579955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/3137727803196579955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/20-faedah-tentang-aqidah.html' title='20 Faedah Tentang Aqidah'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-8729792594070884414</id><published>2009-12-28T16:38:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T16:46:56.641+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Salaf'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>Makna Salaf dan Salafi</title><content type='html'>Assalamu ‘alaikum ustadz. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada ustadz, karena ada yang kurang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Apa makna Salaf, Salafi, atau Salafiyyun?&lt;br /&gt;   2. Ada buku yang pernah saya baca, dikatakan bahwa salaf itu berpegang teguh pada Sunnah Rasulullah, akan tetapi ada beberapa orang yg saya kenal bermanhaj salaf tapi mereka mudah sekali untuk menyalahkan atau mengatakan bahwa ini bid’ah atau sesat, mereka juga jarang senyum. Padahal kalau yang saya baca Rasulullah itu murah senyum. Bagaimana memaknai salaf dalam hal ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf jika pertanyaan saya ada yg tidak berkenan di hati. Saya bertanya karena saya baru kenal dengan manhaj Salaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Iqbal&lt;br /&gt;Alamat: Kabupaten Berau, Kalimantan Timur&lt;br /&gt;Email: ahmad.ixxxx@gmail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Akh Yulian Purnama menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salaf secara bahasa arab artinya ‘setiap amalan shalih yang telah lalu; segala sesuatu yang terdahulu; setiap orang yang telah mendahuluimu, yaitu nenek moyang atau kerabat’ (Lihat Qomus Al Muhith, Fairuz Abadi). Secara istilah, yang dimaksud salaf adalah 3 generasi awal umat Islam yang merupakan generasi terbaik, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya” (HR. Bukhari-Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga generasi yang dimaksud adalah generasi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat, generasi tabi’in dan generasi tabi’ut tabi’in. Sering disebut juga generasi Salafus Shalih. Tidak ada yang meragukan bahwa merekalah orang-orang yang paling memahami Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Maka bila kita ingin memahami Islam dengan benar, tentunya kita merujuk pada pemahaman orang-orang yang ada pada 3 generasi tersebut. Seorang sahabat yang mulia, Ibnu Mas’ud radhiallahu’anhu berkata, “Seseorang yang mencari teladan, hendaknya ia meneladani para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam karena mereka adalah orang-orang yang paling mulia hatinya, paling mendalam ilmunya, paling sedikit takalluf-nya, paling benar bimbingannya, paling baik keadaannya, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat Nabi-Nya, dan untuk menegakkan agamanya. Kenalilah keutamaan mereka. Ikutilah jalan hidup mereka karena sungguh mereka berada pada jalan yang lurus.” (Lihat Limaadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi Faqot, Salim bin ‘Ied Al Hilaly)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam bahasa arab, ada yang dinamakan dengan isim nisbah, yaitu isim (kata benda) yang ditambahkan huruf ‘ya’ yang di-tasydid dan di-kasroh, untuk menunjukkan penisbatan (penyandaran) terhadap suku, negara asal, suatu ajaran agama, hasil produksi atau sebuah sifat (Lihat Mulakhos Qowaid Al Lughoh Ar Rabiyyah, Fuad Ni’mah). Misalnya yang sering kita dengar seperti ulama hadits terkemuka Al-Bukhari, yang merupakan nisbah kepada kota Bukhara (nama kota di Uzbekistan) karena Imam Al-Bukhari memang berasal dari sana. Ada juga yang menggunakan istilah Al-Hanafi, berarti menisbahkan diri pada madzhab Hanafi. Maka dari sini dapat dipahami bahwa Salafi maksudnya adalah orang-orang yang menisbatkan (menyandarkan) diri kepada generasi Salafus Shalih. Atau dengan kata lain “Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka”. (Lihat Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, hal. 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga dengan penjelasan ini jelaslah bahwa orang yang beragama dengan mengambil sumber ajaran Islam dari 3 generasi awal umat Islam tadi, DENGAN SENDIRINYA ia seorang Salafi. Tanpa harus mendaftar, tanpa berbai’at, tanpa iuran anggota, tanpa kartu anggota, tanpa harus ikut pengajian tertentu, tanpa harus mengaji pada ustadz tertentu dan tanpa harus memakai busana khas tertentu. Maka Anda yang sedang membaca artikel ini pun seorang Salafi bila anda selama ini mencontoh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pembaca sekalian memahami penjelasan di atas, maka seharusnya telah jelas bahwa dakwah salafiyyah adalah Islam itu sendiri. Dakwah Salafiyyah adalah Islam yang hakiki. Mengapa? Karena dari manakah kita mengambil sumber pemahaman Al Qur’an dan hadits selain dari para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam? Apakah ada sumber lain yang lebih terpercaya? Apakah Islam dipahami dengan selera dan pemahaman masing-masing orang? Bahkan jika seseorang dalam memahami Al Qur’an dan hadits mengambil sumber dari yang lain, maka dapat dipastikan ia telah mengambil jalan yang salah. Syaikh Salim Bin ‘Ied Al Hilaly setelah menjelaskan surat An Nisa ayat 115 berkata, “Dengan ayat ini jelaslah bahwa mengikuti jalan kaum mu’minin adalah jalan keselamatan. Dan ayat ini dalil bahwa pemahaman para sahabat mengenai agama Islam adalah hujjah terhadap pemahaman yang lain. Orang yang mengambil pemahaman selain pemahaman para sahabat, berarti ia telah mengalami penyimpangan, menapaki jalan yang sempit lagi menyengsarakan, dan cukup baginya neraka Jahannam yang merupakan seburuk-buruk tempat tinggal.” (Lihat Limaadza Ikhtartu Al Manhaj As Salafi Faqot, Salim bin ‘Ied Al Hilaly)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Kaprah Tentang Salafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah masyarakat, banyak sekali beredar syubhat (kerancuan) dan kalimat-kalimat miring tentang Salafi. Dan ini tidak lepas dari dua kemungkinan. Sebagaimana dijelaskan Syaikh ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiri ketika ditanya tentang sebuah syubhat, “Kerancuan tentang Salafi yang berkembang di masyarakat ini tidak lepas dari 2 kemungkinan: Disebabkan ketidak-pahaman atau disebabkan adanya i’tikad yang buruk. Jika karena tidak paham, maka perkaranya mudah. Karena seseorang yang tidak paham namun i’tikad baik, jika dijelaskan padanya kebenaran ia akan menerima, jika telah jelas baginya kebenaran dengan dalilnya, ia akan menerima. Adapun kemungkinan yang kedua, pada hakikatnya ini disebabkan oleh fanatik golongan dan taklid buta, -dan ini yang lebih banyak terjadi- dari orang-orang ahlul ahwa (pengikut hawa nafsu) dan pelaku bid’ah yang mereka memandang bahwa manhaj salaf akan membuka tabir penyimpangan mereka.” (Ushul Wa Qowa’id Fii Manhajis Salafi, Syaikh ‘Ubaid bin Sulaiman Al Jabiri )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan kali ini akan kita bahas beberapa kerancuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Salafi Bukanlah Sekte, Aliran, Partai atau Organisasi Massa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang mengira Salafi adalah sebuah sekte, aliran sebagaimana Jama’ah Tabligh, Ahmadiyah, Naqsabandiyah, LDII, dll. Atau sebuah organisasi massa sebagaimana NU, Muhammadiyah, PERSIS, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, dll. Ini adalah salah kaprah. Salafi bukanlah sekte, aliran, partai atau organisasi massa, namun salafi adalah manhaj (metode beragama), sehingga semua orang di seluruh pelosok dunia di manapun dan kapanpun adalah seorang salafi jika ia beragama Islam dengan manhaj salaf tanpa dibatasi keanggotaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang juga mengira dakwah Salafiyyah adalah gerakan yang dicetuskan dan didirikan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Ini pun kesalahan besar! Dijelaskan oleh Syaikh ‘Ubaid yang ringkasnya, “Dakwah salafiyyah tidak didirikan oleh seorang manusia pun. Bukan oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab bersama saudaranya Imam Muhammad Bin Su’ud, tidak juga oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya, bukan pula oleh Imam Mazhab yang empat, bukan pula oleh salah seorang Tabi’in, bukan pula oleh sahabat, bukan pula oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, dan bukan didirikan oleh seorang Nabi pun. Melainkan dakwah Salafiyah ini didirikan oleh Allah Ta’ala. Karena para Nabi dan orang sesudah mereka menyampaikan syariat yang berasal dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat dijadikan rujukan melainkan nash dan ijma” (Lihat Ushul Wa Qowaid Fii Manhajis Salaf)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, dalam dakwah salafiyyah tidak ada ketua umum Salafi, Salafi Cabang Jogja, Salafi Daerah, Tata tertib Salafi, AD ART Salafi, Alur Kaderisasi Salafi, dan tidak ada muassis (tokoh pendiri) Salafi. Tidak ada pendiri Salafi melainkan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada AD-ART Salafi melainkan Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Salafi Gemar Mengkafirkan dan Membid’ahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh utama seorang muslim adalah kekufuran dan kesyirikan, karena tujuan Allah menciptakan makhluk-Nya agar makhluk-Nya hanya menyembah Allah semata. Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh kesyirikan adalah kezaliman yang paling besar” [QS. Luqman: 13]. Setelah itu, musuh kedua terbesar seorang muslim adalah perkara baru dalam agama, disebut juga bid’ah. Karena jika orang dibiarkan membuat perkara baru dalam beragama, akan hancurlah Islam karena adanya peraturan, ketentuan, ritual baru yang dibuat oleh orang-orang belakangan. Padahal Islam telah sempurna tidak butuh penambahan dan pengurangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tentu tidak bisa disalahkan ketika ada da’i yang secara intens mendakwahkan tentang bahaya syirik dan bid’ah, mengenalkan bentuk-bentuk kesyirikan dan kebid’ahan agar umat terhindar darinya. Bahkan inilah bentuk sayang dan perhatian terhadap umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, para ulama melarang umat Islam untuk sembarang memvonis bid’ah, sesat apalagi kafir kepada individu tertentu. Karena vonis yang demikian bukanlah perkara remeh. Diperlukan timbangan Al Qur’an dan As Sunnah serta memperhatikan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh para ulama dalam hal ini. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata, “Dalil-dalil terkadang menunjukkan bahwa perbuatan tertentu adalah perbuatan kufur, atau perkataan tertentu adalah perkataan kufur. Namun di sana terdapat faktor yang membuat kita tidak memberikan vonis kafir kepada individu tertentu (yang melakukannya). Faktornya banyak, misalnya karena ia tidak tahu, atau karena ia dikalahkan oleh orang kafir dalam perang.” (Lihat Fitnah At Takfir, Muhammad Nashiruddin Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini jelaslah bahwa menjelaskan perbuatan tertentu adalah perbuatan kufur bukan berarti memvonis semua pelakunya itu per individu pasti kafir. Begitu juga menjelaskan kepada masyarakat bahwa perbuatan tertentu adalah perbuatan bid’ah bukan berarti memvonis pelakunya pasti ahlul bid’ah. Syaikh Abdul Latif Alu Syaikh menjelaskan: “Ancaman (dalam dalil-dalil) yang diberikan terhadap perbuatan dosa besar terkadang tidak bisa menyebabkan pelakunya per individu terkena ancaman tersebut” (Lihat Ushul Wa Dhawabith Fi At Takfir, Syaikh Abdul Latif bin Abdurrahman Alu Syaikh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Salafiyyin berada dibarisan terdepan dalam membantah paham takfir, yaitu gemar mengkafirkan secara serampangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Salafi Memecah-Belah Ummat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjelaskan permasalahan ini, perlu pembaca ketahui tentang 3 hal pokok. Pertama, perpecahan umat adalah sesuatu yang tercela. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya, “Berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan berpecah-belah” (QS. Al-Imran: 103). Kedua, perpecahan umat adalah suatu hal yang memang dipastikan terjadi dan bahkan sudah terjadi. Sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, “Umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu. Maka kami-pun bertanya, siapakah yang satu itu ya Rasulullah? Beliau menjawab: yaitu orang-orang yang berada pada jalanku dan jalannya para sahabatku di hari ini” [HR. Tirmidzi]. Ketiga, persatuan Islam bukanlah semata-mata persatuan badan, kumpul bersama, dengan keadaan aqidah yang berbeda-beda. Mentoleransi segala bentuk penyimpangan, yang penting masih mengaku Islam. Bukan itu persatuan Islam yang diharapkan. Perhatikan baik-baik hadits tadi, saat umat Islam berpecah belah seolah-olah Rasulullah memerintahkan untuk bersatu pada satu jalan, yaitu jalan yang ditempuh oleh para sahabat, inilah manhaj salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga ketika ada seorang yang menjelaskan kesalahan-kesalahan dalam beragama yang dianut sebagian kelompok, aliran, partai atau ormas Islam, bukanlah upaya untuk memecah belah ummat. Melainkan sebuah upaya untuk mengajak ummat BERSATU di satu jalan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam tersebut. Bahkan adanya bermacam aliran, sekte, partai dan ormas Islam itulah yang menyebabkan perpecahan ummat. Karena mereka tentu akan loyal kepada tokoh-tokoh mereka masing-masing, loyal kepada peraturan mereka masing-masing, loyal kepada tradisi mereka masing-masing, bukan loyal kepada Islam!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, jika ada saudara kita yang terjerumus dalam kesalahan, siapa lagi yang hendak mengoreksi kalau bukan kita sesama muslim? Tidak akan kita temukan orang kuffar yang melakukannya. Dan bukankah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Agama adalah nasehat” (HR. Muslim). Dan jika koreksi itu benar, bukankah wajib menerimanya dan menghempas jauh kesombongan? Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Salafi Kasar dan Berakhlak Buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manhaj salaf mengajarkan bahwa setiap muslim wajib berakhlak mulia. Akhlaq mulia yang paling utama adalah terhadap Allah Ta’ala. Yaitu dengan menyembah Allah semata dan tidak berbuat kesyirikan serta menjalani apa yang Ia perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Kemudian berakhlak mulia terhadap makhluk Allah. Inilah yang dimaksud dalam hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (HR. Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid, 24/333. Di shahihkan oleh Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah, 45 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manhaj salaf menghasung ummat agar bergaul dan bermuamalah dengan akhlak mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada. Dan kerjakan banyak kebaikan setelah engkau terjerumus dalam keburukan hingga terhapus dosamu. Dan bergaullah terhadap manusia dengan akhlak yang baik” (HR. Tirmidzi, ia berkata: ‘Hadits in hasan’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setiap muslim, lebih lagi yang bersemangat untuk berpegang teguh dengan manhaj salaf, selayaknya berakhlak dengan akhlak yang mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, jika ada sebagian orang yang mengaku berpegang pada manhaj salaf namun belum berakhlak yang baik, tentu ini tidak dapat menjadi justifikasi terhadap manhaj salaf. Karena manhaj salah justru mengajarkan sebaliknya. Dan kita perlu menyadari bahwa tidak mungkin kita menuntut semua orang yang berpegang pada manhaj salaf harus bebas dari kesalahan dan dosa. Setiap kita pasti bisa salah dan lupa. Bisa jadi karena kejahilan ataupun karena doronganhawa nafsu sehingga manusia belum dapat berakhlak yang baik. Semoga Allah menolong kita agar dapat memupuk akhlak yang mulia dalam diri kita. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun pernah berdoa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, sebagaimana engkau baguskan rupaku maka baguskanlah akhlakku” (HR. Al Baihaqi dalam Da’awaat Al Kabir, 2/82. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 2657)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat Untuk Ummat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, agama adalah nasehat. Maka penulis menasehati diri sendiri dan kaum muslimin sekalian untuk menjadi Salafi. Bagaimana caranya? Menjadi seorang Salafi adalah dengan menjalankan Islam sesuai dengan apa yang telah dituntunkan Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan dipahami oleh generasi Salafus Shalih. Dan wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk ber-Islam dengan manhaj salaf. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah berkata: “Para sahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam semua diampuni oleh Allah. Wajib mengikuti metode beragama para sahabat, perkataan mereka dan aqidah mereka sebenar-benarnya” (I’lamul muwaqqi’in, (120/4), dinukil dari Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, Abdussalam Bin Salim As Suhaimi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah Ta’ala senantiasa menunjukkan kita kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang diberikan ni’mat, bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang tersesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Yulian Purnama&lt;br /&gt;Artikel UstadzKholid.Com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-8729792594070884414?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/8729792594070884414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=8729792594070884414' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8729792594070884414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8729792594070884414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/makna-salaf-dan-salafi.html' title='Makna Salaf dan Salafi'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-4850167235055461260</id><published>2009-12-28T14:35:00.004+07:00</published><updated>2009-12-28T14:45:55.719+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Arab'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='إعراب'/><title type='text'>المنهاج في القواعد و الإعراب</title><content type='html'>download تحميل&lt;br /&gt;&lt;a href="http://download274.mediafire.com/5ci1j4jy4bog/qgedj1twium/%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%86%D9%87%D8%A7%D8%AC+%D9%81%D9%8A+%D8%A7%D9%84%D9%82%D9%88%D8%A7%D8%B9%D8%AF+%D9%88+%D8%A7%D9%84%D8%A5%D8%B9%D8%B1%D8%A7%D8%A8.pdf"&gt;di sini, هنا&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-4850167235055461260?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/4850167235055461260/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=4850167235055461260' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/4850167235055461260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/4850167235055461260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/blog-post_28.html' title='المنهاج في القواعد و الإعراب'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-6453267360664286282</id><published>2009-12-28T12:02:00.006+07:00</published><updated>2009-12-28T13:54:13.274+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa Arab'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='إعراب'/><title type='text'>ومن يضلل الله فما له من هاد</title><content type='html'>&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;ومن : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;الواو&lt;/span&gt; حرف استئناف مبني لا محل له من الإعراب ، &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;من&lt;/span&gt; اسم شرط مبني على السكون في محل نصب &lt;br /&gt;مفعول به مقدم . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;يضلل&lt;/span&gt; : فعل مضارع مجزوم فعل الشرط ، وعلامة جزمه السكون . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;الله&lt;/span&gt; : لفظ الجلالة فاعل مرفوع بالضمة . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فما : &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;الفاء &lt;/span&gt;حرف مبني على السكون لا محل له من الإعراب رابط لجواب الشرط ، &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ما &lt;/span&gt;حرف نفي مبني على السكون لا محل له من الإعراب ولا عمل له . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;له&lt;/span&gt; : جار ومجرور متعلقان بمحذوف في محل رفع خبر مقدم . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;من&lt;/span&gt; : حرف جر زائد مبني على السكون لا محل له من الإعراب . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;هاد&lt;/span&gt; : مبتدأ مؤخر مرفوع بضمة مقدرة على الياء المحذوفة منع من ظهورها الثقل . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والجملة من المبتدأ وخبره " له من هاد " في محل جزم جواب الشرط . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وجملة الشرط " ومن يضلل ... " لا محل لها من الإعراب استئنافية . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;jumlah jawab syarat fii mahalli jazmin&lt;/span&gt; untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;adawat syart&lt;/span&gt; yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jazim&lt;/span&gt; dan jawabnya diawali dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fa'&lt;/span&gt;. sedangkan untuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;adawat syarat&lt;/span&gt; yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ghairu jazim&lt;/span&gt; dan adawat syarat jazim tetapi jawabnya tidak diawali dengan fa' maka i'rabnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"laa mahalla lahaa minal i'rab"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jumlah waman yudhlil ...ila akhirihi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"laa mahalla laha minal 'i'rab jumlah ibtida'iyah/isti'nafiyah"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A'lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://alakhlas.hooxs.com/montada-f30/topic-t2945.htm&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-6453267360664286282?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/6453267360664286282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=6453267360664286282' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6453267360664286282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6453267360664286282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/blog-post.html' title='ومن يضلل الله فما له من هاد'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-5875075458421130905</id><published>2009-12-22T08:15:00.001+07:00</published><updated>2009-12-22T08:17:38.388+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>KLASIFIKASI HADITS DALAM ILMU MUSTHALAH HADITS - RINGKASAN</title><content type='html'>Abu Al-Jauzaa' :, 23 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.scribd.com/doc/22939741/Bagan-musthalah-hadits"&gt;Bagan musthalah hadits&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber:http://abul-jauzaa.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-5875075458421130905?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/5875075458421130905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=5875075458421130905' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/5875075458421130905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/5875075458421130905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/klasifikasi-hadits-dalam-ilmu-musthalah.html' title='KLASIFIKASI HADITS DALAM ILMU MUSTHALAH HADITS - RINGKASAN'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-7505347716174130380</id><published>2009-12-22T08:02:00.001+07:00</published><updated>2009-12-22T08:03:48.032+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Etika Salaf Saat Menyampaikan As-Sunnah/Hadits</title><content type='html'>وأخرج عن إسماعيل بن أبي أويس قال: "كان مالك إذا أراد أن يحدث توضأ وجلس على صدر فراشه وسرح لحيته وتمكن من جلوسه بوقار وهيبة وحدث، فقيل له في ذلك فقال: أحب أن أعظم حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا أحدث إلا على طهارة متمكنا، وكان يكره أن يحدث في الطريق أو وهو قائم أو مستعجل، وقال: أحب أن أتفهم ما أحدث به عن رسول الله صلى الله عليه وسلم".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Isma’il bin Abi Uwais ia berkata : “Adalah Malik apabila hendak menyampaikan sebuah hadits, maka ia berwudlu terlebih dahulu lalu duduk di tengah permadaninya, menyisir/merapikan jenggotnya, memantapkan duduknya dengan penuh kewibawaan dan kemuliaan. Setelah itu, baru ia menyampaikannya. Pernah ditanyakan kepadanya perihal tersebut, ia pun menjawab : ‘Aku senang untuk menghormati hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidaklah aku menyampaikannya kecuali dalam keadaan benar-benar suci’. Malik membenci menyampaikan hadits di tengah jalan, atau sambil berdiri, atau dalam keadaan tergesa-gesa. Ia (Malik) berkata : ‘Aku ingin agar seseorang benar-benar paham terhadap apa yang aku sampaikan dengannya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأخرج عن مالك: "أن رجلا جاء إلى سعيد بن المسيب و هو مريض فسأله عن حديث وهو مضطجع، فجلس فحدثه، فقال له الرجل: وددت أنك لم تتعن، فقال له: إني كرهت أن أحدثك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأنا مضطجع".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Malik : “Ada seseorang mendatangi Sa’id bin Al-Musayyib saat ia sedang sakit. Orang tersebut bertanya kepadanya tentang satu hadits yang saat itu ia (Sa’id) sedang berbaring. Maka ia pun duduk dan menyampaikannya. Orang itu bertanya kepadanya : ‘Aku tidak bermaksud merepotkanmu’. Sa’id berkata : ‘Aku tidak suka menyampaikan satu hadits dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepadamu dalam keadaan berbaring”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأخرج عن الأعمش أنه كان إذا أراد أن يحدث على غير طهر تيمم. وقال الأعمش عن ضرار بن مرة قال: كانوا يكرهون أن يحدثوا على غير طهر.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Al-A’masy : Bahwasannya jika ia hendak menyampaikan sebuah hadits dalam tidak suci, maka ia bertayamum. Al-A’masy menyampaikan riwayat dari Dlaraar bin Murrah bahwasannya ia berkata : ‘Mereka (para shahabat) tidak suka untuk menyampaikan hadits dalam keadaan tidak suci”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأخرج عن قتادة قال: "لقد كان يستحب أن لا نقرأ الأحاديث التي عن النبي صلى الله عليه وسلم إلا على طهارة".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Qataadah, ia berkata : “Sungguh sangat dianjurkan untuk tidak membacakan hadits dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kecuali dalam keadaan suci”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأخرج عن بشر بن الحارث قال: "سأل رجل ابن المبارك عن حديث وهو يمشي، فقال: ليس هذا من توقير العلم".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Bisyr bin Al-Haarits, ia berkata : “Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Ibnul-Mubaarak tentang satu hadits saat ia (Ibnul-Mubaarak) sedang berjalan. Ia pun berkata : ‘Ini bukanlah cara/adab dalam menghormati ilmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأخرج عن ابن المبارك قال: "كنت عند مالك و هو يحدث فجاءت عقرب فلدغته ست عشرة مرة ومالك يتغير لونه ويتصبّر ولا يقطع حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما فرغ من المجلس وتفرق الناس قلت له لقد رأيت منك عجبا، قال: نعم إنما صبرت إجلالا لحديث رسول الله صلى الله عليه وسلم".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnul-Mubaarak. Ia berkata : “Aku pernah bersama Malik saat ia sedang menyampaikan hadits. Tiba-tiba ada seekor kalajengking yang menyengatnya sebanyak enam belas kali sengatan. Wajah Malik pun berubah (karena sengatan itu), namun ia tetap bersabar tanpa menghentikan (penyampaian) hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah ia menyelesaikan majelisnya dan orang-orang bubar, aku pun berkata kepadanya : ‘Sungguh aku melihat satu keanehan pada dirimu’. Ia menjawab : ‘Benar. Aku telah bersabar (dari sengatan kalajengking) untuk mengagungkan hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Miftaahul-Jannah fil-Ihtijaaj bis-Sunnah oleh Al-Haafidh As-Suyuthiy, hal. 51-52; Universitas Islam Madinah, Cet. 3/1409 H – abu al-jauzaa’, perumahan ciomas permai, ciomas, bogor – http://abul-jauzaa.blogspot.com]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber:http://abul-jauzaa.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-7505347716174130380?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/7505347716174130380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=7505347716174130380' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/7505347716174130380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/7505347716174130380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/12/etika-salaf-saat-menyampaikan-as.html' title='Etika Salaf Saat Menyampaikan As-Sunnah/Hadits'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-6275997301996623529</id><published>2009-11-27T22:25:00.002+07:00</published><updated>2009-11-27T22:28:41.246+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat Ied'/><title type='text'>Penyimpangan Seputar Shalat Ied</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Redaksi Majalah As-Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhelatan melelahkan dalam menyongsong datangnya hari raya terjadi dimana-mana. Sebagian kaum muslimin larut dengan kesibukan yang banyak menyita waktu, tenaga dan biaya. Tak segan-segan, uangpun dikeluarkan tanpa rasa berat. Yang penting -menurut mereka- hari raya dapat dilalui dengan lebih berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan seperti ini, pada setiap tahun bisa kita saksikan, hampir selalu mewarnai saat menjelang hari raya. Seakan kesibukan tersebut merupakan keharusan yang tidak dapat ditinggalkan oleh sebagian umat Muhammad n . Akan tetapi, disini lain, pada saat menjelang hari raya, banyak hal lebih penting yang dilalaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merebaknya kemungkaran banyak diremehkan oleh sebagian umat ini telah mengharu biru hari mulia ini. Beberapa kemungkaran itu, ada yang sudah sering terjadi di luar hari raya, dan bertambah parah ketika hari raya tiba. Misalnya, seperti menghias diri dengan mencukur jenggot, bersalam-salaman dengan wanita yang bukan mahramnya, tabarruj (pamer kecantikan), menyerupai orang kafir dalam berpakaian dan menikmati musik, mengkhususkan waktu untuk ziarah kubur, serta membagikan makanan dan permen, duduk-duduk di atas kuburan, menghamburkan harta yang tidak ada faidahnya, dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua ini menodai hari raya yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam pembahasan kali ini, kami tidak akan mengupas persoalan tersebut di atas. Akan tetapi, kami akan fokuskan pada beberapa kesalahan dalam pelaksaan shalat ‘Id. Mudah-mudahan hal ini bisa menggugah kesadaran kita untuk lebih berhati-hati. Mendorong kita agar lebih bersemangat mendatangi majelis-majelis ilmu, bertanya kepada ‘alim, serta membaca kitab-kitab para ulama, sehingga bisa terhindar dan tidak terjebak dalam kebiasaan-kebiasaan yang salah. Apalagi kesalahan itu seakan sudah membudaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam pelaksanaan shalat ‘Id, ialah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. SEBAGIAN ORANG MEREMEHKAN SHALAT ‘ID DAN MENGANGGAPNYA SUNAT, SERTA TIDAK MENUNAIKANNYA DI LAPANGAN&lt;br /&gt;Imam Asy Syaukani mengatakan; “Ketahuilah, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat ini pada dua hari raya (‘Idul Fithri dan Adh-ha). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya, meskipun hanya sekali. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada kaum muslimin untuk keluar shalat, sampai-sampai memerintahkan kepada para wanita, baik budak, wanita pingitan dan wanita yang sedang haid agar keluar. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada yang haid agar menjauhi tempat shalat, menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslim. Sampai-sampai diperintahkan kepada wanita yang memiliki jilbab, agar meminjami saudaranya yang tidak memiliki jilbab. Semua ini menunjukkan, bahwa shalat ‘Id wajib bagi setiap orang (fardhu ‘ain, Red), bukan fardlu kifayah”. [As Sailur Jarar, 1/315].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku (Syaikh Masyhur Hasan Salman) mengatakan: “(Dalam penjelasan di atas, Red), Imam Asy Syaukani mengisyaratkan kepada hadits Ummu Athiyah Radhiyallahu 'anha yang mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk mengeluarkan para wanita pada ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha, yaitu para budak, wanita yang sedang haid serta wanita pingitan. Adapun wanita yang sedang haid keluar dari shalat. (dalam riwayat yang lain dari lapangan) dan menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Aku (Ummu Athiyah) mengatakan: “Wahai, Rasulullah. Salah seorang diantara kami tidak memiliki jilbab”. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Hendaklah saudaranya memakaikan jilbabnya kepada saudaranya yang tidak memiliki jilbab.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam agar keluar, berarti perintah untuk shalat bagi yang tidak memiliki udzur. Ini berdasarkan maksud dari pembicaraan. Karena keluar ke mushalla (lapangan) merupakan washilah (sarana) untuk shalat. (Jika) wasilahnya wajib, maka akan menyebabkan tujuan dari washilah itu juga menjadi wajib. Dan kaum pria lebih wajib daripada wanita. (Lihat Al Mau’izhah Al Hasanah, 43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara dalil yang menunjukkan wajibnya shalat dua hari raya, bahwa shalat ‘Id bisa menggugurkan (bisa mengganti, Red) shalat Jum’at apabila bertepatan pada hari yang sama. Terdapat riwayat yang sah dari Rasulullah, bahwa Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika hari raya bertepatan dengan hari Jum’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada hari kalian ini, terkumpul dua hari raya. Barangsiapa yang ingin (tidak shalat Jum’at), maka ia telah mencukupinya dari shalat Jum’at. Dan kita mengumpulkan shalat hari raya dan Jum’at, dan kami akan tetap shalat Jum’at."[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah kita ketahui, sesuatu yang hukumnya tidak wajib, tidak akan bisa menggugurkan sesuatu yang wajib. Terdapat riwayat yang sah, sejak shalat ‘Id disyari’atkan, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu mengerjakan shalat ‘Id secara berjama’ah hingga sampai wafatnya. Perbuatan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang selalu mengerjakan shalat ‘Id digabungkan dengan perintahnya kepada manusia untuk keluar shalat ‘Id. Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah (24/212, 23/161) serta Ar Raudah An Nadiyah (1/142), Nailul Authar (3/282-283) dan Tamamul Minnah, 344. Dan wajibnya shalat ‘Id, merupakan pilihan dari Syaikh Islam Ibnu Taimiyah. Beliau mengatakan: “Kami menganggap rajih (menguatkan) pendapat yang menyatakan shalat ‘Id itu hukumnya wajib bagi setiap orang, sebagaimana ucapan Abu Hanifah dan lainnya. Begitu juga salah satu pendapat Imam Asy Syafi’i, dan salah satu diantara dua pendapat dalam madzhab Imam Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ucapan yang mengatakan, “Shalat ‘Id tidak wajib”, merupakan ucapan yang sangat jauh dari kebenaran. Sesungguhnya shalat ‘Id merupakan syi’ar Islam yang sangat besar, dan manusia yang berkumpul untuk melakukan shalat ‘Id lebih besar daripada shalat Jum’at. Pada hari ini, disyari’atkan takbir. Dan pendapat orang yang mengatakan “Shalat ‘Id fardhu kifayah”, perkataan ini tidak memiliki dasar yang kuat. (Majmu’ Fatawa, 23/161).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini, sejenak kita merenungi perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Ummu Athiyah terdahulu. Di dalamnya terdapat perintah bagi para wanita yang sedang haid dan para wanita budak untuk menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dari hadits ini dapat diambil dua hukum fiqih:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Disyari’atkan kepada para wanita untuk keluar menghadiri shalat ‘Id.&lt;br /&gt;Kami menganjurkan kepada para wanita untuk menghadiri jama’ah kaum muslimin, sebagai realisasi perintah Rasulullah n . Tidak lupa kami ingatkan mereka, dan juga para penanggungjawab mereka mengenai kewajiban mengenakan hijab syar’i. Terkadang sebagian orang merasa heran terhadap syari’at keluarnya wanita ke lapangan untuk shalat ‘Id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, inilah kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya. Karena, banyak hadits menerangkan hal ini. Disini, kami cukupkan dengan hadits Ummu Athiyah di atas. Hadits ini bukan hanya sebagai dalil disyari’atkannya shalat saja. Bahkan lebih dari itu, yaitu menandakan wajibnya shalat atas para wanita, karena perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan hukum asal dalam perintah adalah wajib. Ini dikuatkan dengan riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَقٌّ عَلَى كُلِّ ذِيْ نِطَاقٍ الْخُرُوْجُ إِلَى الْعِدَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, bagi setiap orang yang memiliki sayak (rok), keluar untuk shalat ‘Id"[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Shalat dua hari raya tempatnya di lapangan, bukan masjid -meskipun boleh di masjid.&lt;br /&gt;Dari sisi lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam amat menganjurkan kepada para wanita haidh agar menghadiri shalat ‘Id, sementara masjid tidak layak diisi para wanita haid. Apabila masjid tidak boleh mereka kunjungi ketika haid, maka hanya lapangan yang boleh mereka hadiri. Hal ini dijelaskan dalam banyak hadits, seperti dari Abu Said Al Khudri Radhiyalahu 'anhu, dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dahulu, Rasulullah n keluar ke mushalla (lapangan) pada hari raya ‘Idul Fithri dan Adh-ha. Dan hal pertama kali yang Beliau n kerjakan adalah shalat (ied)".[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Al Hajj Al Maliki mengatakan: “Sunnah yang telah berjalan dalam masalah dua shalat ied ini, ialah dikerjakan di lapangan. Karena, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Shalat di masjidku ini lebih utama seribu kali dari pada shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram" [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun shalat di Masjid Nabawi sangat besar keutamaannya, namun Beliau n (tetap) keluar menuju lapangan dan meninggalkan masjidnya. (Al Madkhal, 2/283). Perbuatan berdasarkan sunnah ini berjalan terus pada masa-masa awal, terkecuali terpaksa, seperti turun hujan dan yang semisalnya. Demikian pendapat empat imam madzhab (Hanafi, Malik, Syafi’i dan Ahmad) serta yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, sunnah ini (shalat di lapangan) memiliki hikmah yang besar. Yakni kaum muslimin memiliki dua hari (istimewa) dalam setahun. Pada hari ini, penduduk semua negeri (suatu daerah) berkumpul, baik pria, wanita maupun anak-anak. Mereka menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati. Mereka terhimpun dengan satu kalimat, shalat di belakang satu imam, bertakbir, bertahlil dan berdo’a kepada Allah Azza wa Jalla dengan penuh ikhlas. Seakan mereka sehati. Mereka bersuka ria, bergembira dengan nikmat Allah Azza wa Jalla kepada mereka. Sehingga hari raya merupakan hari bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kaum muslimin memberikan tanggapan positif untuk meniti sunnah nabi mereka, menghidupkan syi’ar agama yang menjadi syarat kemuliaan (kewibawaan) dan keberuntungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا للهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu" [QS Al Anfal:24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. TIDAK MENGERASKAN TAKBIR KETIKA MENUJU LAPANGAN&lt;br /&gt;Dari Az Zuhri rahimahullah, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya dan bertakbir hingga sampai ke lapangan, dan hingga selesai shalat. Apabila telah selesai, Beliau n menghentikan takbir.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini terdapat dalil disyari’atkannya perbuatan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu takbir dengan keras ketika berjalan menuju lapangan. Kebanyakan umat mulai meremehkam sunnah ini, hingga sekarang ini seakan sudah menjadi cerita masa lampau (dan hampir tidak bisa ditemukan lagi-red). Ini disebabkan karena lemahnya agama mereka, serta malu untuk mengaku dan menampakkan sunnah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, diantara mereka ada yang bertugas memberi bimbingan serta mengajarkan kepada manusia. (Namun) seakan bimbingannya dalam pandangan mereka terbatas pada transfer ilmu guru kepada manusia. Adapun sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk diketahui, ini tidak mendapatkan perhatian mereka. Bahkan mereka menganggap pembahasan serta pemberian peringatan dalam masalah ini, baik dengan perkataan maupun perbuatan sebagai perbuatan sia-sia, yang tidak pantas untuk diperhatikan dalam tindakan dan pengajaran. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu mendapatkan perhatian disini, yaitu dalam mengumandangkan takbir tidak disyari’atkan secara bersama dengan satu suara, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Demikian halnya dengan dzikir yang disyari’atkan dengan suara keras ataupun yang tidak disyari’atkan dengan suara keras. Ini semua tidak disyari’atkan secara berjama’ah. Dan yang semisalnya dengan ini, ialah adzan berjama’ah sebagaimana dikenal di Damaskus dengan nama Adzan Al Juuq. Sering kali, dzikir berjama’ah (dengan satu suara) menjadi sebab pemutusan satu kata ataupun kalimat, yang semestinya tidak boleh waqaf (berhenti) pada kata atau kalimat tersebut, seperti “lailaha” dalam tahlil selepas shalat Subuh dan Maghrib, sebagaimana hal itu berulang kali kita dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa waspada dan selalu ingat sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. MENGANGKAT TANGAN DALAM SETIAP TAKBIR SHALAT ‘ID&lt;br /&gt;Tidak ada riwayat sah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyatakan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat tangan ketika takbir dalam shalat ‘Id. Akan tetapi Ibnul Qayyim mengatakan: “Dan Ibnu Umar –padahal ia sangat antusias mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam - mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan setiap takbir”. (Zaadul Ma’ad, 1/441). Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , meskipun hadits ini diriwayatkan Ibnu Umar dan bapaknya Radhiyallahu 'anhuma, namun tidak akan menjadikannya sebagai sunnah. Terlebih lagi riwayat tersebut tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al Albani mengatakan: “Adapun riwayat dari Umar, ini diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang lemah. Sedangkan riwayat dari Ibnu Umar, aku belum mendapatkannya. Dan sesungguhnya Imam Malik mengatakan,’ aku belum mendengar satu haditspun tentang hal ini’.” [Tamamul Minnah, hlm. 349].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pendapat Imam Malik sebagaimana terdapat dalam Al Madunah (1/169). Dan pendapat ini dinukil oleh Imam Nawawi dalam Majmu’ (5/26). Hanya saja Ibnu Mundzir menceritakan: “Imam Malik mengatakan,’Dalam hal ini, tidak ada sunnah yang pasti. Barangsiapa ingin, maka ia mengangkat tangannya setiap kali takbir. Dan yang paling aku sukai, yaitu yang pertama (tidak mengangkat tangan)’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. SHALAT SUNNAH QABLIYAH SEBELUM SHALAT ‘ID DAN UCAPAN “AS SHALAT JAAMI’AH” SEBELUM BERDIRI UNTUK SHALAT&lt;br /&gt;Pemandangan mayoritas di negeri muslim, orang-orang yang hadir shalat ‘Id di lapangan melakukan shalat dua raka’at sebelum duduk di tempatnya, untuk menunggu berdirinya imam untuk shalat. Shalat dua raka’at ini tidak ada asalnya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan ada riwayat dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الْفِطْرِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dua raka’at pada hari raya. Beliau tidak shalat dua raka’at sebelum maupun sesudahnya" [HR. Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: “Kesimpulannya, tidak ada shalat sunat sebelum dan sesudah shalat ‘Id, berbeda dengan orang yang mengkiaskannya (menyamakan shalat ‘Id) dengan shalat Jum’at”. [Fath-hul Bari, 2/476].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad mengatakan: “Tidak ada shalat sunnat sebelum dan sesudah ‘Id”. (Masail Al Imam Ahmad, no. 469). Dan ia berkata pula: “Tidak ada shalat sunnat sebelum dan sesudah ‘Id. Nabi keluar shalat ‘Id tidak melakukan shalat sebelum maupun sesudahnya. Sebagian penduduk Bashrah melakukan shalat sebelumnya, dan sebagian penduduk Kuffah mengerjakan shalat sunnat setelahnya”. [Masail Al Imam Ahmad, no. 479]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan: “Beliau n dan para sahabatnya g tidak melakukan shalat sunat sebelum dan sesudah shalat ‘Id ketika telah sampai di lapangan”. (Zaadul Ma’ad, 1/443). Apabila Nabi n telah sampai di lapangan, Beliau melakukan shalat ‘Id tanpa adzan dan iqamat, dan tanpa ucapan “ash shalatu jami’ah”. Dan merupakan sunnah, tidak mengerjakan dari hal itu sedikitpun. (Zaadul Ma’ad, 1/442 dan At Tamhid, 1/243).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. MENGHIDUPKAN MALAM HARI RAYA&lt;br /&gt;Banyak khatib dan penceramah giat menganjurkan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan menghidupkan malam hari raya. Padahal, anjuran mereka ini tidak ditemukan sandaran yang shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak cukup hanya dengan menganjurkan manusia untuk menghidupkan malam ini. Bahkan mereka (berani) menisbatkan (menyandarkan) ucapan tersebut kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menggunakan dalil-dalil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَحْيَ لَيْلَةَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa menghidupkan malam ‘Idul Fithri dan Adh-ha, hatinya tidak akan mati di hari matinya hati-hati manusia" [7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat di atas merupakan hadits palsu, dan tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, apalagi beramal dengannya dan menyerukan manusia untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. PEMBUKAAN KHUTBAH DENGAN TAKBIR SERTA BANYAK MENGUCAPKAN TAKBIR DALAM KHUTBAH&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan: “Rasulullah n selalu membuka khutbahnya dengan memuji Allah. Tidak ada riwayat dalam satu hadits pun bahwa Beliau memulai khutbah dua id dengan takbir. Hanya saja, Ibnu Majah meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Sa’ad Al Qardhi, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memperbanyak takbir di tengah-tengah khutbah, serta memperbanyak takbir dalam khutbah dua hari raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun riwayat ini tidak menunjukkan bila Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengawali khutbah dengan takbir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang telah berselisih dalam masalah pembukaan dua hari raya serta istisqa. Ada yang mengatakan “khutbah ‘id dan istisqa dimulai dengan takbir”, dan ada pula yang mengatakan “khutbah istisqa diawali dengan istighfar”, dan ada pula yang mengatakan “keduanya diawali dengan hamdalah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “(Mengawali khutbah dengan hamdalah), itulah yang benar”. [Zaadul Ma’ad, 1/447-448].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Masyhur, mengatakan: “Hadits terdahulu lemah. Dalam sanadnya, terdapat seorang yang lemah. Yaitu Abdurrahman bin Sa’ad bin Ammar bin Sa’ad Al Muadzan. Yang terakhir majhul (tidak dikenal), yaitu Sa’ad bin Ammar. Sehingga tidak boleh berhujjah akan sunnatnya takbir di tengah-tengah khutbah dengan hadits tersebut”. [Tamamul Minnah, 351]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. MENJADIKAN ‘ID DENGAN DUA KHUTBAH DAN DIPISAH DENGAN DUDUK&lt;br /&gt;Semua riwayat yang ada berkaitan dengan masalah ini lemah, tidak bisa dijadikan hujjah. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: “Tidak ada satupun riwayat yang sah dalam masalah pengulangan khutbah”. [Lihat Fiqh Sunnah, 1/223 dan Tamamul Minnah, 348]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa persoalan berkaitang dengan penyimpangan yang lazim terjadi pada pelaksanaan hari raya ‘Id. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Disadur dan diringkas dari kitab Al Qaulul Mubin Fi Akhtha’ Al Mushallin, karya Syaikh Masyhur Hasan Salman, dengan beberapa tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun X/1427H/2006. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Footnotes&lt;br /&gt;[1]. Dikeluarkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, no. 324, 971, 974, 980, 981, 1,652 serta Muslim dalam Shahih-nya, no. 980; Ahmad dalam Musnad (5/84,85); An Nasa’i dalam Al Mujtaba (3/180); Ibnu Majah dalam Sunan, no. 1.307 dan Tirmidzi dalam Al Jami’, no. 539.&lt;br /&gt;[2]. Dikeluarkan oleh Al Faryabi dalam Ahkam Al ‘Idain, no. 150; Abu Dawud dalam Sunan, no. 1.073; Ibnu Majah dalam Sunan, no. 1.311 dan yang lainnya. Hadits ini shahih berdasarkan syawahidnya (penyertanya).&lt;br /&gt;[3]. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Musnaf (2/184) dengan sanad yang shahih. Lihat Risalah Shalat ‘Idain Fil Mushalla Hiya Sunnah, hlm. 12-13.&lt;br /&gt;[4]. Dikeluarkan Al Bukhari dalam Shahih, no. 956 dan Muslim dalam Shahih, no. 889 dan lainnya.&lt;br /&gt;[5]. Dikeluarkan Imam Muslim&lt;br /&gt;[6]. Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al Musnaf (2/165) dan Al Faryabi dalam Ahkam ‘Idain, no. 59 dan sanad-sanadnya shahih. Meski mursal namun syahid (penyerta) menyambung, menurut Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra (3/279). Lihat Silsilah Ahadits Ash Shahihah, no.171.&lt;br /&gt;[7]. Pembahasan mengenai hadits ini bisa dilihat di silsilah al ahadits ad dhaifah no. 520 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber; al manhaj.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-6275997301996623529?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/6275997301996623529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=6275997301996623529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6275997301996623529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6275997301996623529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/penyimpangan-seputar-shalat-ied.html' title='Penyimpangan Seputar Shalat Ied'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-1398966421682172608</id><published>2009-11-26T16:49:00.003+07:00</published><updated>2009-11-26T16:56:41.394+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Isbal'/><title type='text'>Al Hafidz Ibnu Hajar Membolehkan Isbal?!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Penanya: Abu Zahroh &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Abu Abdillah, Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi ilmu Ustadz… Saya ada pertanyaan, apakah penukilan pendapat Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani seperti yang dicantumkan di sebuah website bahwa “Isbal halal hukumnya bila tanpa diiringi sikap sombong” itu valid dari beliau ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jawaban:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillaah… walhamdulillaah… wash-sholaatu wassalaamu ala Rosuulillaah… wa’ala aalihi washohbihi waman waalaah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada sebagian orang menisbatkan pendapat bolehnya isbal tanpa rasa sombong kepada Al-Hafidz Ibnu Hajar, padahal itu tidak benar. Sebaliknya, beliau justru menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa larangan itu umum, baik untuk yang sombong maupun tidak… Anda bisa merujuknya ke Fathul Bari, karya Ibnu Hajar, syarah hadits no: 5788-5791. Beliau membahas masalah ini, dengan panjang lebar…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara perkataan beliau yang menguatkan pendapat haramnya isbal secara umum adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Beliau mengatakan bahwa dhohir-nya banyak hadits mengharamkan isbal meski tanpa rasa sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة , وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka dhohir-nya banyak hadits juga mengharamkannya.&lt;/span&gt;”. (Fathul bari: jilid 13, hal: 266, cetakan Daaru Thoibah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan di atas jelas menunjukkan bahwa beliau menguatkan pendapat yang mengatakan isbal dengan sombong itu dosa besar, sedang isbal yang tanpa sombong meski bukan dosa besar, tapi tetap diharamkan oleh banyak hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Beliau menyebutkan bantahan kepada orang yang menafsiri bahwa larangan isbal hanya bagi mereka yang sombong, tanpa menjawabnya. Dan ini menunjukkan bahwa beliau sepakat dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيُسْتَفَاد مِنْ هَذَا الْفَهْم التَّعَقُّب عَلَى مَنْ قَالَ: إِنَّ الْأَحَادِيث الْمُطْلَقَة فِي الزَّجْر عَنْ الْإِسْبَال مُقَيَّدَة بِالْأَحَادِيثِ الْأُخْرَى الْمُصَرِّحَة بِمَنْ فَعَلَهُ خُيَلَاء… وَوَجْه التَّعَقُّب أَنَّهُ لَوْ كَانَ كَذَلِكَ لَمَا كَانَ فِي اِسْتِفْسَار أُمّ سَلَمَة عَنْ حُكْم النِّسَاء فِي جَرّ ذُيُولهنَّ مَعْنًى. بَلْ فَهِمَتْ الزَّجْر عَنْ الْإِسْبَال مُطْلَقًا سَوَاء كَانَ عَنْ مَخِيلَة أَمْ لَا , فَسَأَلَتْ عَنْ حُكْم النِّسَاء فِي ذَلِكَ لِاحْتِيَاجِهِنَّ إِلَى الْإِسْبَال مِنْ أَجْل سَتْر الْعَوْرَة , لِأَنَّ جَمِيع قَدَمهَا عَوْرَة , فَبَيَّنَ لَهَا أَنَّ حُكْمهنَّ فِي ذَلِكَ خَارِج عَنْ حُكْم الرِّجَال فِي هَذَا الْمَعْنَى فَقَطْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fahamnya (Ummu salamah ra.) ini, mengandung bantahan bagi mereka yang mengatakan bahwa: Hadits-hadits larangan isbal yang mutlak itu, harus di-taqyid dengan hadits-hadits lain yang menyebutkan bahwa ia melakukannya dengan rasa sombong… Bantahan itu bisa dijabarkan: Jika seandainya larangan isbal itu khusus bagi mereka yang sombong, tentu pertanyaan Ummu Salamah r.a. (kepada Rosul shollallohu alaihi wasallam) tentang hukum wanita meng-isbal-kan pakaiannya itu tidak ada gunanya sama sekali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru Ummu Salamah menanyakan hal itu, karena ia paham bahwa larangan isbal tersebut itu umum, baik disertai rasa sombong atau tidak. Ia menanyakan hukum wanita meng-isbal-kan pakaiannya karena perlunya mereka isbal untuk menutup aurat, karena seluruh kaki wanita adalah aurat, lalu Rosul shollallohu alaihi wasallam menerangkan bahwa hukum isbal-nya wanita berbeda dengan hukum isbal-nya pria dalam hal ini saja. (Fathul Bari 13/259-260)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyebutkan uraian ini, Al-Hafidz Ibnu Hajar tidak membantahnya. Ini menunjukkan bahwa beliau menguatkan pendapat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Beliau membantah orang yang menafsiri perkataan Imam Syafi’i untuk membolehkan isbal tanpa rasa sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالنَّصّ الَّذِي أَشَارَ إِلَيْهِ ذَكَرَهُ الْبُوَيْطِيّ فِي مُخْتَصَره عَنْ الشَّافِعِيّ قَالَ : لَا يَجُوز السَّدْل فِي الصَّلَاة وَلَا فِي غَيْرهَا لِلْخُيَلَاءِ , وَلِغَيْرِهَا خَفِيف لِقَوْلِ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي بَكْر ا ه, وَقَوْله : ” خَفِيف ” لَيْسَ صَرِيحًا فِي نَفْي التَّحْرِيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perkataan Imam Syafi’i yang dimaksud oleh Imam Nawawi itu, disebutkan oleh Al-Buwaithi di Kitab Mukhtashor-nya. Imam Syafi’i mengatakan: “Tidak boleh isbal, baik di dalam sholat atau di luarnya bagi mereka yang sombong. Sedang bagi yang tidak sombong lebih ringan hukumnya, karena sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam kepada Abu Bakar”. (Ibnu Hajar mengatakan:) Perkataan Imam Syafi’i “lebih ringan hukumnya”, tidak sharih (tegas) dalam menafikan haramnya (isbal tanpa rasa sombong&lt;/span&gt;). (Fathul Bari 13/266)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah bagaimana beliau dengan penuh kesopanan membantah perkataan ulama yang kurang tepat dalam menafsiri perkataan Imam Syafi’i tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Beliau menjelaskan hikmah diharamkannya isbal, yang berlaku umum baik bagi yang isbal dengan rasa sombong atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَأَمَّا لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَيَخْتَلِف الْحَال. فَإِنْ كَانَ الثَّوْب عَلَى قَدْر لَابِسه لَكِنَّهُ يَسْدُلهُ فَهَذَا لَا يَظْهَر فِيهِ تَحْرِيم, وَلَا سِيَّمَا إِنْ كَانَ عَنْ غَيْر قَصْد كَاَلَّذِي وَقَعَ لِأَبِي بَكْر, وَإِنْ كَانَ الثَّوْب زَائِدًا عَلَى قَدْر لَابِسه فَهَذَا قَدْ يُتَّجَه الْمَنْع فِيهِ مِنْ جِهَة الْإِسْرَاف فَيَنْتَهِي إِلَى التَّحْرِيم…. وَقَدْ يُتَّجَه الْمَنْع فِيهِ مِنْ جِهَة التَّشَبُّه بِالنِّسَاءِ وَهُوَ أَمْكَن فِيهِ مِنْ الْأَوَّل, وَقَدْ صَحَّحَ الْحَاكِم مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة “أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ الرَّجُل يَلْبَس لِبْسَة الْمَرْأَة” …  وَقَدْ يُتَّجَه الْمَنْع فِيهِ مِنْ جِهَة أَنَّ لَابِسه لَا يَأْمَن مِنْ تَعَلُّق النَّجَاسَة بِهِ, وَإِلَى ذَلِكَ يُشِير الْحَدِيث…. عَنْ عُبَيْد بْن خَالِد قَالَ: “كُنْت أَمْشِي وَعَلَيَّ بُرْد أَجُرّهُ, فَقَالَ لِي رَجُل: اِرْفَعْ ثَوْبك فَإِنَّهُ أَنْقَى وَأَبْقَى , فَنَظَرْت فَإِذَا هُوَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, فَقُلْت: إِنَّمَا هِيَ بُرْدَة مَلْحَاء, فَقَالَ: أَمَا لَك فِيَّ أُسْوَة؟ قَالَ: فَنَظَرْت فَإِذَا إِزَاره إِلَى أَنْصَاف سَاقَيْهِ”. وَسَنَده قَبْلهَا (رُهْم بنت الأسود) جَيِّد. (قال الألباني: ضعيف لكن له شاهد قاصر مخرج في الصحيحة رقم 1441)…  وَيُتَّجَه الْمَنْع أَيْضًا فِي الْإِسْبَال مِنْ جِهَة أُخْرَى وَهِيَ كَوْنه مَظِنَّة الْخُيَلَاء, قَالَ اِبْن الْعَرَبِيّ : لَا يَجُوز لِلرَّجُلِ أَنْ يُجَاوِز بِثَوْبِهِ كَعْبه , وَيَقُول لَا أَجُرّهُ خُيَلَاء , لِأَنَّ النَّهْي قَدْ تَنَاوَلَهُ لَفْظًا , وَلَا يَجُوز لِمَنْ تَنَاوَلَهُ اللَّفْظ حُكْمًا أَنْ يَقُول لَا أَمْتَثِلهُ لِأَنَّ تِلْكَ الْعِلَّة لَيْسَتْ فِيَّ , فَإِنَّهَا دَعْوَى غَيْر مُسَلَّمَة , بَلْ إِطَالَته ذَيْله دَالَّة عَلَى تَكَبُّره انتهى مُلَخَّصًا .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun isbalnya orang yang tanpa rasa sombong, maka keadaannya berbeda. (misalnya) Jika bajunya itu sesuai ukuran pemakainya, tapi ia menyeretnya, maka tidak jelas (bagiku) hukum haramnya, apalagi jika itu tanpa disengaja, sebagaimana terjadi pada Abu Bakar. Namun jika bajunya itu melebihi ukuran pemakainya, maka keharaman itu berlaku padanya, karena masuk dalam isrof  yang diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan isbal ini juga bisa karena isbal itu menyerupai (pakaian) wanita, Alasan ini lebih kuat dari alasan pertama, karena Imam Hakim telah men-shohih-kan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh, bahwa “Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- melaknat pria yang mengenakan model pakaian wanita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan isbal juga bisa karena baju pemakainya tidak aman dari terkena najis, hikmah ini ditunjukkan oleh hadits… dari Ubaid bin Kholid, ia berkata: “(Suatu hari) aku berjalan dengan menyeret baju burdahku, lalu ada orang yang menegurku: ‘Angkatlah bajumu!, sungguh itu lebih menjaga bersih dan awetnya”. Aku pun menoleh ke arah suara itu, ternyata dia adalah Nabi -shollallohu alaihi wasallam-, lalu aku beralasan: ‘Ini hanya baju burdah malha‘, maka beliau menimpali: ‘Tidakkah kau meniruku?!’. Ubaid mengatakan: ‘Lalu ku lihat beliau, ternyata sarungnya (tinggi) sampai di tengah betisnya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan isbal juga bisa karena hal itu termasuk tanda kesombongan, Ibnul Arobi mengatakan: Laki-laki tidak boleh menjulurkan pakaiannya melewati mata kakinya, lalu berkilah: “Aku tidak menjulurkannya karena sombong!” Karena lafal hadits yang melarang hal itu telah mencakup dirinya, dan orang yang masuk dalam larangan, tidak boleh membela diri dengan mengatakan: “Aku tidak mau mengindahkan larangan itu, karena sebab larangannya tidak ada padaku”. Hal seperti ini adalah klaim yang tidak bisa diterima, sebab tatkala ia menjulurkan pakaiannya, sejatinya ia menunjukkan karakter kesombongannya. (Fathul Bari 13/266-267)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan uraian Ibnu hajar di atas, beliau menyebutkan empat hikmah diharamkannya isbal: (a)Isrof   harta (yakni menghambur-hamburkannya)… (b)Tasyabbuh  (yakni menyerupai) pakaian wanita… (c)Tidak aman dari najis… (d)Termasuk tanda kesombongan… Dan semua hikmah ini berlaku umum bagi siapa saja yang isbal ria, baik dengan rasa sombong atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Beliau menutup pembahasan masalah isbal dengan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَحَاصِله أَنَّ الْإِسْبَال يَسْتَلْزِم جَرّ الثَّوْب وَجَرّ الثَّوْب يَسْتَلْزِم الْخُيَلَاء وَلَوْ لَمْ يَقْصِد اللَّابِس الْخُيَلَاء , وَيُؤَيِّدهُ مَا أَخْرَجَهُ أَحْمَد بْن مَنِيع مِنْ وَجْه آخَر عَنْ اِبْن عُمَر فِي أَثْنَاء حَدِيث رَفَعَهُ:  وَإِيَّاكَ وَجَرّ الْإِزَار فَإِنَّ جَرّ الْإِزَار مِنْ الْمَخِيلَة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kesimpulannya, Isbal melazimkan menyeret pakaian, dan menyeret pakaian melazimkan kesombongan, meski pelakunya tidak bermaksud sombong. Kesimpulan ini juga dikuatkan oleh hadits: ‘Janganlah meng-isbal-kan sarungmu! Karena meng-isbal-kan sarung termasuk perbuatan sombong” (Fathul Bari jilid:13, hal: 267).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pernyataan beliau tentang isbal, jelas sekali dari uraian di atas, beliau tidak membolehkan isbal, meski tidak dibarengi dengan rasa sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya: Lalu mengapa ada yang menisbatkan pendapat bolehnya isbal bila tanpa rasa sombong kepada Al-Hafidz Ibnu Hajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, karena mereka salah dalam memahami ungkapan beliau berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيث أَنَّ إِسْبَال الْإِزَار لِلْخُيَلَاءِ كَبِيرَة, وَأَمَّا الْإِسْبَال لِغَيْرِ الْخُيَلَاء فَظَاهِر الْأَحَادِيث تَحْرِيمه أَيْضًا. لَكِنْ اُسْتُدِلَّ بِالتَّقْيِيدِ فِي هَذِهِ الْأَحَادِيث بِالْخُيَلَاءِ عَلَى أَنَّ الْإِطْلَاق فِي الزَّجْر الْوَارِد فِي ذَمّ الْإِسْبَال مَحْمُول عَلَى الْمُقَيَّد هُنَا, فَلَا يَحْرُم الْجَرّ وَالْإِسْبَال إِذَا سَلِمَ مِنْ الْخُيَلَاء. قَالَ اِبْن عَبْد الْبَرّ: مَفْهُومه أَنَّ الْجَرّ لِغَيْرِ الْخُيَلَاء لَا يَلْحَقهُ الْوَعِيد, إِلَّا أَنَّ جَرّ الْقَمِيص وَغَيْره مِنْ الثِّيَاب مَذْمُوم عَلَى كُلّ حَال.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa isbal (menyeret) sarung karena sombong termasuk dosa besar. Adapun isbal yang bukan karena sombong, maka dhohir-nya banyak hadits juga mengharamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun taqyid sombong yang ada dalam hadits-hadits ini, dipakai untuk dalil, bahwa hadits-hadits lain tentang larangan isbal yang mutlak (tanpa menyebutkan kata sombong) harus dipahami dengan taqyid sombong ini, sehingga isbal dan menyeret pakaian tidak diharamkan bila selamat dari rasa sombong”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abdil barr mengatakan: “Mafhum-nya hadits ini menunjukkan, bahwa menyeret pakaian tanpa rasa sombong tidak masuk dalam ancaman, tapi (mafhum itu tidak berlaku dalam kasus ini), sungguh -bagaimanapun keadaannya- menyeret baju atau pakaian lainnya itu tercela, (yakni masuk dalam ancaman yang ada dalam hadits-hadits). (Fathul bari: jilid 13, hal: 266, cetakan Daaru Thoibah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca yang dirahmati Alloh… Sungguh jika orang itu lebih teliti dalam memahami metode yang dipakai Ibnu Hajar dalam keterangan di atas, ia akan tahu bahwa beliau sebenarnya melemahkan pendapat yang membolehkan isbal jika tanpa sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah anda tinjau ulang redaksi beliau ketika menyebutkan pendapat bolehnya isbal jika tanpa sombong, beliau menggunakan redaksi “ustudilla“ (lihat tulisan arab yang kami cetak merah dan bergaris bawah), itu adalah bentuk shighotut tamridh, yakni redaksi yang biasa digunakan oleh para ulama untuk menyebutkan pendapat yang menurutnya lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata “ustudilla“ sendiri berarti: “dipakai untuk dalil”, dari kata ini pembaca akan paham bahwa yang memakainya sebagai dalil adalah orang lain, bukan Ibnu Hajar. Itulah sebabnya mengapa setelah menyebutkan pendapat yang dilemahkan itu, beliau langsung menyebutkan perkataan Ibnu Abdil Barr yang menentang pendapat lemah itu. Jelasnya Ibnu Hajar ingin memupus argumen pendapat yang dilemahkannya dengan perkataan Ibnu Abdil Barr itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pembaca ketahui, bahwa tujuan Ibnu Hajar menyebutkan pendapat yang dilemahkan beliau, adalah untuk menjawab dalil-dalil pendapat itu. Oleh karena itu jika pembaca merujuk sendiri ke kitab Fathul Bari tersebut, anda akan dapati beliau selalu menjawab setiap dalil yang mendukung bolehnya isbal jika tanpa rasa sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian tulisan ini, semoga bisa menjadi koreksi bagi yang salah, dan menjadi suntikan pengetahuan bagi yang baru menela’ah… Kurang lebihnya mohon maaf… Semoga bermanfaat… wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Addariny, di Madinah, 4 Romadhon 1430 / 25 Agustus 2009&lt;br /&gt;sumber: addariny.wordpress.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-1398966421682172608?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/1398966421682172608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=1398966421682172608' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1398966421682172608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1398966421682172608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/al-hafidz-ibnu-hajar-membolehkan-isbal.html' title='Al Hafidz Ibnu Hajar Membolehkan Isbal?!'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-8335931559262629955</id><published>2009-11-24T00:29:00.001+07:00</published><updated>2009-11-24T00:31:01.606+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idul Fitri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idul adha'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat Jumat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat'/><title type='text'>Bila Hari Ied Jatuh Pada Hari Jumat</title><content type='html'>Banyak yang menanyakan bagaimana jika Hari Raya atau Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, apakah shalat Jum’atnya gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan penjelasan berikut dapat menjawab hal ini.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hari raya Idul Fithri atau Idul Adha bertepatan dengan hari Jum’at, apakah shalat Jum’at menjadi gugur karena telah melaksanakan shalat ‘ied? Untuk masalah ini para ulama memiliki dua pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Pertama: Orang yang melaksanakan shalat ‘ied tetap wajib melaksanakan shalat Jum’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pendapat kebanyakan pakar fikih. Akan tetapi ulama Syafi’iyah menggugurkan kewajiban ini bagi orang yang nomaden (al bawadiy). Dalil dari pendapat ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Keumuman firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS. Al Jumu’ah: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Dalil yang menunjukkan wajibnya shalat Jum’at. Di antara sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa meninggalkan tiga shalat Jum’at, maka Allah akan mengunci pintu hatinya.”[2] Ancaman keras seperti ini menunjukkan bahwa shalat Jum’at itu wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat Jum’at merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: [1] budak, [2] wanita, [3] anak kecil, dan [4] orang yang sakit.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Karena shalat Jum’at dan shalat ‘ied adalah dua shalat yang sama-sama wajib (sebagian ulama berpendapat bahwa shalat ‘ied itu wajib), maka shalat Jum’at dan shalat ‘ied tidak bisa menggugurkan satu dan lainnya sebagaimana shalat Zhuhur dan shalat ‘Ied.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Keringanan meninggalkan shalat Jum’at bagi yang telah melaksanakan shalat ‘ied adalah khusus untuk ahlul bawadiy (orang yang nomaden seperti suku Badui). Dalilnya adalah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya (dua hari ‘ied). Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Kedua: Bagi orang yang telah menghadiri shalat 'Ied boleh tidak menghadiri shalat Jum'at. Namun imam masjid dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Jum’at agar orang-orang yang punya keinginan menunaikan shalat Jum’at bisa hadir, begitu pula orang yang tidak shalat ‘ied bisa turut hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama Hambali. Dan pendapat ini terdapat riwayat dari ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Az Zubair. Dalil dari pendapat ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَشَهِدْتَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عِيدَيْنِ اجْتَمَعَا فِى يَوْمٍ قَالَ نَعَمْ. قَالَ فَكَيْفَ صَنَعَ قَالَ صَلَّى الْعِيدَ ثُمَّ رَخَّصَ فِى الْجُمُعَةِ فَقَالَ « مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّىَ فَلْيُصَلِّ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua ‘ied (hari Idul Fithri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jum’at) dalam satu hari?” “Iya”, jawab Zaid. Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?” “Beliau melaksanakan shalat ‘ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at”, jawab Zaid lagi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jum’at, maka silakan.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaukani dalam As Sailul Jaror (1/304)  mengatakan bahwa hadits ini memiliki syahid (riwayat penguat). An Nawawi dalam Al Majmu’ (4/492) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). ‘Abdul Haq Asy Syubaili dalam Al Ahkam Ash Shugro (321) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. ‘Ali Al Madini dalam Al Istidzkar (2/373) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (antara shahih dan hasan, pen). Syaikh Al Albani dalam Al Ajwibah An Nafi’ah (49) mengatakan bahwa hadits ini shahih.[6] Intinya, hadits ini bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Dari ‘Atho’, ia berkata, “Ibnu Az Zubair ketika hari ‘ied yang jatuh pada hari Jum’at pernah shalat ‘ied bersama kami di awal siang. Kemudian ketika tiba waktu shalat Jum’at Ibnu Az Zubair tidak keluar, beliau hanya shalat sendirian. Tatkala itu Ibnu ‘Abbas berada di Thoif. Ketika Ibnu ‘Abbas tiba, kami pun menceritakan kelakuan Ibnu Az Zubair pada Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas pun mengatakan, “Ia adalah orang yang menjalankan sunnah (ajaran Nabi) [ashobas sunnah].”[7] Jika sahabat mengatakan ashobas sunnah(menjalankan sunnah), itu berarti statusnya marfu’ yaitu menjadi perkataan Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan pula bahwa ‘Umar bin Al Khottob melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Ibnu Az Zubair. Begitu pula Ibnu ‘Umar tidak menyalahkan perbuatan Ibnu Az Zubair. Begitu pula ‘Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan bahwa siapa yang telah menunaikan shalat ‘ied maka ia boleh tidak menunaikan shalat Jum’at. Dan tidak diketahui ada pendapat sahabat lain yang menyelisihi pendapat mereka-mereka ini.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat ‘ied untuk tidak menghadiri shalat Jum'at sebagaimana berbagai riwayat pendukung dari para sahabat dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi pendapat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Pendapat kedua yang menyatakan boleh bagi orang yang telah mengerjakan shalat 'ied tidak menghadiri shalat Jum'at, ini bisa dihukumi marfu’ (perkataan Nabi) karena dikatakan “ashobas sunnah (ia telah mengikuti ajaran Nabi)”. Perkataan semacam ini dihukumi marfu’ (sama dengan perkataan Nabi), sehingga pendapat kedua dinilai lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Mengatakan bahwa riwayat yang menjelaskan pemberian keringanan tidak shalat jum’at adalah khusus untuk orang yang nomaden seperti orang badui (yang tidak dihukumi wajib shalat Jum’at), maka ini adalah terlalu memaksa-maksakan dalil. Lantas apa faedahnya ‘Utsman mengatakan, “Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan”? Begitu pula Ibnu Az Zubair bukanlah orang yang nomaden, namun ia mengambil keringanan tidak shalat Jum’at, termasuk pula ‘Umar bin Khottob yang melakukan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dianjurkan bagi imam masjid agar tetap mendirikan shalat Jum’at supaya orang yang ingin menghadiri shalat Jum’at atau yang tidak shalat ‘ied bisa menghadirinya. Dalil dari hal ini adalah anjuran untuk membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah jika hari ‘ied bertemu dengan hari Jum’at pada shalat ‘ied dan shalat Jum’at. Dari An Nu’man bin Basyir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca dalam dua ‘ied yaitu shalat Jum’at “sabbihisma robbikal a’la” dan “hal ataka haditsul ghosiyah”.” An Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini juga menunjukkan dianjurkannya membaca surat Al A’laa dan Al Ghosiyah ketika hari ‘ied bertetapan dengan hari Jum’at dan dibaca di masing-masing shalat (shalat ‘ied dan shalat Jum’at).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Siapa saja yang tidak menghadiri shalat Jum’at dan telah menghadiri shalat ‘ied, maka wajib baginya untuk mengerjakan shalat Zhuhur sebagaimana dijelaskan pada hadits yang sifatnya umum. Hadits tersebut menjelaskan bahwa bagi yang tidak menghadiri shalat Jum’at, maka sebagai gantinya, ia menunaikan shalat Zhuhur (4 raka’at).[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi kaum muslimin.  Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-8335931559262629955?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/8335931559262629955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=8335931559262629955' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8335931559262629955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8335931559262629955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/bila-hari-ied-jatuh-pada-hari-jumat.html' title='Bila Hari Ied Jatuh Pada Hari Jumat'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-6156117936755376527</id><published>2009-11-24T00:28:00.001+07:00</published><updated>2009-11-24T00:28:53.110+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wudhu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiqih'/><title type='text'>MENYENTUH ISTRI: MEMBATALKAN WUDHU?</title><content type='html'>Pertanyaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bagaimana hukum bersentuhan dengan isteri setelah berwudhu. Apakah membatalkan wudhu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Maulana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bandar Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama fikih berselisih pendapat tentang masalah ini sehingga terpolar menjadi berbagai pendapat yang cukup banyak. (Lihat Al-Majmu’ 2/34 Imam Nawawi). Di sini kami akan sebutkan tiga pendapat saja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Pertama: Menyentuh wanita membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat atau tidak, tetapi kalau ada pembatasnya seperti kain, maka tidak membatalkan wudhu. Pendapat ini populer dalam madzhab Syafi’i. Pendapat berhujjah dengan berbagai argumen, yang paling masyhur dan kuat adalah firman Allah dalam surat An-Nisa’: 43.&lt;br /&gt;أَوْ لاَمَسْتُم النِّسَآءَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kamu telah berjima’ dengan istri. (QS. An-Nisa’: 43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengartikan kata لاَمَسْتُمُ dalam ayat tersebut dengan menyentuh. (Lihat Al-Umm 1/30 oleh Imam Syafi’i dan Al-Majmu’ 2/35 oleh Imam Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Kedua: Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak baik dengan syahwat maupun tidak berdasarkan beberapa dalil berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dalil Pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal wudhu seorang adalah suci dan tidak batal sehingga ada dalil yang mengeluarkan dari hukum asalnya, sedangkan hal itu tidak ada, padahal kita ketahui bersama bahwa menyentuh isteri adalah suatu hal yang amat sering terjadi. Seandainya itu membatalkan wudhu, tentu Nabi n akan menjelaskan kepada umatnya dan masyhur di kalangan sahabat, tetapi tidak ada seorangpun dari kalangan sahabat yang berwudhu hanya karena sekedar menyentuh istrinya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21/235).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dalil Kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah d bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mencium sebagian istrinya kemudian keluar menuju shalat dan tidak berwudhu lagi. Saya (Urwah) berkata: Tidaklah dia kecuali anda kan? Lalu Aisyah tertawa. (Shahih. Riwayat Tirmidzi: 86, Abu Dawud: 178, Nasa’i: 170, Ibnu Majah: 502 dan dishahihkan Al-Albani dalam Al-Misykah: 323. Lihat pembelaan hadits ini secara luas dalam At-Tamhid 8/504 Ibnu Abdil Barr dan Syarh Tirmidzi 1/135-138 Syaikh Ahmad Syakir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu sekalipun dengan syahwat. Demikian ditegaskan oleh Syaikh Al-Allamah As-Sindi dalam Hasyiyah Sunan Nasa’i 1/104.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dalil Ketiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Saya pernah tidur di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua kakiku berada di arah kiblatnya. Apabila beliau sujud maka beliau menyentuhku lalu sayapun mengangkat kedua kakiku, dan bila beliau berdiri, maka aku membentangkan kedua kakiku seperti semula. (Aisyah) berkata: “Rumah-rumah saat itu masih belum punya lampu”. (HR. Bukhari: 382 dan Muslim: 512).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh istri tidaklah membatalkan wudhu. Adapun takwil Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/638 bahwa kejadian di atas bisa jadi karena ada pembatasnya (kain) atau kekhususan bagi Nabi, maka takwil ini sangat jauh sekali dari kebenaran, menyelesihi dhahir hadits dan takalluf (menyusahkan diri). (Periksa Nailul Authar Asy-Syaukani 1/187, Subulus Salam As-Shan’ani 1/136, Tuhfatul Ahwadzi Al-Mubarakfuri 1/239, Syarh Tirmidzi Ahmad Syakir 1/142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dalil Keempat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pada suatu malam saya pernah kehilangan Rasulullah n dari tempat tidur maka saya mencarinya lalu tanganku mengenai pada kedua punggung kakinya yang tegak, beliau shalat di masjid seraya berdoa: “Ya Allah saya berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu…”. (HR. Muslim: 486).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa istri menyentuh suami tidaklah membatalkan wudhu. Adapun takwil Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 4/152 bahwa kejadian tersebut bisa jadi karena ada pembatas kainnya, maka menyelisihi dhahir hadits. (Lihat At-Tamhid 8/501 Ibnu Abdil Barr dan Tafsir Al-Qurthubi 5/146).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dalil Kelima:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Pernah Rasulullah n melakukan shalat sedangkan saya tidur terbentang di depannya layaknya jenazah sehingga apabila beliau ingin melakukan witir, maka beliau menyentuhku dengan kakinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (HR. Nasai 1/102/167. Imam Za’ilai berkata: “Sanadnya shahih menurut syarat shahih dan dishahihkan Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ 2/35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh wanita tidaklah membatalkan wudhu dengan kaki atau anggota badan lainnya. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam At-Talkhis hal. 48: “Sanadnya shahih, hadits ini dijadikan dalil bahwa makna “Laamastum” dalam ayat adalah jima’ (berhubungan) karena Nabi menyentuh Aisyah dalam shalat lalu beliau tetap melanjutkan (tanpa wudhu lagi -pent)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Ketiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memerinci:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Batal wudhunya apabila menyentuh wanita dengan syahwat, dan&lt;br /&gt;    * Tidak batal apabila tidak dengan syahwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil mereka sama seperti pendapat kedua, tetapi mereka membedakan demikian dengan alasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Memang asal menyentuh tidak membatalkan wudhu, tetapi menyentuh dengan syahwat menyebabkan keluarnya air madhi dan mani, maka hukumnya membatalkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    (Lihat Al-Mughni 1/260 Ibnu Qudamah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang rajih (kuat) adalah pendapat kedua yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu baik dengan syahwat ataupun tidak, kecuali apabila mengeluarkan air mani dan madhi maka batal wudhunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Atau minimal adalah pendapat ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pendapat pertama, maka sangat lemah sekali karena maksud ayat tersebut adalah jima’ berdasarkan argumen sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Salah satu makna kata لَمَسَ dalam bahasa Arab adalah jima’ (Al-Qamus Al-Mukhith Al-Fairuz Abadi 2/259).&lt;br /&gt;   2. Para pakar ahli tafsir telah menafsirkan ayat tersebut dengan jima’ diantaranya adalah sahabat mulia, penafsir ulung yang dido’akan Nabi, Abdullah bin Abbas, demikian pula Ali bin Abi Thalib, Ubai bin Ka’ab, Mujahid, Thawus, Hasan Al-Bashri, Ubaid bin Umair, Said bin Jubair, Sya’bi, Qotadah, Muqatil bi Hayyan dan lainnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/550). Pendapat ini juga dikuatkan Syaikh ahli tafsir, Ibnu Jarir dalam Tafsirnya 5/102-103 dan Imam Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid&lt;br /&gt;   3. Mengkompromikan antara ayat tersebut dengan hadits-hadits shahih di atas yang menegaskan bahwa Rasulullah n menyentuh bahkan mencium istrinya (Aisyah) dan beliau tidak berwudhu lagi.&lt;br /&gt;   4. Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid 8/506 dan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Talkhis menukil dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata: “Seandainya hadits Aisyah tentang mencium itu shahih, maka madzhab kita adalah hadits Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam”. Perkataan serupa juga dikatakan oleh Imam Al-Baihaqi, pejuang madzbab Syafi’i. Hal ini menunjukkan bahwa kedua imam tersebut tidak menetapkan bahwa maksud لاَمَسْتُم dalam ayat tersebut bermakna “Menyentuh” karena keduanya menegaskan seandanya hadits Aisyah shahih, maka beliau berdua berpendapat mengikuti hadits. Seandainya kedua imam tersebut berpendapat seperti hadits, maka mau gak mau harus menafsirkan ayat tersebut bermakna “jima” sebagaimana penafsiran yang shahih. (Syarh Tirmidzi 1/141 oleh Syaikh Ahmad Syakir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah jawaban yang kami yakini berdasarkan dalil-dalil yang shahih, bukan fanatik madzhab dan mengikuti apa kata banyak orang. Semoga Allah menambahkan ilmu dan memberikan keteguhan kepada kita. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.abiubaidah.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-6156117936755376527?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/6156117936755376527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=6156117936755376527' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6156117936755376527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6156117936755376527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/menyentuh-istri-membatalkan-wudhu.html' title='MENYENTUH ISTRI: MEMBATALKAN WUDHU?'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-1338518913540469255</id><published>2009-11-24T00:25:00.000+07:00</published><updated>2009-11-24T00:26:43.021+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tatswib'/><title type='text'>Masalah “Ash Sholaatu Khoirun Min An Naum”</title><content type='html'>Permasalahan At Tatswieb bukanlah masalah asing bagi kaum muslimin, karena setiap adzan shubuh mereka mendengarkannya. Namun banyak tata cara dan hukum yang dirasa belum banyak yang mengetahuinya. Oleh karena itu, perlu sekali dijabarkan permasalahan ini agar kita dapat mengamalkannya sesuai dengan syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian At Tatswieb&lt;br /&gt;At Tatswieb dalam bahasa Arab berasal dari kata (ثاب ) yang berarti kembali dan ada yang menyatakan dari kata (ثوب ) jika memberi isyarat dengan pakaiannya setelah selesai memberitahu orang lain.[Fathul Bari, Ibnu Hajar] Sehingga kata At Tatswieb menurut etimologi bahasa Arab bermakna mengulangi pengumuman setelah pengumuman dan digunakan untuk menyebut ucapan muadzin Ash Sholatu Khoirun Minan Naum (الصلاة خير من النوم) pada adzan sholat shubuh setelah ucapan hayya ‘Ala Al falaah dua kali. Namun dalam penggunaannya kata At Tatswieb ini digunakan untuk tiga perkara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Ucapan muadzin dalam sholat shubuh Al Sholatu Koirun min an Naum (الصلاة خير من النوم), inilah yang difahami banyak orang. Demikianlah disampaikan imam Al Khathaabi: “Orang umum tidak mengenal At Tatswieb kecuali ucapan Muadzin :  الصلاة خير من النوم “&lt;br /&gt;   2. Iqamat, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Artinya: “Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: Jika dikumandangkan adzan untuk sholat, maka Syeitan lari dan ia memiliki suara kentut sampai ia tidak mendengar adzan. Jika selesai adzan maka ia datang kembali sampai jika diiqamatkan untuk sholat maka ia akan lari lagi sehingga selesai Al tatswieb (iqamat), maka ia datang kembali sehingga membisikkan (mengganggu) antara seseorang dengan hatinya, syeitan menyatakan: Ingatlah ini dan itu, untuk sesuatu yang belum pernah ia ingat sebelumnya, sehingga seseorang itu berada dalam keadan tidak tahu jumlah rakaat sholatnya.” [HR Al Bukhori, kitab Al Adzan, bab Fadhlu Al Ta’dzien]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Al Haafidz Ibnu Hajar menyatakan: Mayoritas ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan At Tatswieb dalam hadits ini adalah Iqamat, inilah yang ditegaskan oleh Abu ‘Awanah dalam Shahih-nya, Al Khathabi dan Al Baihaqi. Imam Al Qurthubi menyatakan: kalimat (ثُوِّبَ بِالصَّلاَةِ) bermakna jika diiqamatkan dan asalnya ia mengulang sesuatu yang menyerupai adzan dan setiap orang yang mengulang-ulang suaranya dinamakan (dalam bahasa Arab) Mutsawwib (مُثَوِّبٌ) [lihat Fathul Bari]&lt;br /&gt;   3. Ucapan muadzin antara adzan dan iqamat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      ” قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ . “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ini merupakan istilah khusus dalam madzhab Abu Hanifah dan amalan ini adalah amalan yang tidak ada dasarnya. Bahkan Ibnu Umar menganggapnya satu kebid’ahan, sebagaimana diriwayatkan At Tirmidzi dalam Sunan-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam At Tirmidzi menyatakan: Para ulama berselisih pendapat tentang tafsir At Tatswieb, sebagian mereka menyatakan At Tatswieb adalah ucapan dalam adzan subuh (الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ), inilah pendapat Ibnu Al Mubarak dan Imam Ahmad. Sedang Imam Ishaaq Ibnu Rahawaih menyatakan tentang At Tatswieb yang lain, beliau menyatakan: “At Tatswieb yang dilarang adalah yang diada-adakan orang setelah masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, yaitu jika muadzin telah selesai beradzan maka ia diam sebentar menunggu orang-orang dengan membacakan antara adzan dan iqamat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَدْ قَامَتْ الصَّلَاةُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al Tirmidzi berkata: “Apa yang disampaikan Imam Ishaaq tersebut adalah At tatswieb yang dilarang para ulama dan diada-adakan orang setelah masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sedangkan tafsir Ibnu Al Mubarak dan Ahmad bahwa At Tatswieb adalah ucapan muadzin dalam sholat subuh الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ adalah pendapat yang benar dan dinamakan juga At Tatswieb. Inilah yang dirajihkan para ulama.” [Sunan Al Tirmidzi , Tahqiq Ahmad Syakir 1/380-381]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang akan diutarakan dalam pembahasan kita kali ini adalah makna yang pertama yaitu ucapan Muadzin Al Sholatu Khoirun Minan Naum (الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ) pada adzan sholat shubuh setelah ucapan hayya ‘Ala Al falaah dua kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum dan Pensyariatannya.&lt;br /&gt;At Tatswieb disyariatkan dengan dasar hadits Abul Mahdzurah yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنْ كَانَ صَلَاةُ الصُّبْحِ قُلْتَ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Jika sholat subuh aku mengucapkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[HR Abu Daud no. 501, An Nasa’I (2/7-8) dan Ahmad 3/408 dan dishohihkan Al Albani dalam Takhrij Al Misykah no. 645]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dasar hadits ini mayoritas ulama menghukumi At Tatswieb sebagai sunnah untuk adzan subuh [lihat Al Majmu’ 3/92 dan Al Mughni 1/407]. Penulis kitab Shahih Fiqh Al Sunnah menyatakan: “At Tatswieb dalam adzan Fajar telah diriwayatkan dari hadits Bilal, Sa’ad Al Qartz, Abu Hurairoh, Ibnu Umar, Na’im Al Nahaam, A’isyah, Abu Al Muahdzurah, namun dalam sanad-sanadnya ada kelemahan dan yang terbaik dari semuanya adalah tiga riwayat terakhir dan ia dengan keseluruhannya telah menunjukkan pensyariatan At Tatswieb dalam adzan fajar.” [Shahih Fiqh Al Sunnah, Abu Maalik Kamaal bin Al Sayyid Saalim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Tatswieb Diluar Adzan Subuh&lt;br /&gt;Telah dipaparkan di atas tentang pensyariatan dan hukum At Tatswieb dalam adzan subuh, namun disana ada sebagian ulama madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyah yang membolehkan At Tatswieb di waktu isya’, mereka berdalih karena waktu isya adalah waktu lalai dan tidur seperti subuh dan sebagian ulama madzhab Syafi’iyah bahkan memperbolehkannya dalam semua waktu sholat. Ini adalah satu kebid’ahan yang menyelisihi sunnah. Ibnu Umar telah mengingkarinya sebagaimana dalam riwayat Mujahid, beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنْتُ مَعَ ابْنِ عُمَرَ فَثَوَّبَ رَجُلٌ فِي الظُّهْرِ أَوْ الْعَصْرِ قَالَ اخْرُجْ بِنَا فَإِنَّ هَذِهِ بِدْعَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Aku dahulu bersama Ibnu Umar, lalu ada seorang bertatswieb pada sholat dzuhur atau Ashar, maka beliau berkata: Mari kita keluar, karena ini adalah kebid’ahan.” [HR Abu Daud dan dihasankan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 236]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga Al Tirmidzi membawakan riwayat dari Imam Mujahid, ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;دَخَلْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ مَسْجِدًا وَقَدْ أُذِّنَ فِيهِ وَنَحْنُ نُرِيدُ أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِ فَثَوَّبَ الْمُؤَذِّنُ فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ مِنْ الْمَسْجِدِ وَقَالَ اخْرُجْ بِنَا مِنْ عِنْدِ هَذَا الْمُبْتَدِعِ وَلَمْ يُصَلِّ فِيهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Aku bersama Abdulah bin Umar masuk satu masjid yang telah dikumandangkan adzan padanya dan kami ingin sholat disana, lalu muadzin melakukan AlTtatswieb. Kemudian Ibnu Umar keluar dari masjid dan berkata: marilah kita keluar dari mubtadi’ ini dan tidak sholat di masjid tersebut.” Imam Al Tirmidzi mengomentari riwayat ini: Abdullah bin Umar melarang Al Tatswieb yang diada-adakan orang setelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. [Sunan Al Tirmidzi, Tahqiq Ahmad Syakir 1/381]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu di Pengucapan At Tatswieb&lt;br /&gt;Adapun waktu pengucapannya, ada dua pendapat ulama tentang masalah ini, apakah diucapkan pada adzan awal sebelum waktu subuh ataukan adzan kedua yang dilakukan pada waktu subuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Pendapat pertama menyatakan bahwa At Tatswieb dilakukan pada adzan pertama yang ada sebelum adzan masuk waktu subuh dengan dasar hadits Ibnu Umar yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ ابْنُ عُمَرَ فِيْ الأَذَانِ الأَوَلِ بَعْدَ الْفَلاَحِ الصَّلاَةُ خَيْرٌ منَ النَّوْمِ مَرَّتَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Ibnu Umar dahulu berkata pada adzan awal setelah Al Falaah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّلاَةُ خَيْرٌ منَ النَّوْمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua kali.” [Hadits mauquf diriwayatkan Al Baihaqi dan dihasankan Al Albani dalam Tamamul Minnah 1/146]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lafadz hadits Abu Al Mahdzurah yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا أَذَّنْتَ بِالْأَوَّلِ مِنْ الصُّبْح فَقُلْ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Dan jika kamu beradzan diawal dari subuh, maka katakanlah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[HR Ahmad 3/408-409, Abu Daud Bab Kaifa Al Adzan no. 501, Al Nasaa’I Bab Al Adzan Fi Al Safar 2/7, Abdurrazaaq dalam Al Mushonnaf no.1821, Ibnu Abi Syaibah 1/204, Ibnu Huzaimah no. 385, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 1673, Ad Daraquthni 1/234 dan Al Baihaqi 1/422 diringkas dari takhrij pentahqiq kitab Al Syarhu Al Mumti’, lihat 2/56]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lafadz lainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فِي الْأُولَى مِنْ الصُّبْحِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Pada yang pertama dari subuh.”&lt;br /&gt;[Lihat Shohih Al Fiqhu Al Sunnah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pendapat yang dirajihkan Al Albani. Beliau menyatakan: ” At Tatswieb disyariatkan hanya di adzan awal subuh yang dikumandangkan sebelum masuk waktu sekitar seperempat jam, dengan dasar hadits Ibnu Umar yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ فِيْ الأَذَانِ الأَوَلِ بَعْدَ الْفَلاَحِ الصَّلاَةُ خَيْرٌ منَ النَّوْمِ مَرَّتَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Dahulu berkata pada adzan awal setelah Al Falaah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّلاَةُ خَيْرٌ منَ النَّوْمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dua kali.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diriwayatkan Al Baihaqi (1/423) dan demikian juga Al Thohawi dalam Syarhu Al Ma’ani (1/82) dan sanadnya hasan, sebagaimana disampaikan Al Haafidz].&lt;br /&gt;Sedangkan hadits Abu Al Mahdzurah mutlak mencakup dua adzan, namun adzan yang kedua bukan yang dimaksudkan, karena ada yang mengikatnya dalam riwayat lainnya dengan lafadz :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا أَذَّنْتَ بِالْأَوَّلِ مِنْ الصُّبْح فَقُلْ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Dan jika kamu beradzan diawal dari subuh, maka katakanlah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diriwayatkan oleh Abu daud, Al Nasaa’I, AL Thohawi dan lainnya dan ia sudah ada dalam kitab Shahih Abi Daud no. 510-516]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga haditsnya ini mendukung hadits Ibnu Umar, oleh karena itu Al Shon’ani berkata dalam kitab Subul Al Salaam (1/167-168) setelah menyampaikan lafadz Al Nasaa’I: Dalam hadits ini ada taqyiid terhadap riwayat yang mutlak. Ibnu Ruslaan berkata: Ibnu Khuzaimah menshahihkan riwayat ini. Ia berkata: “Pensyariatan At Tatswieb hanyalah diadzan pertama fajar, karena untuk membangunkan orang yang tidur, sedangkan adzan kedua, maka untuk pemberitahuan masuk waktu dan mengajak sholat”. Saya berkata (Al Albani): “Berdasarkan hal ini, maka kata الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ tidak termasuk lafadz adzan yang disyariatkan untuk mengajak orang sholat dan memberitahu masuknya waktu sholat, akan tetapi ia termasuk lafadz yang disyariatkan untuk membangunkan orang tidur”.[Dinukil dari Tamamul minnah, 146-147]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Syaikh Al Albani juga berkata: “Imam Ath Thohawi berkata setelah menyampaikan hadits Abu Al Mahdzurah dan Ibnu Umar diatas yang tegas menunjukkan bahwa Al Tatswieb ada pada adzan pertama: Ini adalah pendapat Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad Rahimahumuullah.” [Dinukil dari Tamamul minnah, 146-147]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pendapat kedua menyatakan Al Tatswieb dilakukan pada adzan subuh yaitu adzan kedua, berdalil dengan hadits-hadits yang tidak memberikan batasan pada adzan awal dan membawa hadits-hadits yang ada penentuan diadzan pertama kepada makna adzan pertama untuk menentukan masuknya waktu subuh, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Antara dua adzan ada sholat sunnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang dirojihkan Komite Tetap untuk penelitian Islam dan Fatwa negara Saudi Arabia [lihat Fatawa Lajnah Al Daimah 1/59-61 soal no. 1396 dan 2678], dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Sebagian orang di zaman sekarang telah salah dalam memahami bahwa yang diinginkan dengan adzan yang ada pelafalan dua kalimat ini adalah adzan sebelum fajar. Syubhat mereka dalam hal ini adalah adanya sebagian lafadz hadits yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا أَذَّنْتَ بِالْأَوَّلِ مِنْ الصُّبْح فَقُلْ الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Dan jika kamu beradzan diawal dari subuh, maka katakanlah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menganggap bahwa At Tatswieb hanyalah ada pada adzan yang dikumandangkan di akhir malam dan menyatakan bahwa At Tatswieb dalam adzan pada waktu masuk subuh adalah kebid’ahan. Maka kami menjawab bahwa Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا أَذَّنْتَ الْأَوَّلَ لصَلاَةِ الصُّبْح&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menyatakan: لصَلاَةِ الصُّبْح dan sudah dimaklumi bahwa adzan yang ada di akhir malam bukan untuk shalat subuh, namun ia sebagaimana dikatakan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِيُوقِظَ النَائِمَ وَ يَرْجِعَ القَائِم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk membangunkan orang yang tidur dan mengembalikan orang yang bangun (untuk istirahat mempersiapkan diri)“. Sedangkan shalat subuh tidak diadzankan kecuali setelah terbit fajar subuh, kalau diadzankan sebelum terbit fajar subuh maka adzannya tidak sah dengan dasar sabda Rasululloh: Jika sholat sudah datang maka hendaklah salah seorang kalian beradzan untuk kalian. Sudah jelas bahwa sholat tidak datang kecuali setelah masuk waktu. Tinggal permasalahan pada lafadz hadits: وَإِذَا أَذَّنْتَ الْأَوَّلَ Maka kami jawab: hal ini tidak masalah, karena adzan dalam bahasa Arab bermakna pemberitahuan, demikian juga iqamah adalah pemberitahuan. Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ (Antara dua adzan ada sholat sunnah) dan yang dimaksud dengan dua adzan ini adalah adzan dan iqamat dan dalam shahih Al Bukhori ada pernyataan: “Dan Utsman menambah adzan ketiga dalam sholat jum’at.”. padahal sudah jelas sekali bahwa jum’at hanya ada dua adzan dan satu iqamah dan ia menamakannya adzan ketiga. Dengan demikian hilanglah permasalahannya, sehingga At Tatswieb dilakukan pada adzan sholat subuh. [Syarhu Al Mumti’ 2/ 56-57]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pendapat yang rajih?&lt;br /&gt;Penulis kitab Shohih Fiqhi As Sunnah menyatakan: “Hadits-hadits yang telah disampaikan terdahulu, diantaranya ada yang menyebutkan At Tatswieb tanpa penentuan waktunya apakah diadzan pertama atau kedua dan diantaranya ada yang menjelaskan bahwa ia di adzan pertama. Namun tidak ada satupun hadits yang menegaskan bahwa ia dilakukan di adzan kedua. Hal ini menunjukkan pensyariatan At Tatswieb ada di adzan pertama, karena untuk membangunkan orang yang bangun- sebagaimana terdahulu-. Sedangkan adzan kedua untuk memberitahu masuknya waktu dan mengajak sholat. Juga sudah dimaklumi bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memiliki dua muadzin untuk shalat fajar, salah satunya Bilal -dan At Tatswieb juga ada riwayat darinya- dan kedua Ibnu Umi Maktum. Bilal-lah yang melakukan adzan pertama dan tidak ada satu pun riwayat yang menyatakan Ibnu Umi Maktum melakukan At Tatswieb. [Shahih Fiqhi As Sunnah, 1/284]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Menjawab At Tatswieb?&lt;br /&gt;Bila seorang mendengar At Tatswieb maka disyariatkan membalas dengan mengucapkan kalimat: الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ berdasarkan keumuman hadits Abu Sa’id Al Khudri yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda jika kalian mendengar adzan maka jawablah seperti yang disampaikan Muadzin.” [Muttafaqun Alaihi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel UstadzKholid.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-1338518913540469255?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/1338518913540469255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=1338518913540469255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1338518913540469255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1338518913540469255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/masalah-ash-sholaatu-khoirun-min-naum.html' title='Masalah “Ash Sholaatu Khoirun Min An Naum”'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-6354673837576122751</id><published>2009-11-22T19:20:00.001+07:00</published><updated>2009-11-22T19:24:52.341+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idul Fitri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Takbiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idul adha'/><title type='text'>Takbiran Hari Raya</title><content type='html'>Waktu Mulai &amp; Berakhir Takbiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Takbiran Idul Fitri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbiran pada saat idul fitri dimulai sejak maghrib malam tanggal 1 syawal sampai selesai shalat ‘id.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan dalil berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Allah berfirman, yang artinya: “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini menjelaskan bahwasanya ketika orang sudah selesai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadlan maka disyariatkan untuk mengagungkan Allah dengan bertakbir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5621)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Takbiran idul fitri dilakukan dimana saja dan kapan saja. Artinya tidak harus di masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sangat dianjurkan untuk memeperbanyak takbir ketika menuju lapangan. Karena ini merupakan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Berikut diantara dalilnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR. Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf)&lt;br /&gt;    * Dari Nafi: “Dulu Ibn Umar bertakbir pada hari id (ketika keluar rumah) sampai beliau tiba di lapangan. Beliau tetap melanjutkan takbir hingga imam datang.” (HR. Al Faryabi dalam Ahkam al Idain)&lt;br /&gt;    * Dari Muhammad bin Ibrahim (seorang tabi’in), beliau mengatakan: “Dulu Abu Qotadah berangkat menuju lapangan pada hari raya kemudian bertakbir. Beliau terus bertakbir sampai tiba di lapangan.” (Al Faryabi dalam Ahkam al Idain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Takbiran Idul Adha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbiran Idul Adha ada dua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Takbiran yang tidak terikat waktu (Takbiran Mutlak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbiran hari raya yang tidak terikat waktu adalah takbiran yang dilakukan kapan saja, dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbir mutlak menjelang idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst. Dalilnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Allah berfirman, yang artinya: “…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman, yang artinya: “….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Qs. Al Baqarah: 203)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsirnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Yang dimaksud berdzikir pada dua ayat di atas adalah melakukan takbiran&lt;br /&gt;    * Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.” (Al Bukhari secara Mua’alaq, sebelum hadis no.969)&lt;br /&gt;    * Dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, bahwa maksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 9 Dzulhijjah, sedangkan makna “beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (Disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fathul Bari 2/458, kata Ibn Mardawaih: Sanadnya shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Hadis dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad &amp; Sanadnya dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Imam Al Bukhari mengatakan: “Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.” (HR. Al Bukhari sebelum hadis no.969)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Disebutkan Imam Bukhari: “Umar bin Khatab pernah bertakbir di kemahnya ketika di Mina dan didengar oleh orang yang berada di masjid. Akhirnya mereka semua bertakbir dan masyarakat yang di pasar-pun ikut bertakbir. Sehingga Mina guncang dengan takbiran.” (HR. Al Bukhari sebelum hadis no.970)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Disebutkan oleh Ibn Hajar bahwa Ad Daruqutni meriwayatkan: “Dulu Abu Ja’far Al Baqir (cucu Ali bin Abi Thalib) bertakbir setiap selesai shalat sunnah di Mina.” (Fathul Bari 3/389)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Takbiran yang terikat waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbiran yang terikat waktu adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah shalat Asar tanggal 13 Dzulhijjah. Berikut dalil-dalilnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dluhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibn Abi Syaibah &amp; Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Al Albani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR Ibn Abi Syaibah &amp; Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: “Shahih dari Ali radhiyallahu ‘anhu“)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). (HR Ibn Abi Syaibah &amp; Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. (HR. Al Hakim dan dishahihkan An Nawawi dalam Al Majmu’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lafadz Takbir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terdapat riwayat lafadz takbir tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja ada beberapa riwayat dari beberapa sahabat yang mencontohkan lafadz takbir. Diantara riwayat tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Takbir Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أ‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ&lt;br /&gt;ب‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Lafadz: “Allahu Akbar” pada takbir Ibn Mas’ud boleh dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Takbir Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ&lt;br /&gt;اللَّهُ أَكْبَرُ، عَلَى مَا هَدَانَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;Takbir Ibn Abbas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Penting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As Shan’ani mengatakan: “Penjelasan tentang lafadz takbir sangat banyak dari berberapa ulama. Ini menunjukkan bahwa perintah bentuk takbir cukup longgar. Disamping ayat yang memerintahkan takbir juga menuntut demikian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud perkataan As Shan’ani adalah bahwa lafadz takbir itu longgar, tidak hanya satu atau dua lafadz. Orang boleh milih mana saja yang dia suka. Bahkan sebagian ulama mengucapkan lafadz takbir yang tidak ada keterangan dalam riwayat hadis. Allahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan yang Salah Ketika Takbiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kebiasaan yang salah ketika melakukan takbiran di hari raya, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Takbir berjamaah di masjid atau di lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena takbir yang sunnah itu dilakukan sendiri-sendiri dan tidak dikomando. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Anas bin Malik bahwa para sahabat ketika bersama nabi pada saat bertakbir, ada yang sedang membaca Allahu akbar, ada yang sedang membaca laa ilaaha illa Allah, dan satu sama lain tidak saling menyalahkan… (Musnad Imam Syafi’i 909)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat ini menunjukkan bahwa takbirnya para sahabat tidak seragam. Karena mereka bertakbir sendiri-sendiri dan tidak berjamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Takbir dengan menggunakan pengeras suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dipahami bahwa cara melakukan takbir hari raya tidak sama dengan cara melaksanakan adzan. Dalam syariat adzan, seseorang dianjurkan untuk melantangkan suaranya sekeras mungkin. Oleh karena itu, para juru adzan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Bilal, dan Abdullah bin Umi Maktum ketika hendak adzan mereka naik, mencari tempat yang tinggi. Tujuannya adalah agar adzan didengar oleh banyak orang. Namun ketika melakukan takbir hari raya, tidak terdapat satupun riwayat bahwa Bilal naik mencari tempat yang tinggi dalam rangka melakukan takbiran. Akan tetapi, beliau melakukan takbiran di bawah dengan suara keras yang hanya disengar oleh beberapa orang di sekelilingnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sebaiknya melakukan takbir hari raya tidak sebagaimana adzan. Karena dua syariat ini adalah syariat yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Hanya bertakbir setiap selesai shalat berjamaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah dijelaskan bahwa takbiran itu ada dua. Ada yang terikat waktu dan ada yang sifatnya mutlak (tidak terikat waktu). Untuk takbiran yang mutlak sebaiknya tidak dilaksanakan setiap selesai shalat fardlu saja. Tetapi yang sunnah dilakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Mulaqin mengatakan: “Takbiran setelah shalat wajib dan yang lainnya, untuk takbiran Idul Fitri maka tidak dianjurkan untuk dilakukan setelah shalat, menurut pendapat yang lebih kuat.” (Al I’lam bi Fawaid Umadatil Ahkam: 4/259)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal yang disyariatkan ketika selesai shalat jamaah adalah berdzikir sebagaimana dzikir setelah shalat. Bukan melantunkan takbir. Waktu melantunkan takbir cukup longgar, bisa dilakukan kapanpun selama hari raya. Oleh karena itu, tidak selayaknya menyita waktu yang digunakan untuk berdzikir setelah shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Tidak bertakbir ketika di tengah perjalanan menuju lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana riwayat yang telah disebutkan di atas, bahwa takbir yang sunnah itu dilakukan ketika di perjalanan menuju tempat shalat hari raya. Namun sayang sunnah ini hampir hilang, mengingat banyaknya orang yang meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Bertakbir dengan lafadz yang terlalu panjang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian pemimpin takbir sesekali melantunkan takbir dengan bacaan yang sangat panjang. Berikut lafadznya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الله أكبر كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbiran dengan lafadz yang panjang di atas tidak ada dalilnya. Allahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ammi Nur Baits&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-6354673837576122751?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/6354673837576122751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=6354673837576122751' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6354673837576122751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/6354673837576122751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/takbiran-hari-raya.html' title='Takbiran Hari Raya'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-1444336072254942546</id><published>2009-11-13T22:29:00.001+07:00</published><updated>2009-11-13T22:30:36.521+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sirah'/><title type='text'>Apakah 'Aisyah Berniat Memerangi 'Ali dalam Perang Jamal ?</title><content type='html'>Oleh : Asy-Syaikh Yusuf bin ’Abdillah bin Yusuf Al-Wabil hafidhahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara fitnah yang terjadi setelah terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan radliyallaahu ’anhu adalah terjadinya perang Jamal yang terkenal antara ‘Ali bin Abi Thalib dengan ‘Aisyah, Thalhah, dan Az-Zubair radliyallaahu ‘anhum. Kronologi peristiwa ini adalah ketika terbunuhnya ‘Utsman, maka orang-orang mendatangi ‘Ali di Madinah dimana mereka berkata kepadanya : ”Ulurkan tanganmu, kami akan berbaiat kepadamu”. ‘Ali berkata : “Tunggu dulu, sampai orang-orang bermusyawarah”. Maka sebagian di antara mereka berkata : “Apabila orang-orang kembali ke negerinya masing-masing etelah terbunuhnya ‘Utsman, sementara itu belum ada seorang pun yang menggantikan kedudukannya (sebagai khalifah), niscaya akan terjadi perselisihan dan kerusakan umat”. Mereka terus-menerus membujuk ‘Ali agar mau menerima baiat, dan akhirnya ‘Ali pun menerimanya. Di antara orang yang membaiatnya itu adalah Thalhah dan Az-Zubair radliyallaahu ‘anhuma. Kemudian, mereka berdua pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah ‘umrah, dan di sana mereka bertemu dengan ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa. Setelah membicarakan masalah terbunuhnya ‘Utsman bin ‘Affan, mereka pergi ke Bashrah untuk menuntut ‘Ali agar menyerahkan orang yang telah membunuh ‘Utsman [1] ; akan tetapi ‘Ali tidak memenuhi permintaan mereka. Hal itu dikarenakan ‘Ali masih menunggu para wali dari keluarga ‘Utsman untuk menyelesaikan perkara kepadanya; yaitu, apabila telah dapat ditetapkan orang yang membunuh ‘Utsman, maka akan dijatuhkan hukum qishash padanya. Maka mereka pun (yaitu ‘Aisyah, Thalhah, dan Az-Zubair dengan ‘Ali radliyallaahu ‘anhum) berbeda pendapat dengan sebab ini. Sementara itu, orang-orang yang tertuduh sebagai pembunuh ‘Utsman – yaitu mereka yang menentang ‘Utsman - merasa khawatir bahwa ‘Ali, ‘Aisyah, Thalhah, dan Az-Zubair bersepakat untuk menghukum bunuh mereka. Maka mereka pun mengobarkan peperangan antara dua kelompok tadi [2].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan ‘Ali bahwasannya antara dia dan ‘Aisyah akan timbul permasalahan. Dalam sebuah hadits dari Abu Raafi’ bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنه سيكون بينك وبين عائشة أمر. قال : أنا يا رسول الله ؟. قال : نعم. قال : فأنا أشقاهم يا رسول الله ؟. قال : لا، ولكن إذا كان ذلك، فارددها إلى مأمنها.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahwasannya antara kamu dan ‘Aisyah nanti akan ada satu permasalahan”. ’Ali bertanya : ”Saya kah wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab : ”Ya”. ’Ali kembali bertanya : ”Apakah saya orang yang celaka (dalam permasalahan itu) ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab : ”Tidak, akan tetapi jika hal itu nanti terjadi, maka kembalikanlah ia (’Aisyah) ke tempatnya yang aman”.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal yang menunjukkan bahwasannya ’Aisyah, Thalhah, dan Az-Zubair tidak keluar untuk mengadakan peperangan (terhadap ’Ali), melainkan mereka hanya bertujuan untuk mendamaikan (perselisihan) di antara kaum muslimin adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dari jalan Qais bin Abi Haazim, ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لما بلغت عائشة رضي الله عنها بعض ديار بني عامر، نبحت عليها الكلاب. فقالت : أي ماء هذا ؟. قالوا : الحوأب. قالت : ما أظنني إلا راجعة. فقال لها الزبير : لا بعد، تقدمي فيراك الناس فيصلح الله ذات بينهم. فقالت : ما أظنني إلا راجعة، سمعت رسول ٰلله صلى الله عليه وسلم يقول : كيف بإحداكن إذا نبحتها كلاب الحوأب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ketika ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa sampai di sebagian perkampungan Bani ’Amir, tiba-tiba anjing-anjing (di tempat tersebut) menggonggong. Berkata ’Aisyah : ”Perairan apakah ini ?”. Mereka pun menjawab : ”Al-Hauab” [4]. ’Aisyah berkata : ”Aku kira aku harus kembali pulang”. Lalu Az-Zubair berkata kepadanya : ”Tidak, bahkan engkau harus maju hingga manusia melihatmu dan (dengan itu) Allah akan mendamaikan (perselisihan) di antara mereka”. ’Aisyah berkata : ”Namun aku kira aku harus kembali, karena aku mendengar Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam bersabda : ”Bagaimana keadaan salah seorang di antara kalian apabila anjing-anjing menggonggong kepadanya ?”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat Al-Bazzar dari Ibnu ’Abbas, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berkata kepada istri-istrinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أيتكن صاحبة الجمل الأدبب، تخرج حتى تنبحها كلاب الحوأب، يقتل عن يمينها وعن شمالها قتلى كثيرة، وتنجو من بعد ما كادت&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siapakah di antara kalian yang mempunyai onta adbab [6], lantas ia keluar (dengan mengendarainya) sehingga anjing-anjing Hauab menggonggong kepadanya. Banyak orang yang terbunuh di samping kanan dan kirinya, dan dia sendiri selamat setelah sebelumnya hampir terbunuh”.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Taimiyyah berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن عائشة لم تخرج للقتال، وإنما خرجت بقصد الإصلاح بين المسلمين، وظنت أن في خروجها مصلحة للمسلمين، ثم تبين لها فيما بعد أن ترك الخروج كان أولى، فكانت إذا ذكرت خروجها، تبكي حتى تبل خمارها، وهكذا عامة السابقين ندموا على ما دخلوا فيه من القتال، فندم طلحة والزبير وعلي رضي الله عنهم أجمعين.&lt;br /&gt;ولم يكن يوم الجمال لهؤلاء قصد في القتال، ولكن وقع الاقتتال بغير اختيارهم، فإنه لما تراسل عليا وطلحة والزبير، وقصدوا الاتفاق على المصلحة، وأنهم إذا تمكنوا، طلبوا قتلة عثمان أهل الفتنة، وكان علي غير راض بقتل عثمان، ولا معينا عليه، كما كان يحلف، فيقول : والله ما قتلت عثمان ولا مالأتُ على قتله. وهو الصادق البار في يمينه، فخشي القتلة أن يتفق علي معهم على إمساك القتلة، فحملوا على عسكر طلحة والزبير، فظن طلحة والزبير أن عليا حمل عليهم، فحملوا دفعا عن أنفسهم، فظن علي أنهم حملوا عليه، فحمل دفعا عن نفسه، فوقعت الفتنة بغير اختيارهم، وعائشة راكب، لا قاتلت، ولا أمرت بالقتال، وهكذا ذكره غير واحد من أهل المعرفة بالأخبار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya ’Aisyah tidak keluar untuk berperang, melainkan dengan tujuan untuk mendamaikan kaum muslimin. Dia mengira bahwa keluarnya itu akan membawa kemaslahatan bagi kaum muslimin. Namun yang tampak olehnya setelah itu bahwa seandainya ia tidak keluar maka hal itu lebih baik. Oleh karena itu, jika ia teringat keluarnya (menuju Bashrah) itu, ia menangis hingga membasahi kerudungnya.[8] Demikian pula halnya dengan kaum muslimin terdahulu, mereka merasa menyesal karena terlibat peperangan itu. Thalhah, Az-Zubair, dan ’Ali radliyallaahu ’anhum; mereka semua juga merasa menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan peristiwa Jamal itu pada mulanya tidak meraka maksudkan untuk berperang, akan tetapi peperangan itu terjadi di luar kehendak mereka. Ketika ’Ali, Thalhah, dan Az-Zubair saling surat menyurat dan berkeinginan mencari kesepakatan untuk mencapai kemaslahatan, dan ketika mereka telah bertekad mencari pencetus fitnah pembunuh ’Utsman; ’Ali dalam keadaan tidak ridla dengan terbunuhnya ’Utsman dan tidak pula membantu membunuhnya sebagaimana diucapkan dalam sumpahnya : ”Demi Allah, aku tidak membunuh ’Utsman dan tidak pula berkomplot membunuhnya” – sedang ’Ali itu orang yang jujur dan benar sumpahnya. Maka, para pembunuh itu takut apabila ’Ali bersepakat dengan mereka untuk menangkap para pembunuh itu. Lalu, mereka menghasut laskar Thalhah dan Az-Zubair. Kemudian Thalhah dan Az-Zubair mengira bahwa ’Ali telah menyerang mereka, lalu keduanya membela diri. Begitu juga ’Ali mengira bahwa mereka berdua telah menyerangnya, lalu ia pun membela diri. Maka terjadilah fitnah (peperangan) tanpa diinginkan oleh mereka. Dan pada waktu itu, ’Aisyah sedang naik kendaraan (onta). Tidak ikut berperang, tidak pula memerintahkan berperang. Demikianlah yang dikemukakan oleh para ahli ma’rifah tentang sejarah”.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai ditulis oleh Abul-Jauzaa’, hari Sabtu ba’da ’Asar, 15.50, 15 Nopember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku Asyraathus-Saa’ah karya Yusuf bin ’Abdillah bin Yusuf Al-Wabil, Daar Ibnil-Jauziy, hal. 98-102 dengan beberapa tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Abu Bakr bin Al-‘Arabiy mengemukakan pendapatnya dalam kitanya Al-‘Awaashim minal-Qawaashim, bahwasannya perginya mereka ke Bashrah hanyalah untuk mendamaikan kaum muslimin. Ia mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا هو الصحيح، لا شيء سواه، وبذلك وردت صحاح الأخبار&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah yang benar, tidak ada lagi selain itu. Dan demikianlah berita-berita yang shahih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat perincian penjelasan tersebut dalam Fathul-Bari 13/54-59.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Musnad Al-Imam Ahmad 2/393 – beserta hamisy (catatan pinggir) Muntakhab Kanzil-’Ummaal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hasan. Lihat Fathul-Bari 13/55.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Haitsami berkata : ”Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bazzar, dan Ath-Thabarani. Para perawinya adalah terpercaya” [Majma’uz-Zawaaid 7/234].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Al-Hauab adalah sebuah tempat yang terletak dekat Bashrah. Ia merupakan salah satu mata air bagi bangsa Arab di jaman Jahimiyyah. Tempat ini berada di jalan yang dilalui orang-orang yang datang dari Makkah ke Bashrah. Tempat ini disebut Hauab sebagai nisbat kepada Abu Bkr bin Kilaab Al-Hauab. Atau dinisbatkan kepada Al-Hauab binti Kalb bin Wabrah Al-Qadla’iyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat : Mu’jamul-Buldaan 2/314 dan catatan kaki Muhibbuddin Al-Khaathib atas kitab Al-’Awaashim minal-Qawaashim hal. 148.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Mustadrak Al-Hakim 3/120.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata : “Sanadnya sesuai syarat As-Shahih”. Lihat : Fathul-Bari 13/55.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Haitsami berkata : ”Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar; rijalnya Ahmad adalah rijal Ash-Shahih” [Majma’uz-Zawaaid 7/234].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits tersebut tercantum dalam Musnad Al-Imam Ahmad 6/52 dengan hamisy (catatan pinggir)-nya Mutakhab Kanzil-’Ummaal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Al-Adbab artinya yang banyak bulunya di bagian muka. Lihat : An-Nihayah oleh Ibnul-Atsir 2/96.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Fathul-Bari 13/55.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar berkata : “Para perawinya terpercaya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits “Al-Hauab” tersebut diingkari oleh Al-Imam Abu Bakr bin Al-‘Arabiy dalam kitabnya Al-‘Awaashim minal-Qawaashim (hal. 161) dimana hal itu diikuti oleh Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathiib dalam catatan kaki kitab Al-‘Awaashim. Beliau menyebutkan alasannya bahwa hadits ini tidak terdapat dalam kitab-kitab Islam yang mu’tabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi hadits itu shahih. Dishahihkan oleh Al-Haitsami dan Ibnu Hajar sebagaimana yang telah lewat (penyebutannya). Al-Hafidh berkata dalam Al-Fath (13/55) ketika mengomentari hadits Al-Hauab : “Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Ya’laa. Al-Bazzar, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Sanadnya sesuai dengan syarat Ash-Shahih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Albani menshahihkannya dalam Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahihah, dan ia membantah pihak-pihak yang mencela keshahihan hadits ini; serta ia jelaskan para imam yang telah mengeluarkan hadits tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat : Silsilah Ash-Shahihah no. 475.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Az-Zaila’i berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقد أظهرت عائشة الندم، كما أخرجه ابن عبد البر في ((كتاب الاستعاب)) عن ابن أبي عتيق - وهو عبد الله بن محمد بن عبد الرحمن بن أبي بكر الصديق - قال : قالت عائشة لابن عمر : يا أبا عبد الرحمن، ما منعك أن تنهاني عن مسيري ؟. قال : رأيت رجلا غلبت عليك - يعني : ابن الزبير -. فقالت : أما والله، لو نهيتني ما خرجت&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah nampak rasa penyesalan pada diri ‘Aisyah, sebagaimana sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu ‘Abdil-Barr dalam kitab Al-Isti’ab dari Ibnu Abi ‘Atiq – ia adalah ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdirrahman bin Abi Bakr Ash-Shiddiq – ia berkata : ‘Aisyah pernah berkata kepada Ibnu ‘Umar : “Wahai Abu ‘Abdirrahman, apa yang mencegahmu untuk melarangku pergi dalam perjalananku (menuju Bashrah) ?”. Ibnu ‘Umar berkata : “Aku melihat seorang laki-laki yang telah menguasai dirimu – yaitu Ibnuz-Zubair”. ‘Aisyah berkata : “Jika saja – demi Allah – engkau melarangku, niscaya aku tidak akan pergi” [Nashbur-Rayah 4/69-70] – Abul-Jauzaa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz-Dzahabi berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وكانت تحدث نفسها أن تدفن في بيتها فقالت إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ادفنوني مع أزواجه فدفنت بالبقيع رضي الله عنها قلت تعني بالحدث مسيرها يوم الجمل فإنها ندمت ندامة كلية وتابت من ذلك على أنها ما فعلت ذلك إلا متأولة قاصدة للخير كما اجتهد طلحة بن عبيد الله والزبير بن العوام وجماعة من الكبار رضي الله عن الجميع .......قالت عائشة إذا مر ابن عمر فأرونيه فلما مر بها قيل لها هذا ابن عمر فقالت يا أبا عبد الرحمن ما منعك أن تنهاني عن مسيري قال رأيت رجلا قد غلب عليك يعني ابن الزبير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dahulu ‘Aisyah berkeinginan untuk dikuburkan di dalam rumahnya, kemudian beliau berkata : ‘Sesungguhnya aku telah berbuat kesalahan sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kuburkanlah aku bersama istri-istri beliau lainnya di kuburan Baqi’’. Aku (yaitu Adz-Dzahabi) berkata : “Yang beliau maksud dengan kesalahan ialah kepergiannya pada tragedi perang Jamal, karena sesungguhnya beliau amat menyesali kepergiannya itu, dan beliau bertaubat darinya. Padahal beliau melakukannya atas dasar ijtihad dan bertujuan baik, sebagaimana Thalhah dan Az-Zubair bersama beberapa pembesar sahabat juga telah berijtihad, semoga Allah senantiasa meridhai mereka semua.” (Kemudian Imam Adz-Dzahabi menukilkan dari sebuah kisah, yaitu) pada suatu saat ‘Aisyah berpesan : ”Bila Ibnu Umar lewat, hendaknya kalian tunjukkanlah dia kepada aku”. Dan ketika Ibnu Umar telah melintas, maka dikatakan kepada ’Aisyah : ”Inilah Ibnu Umar” ; maka ia pun berkata kepadanya: “Wahai Abu Abdirrahman, apa yang menghalangimu untuk mencegahku dari kepergianku (pada tragedi perang Jamal)?” Beliau menjawab : “Aku melihat bersamamu seorang lelaki yang telah menguasai dirimu, yaitu Ibnu Zubair.” [Siyaru A’alamin- Nubalaa’ 2/324 no. 193; Maktabah Al-Misykah] – Abul-Jauzaa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Minhajus-Sunnah 2/185.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[pada kitab terbitan Universitas Muhammad bin Su’ud, cetakan I/1406, , tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim : 4/316-317 – Abul-Jauzaa’]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: abul-jauzaa.blogspot.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-1444336072254942546?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/1444336072254942546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=1444336072254942546' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1444336072254942546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1444336072254942546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/apakah-aisyah-berniat-memerangi-ali.html' title='Apakah &apos;Aisyah Berniat Memerangi &apos;Ali dalam Perang Jamal ?'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-8266410166260092094</id><published>2009-11-13T22:25:00.000+07:00</published><updated>2009-11-13T22:26:57.880+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bid&apos;ah'/><title type='text'>Ciri-Ciri Ahli Bid’ah</title><content type='html'>Abu Al-Jauzaa' :, 29 Juni 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil bin ‘Abdirrahmaan Ash-Shaabuuniy rahimahullaah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(373 – 449 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada baiknya jika saya tuliskan sedikit pemaparan biografi Al-Imam Abu ‘Utsman Ash-Shaabuuniy rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beliau adalah Abu ‘Utsmaan Ismaa’iil bin ‘Abdirrahmaan bin Ahmad bin Ismaa’iil bin ‘Aamir bin ‘Aabid Ash-Shaabuuniy An-Naisaabuuriy, Al-Haafidh, Al-Mufassir, Al-Muhadiits, Al-Faqiih, Al-Mulaqqib, Syaikhul-Islaam. Lafadh ‘Ash-Shaabuuniy’ dinisbatkan kepada pekerjaan beliau sebagai pembuat/pedagang sabun, sebagaimana disebutkan oleh As-Sam’aaniy rahimahullah dalam kitab Al-Ansaab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilahirkan pada pertengahan bulan Jumadil-Akhir 373 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara guru beliau rahimahullah yang terkenal adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Haakim An-Naisaburiy, Abu ‘Abdillah – penulis kitab Al-Mustadrak ‘alash-Shahihain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Abi Thaahir Muhammad bin Al-Fadhl bin Muhammad bin Ishaaq bin Khuzaimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Abu Muhammad Al-Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Mikhlad Asy-Syaibaniy An-Naisaburiy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Abul-Hasan Ahmad bin Muhammad bin ‘Umar Az-Zaahid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun murid-murid beliau rahimahullah yang terkenal antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Abul-Qaasim ‘Aliy bin Muhammad bin ‘Aliy bin Ahmad bin Abil-‘Alaa’ As-Sulamiy Al-Mushiishiy Al-Faqiih Asy-Syaafi’iy; seorang faqih lagi tsiqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Abu Shaalih Al-Muadzdzin Ahmad bin ‘Abdil-Malik bin ‘Aliy bin Ahmad An-Naisaburiy Al-Haafidh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Abu Muhammad ‘Abdil-‘Aziiz bin Ahmad bin Muhammad At-Taimiy Ad-Dimasyqiy Al-Kattaaniy; seorang imam, muhaddits, lagi mutqin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pujian ulama terhadap beliau rahimahullah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Imam Abu Bakr Al-Baihaqiy rahimahullah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنه إمام المسلمين حقاً وشيخ الإسلام صدقاً ، وأهل عصره كلهم مذعنون لعلو شأنه في الدين والسيادة وحسن الاعتقاد وكثرة العلم ولزوم طريقة السلف&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beliau adalah imam kaum muslimin yang sebenar-benarnya, seorang Syaikhul-Islam sejati. Semua orang di masanya mengakui ketinggian beliau dalam agama, kemuliaannya, kebaikan ‘aqidahnya, keluasan ilmunya, dan kesungguhannya dalam hal kewajiban meniti jalan salaf”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Al-Imam Ibnu Naashiruddin rahimahullah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كان إماماً حافظاً عمدة مقدماً في الوعظ والأدب وغيرهما من العلوم وحفظة للحديث وتفسير القرآن&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beliau adalah seorang imam, haafidh, seorang pemimpin yang didahulukan dalam nasihat, adab, dan yang lainnya pada bidang ilmu, hafalan hadits, serta tafsir Al-Qur’an”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Al-Haafidh Adz-Dzahabiy rahimahullah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الواعظ، المفسر، المصنف، أحد الأعلام، كان شيخ خرسان في زمانه.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahli pemberi nasihat, mufassir, dan penulis. Beliau juga salah seorang tokoh terkemuka, sekaligus penghulu ulama Khurasan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat pada bulan Muharram tahun 449 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[selesai]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun penjelasan mengenai ciri-ciri Ahlul-Bid’ah sebagaimana tercantum dalam kitab beliau yang berjudul : ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١٦٢ - وعلامات البدع على أهلها بادية ظاهرة ، وأظهر آياتهم وعلاماتهم : شدة معاداتهم محملة أخبار النبي - صلى الله عليه وسلم- ، واحتقارهم لهم [واستخفافهم بهم] ، وتسميتهم إياهم حشوية ، وجهلة ، وظاهرية ، ومشبهه . اعتقادا منهم في أخبار رسول الله - صلى الله عليه وسلم- أنها بمعزل عن العلم ، وأن العلم ما يلقيه الشيطان إليهم من نتائج عقولهم الفاسدة ، ووساوس صدورهم المظلمة ، وهو أجس قلوبهم الخالية من الخير ، [وكلماتهم] وحججهم بل شبههم الداحضة الباطلة. (أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ). (وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاء).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;162 – Dan ciri-ciri yang dimiliki oleh Ahli Bid’ah itu amatlah jelas dan terang. Yang paling menonjol di antaranya adalah : Besarnya antipati mereka terhadap para pembawa riwayat hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, melecehkan mereka, [merendahkan mereka], bahkan menggelari mereka sebagai hasyawiyyah (tukang hapal catatan kaki), orang-orang jahil, dhahiriyyah (tekstual), dan musyabbihah. Semua itu didasari keyakinan mereka bahwa hadits-hadits Rasulullah shallalaahu ‘alaihi wa sallam itu terpisah dari ilmu. Dan ilmu (menurut mereka) adalah apa-apa yang dijejalkan setan kepada mereka, hasil dari olah akal mereka yang rusak, waswas dari hati mereka yang gelap, imajinasi mereka yang hampa dari kebenaran, serta [berbagai kalimat] dan hujjah mereka yang lemah dan bathil. Allah telah berfirman : “Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka” (QS. Muhammad : 23). “Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki” (QS. Al-Hajj : 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١٦٣ - سمعت الحاكم أبا عبد الله الحافظ يقول : سمعت أبا على الحسين بن علي الحافظ يقول ، سمعت جعفر بن أحمد بن سنان الواسطي يقول ، سمعت أحمد بن سنان القطان يقول : (ليس في الدنيا مبتدع إلا وهو يبغض أهل الحديث ، فإذا ابتدع الرجل نزعت حلاوة الحديث من قلبه) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;163 – Aku mendengar Al-Haakim Abu ‘Abdillah Al-Haafidh berkata : Aku mendengar Abu ‘Aliy Al-Husain bin ‘Aliy Al-Haafidh berkata : Aku mendengar Ja’far bin Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy berkata : Aku mendengar Ahmad bin Sinaan Al-Qaththaan berkata : “Tidak ada seorang mubtadi’ di dunia ini kecuali ia membenci Ahlul-Hadits. Karena bila ada seorang yang berbuat bid’ah, maka akan dicabut manisnya ilmu hadits dalam hatinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١٦٤ - وسمعت الحاكم يقول سمعت أبا الحسين محمد بن أحمد الحنظلي ببغداد يقول ، سمعت [أبا إسماعيل] محمد بن إسماعيل الترمذي يقول : كنت أنا وأحمد بن الحسن الترمذي عند إمام الدين أبي عبد الله أحمد بن حنبل ؛ فقال له أحمد بن الحسن : يا أبا عبد الله ذكروا لابن أبي قتيلة بمكة أصحاب الحديث فقال : أصحاب الحديث قوم سوء فقام أحمد بن حنبل وهو ينفض ثوبه ويقول : زنديق ! زنديق ! [زنديق] : حتى دخل البيت .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;164 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) mendengar Al-Haakim berkata : Aku mendengar Abu Al-Husain Muhammad bin Ahmad Al-Handhaliy berkata di Baghdaad : Aku mendengar [Abu Isma’il] Muhammad bin Isma’il At-Tirmidziy berkata : “Aku dan Ahmad bin Al-Hasan At-Tirmidziy pernah berada di sisi Imaamuddiin Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal. Maka Ahmad bin Al-Hasan berkata kepadanya : ‘Wahai Abu ‘Abdillah, orang-orang pernah menyebut Ahli Hadits di hadapan Ibnu Abi Qutailah. Maka ia (Ibnu Abi Qutailah) berkata : ‘Para Ahli Hadits (Ashhaabul-Hadiits) adalah satu kaun yang jelek’. Maka Ahmad bin Hanbal berdiri sambil mengibaskan pakaiannya seraya berkata : ‘Zindiq, zindiq, [zindiq] !’, hingga ia masuk rumah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١٦٥ - وسمعت الحاكم أبا عبد الله يقول ، سمعت أبا نصر أحمد بن سهل الفقيه ببخارى يقول ، سمعت أبا نصر بن سلام الفقيه يقول:(ليس شيء أثقل على أهل الإلحاد ، ولا أبغض إليهم من سماع الحديث وروايته بإسناده ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;165 – Aku mendengar (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) Al-Haakim Abu ‘Abdillah berkata : Aku mendengar Abu Nashr Ahmad bin Sahl, seorang faqih negeri Bukhara, berkata : Aku mendengar Abu Nashr bin Salaam Al-Faqiih berkata : “Tidak ada satu hal yang lebih berat dan dibenci oleh Ahlul-Ilhaad (pengingkar/atheis/Ahli Bid’ah) daripada mendengarkan hadits dan meriwayatkan dengan sanadnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١٦٦ - وسمعت الحاكم يقول : سمعت الشيخ أبا بكر أحمد بن إسحاق بن أيوب الفقيه – وهو يناظر رجلاً – فقال الشيخ أبو بكر : حدثنا فلان ، فقال له الرجل : دعنا من حدثنا إلى متى حدثنا ؟ فقال الشيخ له : قم يا كافر ، فلا يحل لك أن تدخل داري بعد هذا أبداً. ثم التفت إلينا وقال : ما قلت [قط] لأحد قط ما تدخل داري إلا هذا.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;166 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) mendengar Al-Haakim berkata : Aku mendengar Asy-Syaikh Abu Bakr Ahmad bin Ishaaq bin Ayyuub Al-Faqiih – saat itu ia tengah berdebat dengan seorang laki-laki - . Maka berkatalah Asy-Syaikh Abu Bakr : “Haddatsanaa Fulaan (Telah menceritakan kepada kami Fulan)”. Laki-laki tersebut berkata kepadanya : “Tinggalkan kami dari perkataan haddatsanaa. Sampai kapan kita menyebut haddatsanaa ?”. Syaikh Abu Bakr berkata : “Berdirilah wahai kafir ! Tidak halal bagimu untuk memasuki rumahku setelah ini untuk selamanya”. Kemudian ia (Asy-Syaikh Abu Bakr) menoleh kepada kami dan berkata : “Aku tidak pernah berkata pada seorang pun untuk tidak masuk ke rumahku kecuali pada orang ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١٦٧ - سمعت [الأستاذ] أبا منصور محمد بن عبد الله ابن حمشاد العالم الزاهد [رحمه الله] يقول ، سمعت أبا القاسم جعفر بن أحمد المقرى الرازي يقول : قرئ على عبد الرحمن بن أبي حاتم الرازي وأنا أسمع : سمعت أبي يقول – عنى به الإمام في بلده أبا حاتم محمد بن إدريس الحنظلي الرازي – يقول : ( علامة أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر وعلامة الزنادقة : تسميتهم أهل الأثر حشوية ، يريدون بذلك إبطال الآثار . وعلامة القدرية : تسميتهم أهل السنة مجبرة . وعلامة الجهمية : تسميتهم أهل السنة مشبهة . وعلامة الرافضة : تسميتهم أهل الأثر نابتة وناصبة .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;167 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) mendengar [Al-Ustadz] Abu Manshuur Muhammad bin ‘Abdillah bin Himsyaad Al-’Aalim Az-Zaahid [rahimahullah] berkata : Aku mendengar Abul-Qaasim Ja’far bin Ahmad Al-Muqriy Ar-Raaziy berkata : Pernah dibacakan kepada ‘Abdurrahman bin Abi Haatim Ar-Raaziy, dan waktu itu aku mendengarkannya : Aku mendengar ayahku berkata – yang dimaksudkan adalah penghulu ulama di negerinya, yaitu Abu Haatim Muhammad bin Idriis Al-Handhaliy Ar-Raaziy berkata - : “Tanda-tanda Ahli Bid’ah adalah mencela Ahlul-Atsar. Tanda-tanda Zanaadiqah adalah penamaan mereka terhadap Ahlul-Atsar dengan Hasyawiyyah. Mereka memaksudkan hal itu untuk membatalkan/menolak atsar. Tanda-tanda Qadariyyah adalah penamaan mereka terhadap Ahlus-Sunnah dengan Mujabbirah (=Jabriyyah, golongan yang hanya bergantung kepada taqdir). Tanda-tanda Jahmiyyah adalah penamaan mereka kepada Ahlus-Sunnah dengan Musyabbihah. Dan tanda-tanda Raafidlah adalah penamaan mereka kepada Ahlul-Atsar dengan Naabitah serta Naashibah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١٦٨ - قلت : وكل ذلك عصبية ، ولا يلحق أهل السنة إلا اسم واحد ؛ وهو أهل الحديث&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;168 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) berkata : “Semuanya itu dikarenakan ashabiyyah (fanatisme golongan). Tidak ada sebutan yang pantas bagi Ahlus-Sunnah melainkan satu saja, yaitu : Ahlul-Hadiits”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١٦٩ - قلت : أنا رأيت أهل البدع في هذه الأسماء التي لقبوا بها أهل السنة - [ولا يلحقهم شيء منها فضلا من الله ومنة] - ؛ سلكوا معهم مسلك المشركين [لعنهم الله] مع رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فإنهم أقتسموا القول فيه : فسماه بعضهم ساحراً وبعضهم كاهنا وبعضهم شاعراً وبعضهم مجنوناً وبعضهم مفتوناً وبعضهم مفتريا مختلقاً كذاباً ، وكان النبي - صلى الله عليه وسلم - من تلك المعائب بعيداً بريئاً ، ولم يكن إلا رسولاً مصطفى نبياً ، قال الله عز وجل : (انظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلاَ يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلاً ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;169 – Aku (Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy) berkata : “Aku memandang para Ahli Bid’ah dalam penamaan ini yang kemudian mereka gelarkan dengannya kepada Ahlus-Sunnah – [namun dengan karunia dan keutamaan Allah, tidak sedikitpun yang pantas disandarkan kepada mereka] adalah mengikuti jalan kaum musyrikin [semoga Allah melaknat mereka] terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka membagi-bagi perkataan di dalamnya. Sebagian mereka menamakan beliau dengan tukang sihir, sebagian lagi dengan dukun, sebagian lagi dengan tukang syair, sebagian lagi dengan orang gila, sebagian lagi dengan orang yang terfitnah, sebagian lagi dengan pembual, orang yang mengada-ada, lagi pendusta. Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dan jauh dari segala aib tersebut. Beliau hanyalah seorang Rasul dan Nabi yang terpilih. Allah ‘azza wa jalla telah berfirman : ‘Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu)’ (QS. Al-Furqaan : 9)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;١٧٠ - وكذلك المبتدعة خذلهم الله اقتسموا القول في حملة أخباره ، ونقله أثاره ، ورواة أحاديثه المقتدين بسنته [المعروفين بأصحاب الحديث]، فسماهم بعضهم حشوية ، وبعضهم مشبهة ، وبعضهم نابتة ، وبعضهم ناصبة وبعضهم جبرية. وأصحاب الحديث عصامة من هذه المعائب بريئة ، زكية نقية ، وليسوا إلا أهل السنة المضية ، والسيرة المرضية ، والسبل السوية ، والحجج البالغة القوية ، قد وفقهم الله جل جلاله لإتباع كتابه ، ووحيه وخطابه [واتباع أقرب أوليائه] ، والاقتداء برسوله - صلى الله عليه وسلم - في أخباره ، التي أمر فيها أمته بالمعروف من القول والعمل ، وزجرهم فيها عن المنكر منها ، وأعانهم على التمسك بسيرته ، والاهتداء بملازمة سنته ، [وجعلهم من أتباع أقرب أوليائه - وأكرمهم وأعزهم عليه] وشرح صدورهم لمحبته ، ومحبة أئمة شريعته ، وعلماء أمته .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن أحب قوماً فهو منهم يوم القيامة يحكم [قول] رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : ( المرء مع من أحب ) ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;170 – Demikian pula dengan Mubtadi’ (Ahli Bid’ah) – semoga Allah tidak menolong mereka – membagi-bagi perkataan kepada para pembawa khabar (hadits), penukil atsar, perawi hadits yang mengikuti sunnah-sunnah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam [yang dikenal dengan nama Ashhaabul-Hadiits]. Sebagian Ahli Bid’ah menamakan mereka dengan Hasyawiyyah, sebagian lagi dengan Musyabbihah, sebagian lagi dengan Naabitah, sebagian lagi dengan Naashibah, dan sebagian lagi dengan Jabriyyah. Padahal Ashhaabul-Hadiits terbebas, berlepas diri, dan bersih dari segala macam aib/cela ini. Tidak ada sebutan bagi mereka kecuali pengikut sunnah yang terang, perjalanan yang diridlai, jalan kehidupan yang lurus, dan hujjah yang terang lagi kuat. Sungguh Allah jalla jalaaluhu telah menguatkan mereka untuk mengikuti (ittiba’) Kitab-Nya, wahyu-Nya, dan firman-Nya; [mengikuti jejak para wali-Nya], meneladani Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam setiap khabar beliau sebagaimana diketahui bahwa hal itu beliau perintahkan kepada umatnya dalam perkataan maupun perbuatan, serta mencegah mereka untuk berbuat kemunkaran. Allah juga menolong mereka untuk dapat berpegang teguh pada perjalanan hidup beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, meneladani dan konsekuen pada sunnah-sunnah beliau. [Dan Allah pun menjadikan siapa saja yang mengikuti syari’at-Nya sebagai wali-wali-Nya yang paling dekat - yang paling mulia dan terhormat]. Allah juga melapangkan dada mereka untuk mencintai beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para imam/pemimpin syari’at-Nya, dan para ulama umat. Barangsiapa yang mencintai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka di hari kiamat kelak, dengan dasar [sabda] Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Seseorang itu bersama orang yang ia cintai’ “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Selesai].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan bacaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ‘Aqiidatus-Salaf Ashhaabil-Hadiits oleh Abu ‘Utsman Ash-Shaabuniy, hal. 116-120, tahqiq : Badr bin ‘Abdillah Al-Badr; Maktabah Al-Ghurabaa’ Al-Atsariyyah, Cet. 2/1415 H, Madinah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syarh ‘Aqiidatis-Salaf wa Ashhaabil-Hadiits li-Abi ‘Utsman Ash-Shaabuniy oleh Dr. Khaalid bin ‘Aliy Al-Musyaiqih - www.Almoshaiqeh.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Aqidah Salaf Ashabul-Hadits, terjemah oleh : Abu Umar Basyir Al-Maidani, hal. 184-194; Pustaka At-Tibyan, Solo].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Ditulis oleh Abu Al-Jauzaa’ Al-Jawiy – pekan pertama bulan Rajab 1430 H].&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;http://abul-jauzaa.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-8266410166260092094?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/8266410166260092094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=8266410166260092094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8266410166260092094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8266410166260092094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/ciri-ciri-ahli-bidah.html' title='Ciri-Ciri Ahli Bid’ah'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-1977956306183570515</id><published>2009-11-11T12:02:00.002+07:00</published><updated>2009-11-11T12:14:29.047+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Allah bersemayam di Atas Arsy-Nya, Sementara Dia juga dekat Dengan Kita dengan Ilmu-NYa</title><content type='html'>Allah berfirman dalam Al-Qur'an yang artinya : " Malaikat-malaikat dan Jibril naik ( menghadap ) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun " . Apakah hal ini menunjukkan bahwa Allah mengatur semua urusan dunia sementara Dia ( Allah ) bersemayam di atas Arsy ? Kalau begitu bagaiaman Allah lebih dekat kepada kita dibandingkan dengan urat nadi kita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanya milik Allah semata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah ada dalam Al-Qur’an, hadits dan konsesus ( Ijma’ ) ulama’ bahwa Allah di Atas langit, bersemayam di Arsy dan Dia Maha Tinggi sekali. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dan diantara keduanya dalam waktu enam hari dan Dia Diatas segala sesuatu dan tidak ada lagi diatasnya setelah itu. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kemudian ( Allah ) bersemayam di atas Arsy, kenapa engkau mencari selain-Nya penolong dan perantara. Apakah kamu semua tidak mengingatnya “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah lainnya : “ ‘Tuhan kamu semua Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam waktu enam hari. Kemudian ( Allah ) bersemayam di atas Arsy mengurusi seluruh urusan “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman yang lainnya :” Diangkat kepada-Nya perkataan yang baik dan amalan sholeh “  diayat lain :” Dialah Yang Maha Pertama dan Maha Terakhir, Yang Maha Tinggi dan Maha Bawah. Rasulullah sallallahu’alahi wasallam bersabda : “ Engkau Yang Maha Tinggi tidak ada diatas-Mu sesuatu apapun “. Ayat dan hadits seputar makna ini sangat banyak sekali. Meskipun begitu Allah juga memberitahukan bahwa Dia bersama hamba-Nya dimana saja, firmannya : “ Tidaklah engkau perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi ? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada ( pembicaraan antara ) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Allah juga menyebutkan akan Ketinggian-Nya bersemayam di atas Arsy akan tetapi bersama hamba-hamba-Nya dalam satu ayat. Seperti dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahu apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya. Dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada". Al-Hadid : 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan yang dimaksud bersama kami itu adalah harus menyatu dengan makhluk, akan tetapi bersama hamba-Nya dengan ilmu-Nya dan Dia diatas Arsy yang tidak akan tersembunyi sedikitpun dari seluruh pekerjaan mereka. Sementara firmna Allah : " Dan Kami lebih dekat dibandingkan urat nadi " kebanyakan ahli tafsir menafsirkan maksudnya adalah kedekatan dengan malaikat yang diwakilkan untuk mencatat seluruh amalan hamba-hamba-Nya. . Dan bagi yang menafsirkan dengan kedekatan-Nya, maka ditafsirkan dengan kedekatan ilmu-Nya seperti yang dikatakan dalam masalah maiyyah ( kedekatan ) tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah pemahaman Ahlus sunnah wal jama'ah yang menetapkan akan ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan bersama hamba-hamba-Nya. Meniadakan dari pendapat yang mengatakan menyatunya Allah dengan makhluk. Sementara Golongan Mu'attilah seperti Jahmiyah dan para pengikutnya mereka meniadakan ketinggian Dzat Allah di atas makhluk dan meniadakan bersemayam di Arsy-Nya. Pendapat mereka bahwasanya Allah ada di mana-mana. Kami memohon kepada Allah semoga umat islam mendapatkan hidayah yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;English Version&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allaah is above His Throne and He is close to us by His Knowledge&lt;br /&gt;Quran says "Angels and Gabriel ascents to Allah in a day equivalent to 5000 terrestrial years. Does it imply that Allah is controlling the earthly matters sitting on the throne? Then how can be Allah nearer to us than the veins?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praise be to Allaah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is proven in the Qur’aan and Sunnah and by the consensus (ijmaa’) of the salaf (early generations) of this ummah that Allaah is above His heavens on His Throne, and that He is the Exalted, Most High. He is Above all things, and there is nothing that is above Him. Allaah says (interpretation of the meaning):  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allaah it is He Who has created the heavens and the earth, and all that is between them in six Days. Then He  rose over (Istawaa) the Throne (in a manner that suits His Majesty). You (mankind) have none, besides Him, as a Wali (protector or helper) or an intercessor. Will you not then remember (or receive admonition)?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[al-Sajdah 32:4]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Surely, your Lord is Allaah Who created the heavens and the earth in six Days and then rose over (Istawaa) the Throne (really in a manner that suits His Majesty), disposing the affair of all things [Yoonus 10:3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “To Him ascend (all) the goodly words, and the righteous deeds exalt it (i.e. the goodly words are not accepted by Allaah unless and until they are followed by good deeds) [Faatir 35:10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “He is the First (nothing is before Him) and the Last (nothing is after Him), the Most High (nothing is above Him) and the Most Near (nothing is nearer than Him) [al-Hadeed 57:3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; The Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “You are the Most High and there is nothing above You…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; There are many similar ayaat and ahaadeeth. But at the same time, Allaah tells us that He is with His slaves wherever they are:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Have you not seen that Allaah knows whatsoever is in the heavens and whatsoever is on the earth? There is no Najwa (secret counsel) of three but He is their fourth (with His Knowledge, while He Himself is over the Throne, over the seventh heaven), — nor of five but He is their sixth (with His Knowledge), — nor of less than that or more but He is with them (with His Knowledge) wheresoever they may be” [al-Mujaadilah 58:7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Allaah has combined mention of His being above His Throne with mention of His being with His slaves in one aayah, where He says (interpretation of the meaning): &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He it is Who created the heavens and the earth in six Days and then rose over (Istawaa) the Throne (in a manner that suits His Majesty). He knows what goes into the earth and what comes forth from it, and what descends from the heaven and what ascends thereto. And He is with you (by His Knowledge) wheresoever you may be [al-Hadeed 57:4]  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saying that Allaah is with us does not mean that He is mixed with (or dwells in) His creation; rather He is with His slaves by His knowledge. He is above His Throne and nothing is hidden from Him of what they do. With regard to the aayah (interpretation of the meaning): &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“And We are nearer to him than his jugular vein (by Our Knowledge)” [Qaaf 50:16] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- most of the mufassireen said that what is meant is that He is near by means of His angels whose task it is to record people’s deeds. And those who said that it means that He is near explained it as meaning that He is near by His knowledge, as is said concerning how He is with us.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; This is the view of Ahl al-Sunnah wa’l-Jamaa’ah, who affirm that Allaah is above His creation and that He is also with His slaves, and they state that He is far above dwelling in His created beings. With regard to the denial of all Divine attributes as voiced by the Jahamiyyah and their followers, they deny that His Essence is above His creatures and that He rose above His Throne, and they say that He is present in His Essence everywhere. We ask Allaah to guide the Muslims.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الله مستو على عرشه وهو قريب منا بعلمه&lt;br /&gt;السؤال : يقول الله عز وجل في القرآن : "تعرج الملائكة والروح إليه في يوم كان مقداره خمسين ألف سنة".  فهل يدل ذلك على أن الله يتحكم في الأمور الدنيوية وهو جالس (مستو) على العرش؟  وعليه فكيف يكون الله أقرب إلينا من أوردتنا؟.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فقد ثبت بالكتاب والسنة وإجماع سلف الأمة أن الله سبحانه وتعالى فوق سمواته على عرشه وأنه العلي الأعلى ، وأنه فوق كل شيء ، وليس فوقه شيء ، قال تعالى : ( الله الذي خلق السموات والأرض وما بينهما في ستة أيام ثم استوى على العرش ما لكم من دونه من ولي ولا شفيع أفلا تتذكرون )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال تعالى : ( ربكم الله الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش يدبر الأمر )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وقال تعالى : ( إليه يصعد الكلم الطيب والعمل الصالح يرفعه ) ، وقال تعالى : ( هو الأول والآخر والظاهر والباطن ) . وقال عليه الصلاة والسلام : " وأنت الظاهر فليس فوقك شيء " . والآيات والأحاديث في هذا المعنى كثيرة ، ومع ذلك فقد أخبر الله سبحانه أنه مع عباده أينما كانوا : ( ألم تر أن الله يعلم ما في السموات وما في الأرض ما يكون من نجوى ثلاثة إلا هو رابعهم ولا خمسة إلا هو سادسهم ولا أدنى من ذلك ولا أكثر إلا هو معهم أينما كانوا ) . بل قد جمع الله سبحانه بين ذكر علوّه على عرشه ومعيّته لعباده في آية واحدة وذلك في قوله تعالى : ( هو الذي خلق السموات والأرض في ستة أيام ثم استوى على العرش يعلم ما يلج في الأرض وما يخرج منها وما ينزل من السماء وما يعرج فيها وهو معكم أينما كنتم ) . وليس معنى كونه معنا أنه مختلط بالخلق بل هو مع عباده بعلمه ، وهو فوق عرشه لا يخفى عليه شيء من أعمالهم  وأما قوله سبحانه : ( ونحن أقرب إليه من حبل الوريد ) ، فقد قال أكثر المفسرين أن المراد هو قربه سبحانه بملائكته الموكّلين بحفظ أعمال العباد . ومن قال المراد بقربه تعالى فسّره بقربه بعلمه ، كما قيل في المعيّة.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هذا هو مذهب أهل السنة والجماعة يثبتون علوّ الله على خلقه ، ومعيّته لعباده ، وينزهونه تعالى عن الحلول في المخلوقات ، وأما المعطلة كالجهمية ومن تبعهم فإنهم ينفون علوّه بذاته فوق المخلوقات واستواءه على عرشه ويقولون أنه حالٌ في كل مكان ، نسأل الله تعالى الهداية للمسلمين .  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الشيخ عبد الرحمن البراك &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Shaykh Abd al-Rahmaan al-Barraak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sumber: islamqa.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-1977956306183570515?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/1977956306183570515/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=1977956306183570515' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1977956306183570515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/1977956306183570515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/allah-bersemayam-di-atas-arsy-nya.html' title='Allah bersemayam di Atas Arsy-Nya, Sementara Dia juga dekat Dengan Kita dengan Ilmu-NYa'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-5268637352947588714</id><published>2009-11-11T11:56:00.002+07:00</published><updated>2009-11-11T12:01:17.582+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aurat'/><title type='text'>Fatwa-fatwa Tentang Aurat Wanita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Batasan Aurat Antara Sesama Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh hafizhahullah, kami mendengar bahwa batasan aurat antara sesama wanita adalah dari pusar hingga lutut. Benarkah demikian? Kami sering melihat wanita-wanita yang datang ke tempat-tempat resepsi dengan mengenakan gaun-gaun pendek dan transparan atau berbelah hingga tampak betisnya. Atau mengenakan gaun yang tidak berlengan dan yang menampakkan sebagian dada atau punggungnya. Sehingga penampilan wanita-wanita muslimah itu persis seperti para selebritis di negara-negara kafir atau artis-artis film yang biasa tampil di televisi. Jika kita larang, mereka akan membantah, "Gaun seperti ini boleh-boleh saja sebab aurat antara sesama wanita adalah dari pusar hingga lutut." Hingga rasa malupun sudah tidak ada lagi, menyerupai wanita-wanita kafir dan sifat nyinyir sudah melanda kaum wanita, akibatnya kondisipun semakin parah. Berilah kami jawaban semoga Allah membalas Anda dengan pahala kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, sesungguhnya seluruh tubuh wanita adalah aurat bagi lelaki yang bukan mahramnya. Ia tidak boleh menampakkan diri di hadapan kaum lelaki meskipun tubuhnya ditutupi dengan pakaian jika dengan melihat sosoknya dan cara berjalannya dapat menimbulkan fitnah. Adapun yang disebutkan dalam soal bahwa batasan aurat antara sesama wanita adalah dari pusar hingga lutut, hal itu berlaku dalam kondisi khusus, yaitu jika ia berada di rumahnya di tengah saudara-saudara wanitanya dan karib kerabat wanita yang tinggal di rumahnya. Meskipun pada dasarnya ia wajib menutup seluruh tubuhnya agar para wanita lainnya tidak mengikuti dan menyebarkan kebiasaan yang jelek itu kepada yang lainnya (kebiasaan membuka aurat). Begitu pula ia wajib menutup anggota-anggota tubuhnya yang menarik di hadapan mahramnya dan di hadapan wanita-wanita asing, agar dia tidak menjadi bahan pembicaraan disebabkan sebagian mahram atau wanita-wanita asing itu menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Dalam hadits Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: &lt;br /&gt;"Janganlah seorang wanita menceritakan seluk beluk wanita lain di hadapan suaminya hingga seolah-olah suaminya itu melihatnya dengan mata kepala."&lt;br /&gt;Maksudnya, jika ia menampakkan anggota-anggota tubuh yang menarik, seperti dada, lengan, perut, punggung, bahu, leher dan betisnya, maka siapa saja yang melihat pasti terlintas dalam pikirannya hal itu. Biasanya kaum wanita suka menceritakan apa yang mereka lihat dari wanita lain kepada keluarga mereka yang laki-laki ataupun perempuan. Mereka akan menceritakan hal tersebut kepada lelaki-lelaki asing yang membangkitkan ketertarikan mereka kepada wanita tersebut. Hal itu tentu saja membuat jiwa-jiwa yang buruk terkait dengannya. Oleh sebab itu ia wajib menutup anggota-anggota tubuh yang menarik, seperti dada, punggung, lengan, betis dan lainnya meskipun di hadapan mahram dan kaum wanita. Lebih-lebih lagi di tempat-tempat keramaian, tempat-tempat pesta, resepsi, di rumah sakit-rumah sakit, sekolah-sekolah meskipun di sekelilingnya hanya kaum wanita. Kadangkala tanpa sengaja pandangan kaum pria dan anak-anak usia puber tertumbuk pada mereka. Kadangkala pula tanpa sengaja mereka terfoto dalam keadaan terbuka auratnya hingga dapat menimbulkan fitnah bagi yang melihatnya. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam telah mengancam dengan keras kaum wanita yang mengenakan pakaian tipis dan sempit dalam sabdanya:&lt;br /&gt;"Dua kelompok manusia yang termasuk penghuni neraka. Salah satunya: Wanita-wanita yang berbusana tetapi pada hakikatnya telanjang, berjalan berlenggak-lenggok menarik perhatian manusia, kepala-kepala mereka laksana punuk unta, mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak mencium aromanya."&lt;br /&gt;Makna kaasiyaat 'aariyaat (memakai busana tapi sebenarnya telanjang) adalah memakai busana yang transparan dan sempit hingga membentuk lekuk-lekuk tubuh mereka dan terdapat celah yang menampakkan dada dan payudara serta anggota-anggota tubuh yang menarik. Termasuk juga menampakkan diri di pesta-pesta dan tempat-tempat keramaian umum. Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dinukil dari fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt; Hukum Lelaki Mengobati Wanita &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hukumnya dokter lelaki yang mengobati pasien wanita muslimah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, pada asalnya jika telah ada dokter wanita yang mampu mengobatinya maka wajib baginya menangani pengobatan pasien wanita itu. Jika ternyata tidak ada, maka hendaklah dicari seorang dokter non muslimah yang dapat dipercaya. Jika ternyata tidak ada maka hendaklah ditangani dokter pria yang muslim. Jika ternyata tidak ada juga maka bolehlah kiranya ditangani dokter pria non muslim. Tim dokter boleh memeriksa bagian tubuh yang perlu diperiksa dan diobati sesuai kebutuhan serta tidak menambah lebih dari itu. Dan hendaknya dokter tersebut menjaga pandangan mata semampunya. Dan guna menghindari khalwat, hendaknya proses pengobatan itu disaksikan oleh mahramnya atau suaminya atau wanita muslimah yang dapat dipercaya. Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Islam Tanya &amp; Jawab &lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kriteria Hijab Wanita Muslimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sebagai wanita muslimah, bagaimanakah seharusnya mereka berbusana sehingga layak dikatakan sebagai wanita muslimah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, alim ulama telah menjelaskan kriteria hijab wanita muslimah terhadap laki-laki bukan mahram. Kriteria tersebut bersumber dari dalil-dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ia boleh memakai jenis busana apa saja dan boleh keluar ke tempat-tempat umum apabila telah memenuhi kriteria tersebut dan dianggap telah berbusana secara islami. Kriteria itu sebagai berikut: Busana tersebut menutupi seluruh tubuh. Tebal dan tidak transparan. Lebar dan tidak sempit. Tidak berhias hingga menarik pandangan kaum lelaki. Tidak diberi wewangian. Bukan termasuk pakaian glamour. Tidak menyerupai pakaian kaum lelaki. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir. Tidak terdapat gambar salib dan gambar makhluk-makhluk bernyawa padanya. &lt;br /&gt;Perincian masing-masing kriteria akan disebutkan dalam kesempatan lain, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Islam Tanya &amp; Jawab &lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Batasan Aurat Yang Boleh Dilihat Saat Pengobatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mohon Anda menjelaskan tentang masalah memilih dokter. Guru saya mengatakan bahwa untuk memeriksakan penyakitnya seorang wanita harus memilih dokter wanita muslimah, jika tidak ada maka dokter wanita non muslimah, jika tidak ada maka dokter pria muslim, jika tidak ada juga maka boleh diperiksa oleh dokter pria non muslim. Katanya kita boleh memeriksakan diri kepada dokter pria kecuali jika tidak ada dokter wanita dan di saat kita sangat butuh dokter spesialis.&lt;br /&gt;Salah seorang temanku mengatakan bahwa gurunya menyarankan agar mencari dokter muslim, wanita ataupun pria sama saja. Kalau tidak ada baru boleh mencari dokter non muslim, pria maupun wanita.&lt;br /&gt;Saya jadi bingung, saya yakin bahwa dokter-dokter muslim lebih dapat dipercaya daripada dokter non muslim. Akan tetapi bukankah menjaga aurat dan menjauhi fitnah lebih penting?&lt;br /&gt;Sebagian teman-teman wanitaku lebih memilih dokter pria muslim untuk memeriksakan kehamilan mereka. Demikian pula saat melahirkan. Sementara di sana banyak bidan-bidan wanita yang muslimah mapun non muslimah.&lt;br /&gt;Mohon beri kami nasihat, semoga Allah memberi Anda balasan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah Rabbil 'Alamin, Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat sekalian alam, Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam, kepada segenap keluarga dan para sahabat. Wa ba'du,&lt;br /&gt;Berikut ini akan kami sebutkan beberapa kaidah dan batasan tentang masalah batasan aurat yang boleh dilihat saat pengobatan.&lt;br /&gt;Pertama: Aurat lelaki adalah anggota tubuh antara pusar dan lutut, berdasarkan sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam : &lt;br /&gt;"Apa-apa yang berada diantara pusar dan lutut adalah aurat"&lt;br /&gt;(Hadits hasan riwayat Ahmad, Abu Dawud dan Daraquthni) dan ini merupakan pendapat jumhur ulama.&lt;br /&gt;Kedua: Tubuh wanita seluruhnya aurat bagi lelaki bukan mahramnya. Berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt;Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir." &lt;br /&gt;(QS. An-Nuur :53)&lt;br /&gt;Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam :&lt;br /&gt;"Tubuh wanita itu seluruhnya aurat."&lt;br /&gt;(H.R Tirmidzi dengan sanad yang shahih)&lt;br /&gt;Inilah pendapat yang benar dalam madzhab Hambali dan salah satu pendapat dalam madzhab Maliki serta salah satu pendapat juga dalam madzhab Syafi'i.&lt;br /&gt;Ketiga: Sengaja melihat aurat yang dilarang dilihat merupakan perkara yang sangat diharamkan, wajib menundukkan pandangan darinya, berdasarkan firman Allah:&lt;br /&gt;Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka,. (QS. 24:30-31)&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:&lt;br /&gt;"Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya dan janganlah juga seorang wanita melihat aurat wanita lainnya."&lt;br /&gt;(H.R Muslim)&lt;br /&gt;Beliau juga pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib:&lt;br /&gt;"Janganlah melihat kepada paha orang yang masih hidup ataupun yang sudah mati."&lt;br /&gt;(H.R Abu Dawud dan hadits ini shahih)&lt;br /&gt;Keempat: Setiap aurat yang tidak boleh dilihat maka tidak boleh juga disentuh walaupun memakai penghalang. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: &lt;br /&gt;"Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan wanita."&lt;br /&gt;(H.R Malik dan Ahmad, hadits ini shahih)&lt;br /&gt;Beliau juga berkata: &lt;br /&gt;"Sekiranya kepala salah seorang kamu ditusuk dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya."&lt;br /&gt;(H.R Ath-Thabrani dan hadits ini shahih)&lt;br /&gt;An-Nawawi berkata: Menurut prioritas hukum, menyentuh wanita yang bukan mahram haram hukumnya sebagaimana juga haram melihatnya. Sebab menyentuh tentunya lebih lezat daripada sekedar melihat.&lt;br /&gt;Kelima: Ada beberapa jenis dan tingkatan aurat, diantaranya aurat yang vital. Yaitu qubul dan dubur. Dan aurat yang tidak vital, seperti paha (antara sesama lelaki).&lt;br /&gt;Aurat anak-anak yang masih berusia dibawah tujuh tahun tidak termasuk dalam cakupan hukum. Adapun aurat anak kecil yang telah mumayyiz (baligh) -antara tujuh sampai sepuluh tahun- adalah kemaluannya. Aurat anak perempuan yang masih kecil dan sudah baligh auratnya dari pusar sampai ke lutut. Demikian pula dalam kondisi aman. Aurat mayit sama seperti aurat orang yang masih hidup. Dan lebih amannya menggolongkan aurat banci (banci alami) sebagaimana aurat wanita, sebab berat dugaan ia seorang wanita.&lt;br /&gt;Keenam: Keadaan darurat membolehkan perkara yang terlarang. Para ulama sepakat bahwa seorang dokter boleh melihat bagian tubuh wanita yang sakit untuk kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan dengan memperhatikan batasan-batasan syar'inya. Demikian pula para ulama membolehkan para dokter melihat bagian tubuh lelaki yang sakit. Ia boleh melihat bagian tubuh yang sakit sebatas kebutuhan. Dalam hal ini dokter wanita sama halnya dengan dokter pria. Hukum ini di dasarkan atas kaidah mendahulukan maslahat menyelamatkan jiwa daripada maslahat menjaga aurat jika kedua maslahat itu bertabrakan.&lt;br /&gt;Ketujuh: Kaidah selanjutnya adalah: "Darurat harus diukur sesuai batasnya." Meskipun melihat, menyingkap, menyentuh dan sebagainya dibolehkan karena darurat dan kebutuhan yang sangat mendesak, tetapi tidak dibolehkan melampaui dan melanggar batasa-batas syariat. Batas-batas itu sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Pengobatan kaum lelaki hendaklah ditangani oleh dokter pria, dan pengobatan kaum wanita hendaklah ditangani dokter wanita. Jika seorang wanita terpaksa menyingkap auratnya untuk keperluan pengobatan, maka dianjurkan agar ditangani oleh dokter wanita muslimah. Jika tidak ada maka ditangani oleh dokter non muslimah, jika tidak ada maka ditangani oleh dokter pria muslim, jika tidak ada maka ditangani oleh dokter pria non muslim. &lt;br /&gt;Demikian pula jika bisa ditangani oleh dokter umum wanita muslimah maka tidak perlu ditangani oleh dokter spesialis pria. Jika diperlukan dokter spesialis wanita dan ternyata tidak ada, maka boleh ditangani oleh dokter spesialis pria. Jika dokter spesialis wanita tidak mencukupi dan sangat perlu ditangani oleh dokter spesialis pria yang mahir maka boleh ditangani oleh dokter pria tersebut.&lt;br /&gt;Jika terdapat dokter spesialis pria yang lebih mahir daripada dokter spesialis wanita, maka tetap tidak boleh ditangani oleh dokter pria kecuali jika spesialisasi dokter pria itu sangat dibutuhkan. Demikian pula halnya dalam proses pengobatan pria, yaitu tidak boleh ditangani oleh dokter wanita jika masih ada dokter pria yang mampu menanganinya.&lt;br /&gt;2. Tidak diperkenankan melampaui batas aurat yang lazim untuk dibuka. Cukup membuka anggota tubuh yang perlu diperiksa saja. Dan hendaknya berusaha menundukkan pandangan semampunya. Dan hendaknya ia sesalu merasa melakukan sesuatu yang pada dasarnya diharamkan dan senantiasa minta ampun kepada Allah atas perbuatan melampaui batas yang mungkin terjadi.&lt;br /&gt;3.Jika pengobatan bisa dilakukan hanya dengan mengidentifikasi penyakit saja (tanpa harus membuka aurat), maka tidak diperkenankan membuka aurat. Jika hanya dibutuhkan melihat tempat yang sakit saja maka tidak perlu menyentuhnya, jika cukup menyentuh dengan memakai penghalang saja maka tidak perlu menyentuhnya tanpa penghalang.&lt;br /&gt;4. Jika yang menangani pasien wanita terpaksa harus dokter pria maka disyaratkan tidak dalam keadaan khalwat. Pasien wanita itu harus disertai suaminya, atau mahramnya atau wanita lain yang dapat dipercaya.&lt;br /&gt;5. Hendaknya dokter yang menanganinya adalah seorang yang terpercaya, tidak cacat moral dan agamanya. Dalam hal ini cukuplah menilainya secara zhahir.&lt;br /&gt;6. Makin vital aurat tersebut makin keras pula larangan melihat dan menyentuhnya. Penulis buku Kifayatul Akhyar berkata: "Ketahuilah bahwa kebutuhan yang sangat mendasar untuk dilihat adalah wajah dan dua telapak tangan. Adapun bagian-bagian tubuh lainnya hanya boleh dilihat sesuai dengan kadar kebutuhan, terutama alat kelamin vital. Oleh sebab itu hal ini sangat perlu dijaga, terutama pada saat membantu kelahiran dan mengkhitan anak perempuan yang mulai tumbuh dewasa.&lt;br /&gt;7. Kebutuhan pengobatan memang sangat mendesak. Seperti penyakit yang tidak dapat ditahankan lagi atau penurunan stamina dikhawatirkan akan membahayakan jiwanya. Adapun jika tidak begitu sakit atau tidak begitu mendesak maka janganlah membuka aurat (hanya untuk pengobatannya), sebagaimana dalam perkara-perkara yang bersifat dugaan dan perkara-perkara sekunder lainnya (yang mana tidak mesti membuka aurat).&lt;br /&gt;8. Seluruh perkara di atas berlaku jika tidak menimbulkan fitnah dan tidak membangkitkan syahwat kedua belah pihak (yakni pasien dan dokternya).&lt;br /&gt;Terakhir, segala sesuatunya harus di dasari ketakwaan kepada Allah. Karena syariat telah menggariskan hukum-hukum yang jelas dan tegas bagi perkara-perkara sensitif seperti ini. Salah satu penyebab timbulnya musibah pada zaman ini adalah memandang remeh masalah membuka aurat di tempat-tempat kunjungan dan rumah-rumah sakit. Sepertinya para dokter-dokter tersebut boleh melakukan segala sesuatu dan dihalalkan baginya segala yang terlarang. Demikian pula yang berlaku dalam program-program pendidikan yang seratus persen ditiru dari program-program pendidikan yang ada di negara-negara kafir. Hal ini termasuk kelengahan dalam berbagai pola pendidikan, latihan dan ujian.&lt;br /&gt;Kaum muslimin wajib mengajarkan berbagai keterampilan khusus bagi kaum wanita agar mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Dan hendaknya menyusun jadwal yang rapi dan teratur di klinik-klinik dan rumah-rumah sakit agar wanita-wanita muslimah tidak jatuh dalam kesulitan. Dan hendaknya tidak menelantarkan wanita-wanita muslimah yang sakit atau merasa keberatan jika mereka meminta di tangan oleh dokter wanita.&lt;br /&gt;Hanya kepada Allah sajalah kita memohon agar menganugrahkan bagi kita pemahaman dalam agama dan menolong kita dalam melaksanakan hukum-hukum syariat dan dalam memelihara hak-hak kaum muslimin. Sesungguhnya Dia-lah yang kuasa memberi taufiq dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.&lt;br /&gt;Islam Tanya &amp; Jawab &lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bolehkah Bagi Laki-Laki Yang Meruqyah Menyentuh Wanita Yang Diruqyahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa sebagian orang menderita berbagai macam penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara medis. Kemudian mereka mencari pengobatan melalui Kitabullah dan meminta kepada ahli ilmu, para penghafal Al-Qur'an serta orang-orang takwa dan shalih untuk meruqyah mereka dengan ruqyah yang dibenarkan syariat. Kadang kala anggota tubuh yang sakit pada kaum wanita adalah bagian kepala, dada, tangan atau kaki mereka. Bolehkah menampakkan bagian tubuh yang sakit tersebut untuk diruqyah dalam kondisi darurat? Dan apakah batasan aurat bagi kaum wanita saat diruqyah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa mengajarkan ruqyah yang dibenarkan syariat termasuk perkara yang disunnahkan, dengan harapan dapat berguna bagi kaum muslimin, sekaligus sebagai pengobatan bagi penyakit-penyakit kronis tersebut. Sebab Kitabullah merupakan obat yang ampuh dan mujarab. Akan tetapi kaum lelaki tidak boleh menyentuh tubuh wanita yang bukan mahramnya saat meruqyah. Dan si wanita juga tidak boleh sama sekali menampakkan bagian tubuhnya, seperti dada, leher dan lain-lain. Hendaknya si wanita tetap diruqyah meskipun dalam keadaan memakai hijab. Cara seperti itu juga berfaedah. Para akhwat (kaum wanita) dianjurkan mempelajari bacaan-bacaan ruqyah, dengan harapan agar mereka dapat mengobati kaum wanita yang menderita sakit melalui ruqyah tersebut. Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Islam Tanya &amp; Jawab &lt;br /&gt;Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: islamqa.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-5268637352947588714?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/5268637352947588714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=5268637352947588714' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/5268637352947588714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/5268637352947588714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/fatwa-fatwa-tentang-aurat-wanita.html' title='Fatwa-fatwa Tentang Aurat Wanita'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-8600663135662167990</id><published>2009-11-11T11:35:00.002+07:00</published><updated>2009-11-11T11:53:05.978+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jenggot'/><title type='text'>Fatwa Tentang Jenggot</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hukum Mencukur Jenggot Karena Timbul Fitnah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa tahun ini saya mengenal Dienul Islam -walillahil hamd-, Allah telah memberi hidayah sehingga saya dan dua orang saudara saya bersedia memelihara jenggot. Sunnah Rasulullah ini kemudian diikuti oleh sebagian anggota keluarga. Alhamdulillah kami mampu menciptakan suasana islami di dalam rumah. Saudara-saudara wanita saya mengenakan busana muslimah dan kami senantiasa menerapkan ajaran-ajaran Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan kemampuan kami. Kemudian terjadilah fitnah (kekacauan) di negeri kami, masyarakat berubah membenci orang-orang berjenggot dan mempersempit ruang gerak mereka. Masyarakat mengira setiap orang yang berjenggot pasti ingin membunuhi masyarakat dan menumpahkan darah mereka. Sebagaimana kaum muslimin lainnya, kami juga sama sekali tidak membenarkan tindakan membunuh dan menumpahkan darah yang diharamkan oleh Allah. Lalu kedua orang tua saya dan segenap keluarga terus meminta saya supaya mencukur jenggot. Ibu saya mengatakan bahwa ayah saya sangat marah kepada saya. Saya sendiri takut menyelisihi salah satu sunnah Rasulullah dan takut jatuh ke dalam perbuatan maksiat!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan atas ketaatan Anda mengikuti Sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan dakwah Anda kepada segenap keluarga Anda kepada Sunnah Nabi.&lt;br /&gt;Kedua: Mencukur jenggot haram hukumnya, sedang memeliharanya adalah wajib sebagaimana yang Anda ketahui. Mentaati Allah tentunya lebih diprioritaskan daripada mentaati makhluk meskipun ia adalah keluarga yang terdekat. Tidak boleh mentaati makhluk dalam hal berbuat maksiat kepada Allah. Mentaati makhluk harus dalam perkara-perkara ma'ruf saja. Apa yang Anda sebutkan tadi, berupa kekesalan dan kemarahan kedua orang tua karena Anda tetap memelihara jenggot hanyalah dorongan sentimen perasaan belaka dan rasa khawatir atas keselamatan pribadi Anda setelah melihat berbagai peristiwa yang menimpa orang lain. Akan tetapi peristiwa-peristiwa tersebut umumnya terjadi atas orang-orang yang terlibat dalam kancah fitnah itu bukan karena masalah memelihara jenggot semata. Hendaklah Anda tetap teguh di atas kebenaran dan tetap memelihara jenggot karena ketaatan kepada Allah dan mencari ridha-Nya, meskipun manusia tidak senang. Dan hendaknya Anda menjauhkan diri dari tempat-tempat fitnah dan selalu bertawakkal kepada Allah serta mengharap kepada-Nya semoga Dia memberi jalan keluar bagi Anda dari setiap kesempitan. Allah berfirman dalam Kitab-Nya:&lt;br /&gt;Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. 65:2-3)&lt;br /&gt;Dalam ayat lain Allah berfirman:&lt;br /&gt;Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya. (QS. 65:4-5)&lt;br /&gt;Kami anjurkan agar Anda tetap berbakti kepada kedua orang tua dan memberikan alasan kepada mereka berdua dengan lembut dan dengan cara yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fatawa Lajnah Daimah V/151&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hukum Mencukur Jenggot Orang Lain (Hukum Tukang Cukur Jenggot)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah seorang muslim yang taat, muslim yang memelihara jenggotnya. Saya memiliki salon khusus pria, dan itulah sumber mata pencaharian saya. Saya biasa mencukur jenggot para pelanggan. Saya juga biasa menggunakan sejenis sisir untuk merapikan rambut pelanggan. Bagaimanakah hukum perkerjaan tersebut dilihat dari kacamata syariat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, &lt;br /&gt;Pertama: Seorang muslim diharamkan mencukur jenggotnya, berdasarkan dalil-dalil shahih yang menegaskan haramnya mencukur jenggot. Begitu juga muslim lainnya, diharamkan mencukur jenggot saudaranya sesama muslim. Karena hal itu termasuk bentuk saling menolong dalam berbuat dosa. Allah Subhaanahu Wa Ta'aala telah melarang seperti itu dalam firman-Nya: &lt;br /&gt;"Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."(QS. 5:2)&lt;br /&gt;Kedua: Anda boleh saja menyisir rambut pria, merapikan dan meminyakinya dan memberinya wewangian, namun Anda tidak boleh melakukan hal itu terhadap kaum wanita yang bukan mahram Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fatawa Lajnah Daimah V/145.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Mewarnai Rambut Dan Jenggot Dengan Warna Hitam&lt;br /&gt;Apa hukumnya mewarnai jenggot dengan warna hitam?&lt;br /&gt;Alhamdulillah, kaum lelaki tidak dibolehkan mewarnai jenggotnya dengan warna hitam. Berdasarkan dalil-dalil yang melarangnya. Imam Abu Dawud meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah bahwa ia berkata: &lt;br /&gt;Abu Quhafah dibawa ke hadapan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam pada hari penaklukan kota Makkah dalam keadaan putih rambutnya. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam berkata: &lt;br /&gt;"Warnailah ubannya dan hindarilah penggunaan warna hitam!"&lt;br /&gt;(H.R Muslim, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)&lt;br /&gt;Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa'i juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu 'Anhu bahwa ia berkata: "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:&lt;br /&gt;"Akan ada kelak di akhir zaman suatu kaum yang mewarnai rambut mereka dengan warna hitam bagaikan anak-anak burung merpati, mereka tidak akan mencium aroma surga."&lt;br /&gt;Namun dianjurkan agar mewarnai rambut dengan selain warna hitam berdasarkan hadits Jabir terdahulu.&lt;br /&gt;Dianjurkan agar mewarnai rambut dengan menggunakan inai atau sejenisnya yang membuat warna rambut menjadi merah atau kuning, karena Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam mewarnai rambut beliau dengan warna kuning. Dan berdasarkan riwayat Muslim yang menyebutkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu 'Anhu mewarnai rambutnya dengan inai dan al-katam (sejenis tetumbuhan untuk mewarnai rambut). Dan juga berdasarkan hadits Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam:&lt;br /&gt;"Sesungguhnya bahan terbaik untuk mewarnai uban kamu ialah inai dan al-katam."&lt;br /&gt;(H.R Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa'i dan At-Tirmidzi, dan dinayatakan shahih oleh beliau)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dinukil dari kumpulan Fatwa Lajnah Daimah V/166-167&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hukum Mencukur Jenggot&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hukumnya mencukur jenggot atau mencukur sebagiannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, mencukur jenggot hukumnya haram berdasarkan hadits-hadits shahih yang secara tegas melarangnya. Dan berdasarkan dalil-dalil umum yang melarang menyerupai orang-orang kafir. Diantaranya hadits Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: &lt;br /&gt;"Selisihilah orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan potonglah kumis."&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain berbunyi:&lt;br /&gt;"Potonglah kumis dan peliharalah jenggot."&lt;br /&gt;Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang semakna dengan itu. Maksud memelihara jenggot adalah membiarkannya tumbuh secara alami. Termasuk memeliharanya adalah membiarkannya tanpa mencukur, mencabut atau memotongnya sedikitpun. Ibnu Hazm bahkan telah menukil ijma' (kesepakatan) tentang hukum wajibnya memotong kumis dan memelihara jenggot. Beliau berdalil dengan sejumlah hadits, diantaranya adalah hadits Ibnu Umar terdahulu dan hadits Zaid bin Arqam yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: &lt;br /&gt;"Barangsiapa tidak memotong sebagian dari kumisnya maka ia bukan termasuk golonganku (golongan yang melaksanakan sunnahku)."&lt;br /&gt;Hadits tersebut dinyatakan shahih oleh At-Tirmidzi, ia berkata dalam kitab Al-Furu' bahwa riwayat yang dibawakan oleh rekan-rekan kami dari kalangan madzhab Hambali di atas menegaskan hukum haramnya. &lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: "Dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah serta ijma' telah memerintahkan supaya menyelisihi orang-orang kafir dan melarang menyerupai mereka. Sebab menyerupai mereka secara lahiriyah merupakan sebab menyerupai tabiat dan tingkah laku mereka yang tercela. Bahkan merupakan sebab meniru keyakinan-keyakinan sesat mereka. Dan dapat mewariskan benih-benih kecintaan dan loyalitas dalam batin kepada mereka. Sebagaimana kecintaan dalam hati dapat menyeret kepada penyerupaan dalam bentuk lahiriyah. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:&lt;br /&gt;"Bukanlah termasuk golongan kami orang yang menyerupai selain kami. Maka janganlah kalian menyerupai kaum Yahudi dan Nasrani."&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain berbunyi:&lt;br /&gt;"Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka." (H.R Imam Ahmad)&lt;br /&gt;Bahkan Umar bin Khaththab menolak persaksian orang yang mencabuti jenggotnya. Dalam kitab At-Tamhid Imam Ibnu Abdil Barr berkata: "Haram hukumnya mencukur jenggot, sesungguhnya perbuatan tersebut hanya dilakukan oleh kaum banci." Yaitu perbuatan tersebut termasuk menyerupai kaum wanita. Dalam riwayat disebutkan bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam adalah seorang yang lebat jenggotnya. (H.R Muslim dari Jabir)&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan: "Tebal jenggotnya" dalam riwayat lain: "Banyak jenggotnya", maknanya sama yakni lebat jenggotnya. Oleh karena itu tidak dibolehkan memotong sedikitpun darinya berdasarkan dalil-dalil umum yang melarangnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Fatawa Lajnah Daimah V/133.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sumber: islamqa.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5657899535383641255-8600663135662167990?l=amazbinabidin.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/feeds/8600663135662167990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5657899535383641255&amp;postID=8600663135662167990' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8600663135662167990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5657899535383641255/posts/default/8600663135662167990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://amazbinabidin.blogspot.com/2009/11/fatwa-tentang-jenggot.html' title='Fatwa Tentang Jenggot'/><author><name>Abu Faqih</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00751846849420244395</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5657899535383641255.post-3007006874570048050</id><published>2009-11-08T21:33:00.000+07:00</published><updated>2009-11-08T21:34:09.718+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Aqidah'/><title type='text'>Hadits Tentang 70.000 Orang Yang Masuk Surga Tanpa Hisab</title><content type='html'>Di dalam Shahih Bukhari disebutkan hadits bahwa 700.000 orang akan masuk surga, sedangkan generasi awal saja mungkin jumlah mereka sudah mencapi 700.000. Apakah ada tafsir lain tentang hadits ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali maksud anda wahai penanya adalah hadits tentang 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad serta yang lainnya dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anda memperhatikan hadits ini, akan hilanglah -insya Allah- ketidakjelasan yang tercermin dalam pertanyaan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari di dalam kitab shahihnya telah meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam bahwa beliau berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ditampakkan beberapa umat kepadaku, maka ada seorang nabi atau dua orang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh antara 3-9 orang. Ada pula seorang nabi yang tidak punya pengikut seorangpun, sampai ditampakkan kepadaku sejumlah besar. Aku pun bertanya apakah ini? Apakah ini ummatku? Maka ada yang menjawab: 'Ini adalah Musa dan kaumnya,' lalu dikatakan, 'Perhatikanlah ke ufuk.' Maka tiba-tiba ada sejumlah besar manusia memenuhi ufuk kemudian dikatakan kepadaku, 'Lihatlah ke sana dan ke sana di ufuk langit.' Maka tiba-tiba ada sejumlah orang telah memenuhi ufuk. Ada yang berkata, 'Inilah ummatmu, di antara mereka akan ada yang akan masuk surga tanpa hisab sejumlah 70.000 orang. Kemudian Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam masuk tanpa menjelaskan hal itu kepada para shahabat. Maka para shahabat pun membicarakan tentang 70.000 orang itu. Mereka berkata, 'Kita orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti rasul-Nya maka kitalah mereka itu atau anak-anak kita yang dilahirkan dalam Islam, sedangkan kita dilahirkan di masa jahiliyah.' Maka sampailah hal itu kepada Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam, lalu beliau keluar dan berkata, 'mereka adalah orang yang tidak minta diruqyah (dimanterai), tidak meramal nasib dan tidak mita di-kai, dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal." [HR. Bukhari 8270]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud hadits ini menjelaskan bahwa ada satu kelompok dari ummat ini akan masuk surga tanpa dihisab, bukan berarti bahwa jumlah ahli surga dari ummat ini hanya 70.000 orang. Maka mereka yang 70.000 orang yang diterangkan dalam hadits ini adalah mereka yang memiliki kedudukan yang tinggi dari kalangan ummat ini karena mereka memiliki keistimewaan khusus yang disebutkan oleh hadits ini, yaitu mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak meramal nasib, dan tidak minta di-kai, serta hanya kepada Allah mereka bertawakkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi hadits yang menjelaskan penyebab mereka masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab di dalam riwayat lain bagi Imam Bukhari rahimahullah, dari Abbas radhiallahu 'anhu, dia berkata bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ditampakkan kepadaku beberapa ummat. Maka ada seorang nabi yang berjalan dengan diikuti oleh satu ummat, ada pula seorang nabi yang diikuti oleh beberapa orang, ada juga nabi yang diikuti oleh sepuluh orang. Ada juga nabi yang diikuti lima orang, bahkan ada seorang nabi yang berjalan sendiri. Aku pun memperhatikan maka tiba-tiba ada sejumlah besar orang, aku berkata, 'Wahai Jibril, apakah mereka itu ummatku? Jibril menjawab, 'Bukan, tapi lihatlah ke ufuk!' Maka aku pun melihat ternyata ada sejumlah besar manusia. Jibril berkata, 'Mereka adalah ummatmu, dan mereka yang di depan, 70.000 orang tidak akan dihisab dan tidak akan diadzab.' Aku berkata, 'Kenapa?' Dia menjawab, 'Mereka tidak minta di-kai, tidak minta diruqyah, dan tidak meramal nasib serta hanya kepada Allah mereka bertawakal.'Maka berdirilah Ukasyah bin Mihshan, lalu berkata, 'Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan salah satu seorang di antara mereka.' Nabi pun berdoa, 'Ya Allah, jadikanlah dia salah seorang di antara mereka.'Lalu ada orang lain yang berdiri dan berkata, 'Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku salah seorang di antara mereka.' Nabi Shalalahu 'alaihi wasslam menjawab, 'Kamu telah didahului oleh Ukasyah'." [HR. Bukhari 6059]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang sifat mereka pun dijelaskan di dalam hadits Sahl bin Sa'd radhiallahu 'anhu, dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam, dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti ada 70.000 orang dari ummatku atau 700.000 orang (salah seorang periwayat hadits ini ragu) akan masuk surga orang pertama di antara mereka, tidak memasukinya sebelum masuk pula orang terakhir dari mereka. Wajah-wajah mereka seperti bulan pada bulan purnama." [HR. Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, dia berkata: aku mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan masuk surga sekelompok dari ummatku sejumlah 70.000 orang. Wajah-wajah mereka bercahaya seperti cahaya bulan." [HR. Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang sifat mereka diterangkan pula di dalam riwayat Muslim dalam shahihnya dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"…, kemudian selamatlah orang-orang mukmin, selamat pulalah kelompok pertama dari mereka yang wajah-wajah mereka seperti bulan pada malam purnama sejumlah 70.000 orang. Mereka tidak dihisab kemudian orang-orang setelah seperti cahaya bintang di langit, kemudian yang seperti mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita semua kaum muslimin ada kabar gembira dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam di dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya. Adapun kabar gembira dalam hadits ini karena ada riwayat yang lain dalam Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Abu Umamah dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wassalam, dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rabbku 'Azza wa Jalla telah menjanjikan kepadaku bahwa ada dari ummatku yang akan masuk surga sebanyak 70.000 orang tanpa hisab ataupun adzab beserta setiap ribu orang ada 70.000 orang lagi dan tiga hatsiyah dari hatsiyah-hatsiyah Allah 'Azza wa Jalla."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memohon kepada Allah Subhana wa Ta'ala agar Dia menjadikan kita termasuk golongan mereka. Bila anda hitung 70.000 orang menyertai setiap seribu orang dari yang 70.000 itu, berapakah jumlah seluruhnya bagi orang yang masuk surga tanpa hisab?!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berapa jumlah seluruh hatsiyah dari hatsiyah Allah yang Agung dan Mulia, Yang Penyayang dan Pengasih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapu
